
"Tolong lepasin saya!" ucap Risma yang kembali memohon.
"Saya akan lepaskan kamu asal buka blokiran nomor saya, jangan coba-coba blokir saya lagi. Dan ingat satu hal, saya enggak butuh uang dari kamu!" ucap Ilyas sambil memalingkan wajahnya.
"Ya. Sekarang anterin saya pulang" ucap Risma sambil menunduk.
"Risma... kalau kamu mau, saya mau bertanggung jawab sama kamu" ucap Ilyas dengan lembut.
"Tidak perlu. Saya tidak mungkin menikah dengan lelaki yang tidak saya cintai." tolak Risma.
"Tapi bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Ilyas.
"Enggak kok, ini saya sedang datang bulan." bohong Risma.
"Syukurlah kalau memang kamu tidak hamil. Saya minta maaf karena sudah meno..."
"Tolong jangan dilanjutkan!" potong Risma yang tak mau mengingat kejadian yang menghancurkan hidupnya itu.
"Ya udah" jawab Ilyas. Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya dan mengantar Risma pulang. Sesampainya dikampung Risma, dan berjarak empat rumah dari rumahnya, Ilyas menghentikan mobilnya. Dan saat Risma hendak membuka pintu mobil, ilas menahan tangannya Risma.
"Tunggu!"
Risma menoleh.
Cup
"Sekali lagi maafkan saya, saya harap kamu masih mau berteman dengan saya" ucap Ilyas dengan bersungguh-sungguh. Risma hanya tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk kerumahnya.
'Seandainya, seandainya kata maaf bisa mengembalikan kesucianku, mungkin aku bisa memaafkanmu. Tapi ini semua juga salahku, aku yang terlalu bodoh dan gampangan' batin Risma.
**********
Hari ini, Puja ikut Sofyan ke tambak ikan untuk melihat Sofyan panen ikan. Bagja dan satu orang pengasuhnya juga ikut kesana. Puja senang sekali akhirnya dia bisa kembali ketambak yang penuh kenangan indah bersama suaminya itu. Puja sangat antusias saat melihat ikan-ikan itu begitu banyak dan besar-besar.
"Asyiikk... bau duitnya udah kecium ya sayang" goda Puja saat Sofyan tengah sibuk menyiapkan alat dan beberapa keperluan untuk memanen ikan-ikannya.
__ADS_1
"Mau dibeliin apa?" tanya Sofyan.
"Apa ya?? ah, semua udah punya, udah lengkap. Kumpulin aja duitnya, kemaren kan tabungannya ke kuras buat beli mobil" ucap Puja.
"Hmm ya udah Puja tunggu disaung aja. Siapin makanan buat yang kerja." titah Sofyan.
"Siap juragan ganteng!" goda Puja dengan centilnya.
"Diam atau mau dimakan!" ancam Sofyan.
"Atuuuttt...!" ucap Puja manja. Ish! memang dasar wanitanya ini selalu saja sukses membuat tongkatnya berdiri.
Dan setelah drama goda menggoda, akhirnya Sofyan melanjutkan pekerjaannya. Hingga sore hari menjelang, Sofyan dan Puja kembali pulang kerumahnya.
"Capek ya sayang" ucap Sofyan yang melihat Puja merebahkan diri dikasur.
"Enggak. Malah Puja yang harusnya tanya gitu, akang capek ya?" Puja balik bertanya.
"Capek, tapi enggak kerasa karena ada anak istri yang nemenin" ucap Sofyan sambil tersenyum hangat.
Setelah beberapa menit kemudian Sofyan telah selesai dengan ritual mandinya. Lalu mengambil pakaian dilemari dan memakainya.
"Sini kang Puja pijitin" ucap Puja sembari menepuk sisi kanannya.
Sofyan berbaring disisi Puja lalu dengan cekatan Puja memijat punggung Sofyan. Ditengah-tengah memijat suaminya, Puja tiba-tiba teringat sesuatu.
"Kang, si Risma kok udah enggak pernah kesini lagi?" tanya Puja yang merasa penasaran karena ulat bulu itu tak pernah menampakkan batang hidungnya.
"Ya mana akang tahu. Lagian bagus dong, kamu enggak cemburu lagi." jawab Sofyan tak perduli.
"Apa dia nyamperin akang ke tambak?" selidik Puja.
"Loh kok kang Sofyan jadi dituduh?" tanya Sofyan.
"Enggak nuduh, nanya aja." jawab Puja.
__ADS_1
"Enggak kok, enggak ada. Kalau Puja enggak percaya tanya ce Imas, tanya Mahmud dan teman-teman akang lainnya." ucap Sofyan.
"Iya, Puja percaya. Puja cuma merasa aneh aja, tu orang tiba-tiba lama menghilng enggak muncul-muncul." ucap Puja.
"Udah enggak usah terlalu difikirkan, mungkin dia ada kesibukan sendiri yang kita enggak tahu. Fokus aja sama keluarga kecil kita sayang" ucap Sofyan yang tak ingin membahas Risma lagi.
"Iya itu mah pasti sayang enggak usah disuruh" ucap Puja. Puja kembali melanjutkan pijatan-pijatan dipunggung Sofyan.
**********
Sementara disisi lainnya, Risma kini tengah gemetar memegang benda pipih yang menampikan dua garis merah. Tubuhnya seakan membeku dan seketika tangisnya pecah. Ternyata sesuatu yang ditakutkannya kini terjadi dan dia benar-benar merasa hancur sekarang. Bagaimana ini? rasanya Risma tak dapat menanggung ini semua sendirian.
"Risma kamu kenapa?" ibunya Risma tiba-tiba muncul karena mendengar tangisan Risma. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat benda pipih ditangan anaknya.
"Risma kamu..." ibunya Risma menutup mulutnya dan menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seketika dia murka dan kecewa kepada anaknya yang membuat malu keluarga.
"Kasih tahu ibu! anak siapa itu! apa anak Sofyan!?" tanya Ibunya Risma.
"Bu, Risma minta maaf... ini, ini bukan anak kang Sofyan." jelas Risma.
"Terus anak siapa Risma!" bentak ibunya.
"Ini anak laki-laki lain bu, Risma enggak sengaja melakukannya hiks...!" Risma menangis memohon ampun kepada ibunya.
"Ibu kecewa sama kamu Risma, sekarang bilang itu anak siapa!" bentak ibunya.
"Risma enggak bisa bilang. Dia hanya laki-laki brengsek bu, Risma enggak mau nikah sama laki-laki itu" ucap Risma yang tak mau buka mulut soal ayah dari janin yang tumbuh dirahimnya.
"Kalau begitu gugurkan bayi ini!" ucap ibunya Risma.
"Apa...? gugurkan?"
🍁🍁🍁🍁🍁
Ampun deehh...! Jangan Lupa like komentar dan vote sebanyak-banyaknya ya.
__ADS_1