
Malam hari dirumah Sofyan, semua anggota keluarga tengah berkumpul di meja makan menikmati makan malam bersama.
"Kalian bertiga tiga hari lagi udah masuk kuliah ya?" tanya Puja kepada Alya, Vino dan Dila.
"Iya bun," jawab Dila.
"Semoga kuliahnya lancar ya, semangat. Untuk Dila sementara LDR dulu sama Bagja enggak apa-apa kan sayang?" tanya Puja. Dila melirik Bagja begitupun sebaliknya.
"Dila enggak apa-apa bun, tapi aa yang rewel." ucap Dila sambil terkekeh. Sementara Bagja hanya bisa tersenyum kecut, membayangkannya saja sudah tak sanggup, apalagi menjalaninya.
"Selow, Dila gua jagain," ucap Vino.
"Jaga diri sendiri aja enggak bisa, sok-sokan mau jagain orang, Hu...!" ejek Dila.
"Udah-udah jangan dilanjutin berantemnya. Kalian itu udah lparan loh masih aja sering berantem." ucap Puja.
"Dia tuh buj, ngeselin banget." ucap Dila.
"Iya, kalian bertiga disana nanti harus saling menjaga satu sama lain." pesan Puja.
"Iya bun." jawab Dila. Alya yang sejak tadi hanya diam saja sebenarnya ingin ikut bicara, tapi dia keburu bad mood karena Vino dan Dila terlihat akrab walaupun sepertinya mereka bertengkar, tapi dibalik itu ada kehangatan yang tidak berjarak.
//
Bagja masih bersantai dipangkuan Dila, entah kenapa dia begitu manja dan ingin selalu dibelai-belai oleh Dila, terutama di bagian kepala, rambut dan pipinya. Sementara matanya fokus menatap Dila dengan intens.
"Cantik" ucap Bagja sambil mengelus pipi Dila.
"Udah berapa kali aa bilang begitu, ya wajar lah a, namanya juga perempuan udah pasti cantik. Kalau laki-laki ganteng." jawab Dila.
"Tapi kamu cantiknya kelewatan dan enggak pernah ngebosenin untuk dipandang." ucap Bagja.
"Dih, ngegombal!" ucap Dila sambil mengerucutkan bibirnya.
"Serius sayang. Udah dari dulu tahu enggak aa mengagumimu kecantikan kamu, dari sejak kecil." jawab Bagja.
"Masa?" tanya Dila.
"Iya," jawab Bagja.
"Tapi kenapa cuek bebek sama Dila? terus dingin banget lagi kayak kulkas 50 pintu." tanya Dila.
"Karena saat itu aa Bagja ingin fokus belajar, mamah selalu bilang, ingin melihat anaknya sarjana, supaya bisa mengangkat derajat orang tua. Disisi lain, aa juga enggak hobi ngegombalin cewek. Entah kenapa, kayak kurang kerjaan aja gitu." ucap Bagja sambil terkekeh.
"Iya, dan pada akhirnya harus di sosor duluan baru deh ngerespon." seloroh Dila.
__ADS_1
"Ya kan dulu belum tahu rasanya sayang. Kalau udah tahu seperti ini indahnya punya istri dan wanita yang dicintai, mungkin sudah sejak dulu aa ngelamar kamu." ucap Bagja sambil mengelus bibir Dila dengan perlahan dan penuh kelembutan. Namun lama kelamaan Bagja menatap ingin ke mata Dila. Dila sendiri tak dapat menolak karena memang dia pun sama inginnya. Bagja bangkit mulai mendekatkan wajahnya. Mencium kening, turun ke kelopak mata Dila, hidung dan terakhir ke bibir Dila.
"Kamu selalu begini, selalu bikin aa candu." bisik Bagja. Dila tersipu malu namun kemudian dia menyatukan bibir keduanya. Namun tiba-tiba Dila menghentikan kegiatan mereka sejenak.
"Aa besok harus kerja loh, enggak capek ngelembur terus tiap malam?" tanya Dila.
"Enggak, karena ini enggak bikin capek, justru bikin semangat." jawab Bagja.
"Atau mungkin kamu yang kecapean?" tanya Bagja.
"Enggak kok, Dila juga enggak merasa capek. Hanya saja, punya Dila sedikit leceet dan perih." bisik Dila.
"Boleh aa lihat?" tanya Bagja. Dila mengangguk, kemudian Bagja turun dan melihat area itu. Dan memang benar, milik Dila sampai lecet kemerahan. Bagja merasa iba, lalu kemudian dia kembali naik dan tidur memeluk Dila dengan erat.
"Istirahatlah. Malam ini libur dulu." ucap Bagja.
"Tapi..."
"Cup!" Bagja mencium sekilas hidung Dila kemudian memeluk Dila dengan posesif dan mulai memejamkan matanya.
"Terimakasih udah jadi suami pengertian. Dila makin cinta sama A Bagja." cicit Dila.
"Sama, aa juga makin cinta sama Dila." jawab Bagja dengan mata terpejam.
//
Hari ini Bagja mengantar Dila ke kos-kosan di Bandung, karena besok Dila sudah mulai masuk kuliah. Sementara Vino dan Alya berboncengan dengan menggunakan motor.
Selama empat jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kos-kosan itu. Bagja dan Dila berangkat lebih awal, sementara Vino dan Alya berangkat belakangan. Saat turun dari dalam mobil, teman Dila yang juga ngekos disana, ikut menyapa Dila.
"Dil, sama siapa?" tanya wanita yang bernama Erni.
"Suami aku." jawab Dila.
"Loh, kamu udah nikah? bukannya Alya yang nikah?" tanya Erni.
"Alya nikah aku juga nikah." jawab Dila sambil tersenyum.
"Kok enggak bilang-bilang. Selamat ya." ucap Erni.
"Iya makasih Erni, aku duluan ya, mau bebersih kamar dulu," jawab Dila.
"Iya." jawab Erni sambil menatap Dila dan Bagja yang sudah masuk ke kamar kosnya.
'Cakep bener suami Dila, Mudah-mudahan jodoh aku juga kasep kayak gitu.' gumamnya.
__ADS_1
//
Sementara di tempat lainnya Alya dan Vino berpamitan kepada Risma dan Ilyas, ya sebelum berangkat ke Bandung, mereka berpamitan terlebih dahulu kepada Ilyas dan Risma.
"Hati-hati dijalan ya, Vino umi titip Alya ya jaga Alya, dia udah jadi tanggung jawab kamu sekarang." ucap Risma.
"Iya mi," jawab Vino.
"Baik-baik disana, jaga kesehatan dan saling menguatkan satu sama lain kalau ada masalah, jangan bertengkar dan mengambil keputusan disaat sedang emosi. Orang menikah itu banyak ujiannya." pesan Ilyas.
"Iya Bi," jawab Vino. Lagi-lagi dia hanya bisa menjawab iya, tanpa tahu apakah bisa menjalaninya atau tidak. Yang jelas saat ini Vino punya tanggungjawab atas diri Alya karena dia suaminya.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya, umi, abi." ucap Alya sambil menyalami Ilyas dan Risma, begitu pula dengan Vino.
Setelah berpamitan mereka langsung berangkat ke Bandung. Di sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam, menyelami fikiran masing-masing. Dan pada akhirnya mereka sampai dengan selamat. Disana mereka melihat mobil Bagja sudah terparkir dihalaman kos mereka.
"Udah nyampai duluan." ucap Alya.
"Udah dari tadi pagi berangkatnya juga, wajar aja." ucap Vino.
"Tapi kok A Bagja belum pulang, ini udah mau maghrib loh." ucap Alya.
"Ya biasa atuh sayang-sayangan dulu, kan mau LDR," jawab Vino.
"Kita enggak sayang-sayangan juga?" goda Alya. Vino tersenyum kecut, semakin lama semakin pandai Alya menggodanya, Lama-lama imannya bisa goyah jika begini terus.
"Apaan sih, kita kan enggak LDR!" ucap Vino dengan memasang wajah datar.
"Oh iya ya, aku sampai lupa. Terus kita tetep tidur terpisah?" tanya Alya.
"Emm.. soal itu, karena nikahnya dadakan. Buku nikah kita juga belum jadi, ya sementara misah dulu aja sampai buku nikahnya jadi. Enggak lama, paling juga dua minggu udah jadi." ucap Vino.
"Ya udah!" jawab Alya tak semangat. Dia menenteng tasnya menuju kamar kos miliknya. Vino menghela nafas kasar kemudian dia menyusul Alya ke kamar kosnya.
"Segitu lemesnya cuma gara-gara enggak tidur satu kamar." sindir Vino yang langsung merebut kunci kamar kos Alya dan membuka pintu kamar kos itu dengan cepat.
"Ih apaan sih, aku kan cuma nanya." ucap Alya menyangkal.
"Ini demi kebaikan kita juga, aku enggak mau sampai digerebeg karena belum punya buku nikah." ucap Vino.
"Hm!" jawab Alya yang langsung mengambil sapu untuk membersihkan kamarnya.
"Baru juga sampai istrahat dulu." ucap Vino sambil membaringkan tubuhnya dikasur Alya.
"Aku enggak suka berada didalam kamar kotor dan berdebu. Enggak betah." jawab Alya. Kemudian dia mulai bersih-bersih kamar kosnya. Sedangkan Vino yang memang sudah kelelahan langsung tertidur dikasur Alya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁