
Puja yang mendadak bad mood gara-gara mendapat pesan dari Ilyas langsung melempar ponselnya keatas kasur lalu menghampiri emak dan bi Yayah yang sedang masak di dapur.
"Mak, masak apa mak?" tanya Puja saat melihat emak sedang memetik daun ubi kayu.
"Mau masak ini disanten dicampur udang." jawab emak.
"Wah enak tu mak, Puja boleh bantuin?" tanya Puja.
"Boleh, tapi jangan sampai kecapek'an. Nanti Sofyan protes ke emak." ucap emak.
"Enggak lah mak, cuma bantuin aja kok sampai capek. Puja bosen mak enggak ngapa-ngapain. Kang Sofyan tuh mak, masa Puja dilarang ngerjain apa-apa." ucap Puja.
"Sofyan emang gitu kalau udah cinta, udah sayang, perasaannya daleeem banget. Sama kayak bapak nya dulu juga gitu, dideketin cewek susah, tapi kalau udah suka sama satu perempuan, ya udah semua dikasih, sampai kelebihan kasih sayang." ucap emak sembari mengulum senyum mengenang masa lalunya.
"Ih emak bisa aja. Berarti bapak romantis juga ya mak, pantes kang Sofyan sayang banget sama Puja, ternyata sifatnya nurun dari bapak." ucap Puja. Emak hanya tersenyum menanggapi ucapan Puja.
"Oh iya mak, kalau emak sama ibunya Risma itu temen deket apa gimana kok bisa akrab?" tanya Puja.
"Iya dulunya temen sekolah, kalau bapaknya Sofyan sama bapaknya Risma sahabatan dari kecil. Risma sering dibawa main kesini, begitu juga Sofyan sering dibawa main ke tempat Risma. Jadi Sofyan itu udah nganggap Risma seperti adiknya sendiri karena Sofyan dari dulu kepengen punya adik perempuan, tapi emaknya malah enggak hamil-hamil." jelas emak.
"Oh, gitu ya mak. Tapi apa kang Sofyan enggak pernah punya perasaan apa-apa sama Risma mak? dulu kan mereka sempat tunangan tapi gagal nikah." tanya Puja.
"Ya kalau ada perasaan mah, enggak susah bujukin Sofyan buat nikahin Risma, udah dibilang Sofyan itu tipe laki-laki yang susah dideketin perempuan Puja, sikapnya dingin kalau sama perempuan." ucap emak. Ah, Puja jadi semakin merasa beruntung mendapatkan suami seperti Sofyan, hatinya jadi berbunga-bunga dan tak sabar menunggu kepulangan Sofyan.
"Oh iya Puja, kamu udah tahu belum hari ini kan tanggal dan bulan kelahirannya Sofyan." ucap emak yang tiba-tiba teringat hari lahir Sofyan.
"Apa iya mak?" tanya Puja yang memang baru tahu.
"Iya. Coba cek aja di KTP atau surat nikah." ucap emak.
"Iya mak." jawab Puja lalu bergegas menuju kamarnya untuk mencari KTP Sofyan, dan akhirnya ketemu. Puja membulatkan matanya, namun sedetik kemudian dia mengulum senyum, ternyata tepat pada hari ini Sofyan berusia 30 Tahun, pantas saja tenaganya begitu besar saat diranjang. Rupanya sedang gagah-gagahnya.
Puja kembali ke dapur menemui bi Yayah dan juga emak.
"Bi, bi yayah bisa tolong anterin Puja ke ** ****** enggak?" tanya Puja.
"Emang mau apa kesana Puja?" tanya emak.
"Puja mau beli kue mak, mau bikin kejutan kecil-kecilan buat kang Sofyan." ucap Puja.
"Sebaiknya jangan pergi jauh-jauh kalau enggak sama Sofyan Puja. Kalau mau bikin kue, biar diajarin sama bi Yayah, bi Yayah ini pinter bikin kue." ucap emak.
"Apa iya bi?" tanya Puja antusias.
"Hehe, sedikit-sedikit teh Puja, tapi bibi mah cuma bisa bikin bolu jadul, kalau yang dihias-hias gitu mah kurang telaten." jawab bi Yayah apa adanya.
"Enggak apa-apa, bibi yang bikin kuenya. Nanti yang hias biar Puja aja." ucap Puja.
__ADS_1
"Ya udah ayok bi, nanti kang Sofyan keburu pulang malah enggak jadi kejutan." ucap Puja antusias. Kemudian mereka berbelanja kebutuhan untuk membuat kue diwarung terdekat dengan bahan-bahan seadanya.
Dengan semangat Puja merapikan dan menata kamarnya, menaruh lilin-lilin kecil dan membeli pengharum ruangan agar kamar itu lebih terasa nyaman. Dia juga memindahkan box kasur Bagja ke kamar tamu karena malam ini dia meminta bi Yayah untuk menginap dan menjaga Bagja. Sementara dirinya, ah! tentu saja dia mau memanjakan suaminya itu.
//
Sementara yang sedang berulang tahun kini tengah memandangi foto Puja di ponselnya. Foto-foto sexy Puja yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Semua galerinya penuh terisi dengan foto wanita nakal dan tukang menggoda itu. Ah, Sofyan jadi tak sabaran ingin segera pulang.
"Kang, ngapain cengar-cengir sendiri?" tanya Mahmud.
"Ya biasalah." jawab Sofyan.
"Biasa apa?" tanya Mahmud.
"Biasa penganten baru." jawab Sofyan.
"Bukannya kang Sofyan udah mau dua tahun ya nikah sama teh Puja, kok masih penganten baru aja? udah lama atuh kang itu mah. Udah punya anak lagi." tanya Mahmud keheranan.
"Ah, kamu mah Mud sirik aja." ucap Sofyan.
"Tapi kan emang bener kang, udah enggak pantes atuh disebut penganten baru." ucap Mahmud.
"Tapi rasanya masih sama Mud, saya enggak pernah bosen saat ngelakuin itu, rasanya masih menggigit dan legit. Beuhh gurih enyoy pokoknya mah!" ucap Sofyan sembari membayangkan pusakanya dijepit liang kenikmatan milik Puja.
"Ish! kenapa jadi mesum kie nya. Ampun dah ach! ach! ach!" ucap Mahmud seraya mengendik-ngendikkan bahunya.
"Sellow Mud, sellow. Kecup-kecup dulu aja Mud, berawal dari kecupan, nanti akan berakhir dengan celupan." ucap Sofyan sembari menahan tawa.
"Ah, gelo sugan mah!" ucap Mahmud yang bertambah kesal lalu kembali kedekat perapian mengambil ubi kayu bakar dan menikmatinya panas-panas.
Sofyan tiba-tiba teringat Puja saat melihat ubi kayu bakar yang tengah dimakan Mahmud. Dia ingat sekali saat itu Puja begitu lahap menikmati ubi bakar yang diberikannya kepada Puja. Sofyan juga melirik kamar di dalam saung. Ah, sungguh dia merasa gila karena terus terbayang-bayang wajah Puja.
"Mud, saya pulang ya." ucap Sofyan yang sudah tak sabaran.
"Atuh jangan dulu kang, kan masih banyak kerjaan. Terus nanti ada yang mau nganter pakan juga, siapa yang bayar?" tanya Mahmud.
"Ya udah." jawab Sofyan sembari merajuk. Setelah itu dia membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Puja.
(Sayang lagi apa?) satu pesan terkirim ke nomor Puja. Namun tak kunjung mendapat balasan. Beberapa menit kemudian...
Ting
(Maaf kang, Puja tadi lagi ngobrol-ngobrol sama emak.) Puja.
(Oh, akang kangen sayang) Sofyan.
Ting
__ADS_1
(Pulang atuh kalau kangen mah) Puja
(Maunya gitu, tapi masih banyak kerjaan sayang) Sofyan.
Ting
(Terus pulangnya jam berapa?) Puja.
(Belum tahu sayang, ya telat-telatnya habis maghrib) Sofyan.
Ting
(Ya udah semangat kerjanya ya.. hati-hati jangan sampai lupa makan) pesan Puja penuh perhatian.
(Iya sayang. emmmuuaacchh!!!) Sofyan.
Ting
(Hap!! Puja ambil terus dimamam) Puja.
(Kok dimamam sayang, dibalas atuh) Sofyan
Ting
(Em.....mu.....aaaacchhh!! I love you sekebon, sekolam, setambak!) Puja.
(Ish!! dasar centil) Sofyan.
Ting
(Tapi suka kaaaan??) Puja.
(Iya doong...!) Sofyan.
Ting
(Udah dulu ah kang, Puja mau nidurin Bagja dulu) Puja.
(Iya sayang, baik-baik dirumah) Sofyan.
Ting
(Emot senyum penuh cinta) Puja.
Sofyan mencium layar ponselnya yang terdapat foto Puja.
"Awas kamu ya entar malam!!" ucap Sofyan pelan.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁