
Sesampainya dirumah dan kang Sofyan sudah selesai mandi, aku langsung menanyainya.
"Yang tadi siapa kang?" tanyaku.
"Mantan tunangan" jawab kang Sofyan dingin.
"Oh, yang batal nikah sama kang Sofyan gara-gara kang Sofyan enggak bisa move on itu.." celetukku. Dia menatap tajam ke arahku.
"Jangan galak-galak dong kang" ucapku sembari mendekatinya dan mengalungkan tanganku dilehernya. Aku menggigit bibir bawahku. Kang Sofyan langsung memejamkan matanya, terlihat jelas jakunnya yang naik turun.
"Mau apa?" tanya kang Sofyan dengan suara serak. Aku malah melepas tanganku dilehernya dan beralih memeluknya.
"Puja cinta sama kang Sofyan" ucapku malu-malu sambil membenamkan kepalaku di dadanya. Lagi-lagi aku mendengar bunyi detak jantung kang Sofyan. Aku tersenyum tipis sambil lebih mengeratkan pelukanku. Kang Sofyan tak membalas pelukanku tapi malah mencium kepalaku.
"Udah, akang mau tidur siang dulu soalnya nanti malam mau tidur di tambak" ucapnya seraya melepas pelukanku darinya.
"Ke tambak sendirian?" tanyaku.
"Iya" jawabnya lalu berbaring dikasur dan memejamkan matanya. Kang Sofyan terlihat lelah, lalu aku ikut berbaring disisinya dan menghirup aroma tubuhnya, entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi sangat manja dan selalu ingin dekat dengan kang Sofyan.
Tok tok tok
"Neng Puja" ucap emak dari luar.
"Iya mak, sebentar" jawabku sambil beranjak membuka pintu kamar.
"Lagi apa? emak ganggu enggak?" tanyanya sambil tersenyum hangat.
"Enggak kok mak, cuma lagi tiduran aja sama kang Sofyan" jawabku ramah.
"Oh, tumben Sofyan tidur siang" jawabnya.
"Katanya nanti malam mau tidur ditambak mak" jelasku. Emak mengangguk faham.
"Bantuin emak ngupasin jengkol mau enggak?" tanya emak.
"Mau mak" jawabku.
"Itu diteras depan, banyak habis panen sekarung" jawabnya.
"Iya mak" jawabku. Lalu ikut emak keteras depan.
"Mau dijual kemana ini mak?" tanyaku.
"Nanti diambil anaknya mang Entis" jawab emak.
"ooh" aku hanya ber oh ria.
Saat aku dan emak tengah asyik mengupas kulit jengkol, tiba-tiba datang seorang wanita dengan menenteng sebuah rantang. Ternyata setelah aku perhatikan, wanita itu yang tadi bertemu di warung dekat tambak.
"Assalamualaikum mak" sapanya lalu mencium punggung tangan emak.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, neng Risma, udah lama enggak kesini, sini duduk" ajak emak sembari menepuk lantai disisi kirinya.
"Iya mak, ini Risma bawa empal, sama soto" ucapnya sembari menyodorkan rantangan berisi makanan.
"Eh, kok malah ngerepotin. Makasih ya, ini Risma yang masak?" tanya emak sambil mengambil rantangan itu.
"Iya mak, Risma yang masak sama ibu tadi" ucapnya sambil tersenyum hangat.
"Waah, kalau Risma yang masak pasti enak ini" puji emak.
Aku merasa panas melihat keakraban mereka, bukan apa-apa, tapi aku jadi merasa takut kehilangan kang sofyan saat tahu wanita itu adalah mantan tunangan kang Sofyan. Aku mengalihkan pandanganku dengan kembali fokus pada jengkol-jengkol yang sedang aku kupas.
"Oh iya, ini kenalin. Puja, istrinya Sofyan" ucap emak mengenalkanku.
"Puja" ucapku sambil menyodorkan tanganku.
"Risma" ucapnya sambil tersenyum kecut. Ekspressinya berubah masam saat melihat kearahku.
"Mau minum apa?" tawarku berbasa basi setelah melepas jabatan tanganku dengannya.
"Enggak usah repot-repot Risma kesini hanya sebentar dan mau nyampein pesan abah, kalau emak sama bapak diminta abah untuk kerumah ba'da magrib, katanya ada yang mau dibicarakan sama abah. Penting" jelasnya.
"Ooh, iya nanti emak sama bapak kesana" ucap emak.
"Ya udah mak, Risma enggak lama kok, Risma pamit dulu ya" ucapnya.
"Loh, kok buru-buru" ucap emak.
"Oh iya udah" jawab emak. Setelah itu Risma berpamitan dan pulang kerumahnya. Entah kenapa mood ku tiba-tiba jelek, dan juga merasa kepo, kenapa abahnya Risma meminta emak dan bapak kerumahnya? ada urusan apa? aku bertanya-tanya dalam hati.
*********
Malam harinya selepas maghrib, kami semua makan malam bersama, menikmati empal dan soto kiriman dari risma. Aku hanya memanyunkan bibirku saat kang Sofyan begitu lahap memakan soto buatan Risma.
"Kenapa enggak dimakan?" tanya kang Sofyan yang melihatku hanya mengaduk-aduk soto dimangkok ku.
"Padahal ini enak loh" ucap kang Sofyan. Aku semakin jengkel dan memajukan bibirku.
"Puja udah kenyang kang" ucapku.
"Masa sih?" tanyanya.
"Iya" jawabku cuek. Kang Sofyan menatapku bingung.
"Ini soto dari mana mak, kok enak banget? emak beli apa bikin?" tanya kang Sofyan sambil menikmati sotonya. Aku mengepal kuat tanganku menahan sesuatu yang telah terbakar didadaku.
"Oh, ini dari Risma, tadi dia yang bawain kesini" jawab emak.
Uhuukk!!
Seketika kang Sofyan terbatuk, lalu menatap ke wajahku yang sudah memerah menahan amarah.
__ADS_1
"Puja ke kamar dulu ya mak, kayaknya masuk angin, perut Puja dari tadi enggak enak" pamitku.
"Iya, istirahat aja" ucap emak.
Sesampainya dikamar aku terus menekuk wajahku. Dan tidak lama kang Sofyan ikut menyusul masuk kamar.
"Kenapa wajahnya kusut gitu?" tanya kang Sofyan sambil tersenyum meledek.
"Enggak kok perasaan biasa aja" jawabku acuh.
Kang Sofyan tak menjawab, malah mengambil selimut, jaket dan obat nyamuk yang kemudian dimasukkan kedalam tas ranselnya.
"Jadi tidur ditambak?" tanyaku.
"Jadi" jawabnya singkat.
"Puja ikut ya?" ucapku.
"Ngapain?" tanya nya.
"Ya nemenin kang Sofyan tidur disana" ucapku.
"Banyak nyamuk, enggak usah ikut" jawabnya.
"Ya udah" jawabku acuh.
Setelah membereskan barangnya, kang Sofyan langsung berpamitan untuk berangkat ke tambak. Begitupula emak dan bapak yang berpamitan ke rumah Risma. Tinggalah aku sendirian dirumah.
Sampai malam menjelang, tepat pukul delapan malam, aku belum juga bisa memejamkan mataku. Entah dapat ide dari mana aku mendapat fikiran nakal untuk mengerjai kang Sofyan.
(Kang, lagi apah??) aku mengirim pesan whats up pada kang Sofyan. Tidak ada balasan, sampai lima belas menit kemudian, baru kang Sofyan membalas pesanku.
Ting
(Kok belum tidur, ini kang Sofyan baru selesai nata pakan ikan) balasnya.
(Ooh..) balasku singkat.
Setelah itu aku membuka tiga kancing piyama tidurku dan memperlihatkan duo asetku yang terbalut dalaman. Lalu menurunkan sedikit celanaku hingga nampaklah pusarku. Setelah itu aku menggigit ujung kerah piyamaku dan berpose dengan menggigit bibirku yang terlihat menggoda, tidak lupa berpose sexy dengan menampilkan keindahan duo asetku dan perut putih mulusku.
Cekrek! cekrek!
Setelah mengambil beberapa foto sexy nan menggoda aku langsung mengirimkannya pada kang Sofyan dengan caption 'Kangen ditindih akang'. Tak ada balasan, satu jam kemudian tepat pukul sembilan malam. Pintu rumah diketuk.
Tok tok tok!
"Puja, buka pintunya. Ini kang Sofyan"
Aku tertawa girang. Yess!!!
%%%%%%%%
__ADS_1
Hadeeeehhhh... Puja, oooh Puja...!! Gubrak!