Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Pengantin Pengganti


__ADS_3

Sofyan, Puja, Bagja dan Vino kini sudah berada dirumah Risma dan Ilyas. Mereka semua berkumpul di kursi tamu, tak ketinggalan Alya yang sedang tertunduk lesu, mungkin karena malu setelah mendapati kenyataan yang sesungguhnya dari mulut ibunya. Risma dan Ilyas memarahinya habis-habisan. Rasanya saat ini Alya sudah tak punya muka untuk sekedar menatap Puja.


"Saya sudah tahu tujuan kalian kesini untuk apa." ucap Ilyas membuka pembicaraan.


"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian memalukan ini." ucap Sofyan.


"Hanya tinggal dia hari, tapi semuanya jadi seperti ini. Sungguh manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Jujur saya kecewa, tapi saya akan lebih kecewa jika pernikahan ini tetap dilanjutkan dan pada akhirnya mereka bercerai setelah mereka menikah." ucap Ilyas dengan bijak.


"Dan soal Alya, saya sungguh minta maaf. Untuk hal itu saya sebagai orang tuannya pun merasa malu, saya fikir saya sudah berhasil mendidiknya tapi..." Ilyas menunduk malu.


"Tidak apa-apa. Saya juga merasakan hal yang sama, saya fikir saya sudah berhasil mendidik Bagja, nyatanya menjaga seorang anak bujang lebih payah dari pada menjaga kambing di padang rumput." ucap Sofyan.


"Jadi bagaimana, apakah pernikahan ini tetap akan dilanjutkan atau selesai sampai disini?" tanya Risma yang kini ikut buka suara.


"Saya enggak bisa melanjutkan tante, karena saya harus bertanggungjawab kepada Dila." ucap Bagja.


"Lalu bagaimana dengan nasib Alya a? a Bagja tega melihat Alya ditertawakan orang karena batal menikah?" Alya masih belum Terima Bagja membatalkan rencana pernikahannya yang hanya tinggal dua hari itu.


"Begini saja, bagaimana kalau kami buat penawaran. Sebagai gantinya, Vino yang akan menggantikan Bagja di pernikahan itu." usul Puja.


"What??!" Vino terkejut dan memelototkan matanya.


"Mama, jangan bercanda dong." ucap Vino.


"Saya setuju, Alya mau tante." ucap Alya yang langsung membuat semua orang termasuk Vino terkejut karena secepat itu. menyetujui usul dari Puja.


"Al kamu apa-apaan sih, dipikir dulu dong, jangan maen asal setuju aja." protes Vino.


"Aku udah enggak bisa mikir, ada dua keluarga yang dipermalukan, setidaknya akun menikah dengan kamu, orang yang aku kenal." ucap Alya dengan menatap kesal kearah Vino.


"Tapi kan..."


"Mamah mohon Vin, kasihan Alya, kalian bisa mencobanya, banyak juga kok yang berhasil menikah tanpa cinta dan berujung bahagia, seperti mamah dan ayah kamu. Lihat, sekarang kami bahagia kan." ucap Puja.


"Tapi mah..." Vino merengek.


"Mah, jangan dipaksa kalau anaknya tidak mau." ucap Sofyan.


"Iya benar, kalau Vino tidak mau jangan dipaksa, dari pada ujung-ujungnya pernikahan mereka gagal dan berakhir dengan kegagalan lebih baik jangan." ucap Ilyas.

__ADS_1


"Ya sudah tidak usah! biarkan! biar tidak ada pernikahan! biar Alya mendengar ejekan orang! sekalinya saja selamanya Alya tidak akan menikah!" ucap Alya yang merasa kecewa. Setelah itu dia bangkit dan hendak masuk kedalam kamarnya.


"Saya setuju." ucap Vino bersuara. Semua orang menatap kearahnya termasuk Alya.


"Kamu yakin Vin?" tanya Bagja.


"Yakin, lagian enggak rugi kan punya istri, ada yang ngurusin." jawab Vino enteng.


"Tapi apa Alya mau menikah dengan saya yang masih kuliah, dan belum bisa menafkahi secara materil?" tanya Vino.


"Kalau soal itu kamu enggak perlu khawatir, umi dan abi masih ada. Aku tidak akan kekurangan uang. Cukup bantu nikahin aku aja." ucap Alya yang kini sudah kembali duduk.


"Oke! ya udah nikah tinggal nikah, apa susahnya." ucap Vino enteng. Kini malah Puja yang menjadi ragu, apakah Vino bisa menjadi suami yang bertanggungjawab atas istrinya?


"Tapi Vin, kamu juga harus belajar tanggung jawab atas istri kamu. Apalagi kalau kamu sudah punya anak." ucap Puja.


"Mamah gimana sih, tadi minta suruh nikahin, sekarang nuntut tanggung jawab, kenapa Vino jadi banyak nuntut? harusnya kalau Alya sudah tahu resikonya kalau menikah dengan Vino yang masih kuliah." ucap Vino.


"Iya Alya, sebaiknya kamu fikir lagi masak-masak. Karena ini menyangkut masa depan kamu." ucap Risma.


"Alya setuju umi, Alya setuju." ucap Alya mantap. Entah kenapa dia punya fikiran ingin mendekati Bagja melalui Vino, walau dia menyesal karena sudah menuduh Puja tapi dia masih berharap kepada Bagja.


//


Bagja masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan lega namun juga lelah. Dia mulai membuka ponsel dan mencoba melakukan video call dengan Dila. Baru sekali panggilan, Dila sudah mengangkatnya, seperti sudah menunggu untuk ditelfon.


"Halo a, ada apa?" tanya Dila dengan wajah sembab.


"Kenapa nangis?" tanya Bagja.


"Enggak apa-apa, Dila takut aja kalau a Bagja tetap jadi nikah dengan Alya." ucap Dila dengan suara parau.


"Alya memang bersikukuh ingin tetap menikah." ucap Bagja.


"Tuh kan! tebakan Dila bener, terus gimana? A Bagja mau ninggalin Dila?" tanya Dila dengan ekspresi sedih namun terlihat begitu menggemaskan dimata Bagja.


"Iya A Bagja akan menikah." ucap Bagja.


"Dasar pembohong! katanya mau tanggungjawab! katanya janji mau nikahin Dila! tapi apa?? dasar jahat! hiks!!" Dila mengamuk dan menangis tersedu-sedu hingga membuat Bagja merasa iba untuk mengerjai Dila.

__ADS_1


"A Bagja tetap akan menikah tapi bukan dengan Alya, dengan kamu." ucap Bagja yang langsung meredakan tangis Dila.


"Yang bener? A Bagja pasti bohong, katanya Alya akan menikah, terus kalau A Bagja nikah sama Dila, Alya sama siapa? Jangan-jangan A Bagja mau poligami? iya?" tuding Dila, tangisnya semakin pecah.


"Ya ampun, kok kamu mikirnya kesitu sih. Enggak lah Dil." ucap Bagja sambil menggeleng pelan.


"Terus??" tanya Dila.


"Alya nikah sama Vino." ucap Bagja.


"Hah? sama Vino?" Dila terkejut bukan main.


"Iya, mereka semua sudah sepakat." ucap Bagja.


"Aneh! kok Vino mau? Alya juga... emh,, apa enggak ada udang dibalik bakwan?" tanya Dila menerka-nerka.


"Udah enggak usah mikirin yang lain-lain, Siap-siap aja untuk..." Bagja menatap lekat wajah Dila.


"Siap-siap untuk apa?" tanya Dila dengan wajah bersemu merah, mungkin saja saat ini pipinya sudah semerah tomat.


"Untuk jadi permaisuri nya Bagja Sofyan." ucap Bagja lembut. Dila menggigit bibir bawahnya karena merasa malu, namun Bagja malah menangkap sebaliknya, dia kira Dila sedang menggodanya.


"Jangan digigit begitu bibirnya." ucap Bagja.


"Kenapa?" tanya Dila.


"Karena..."


"Karena apa?" tanya Dila dengan sengaja kembali menggigit bibirnya.


"Sudahlah, dua hari ini kita harus puasa untuk ketemu. Kata mamah, kita jangan terlalu sering komunikasi, karena kamu sedang dipingit." ucap Bagja mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Jadi, kita enggak akan ketemu sampai hari pernikahan?" tanya Dila.


"Iya" jawab Bagja.


"Ya ampuuun... lama bangeeet!!" ucap Dila manja semakin membuat Bagja tak tahan ingin melahapnya segera. Duh! Dila benar-benar membuatnya semakin oleng.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2