
"Lepasin Vin!" Lagi-lagi Alya memberontak. Namun Vino dengan sekuat tenaga menahan tubuhnya.
"Kamu ngapain aja tadi sama dia?" tanya Vino.
"Bukan urusan kamu, lagian ngapain sih tiba-tiba dateng kesini, ganggu orang aja! giliran kamu di ganggu enggak mau!" ucap Alya ketus.
"Oh! kamu tadi pasti sedang ciuman! atau...!" Vino tak melanjutkan ucapannya saat melihat mata Alya yang mulai berkaca-kaca.
"Atau apa? sedang berbuat messum? kamu nuduh aku, padahal jelas-jelas kamu sendiri yang berbuat messum sama pacar kamu! jangan samakan aku dengan kamu Vin! walaupun pernikahan kita dilakukan karena terpaksa, tapi aku masih menghargai kamu sebagai suami aku. Aku sadar diri kalau status aku udah nikah! aku bukan wanita gampangan yang suka menyerahkan diri kepada lelaki yang bukan siapa-siapa aku! aku bukan kamu!" ucap Alya dengan suara parau. Dia menunjuk-nujuk wajah Vino karena saking kesalnya.
"Ck! aku enggak percaya! di tempat gelap kayak gini, siapa yang bisa jamin kalian enggak ngapa-ngapain?" tanya Vino dengan tatapan curiga.
"Terus kamu maunya apa sekarang?" tantang Alya.
"Aku mau buktikan kalau memang kamu sama laki-laki itu enggak ngapa-ngapain!" ucap Vino dengan tatapan tajam.
"Ma-maksud kamu? gimana caranya?" tanya Alya.
"Begini caranya" ucap Vino sambil menarik wajah Alya dan merampas bibir berwarna pink alami tersebut. Alya terkejut saat Vino menciumnya secara tiba-tiba. Namun lama kelamaan, dia ikut terbuai, karena Vino menyesapnya dengan penuh kelembutan. Awalnya hanya sebuah ciuman biasa, namun lama kelamaan berubah menjadi ciuman panas dan menuntut. Mungkin karena suasana dingin dan tempat yang mendukung, mereka saling tak menikmati ciuman itu tanpa berniat untuk menghentikannya. Ditambah tangan Vino yang sudah merayap kemana-mana membuat Alya bergerak tak karuan. Menggelinjang ke kiri dan ke kanan sepeti cacing kepanasan. Vino menghentikan ciumannya sejenak, namun kemudian turun menyusuri leher jenjang Alya, dan menciuminya dan menji lati nya dengan penuh nafsuu. Tak lupa dia memberikan satu jejak kepemillikan di sana.
"Eughh! Vin...!" Alya meracau tak karuan saat menikmati sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. Vino kembali menurunkan wajahnya dan mengangkat baju Alya hingga keatas. Lalu menyelam dan menikmati dua bulatan kenyal itu didalam air.
"Vino... akh! apa yang eughh! kamuhh lakukan?" tanya Alya dengan terbata. Dia mengigit bibir bawahnya sambil melirik ke sekeliling, namun memang keadaan disana sedang sepi, dan tempat mereka yang gelap membuat Alya sedikit merasa lega karena tidak ada orang yang melihat aksi Vino. Vino kembali menyembul kepermukaan air. Dia tersenyum penuh arti saat melihat wajah Alya yang sedikit memerah.
"Good! masih bersih, enggak ada tanda-tanda bekas laki-laki lain." ucap Vino tanpa tahu malu, dia masih gengsi mengatakan jika dia juga sangat menikmati tubuh Alya yang dicumbunya tadi.
"Apa? jadi kamu ngelakuin itu karena...!" Alya tak melanjutkan ucapannya karena merasa begitu kesal.
"Iya, tapi aku lihat kamu begitu menikmati, sampai meremm meleek!" ucap Vino dengan wajah mengejek. Saat itu Alya benar-benar merasa malu. Bisa-bisanya dia menikmati permainan Vino, pria yang tidak dicintainya sama sekali.
"Udah lah, aku mau balik ke Villa!" ucap Alya yang berniat ingin menghindari Vino demi menutupi rasa malunya.
"Aku anter!" ucap Vino yang ikut naik ke dari dalam kolam.
__ADS_1
"Enggak usah aku bisa sendiri!" ucap Alya yang kini tubuhnya basah kuyup, dia memakai jaketnya agar tak semakin kedinginan.
"Aku akan tetap anter kamu!" ucap Vino sambil memakai kaosnya. Kemudian dia menggenggam tangan Alya dengan sangat erat meninggalkan kolam pemandian air panas tersebut. Alya yang semakin menggigil karena dinginnya udara di sana membuat Vino merasa kasihan. Vino berjongkok.
"Ayo naik aku gendong!" ucap Vino.
"Enggak usah! aku jalan sendiri aja!" ucap Alya sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
"Enggak usah ngeyel! disini dingin banget! entar sakit malah tambah nyusahin! " ucap Vino ketus namun penuh perhatian.
"Ya udah!" jawab Alya sambil naik keatas punggung Vino. Tangannya melingkar ke leher Vino, Alya merasa sedikit hangat karena tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Vino. Di sepanjang jalan mereka hanya diam, namun saling menyunggingkan senyum dibibir Masing-masing. Alya menyandarkan kepalanya di leher belakang Vino. Rasanya begitu hangat dan menyenangkan. Bagi Alya ini pengalaman terindah yang pernah dirasakannya. Begitu pula dengan Vino yang sejak tadi merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Karena suhu udara yang semakin dingin, tubuh Alya semakin mengigil, dia mengeratkan pelukannya ketubuh Vino.
"Kenapa?" tanya Vino.
"Dingin," bisik Alya di dekat telinganya.
Beberapa menit kemudian, Alya sudah selesai membersihkan diri sekaligus mengganti pakaiannya. Namun dia tiba-tiba gatal-gatal, sepertinya Alya alergi dingin. Tubuhnya bentol-bentol seperti orang kena ulat bulu.
"Kenapa garuk-garuk?" tanya Vino.
"Gatel Vin, aku alergi dingin." ucap Alya.
"Mana aku lihat." ucap Vino sambil mendekat dan memeriksa tangan serta kaki Alya yang sudah bentol-bentol itu.
"Sampai merah-merah gini. Jangan digaruk, pakai kayu putih aja" ucap Vino.
"Aku lupa bawa Vin" ucap Alya.
"Aku juga enggak bawa" ucap Vino.
"Dingin Vin. Gatel lagi nih." ucap Alya sambil menggosok-gosok telapak tangannya. Vino tak tega, tak ada cara lainnya, mau tak mau dia mendekati diranjang. Lalu memeluknya seperti koala. Alya tak menolak karena dia memang butuh kehangatan.
__ADS_1
"Udah anget?" tanya Vino.
"Belum Vin. Masih dingin." ucap Alya sambil terus mengeratkan pelukan mereka. Vino mengambil selimut lainnya dan kembali menyelimuti tubuh mereka. Namun Alya masih saja kedinginan.
"Masih dingin?" tanya Vino. Dengan mata sembab Alya mengangguk.
"Iya Vin, dingin." ucap Alya dengan suara serak.
"Ck! apa aku harus..." gumam Vino.
"Harus apa Vin?" tanya Alya sambil mendongak.
"Harus... emh, itu..." Vino bingung menjelaskannya.
"Lakukan apapun itu Vin, aku enggak tahan. Ini dingin banget." ucap Alya dengan wajah memohon.
"Apa kamu yakin?" tanya Vino.
"Memangnya kamu mau ngapain?" tanya Alya.
"Sepertinya kita harus..." Vino ragu-ragu mengatakannya.
"Harus apa?" tanya Alya dengan tubuh mengigil.
"Itu aku.. aku.. aku.." Vino tergagap. Duh! kenapa semua jadi seperti ini?
"Ngomong yang jelas dong Vin, kita harus apa?" tanya Alya mendesak.
"Sepertinya kita harus bercinta, karena dengan bercinta tubuh kita dapat menghasilkan energi panas," jawab Vino dengan menatap dalam mata Alya.
Alya tercengang!
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1