
Dila masih sibuk memainkan ponselnya menunggu Bagja yang masih belum menghubunginya. Padahal ini sudah jam makan siang, hatinya bertanya-tanya kemana suaminya itu. Di SMS tak dibalas, ditelfon tal diangkat. Sungguh membuat hatinya merasa resah gundah gulana.
"Sayang kemana sih? aku nungguin tahu..." lirih Dila dengan suara pelan.
"Aku disini sayang," Tiba-tiba Alex datang dan duduk dihadapan Dila dengan senyum manisnya.
"Ck! kamu lagi!" ucap Dila kesal, kemudian dia beranjak pergi dari tempat itu.
"Sayang, mau kemana? tadi nyariin." Alex mengejar Dila yang semakin lama semakin menjauh.
//
Sementara ditempat lainnya Bagja tengah disibukkan dengan tugas dadakan yang diberikan oleh pak kepala. Tak hanya itu, tugas itupun diberikan kepada Anya, sehingga mau tak mau mereka terlibat dalam pekerjaan yang sama. Dengan ter buru-buru Bagja menyelesaikan pekerjaan itu, dia yakin saat ini Dila pasti sudah bulak balik mengirim pesan padanya.
"Santai aja kak, laper ya? nanti aku minta tolong office boy untuk beliin makanan." ucap Anya. Bagja menatap Anya dengan tatapan kesal, Bagja yakin ini semua ada kaitannya dengan Anya. Entah apa maunya, tapi Bagja dapat menangkap niat tersembunyi di dalam diri Anya.
"Saya bahkan bisa tahan enggak makan selama 24 jam, tapi yang saya tidak tahan adalah ketika tidak bermesraan dengan istri saya." ucap Bagja sambil menekankan kata istri.
"Oh, emangnya kak Bagja bisa bermesraan? gimana sih, coba Anya mau lihat." ucap Anya memancing.
"Saya tidak ada kewajiban menunjukkannya kepada perempuan lain, karena yang berhak hanya istri saya." jawab Bagja.
"Ya ampun kak, enggak usah kaku banget lah sama Anya. Kita kan partner kerja, siapa tahu berawal dari partner kerja bisa jadi..." Anya menggantung ucapannya membuat Bagja memicingkan matanya.
"Partner ranjang." ucap Anya setengah berbisik. Gila! ini sudah keterlaluan, Anya benar-benar tidak profesional.
"Jangan macem-macem ya kamu!" ucap Bagja dengan tatapan marah.
"Aku enggak macem-macem kok. Kan hanya seandainya aja." ucap Anya santai.
Bagja tersenyum kecut, sungguh hal seperti ini sangat mengganggu pekerjaannya. Dia sangat tak nyaman berada di lingkungan kerja yang tak sehat dan tidak profesional.
"Kak," Anya mencoba meraih jemari Bagja. Namun dengan cepat Bagja menepis nya. Dia merasa sangat jijik disentuh wanita lain selain Dila dan Puja ibunya.
__ADS_1
"Kak, sudah sejak lama aku punya perasaan sama kamu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat kamu nolongin aku dari preman-preman itu. Kamu tahu, aku nyariin kamu, nyari alamat rumah kamu. Tapi semenjak kamu lulus aku kehilangan jejak tentang kamu. Tapi sekarang kita dipertemukan lagi disini, ternyata kamu bawahan papa aku. Aku seneng banget kak. Itu artinya kita jodoh." ucap Anya tanpa tahu malu.
"Apa kamu udah gila? saya sudah beristri Anya!" bentak Bagja.
"Ya, aku tahu kamu udah beristri dan aku sama sekali enggak keberatan jadi yang kedua." ucap Anya yang memang sudah tergila-gila pada Bagja sejak lama.
Bagja menarik nafas dalam-dalam. Mencoba untuk menetralkan amarahnya yang akan meledak sekarang juga. Kemudian dia membenahi berkas-berkas laporan yang sedang dikerjakannya hendak pergi dari tempat itu. Anya menahanya.
"Mau kemana kak?" tanya Anya. Bagja tak menggubris Anya dan melengos begitu saja.
"Kak!" Anya memekik kesal. Namun dia dikagetkan dengan bunyi ponsel dari dalam tas kerja Bagja. Anya menyunggingkan senyum nya. Kemudian dia mengangkat panggilan telfon yang berasal dari kontak bernama 'Lovely'.
'Ini pasti istrinya' batin Anya. Dia tersenyum senang.
"Halo.. Aa kemana aja, dari tadi Dila telfonin kok enggak diangkat?" tanya Dila dengan manja.
"Halo, kamu siapa ya?" tanya Anya dengan nada dibuat Bingung.
"Kamu siapa? kenapa kamu yang angkat telfon suami saya?" tanya Dila dengan cemas. Anya tersenyum senang.
"Apa?! kurang ajar!! heh perempuan gila! balikin HP suami saya! kamu pasti copet kan! iya kan!" ucap Dila berapi-api, Dila tak sebodoh itu mempercayai ucapan Anya.
"Apa!? cantik-cantik begini kamu bilang saya copet! heh! pakai otak kamu, mana ada copet kenal sama pemilik handphone, aku bahkan tahu tanggal lahir Bagja, aku tahu nama lengkapnya, tempat kerjanya, semuanya aku tahu karena Bagja dan aku,, kami pacaran, sudah lama." ucap Anya semakin ngelantur.
"Jangan bohong! coba sebutin tanggal lahirnya!" tantang Dila. Anya menyebutkan tanggal lahir Bagja, dan memang benar. Seketika itu juga Dila terduduk dilantai.
"Bener kan? aku enggak asal nebak ya, karena Bagja itu milik aku, kami habis bercinta dan dia masih didalam kamar mandi. Eh, udah dulu aku mau nyusulin dia ke kamar mandi." ucap Anya yang buru-buru mematikan ponsel Bagja saat melihat kedatangan Bagja ketempat itu. Namun bukan itu saja, dia juga menghapus riwayat panggilan dari Dila dan meletakkan kembali ponsel Bagja ketempat semula agar Bagja tak curiga.
"Kok balik lagi, kangen sama aku?" tanya Anya dengan bersikap biasa saja. Bagja menatap jijik dan langsung mengambil ponselnya tanpa menggubris Anya. Setelah itu dia kembali pergi keluar dari ruangan itu.
Bagja membuka satu persatu pesan dari Dila. Memang benar sudah banyak pesan yang dikirimkan Dila. Bagja mencoba menghubungi Dila, karena dia sudah kangen berat. Namun aneh, Dila tak mengangkatnya. Kemudian dia mengulangi panggilan itu, tapi kali ini ponsel Dila malah tidak aktif.
"Apa Dila udah masuk kelas lagi ya. Iya mungkin, aku kan terlambat satu jam, wajar kalau dia lagi ada kelas." gumam Bagja.
__ADS_1
//
Ditempat lainnya Dila tengah menangis sesegukan ditaman kampus, menangisi perselingkuhan Bagja dan wanita yang tidak dikenal. Dia ingin tak percaya, tapi nyatanya ucapan wanita itu benar. Dila terus menangis hingga tak menyadari kehadiran Vino yang sudah berada disampingnya.
"Dil, kamu kenapa?" tanya Vino.
"Enggak apa-apa!" jawab Dila ketus.
"Lagi bertengkar sama kak Bagja? dia nyakitin kamu?" tanya Vino.
"Enggak usah kepo deh jadi orang!" ucap Dila sambil menepis tangan Vino yang hendak mengelap air mata di pipinya.
"Kak Bagja ngapain kamu? ngebentak? atau apa?" tanya Vino tak terima jika Dila sampai disakiti. Dia melihat Dila begitu sangat terluka. Bahkan dia tak pernah melihat Dila serapuh ini.
"Dil, ngomong dong." ucap Vino yang melihat Dila terus menangis tanpa menanggapinya.
"Pergi Vino! jangan ganggu aku! aku lagi mau sendiri!" ucap Dila yang makin menjadi.
"Tapi Dil aku hanya..." Dila melengos pergi dari tempat itu karna merasa tak nyaman dengan keberadaan Vino. Vino ingin mengejar, tapi Alya mencegahnya.
"Biar aku aja." ucap Alya menahan.
"Tapi..." Alya menggeleng, dan menatap mata Vino dalam-dalam. Dan ketika Alya hendak mengejar Dila, sudah tak kelihatan, Vino dan Alya mencari Dila hingga ke halaman kampus, namun saat disana dia melihat Dila masuk ke sebuah mobil merah dan melihat seorang pria yang tak asing bagi mereka.
"Vin itu siapa yang lagi sama Dila? Dila mau kemana?" tanya Alya.
"Iya, Dila sama siapa sih? kok sepertinya aku kayak enggak asing gitu dengan wajahnya. Tapi enggak begitu jelas mukanya." ucap Vino.
"Aku juga kayak pernah lihat, tapi siapa ya?" Alya ikut bingung.
"Eh, jangan bengong aja. Ayo kita ikutin, takutnya orang jahat." ucap Vino. Alya mengangguk dan ikut naik ke motor Vino untuk mengejar Dila.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Hayo, Kira-kira Dila dibawa siapa ya?