Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Puja Hamil


__ADS_3

Keesokan harinya, aku sudah sampai dirumah paman dan bibi ku. Mereka menerimaku dengan sangat baik. Pamanku ternyata bekerja sebagai penjual ikan dipasar, sementara bibi sendiri menjahit dirumah. Ternyata paman dan bibiku sudah tidak memiliki anak, anak mereka satu-satunya telah berpulang kepada sang pencipta karena penyakit yang dideritanya.


Hari-hari berlalu, tidak terasa sudah satu minggu aku tinggal dirumah paman dan bibi. Aku sudah menceritakan semua masalahku kepada paman dan bibi, juga tentang kak Ratna yang saat ini berada di Jakarta. Paman dan bibi ikut prihatin dengan permasalahan yang menimpa pernikahanku, dan mereka tidak keberatan jika aku mau tinggal disini. Mereka sangat senang, dan menganggapku sebagai pengganti anaknya yang sudah tiada.


Sore ini, saat aku membantu bibi menata kain-kain jahitan bibi, tiba-tiba perutku terasa sangat mual. Aku buru-buru lari ke dalam kamar mandi saat rasa mual itu sudah tak tertahankan.


"Huueeekkk!!" aku memuntahkan semua isi perutku. Aku berfikir jika aku sedang masuk angin. Tapi...! tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ya, sudah dua bulan ini aku tidak datang bulan. Aku mengusap wajahku dengan kasar. Bagaimana ini? bagaimana jika aku hamil? buru-buru aku ke dalam kamar dan mengambil tasku.


"Bi, Puja mau ke minimarket sebentar ya" pamitku.


"Iya" jawabnya.


Setelah itu aku ke minimarket terdekat untuk membeli alat tes kehamilan. Aku membeli tiga macam agar hasilnya lebih akurat. Saat dirumah, aku langsung buru-buru ke kamar mandi dan langsung mencoba ketiga tespack tersebut. Lima menit kemudian, hasilnya keluar. Dan ternyata benar dugaanku, aku hamil! ketiga alat itu menunjukkan dua garis merah, yang berarti positif hamil.


Aku merosot kelantai saat mengetahui jika aku benar-benar hamil, aku menangis haru karena pada akhirnya aku akan memiliki seorang anak dari lelaki yang sangat aku cintai. Walaupun kang Sofyan tidak berada disisiku, tapi aku berjanji akan membesarkan anak ini dan merawatnya dengan sepenuh hati. Aku tidak menyesal memiliki anak ini, dan untuk biaya, aku tidak risau, karena aku membawa kartu ATM dari kang Sofyan. Aku belum mengecek berapa isinya, tapi aku yakin, isinya tidak sedikit. Setidaknya bisa untuk biaya persalinan nanti. Anggap saja itu nafkah dari kang Sofyan untukku dan anakku. Karena sejujurnya aku tidak mau bercerai dengan kang Sofyan, aku hanya ingin memberi ruang untuk kang Sofyan berbakti pada orang tuanya tanpa terhalang olehku. Dan untuk mengurus surat-surat kelahiran, aku juga tidak risau karena aku sempat membawa kedua buku nikahku yang waktu itu diurus bapak. Aku juga sempat memasukkan foto copy KTP kang Sofyan kedalam tasku.


Hanya saja, rasanya sangat sesak, saat membayangkan saat aku melahirkan yang hanya seorang diri tanpa kehadiran seoran suami disisiku. Entahlah, apa aku akan kuat menghadapi semua ini? aku mengelap air mata yang jatuh membasahi pipiku.


'Kang Sofyan, kita akan punya anak... hiks.. kenapa sulit sekali merelakan kang Sofyan, Puja kangen kang... Puja kangen kang Sofyan' aku menangis tergugu.


********


Malam harinya, saat sedang makan malam bersama, tiba-tiba perutku terasa mual lagi. Aku buru-buru lari ke toilet dan memuntahkan semua isi diperutku.


"Huueeekkk!!!"


Tubuhku rasanya lemas, dari tadi semua makanan yang masuk ketubuhku langsung aku muntahkan.

__ADS_1


'Padahal dulu waktu hamil anak mas Ilyas, enggak gini-gini amat, kamu kok manja sih dek, mau apa?' aku berbicara pada diriku sendiri sambil mengusap perutku yang masih rata.


Setelah selesai membersihkan diri, aku kembali ke meja makan.


"Kamu kenapa Puja?" tanya bibi.


"Kamu sakit?" tanya nya lagi.


"Puja enggak sakit kok bi. Puja..." aku ragu mengatakannya.


"Kenapa?" timpal paman.


"Puja hamil paman" jawabku jujur.


"Alhamdulillah, bagus atuh Puja. Itu artinya kita bakalan punya cucu bu" ucap paman pada bibi.


"Iya pak, rumah ini pasti bakalan rame kalau ada anak kecil" jawab bibi.


"Ya enggaklah Puja, bibi sama paman malah seneng banget" ucap bibi.


"Iya, kamu sudah paman anggap seperti anak paman sendiri Puja, enggak usah sungkan" ucap paman.


"Tapi, suami kamu apa enggak sebaiknya dikasih tahu?" tanya bibi.


"Enggak bi, enggak usah. Puja enggak mau ganggu kang Sofyan lagi" jawabku.


"Ya udah, kalau memang itu udah jadi keputusan kamu, paman sama bibi hanya bisa mendukung. Kamu jaga anak ini baik-baik, ini anugrah dari Allah, dan kalau soal biaya persalinan dan biaya hidup, kamu jangan khawatir paman sama bibi masih ada tabungan" ucap paman.

__ADS_1


"Jangan paman, untuk biaya bersalin, Puja punya tabungan kok" tolakku.


"Uangnya kamu simpen aja buat biaya pendidikan anak kamu Puja, udah nurut aja sama paman" ucap bibi.


"Kalau ngidam atau pengen sesuatu bilang aja sama bibi ya, jangan sungkan" lanjutnya.


"Iya bi, makasih ya, kalian udah mau membantu dan menjaga Puja, almarhum bapak di sana pasti sangat berterimakasih pada kalian" ucapku sambil terisak.


"Iya sayang, udah jangan nangis, ibu hamil enggak boleh stress" ucap bibi. Aku mengangguk dan mengelap air mataku.


"Besok kita ke dokter ya, ngecek usia kehamilan dan kondisi bayi kamu" ajak bibi.


"Iya bi" jawabku.


"Udah, sekarang kamu istirahat. Jangan tidur terlalu malam" pesan bibi.


"Iya bi, kalau gitu, Puja permisi dulu ya paman, bibi" pamitku.


"iya" mereka mengangguk.


Setelah itu aku langsung menuju kamar dan membaringkan tubuhku dikasur. Aku mengambil ponselku dan membuka sebuah foto lelaki yang aku cintai. Foto kang Sofyan saat bekerja ditambak, saat itu aku diam-diam mengambil fotonya. Walaupun kang Bajunya basah, tapi menurutku kang Sofyan terlihat sangat tampan jika sedang bekerja. Aku mengelusnya perlahan, lalu menciumnya dengan lembut. Aku membayangkan kembali saat kami menghabiskan malam bersama didalam saung apung itu. Begitu indah dan romantis.


"Puja jadi kangen sama kang Sofyan, kang Sofyan kangen Puja enggak?" ucapku sambil memandangi foto kang Sofyan.


"Gimana Puja bisa melupakan kang Sofyan, kalau hanya dengan melihat foto-foto ini saja membuat Puja bertambah jatuh cinta" ucapku sambil tersenyum.


Aku terus bermonolog dengan memandangi foto kang Sofyan. Sampai pada akhirnya aku terpejam karena rasa kantuk yang mendera.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Waduh, calon sop iga udah tumbuh nih..! hebat juga si sop ayam. Tok cer..! enggak sia-sia kejar setoran ama si Puja. Wkwkwk


__ADS_2