Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Shock!


__ADS_3

"Jadi maksud a Bagja...?" Dila tak melanjutkan ucapannya saat melihat wajah Bagja yang mendadak salah tingkah.


"Kita sarapan dulu setelah itu kita pulang." ajak Bagja.


"Iya a, tapi motor Dila semalam masih ketinggalan di halaman diskootik." ucap Dila.


"Nanti a Bagja minta tolong temen suruh ambilin." ucap Bagja.


"Iya, tapi a..." Lagi-lagi Dila menghentikan langkahnya.


"Kenapa lagi?" tanya Bagja.


"Kita beli syal dulu ya." ajak Dila.


"Untuk apa?" tanya Bagja. Dila tersenyum malu-malu .


"Untuk ini dan itu." tunjuk Dila ke lehernya dan leher Bagja. Bagja bingung lalu melihat cermin dan wajahnya pias seketika ketika melihat banyaknya jejak keunguan di lehernya begitupun dileher Dila.


"Ya udah." ucap Bagja dengan ekspresi datar dan


tak berani menatap Dila saking malunya. Padahal mereka semalam sudah menyatu, tapi kini malu-malu dan merasa canggung lagi.


//


Dila membeli syal couple berwarna coklat muda untuk dirinya dan juga Bagja. Setelah memasang syal di lehernya, kini Dila memasang syal milik Bagja. Tatapan mereka bertemu saat Dila memasangkan syal dileher Bagja. Dila masih tak menyangka jika Bagja juga memiliki perasaan yang sama untuknya, ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Namun satu yang menjadi kekhawatirannya sekarang. Bagaimana reaksi keluarganya dan juga Alya saat mengetahui perbuatannya dengan Bagja tadi malam? Dila tertegun.


"Kok diam?" tanya Bagja.


"Eh, itu Dila masih kepikiran dan merasa gugup a, Dila takut kalau..."


"Tenang ya, biar a Bagja yang menyelesaikan semuanya." ucap Bagja lembut.


"Sekarang kita sarapan dulu." ajak Bagja. Dila mengangguk dan setelah itu mereka mampir ke warung makan untuk sarapan bersama.


//

__ADS_1


Dila dan Bagja kini sudah berada di halaman rumah Puja dan Sofyan. Dila meremaas jari-jarinya karena merasa sangat gugup. Apalagi disana sedang ramai, sedang ada tetangga yang membantu Puja untuk membuat kue dan seserahan untuk pernikahan Bagja yang akan digelar dua hari lagi.


Bagja yang seolah mengerti akan kegugupan dan ketakutan Dila langsung menggenggam tangan Dila dengan erat dan menatap Dila dengan tatapan dalam seolah ingin memberi kekuatan.


"Ayo." ajak Bagja.


"Tapi..."


"Semua harus diselesaikan." ucap Bagja. Dila mengangguk dan akhirnya turun dari mobil lalu berjalan mengekor di belakang Bagja tanpa melepas genggaman tangannya dengan Bagja. Semua orang yang berada disana menatap aneh saat melihat penampilan Dila yang begitu berani ditambah Bagja yang menggenggam tangannya dengan erat.



Dila hanya menundukkan wajahnya karena merasa malu menjadi pusat perhatian ibu-ibu yang sedang rewang dirumah Puja. Hingga mereka sampai di ruang tengah dan melihat Puja tengah merapikan barang-barang seserahan untuk acara pernikahan Bagja.


"Mah?" sapa Bagja. Puja berbalik dan terkejut melihat Bagja dan Dila yang sudah ada di belakangnya.


"Kasep, loh kamu sama Dila?" tanya Puja keheranan.


"Iya mah, mah ada yang mau Bagja bicarakan." ucap Bagja pelan. Perasaan Puja mulai tidak enak, apalagi melihat Dila yang hanya diam saja sambil menunduk dan menggenggam tangan Bagja dengan erat seolah tak ingin dipisahkan.


"Kamu apa-apaan pakai baju kayak gitu." ucap Iis berang. Bagaimana tidak, Dila terlihat begitu seksii dan menggairahkan. Siapapun yang melihat akan merasa lapar ingin memakannya.


"Kebetulan ada bibi, sekalian. Sekalian Bagja mau bicara pada kalian." ucap Bagja. Puja yang merasa gelagat Bagja begitu mencurigakan langsung mengajak mereka masuk kedalam kamar Bagja untuk berbicara delapan mata.


"Mau ngomong apa?" tanya Puja setelah mereka semua sudah berada didalam kamar Bagja. Bagja menarik nafas dalam-dalam sedangkan Dila sudah mulai menangis dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Bagja.


"Bagja mau batalin pernikahan Bagja dengan Alya ma." ucap Bagja.


"Apa?!!" ucap Iis dan Puja berbarengan.


"Kenapa? kamu menikah tinggal dua hari lagi, bagaimana bisa kamu mau batalin? fikiran kamu dimana sih Bagja?" bentak Puja sambil memegangi dadanya. Sedangkan Iis terus menatap Dila dengan tatapan marah. Iis yakin ini ada hubungannya dengan Dila.


"Karena Bagja dan Dila sudah..."


"Sudah apa? bicara yang jelas!" tanya Puja.

__ADS_1


"Kami melakukannya mah, maaf mah Bagja sudah mengecewakan kalian." ucap Bagja yang kini tak tahan mengeluarkan air matanya begitu melihat ekspresi shock diwajah Puja dan Iis.


"Mamah enggak percaya, kamu pasti bohong kan? kamu pasti bohong! mama enggak percaya!" ucap Puja sambil menggeleng tak percaya. Tak pernah sekalipun ada dalam benaknya anak sulungnya itu bisa melakukan hal tercela.


"Puja enggak bohong ma, Bagja dan Dila memang sudah melakukannya. Kami.."


Plaakk!!


Bagja mendapat hadiah cap jari lima dari Iis.


"Tega kamu Bagja! tega kamu merusak Dila!" hardik Iis.


"Mah, ini semua salah Dila mah, mamah jangan salahin A Bagja. Dila yang salah." kini Dila ikut bicara. Iis semakin geram mendengar pengakuan Dila.


"Kamu sama aja! kalian menjijikan tahu enggak! kapan mama ngajarin kamu untuk berbuat hal kotor seperti itu? kapan!" bentak Iis. Puja semakin pusing dan terduduk lemas. Dia begitu shock mendengar pengakuan anak sulungnya itu.


"Maafin Dila mah maafin Dila." Dila bersujud dikaki Iis memohon ampun.


"Mau jadi pelakor kamu Dila?! hah?! enggak malu kamu sama orang? anaknya Mahmud tukang rebut calon suami orang!" ucap Iis kecewa. Dia menjambak rambut Dila dan mengangkat tubuh Dila lalu...


Plakk!!


Lagi dan lagi Bagja mendapat hadiah cap jari lima dari Iis karena menjadi tameng untuk melindungi Dila.


"Jangan kasarin Dila bi, bibi boleh pukul Bagja sepuasnya tapi jangan sakiti Dila." ucap Bagja dengan tatapan sendu. Puja melihat cinta yang begitu besar dimata Bagja untuk Dila. Entah kenapa dia merasa jadi orang paling bodoh sedunia karena tak menyadari itu semua sedari awal.


"Kamu juga laki-laki brengsek! bibi enggak nyangka kamu bisa berbuat hal menjijikan seperti itu Bagja! kamu anak baik-baik kenapa bisa sampai berbuat dosa besar? bibi yakin ini semua pasti karena kamu kan? kamu yang godain Bagja! iya kan!" tuding Iis kepada Dila. Dila merasa hatinya diremas kuat karena Iis menyamakan dirinya seperti wanita penggoda diluaran sana.


"Bibi apa-apaan sih, kenapa tega menghina anak sendiri? Dila anak kandung bibi, kenapa bibi sejahat itu nuduh Dila. Ini semua terjadi karena enggak di sengaja bi." jelas Bagja sambil memeluk Dila yang menangis tersedu-sedu. Bagja terus memeluk Dila seolah ingin memberi perlindungan kepada wanita yang sangat dicintainya itu. Iis tersadar, lalu dia menatap Puja dengan kebingungan dan kesedihan yang sama.


"Gimana Puja? gimana ini?" tanya Iis dengan suara parau. Puja yang juga sama bingungnya hanya bisa diam dan membawa Iis kedalam pelukannya. Mereka sama-sama menangis dan terluka atas perbuatan anak-anak mereka yang kelewat batas.


Brak!!


"Ada apa ini?" tanya Sofyan yang tiba-tiba muncul dengan wajah galaknya. Dibelakang Sofyan ada Mahmud namun tidak seperti Sofyan, Mahmud telihat lebih tenang, dan dia sudah mengira jika semua yang ditakutkan nya terjadi saat melihat Bagja yang memeluk Dila dengan posesif.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2