Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Rumah Baru


__ADS_3

Vino dan Alya sudah sampai di Bandung. Dan di saat bersamaan Dila dan Bagja juga baru sampai di kost tempat mereka mengontrak. Saat melihat Bagja, Vino teringat pesan Ayahnya. Dia menghampiri Kakaknya untuk meminta maaf.


"A, Vino minta maaf," ucap Vino tanpa berbasa-basi.


Bagja melirik Dila sekilas yang saat ini juga tengah meliriknya.


"Gimana Sayang?" tanya Bagja kepada Dila.


"Kalau Dila mah, gimana Alya aja. Karena kan disini yang paling tersakiti Alya," ucap Dila.


"Ya Dila sempat kecewa sih, tapi Dila masih bisa memaklumi. Ya Dila harap Aa juga maafin Vino, biar bagaimanapun Vino saudara kandung Aa, masa Kakak Adek bertengkar, enggak bagus kalau sampai didengar orang, apalagi sampai didengar orang tua, nanti malah jadi fikiran dan akhirnya mereka sakit," ucap Dila mencoba bijak.


Bagja menarik nafas dalam-dalam kemudian menyinggungkan senyum tipis dibibirnya dan setelah itu memeluk Vino dengan rasa haru.


"Belajar terima Alya ya, Dila sudah punya Aa. A Bagja juga minta maaf sama Vino kalau selama ini banyak salah sama Vino," ucap Bagja sembari menepuk-nepuk punggung sang adik.


"Iya A, makasih udah mau maafin Vino. Semoga pernikahan kalian selalu bahagia," ucap Vino.


"Aamiin, ya udah Aa sama Dila mau langsung beberes, karena hari ini mau pindahan ke rumah kontrakan," ucap Bagja.


"Aa ngontrak rumah?" tanya Vino.


"Iya, di jalan xxxxxxx" jawab Bagja.


"Kebetulan banget, Vino juga lagi mau cari kontrakan rumah," ucap Vino.


"Di dekat rumah kontrakan Aa juga ada tuh kalau mau, apa mau sekalian Aa tanyain?" tanya Bagja.


"Tapi, emang Aa enggak keganggu kalau deket-deket sama Vino?" tanya Vino.


"Ya enggaklah, malah seneng, kalau ada apa-apa kita bisa saling bantu. Nanti Aa tanyain ya, sekarang mau beres-beres dulu," ucap Bagja.


"Iya A, Vino bantuin ya," ucap Vino.


"Ayo," ajak Bagja.


//


"Kita mau kemana sih?" Alya terus bertanya di sepanjang jalan karena Vino sejak tadi bersikap aneh, saking anehnya semua barang-barang di kost Vino dan Alya hilang entah kemana.


"Diem aja, nanti juga tahu," ucap Vino.

__ADS_1


"Iih nyebelin!" jawab Alya.


"Biarin!" jawab Vino.


Tak lama motor yang dikemudikan Vino sampai di rumah kontrakan yang sudah Vino persiapkan sebagai kejutan untuk Alya.


"Ini rumah siapa Vin?" tanya Alya keheranan.


Vino tak menjawab dan malah membuka pintu rumah itu serta mengajak Alya masuk ke dalam.


Rumah itu tidak begitu besar, namun begitu rapi dan bersih. Sehingga membuat siapapun yang tinggal disana akan merasa nyaman.


"Ini rumah kita untuk 4 tahun kedepan," ucap Vino yang memang langsung mengontrak rumah itu selama empat tahun. Tadinya Vino hanya minta satu tahun saja kepada Sofyan, tapi Ayahnya justru malah menyuruhnya untuk mengontrak rumah itu sampai kuliahnya selesai agar Vino tak harus memikirkan bingungnya bayar kontrakan. Sofyan tak ingin Vino sampai tidak fokus kuliah dan berimbas pada masa depan anaknya. Dia ingin yang terbaik. Dia ingin anaknya jadi orang hebat dan berpendidikan tinggi.


"Ya ampun, beneran?" tanya Alya tak percaya.


"Benar sayang, aku berharap di rumah ini akan ada anak-anak yang segera launching dari rahim kamu, kita sama-sama berjuang dan menjadikan rumah ini sebagai surga kita ya," jawab Vino sambil melontarkan kata-kata romantis.


"Ya ampun, aku sampai enggak bisa berkata-kata. Makasih ya.. kalau tahu mau pindahan kenapa enggak bilang, kamu kan jadi capek beres-beres sendiri," ucap Alya tak enak hati.


"Iya enggak apa-apa, sekarang kita ke kamar yuk," ajak Vino.


Alya mengangguk dan mengekor dibelakang Vino menuju kamar mereka. Dan ketika pintu kamar dibuka, Alya sampai menutup mulutnya saking terkagum-kagum dengan kejutan yang Vino berikan.


"Ya ampun Vino, kamu kok enggak berhenti bikin aku nangis sih?" tanya Alya seraya menangis haru.


"Jangan nangis, jelek!" ejek Vino seraya mengelap air mata di pipi Alya.


"Nyebelin!" ucap Alya sembari membenamkan kepalanya di da-da bidang Vino.


"Kamu suka kan?" tanya Vino. Alya mengangguk.


"Kalau gitu, kasih aku hadiah," ucap Vino.


"Ish, kamu mah pamrih, enggak ikhlas yah!" ucap Alya kesal.


"Ikhlas, tapi apa salahnya kalau minta hadiah dari istri sendiri, apalagi hadiahnya yang enak-enak," ucap Vino menggoda.


"Enak di kamu enggak enak di aku," ucap Alya.


"Kata siapa? Justru enak untuk kita berdua," ucap Vino yang semakin menggoda Alya.

__ADS_1


"Mandi dulu," ucap Alya.


"Aku maunya langsung aja," ucap Vino.


"Tapi..."


"Atau kita mandi bareng aja gimana?" tanya Vino sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar raja gom-bal!" ucap Alya kesal.


"Dan kamu penikmat kegom-balan ku," ucap Vino seraya membopong tubuh Alya dengan sekali gerakan dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lama setelah itu terdengar suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk jomblo abadi berdiri.


//


Sementara itu Dila yang tengah bersantai selepas makan siang dan membereskan rumah kontrakannya, dikejutkan dengan bunyi dering ponsel Bagja yang terus-menerus berbunyi.


Dila mengernyitkan dahinya begitu melihat kontak tidak dikenal yang menghubungi nomor suaminya.


"Ini nomor siapa?" gumam Dila.


Tanpa banyak kata Dila mengangkat panggilan itu.


"Halo," ucap Dila.


"Bagja, akhirnya kamu angkat telfon dari saya," terdengar suara panik dari seberang telfon.


"Ini siapa ya?" tanya Dila.


"Sa-saya mantan atasan Bagja, ini pasti Istrinya Bagja ya, Bagjanya mana, saya mau bicara penting," ucap pria yang diperkirakan Dila sudah berusia setengah abad itu.


"Oh, sebentar, Suami saya masih mandi," ucap Dila.


Tak lama setelah itu Bagja keluar dari dalam kamar mandi dengar tubuh yang terlihat lebih segar.


"Sayang ini ada yang telfon," ucap Dila sembari menyerahkan ponsel Bagja kepada pemiliknya.


"Siapa?" tanya Bagja.


Dila hanya mengendikkan kedua bahunya.

__ADS_1


"Halo..."


__ADS_2