Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Diamnya Istriku


__ADS_3

Sepasang kaki menyembul dari balik selimut, Dila dan Bagja yang baru saja selesai dengan kegiatan panas mereka.


"Sekarang tolong jelasin ke Dila semuanya," Dila menuntut penjelasan.


"Namanya Anya, dia itu anak kepala dinas yang lagi magang ditempat kerja aa," jelas Bagja.


"Kenapa handphone aa ada sama dia? dua kali loh dia angkat telfon a Bagja, itu artinya aa sama dia sering deketan." tanya Dila dengan wajah sedih.


"A Bagja yang mentorin dia sayang, aa juga enggak tahu pak kepala ujug-ujug milih aa yang suruh mentorin, padahal itu bukan jobdesk A Bagja. Soal handphone diangkat sama dia itu karena A Bagja lupa bawa handphone saat ke kamar mandi," jelas Bagja.


"Dia jahat banget sama Dila, masa dia bilang kalian udah pacaran lama, terus dia juga bilang kalau A Bagja milik dia," ucap Dila dengan wajah sedih namun tetap manja.


"Mangkanya istri aa sampai merajuk gini ya? lain kali jangan kepancing omongan orang ya," ucap Bagja sambil membelai rambut Dila dengan sayang.


"Tapi A, dia sampai tahu loh tanggal lahir A Bagja, apa memang kalian udah kenal lama?" tanya Dila penuh selidik.


"Anya itu adik kelas A Bagja waktu di kampus, Aa pernah nolongin dia dari gangguan preman, dan menurut pengakuan dia, katanya sejak saat itu dia..." Bagja enggan mengatakannya karena ekspresi Dila yang mulai berubah.


"Pasti dia jatuh cinta sama A Bagja, dan sekarang kebetulan A Bagja kerja jadi bawahan ayahnya, dia manfaatin situasi supaya bisa deket sama A Bagja." tebak Dila.


"Kayaknya gitu," jawab Bagja yang ikut murung. Bukan apa-apa, nyatanya kehadiran Anya ditempat kerja membuat Bagja merasa tak nyaman.


"Pasti dia godain a Bagja terus, dia pepet dan deketin A Bagja," tebak Dila lagi.


"Tapi A Bagja enggak ngerespon kok sayang," ucap Bagja sambil menarik Dila yang sempat ingin menjauh.


"Kalau gitu caranya gimana Dila bisa tenang disaat ada wanita yang dengan terang-terangan ngedeketin suaminya. Semua istri pasti risau dan takut kalau sampai..."


"Jangan mikir macem-macem. A Bagja enggak pernah tertarik pada siapapun, hanya Dila yang mampu membuat A Bagja tergila-gila." ucap Bagja sambil menatap manik mata Dila lekat-lekat.


"Tapi Dila enggak bisa tenang, dan sepertinya orangnya nekat, Dila takut dia akan berbuat yang lebih jauh." ucap Dila.


"A Bagja akan mengundurkan diri, kamu tenang aja." ucap Bagja.

__ADS_1


"Hah? kok gitu?" tanya Dila.


"A Bagja juga udah enggak nyaman sayang, kerja itu butuh kenyamanan. Kalau udah engga profesional gitu untuk apa dipertahankan, apalagi sampai membuat rumah tangga kita kacau. Aa enggak mau, kamu tenang aja, A Bagja udah punya planning lain kok." jawab Bagja.


"Tapi kan..."


"Enggak apa-apa sayang, A Bagja enggak mau kamu kepikiran terus, nanti kuliah kamu enggak beres-beres." sela Bagja.


"Makasih udah mau ngertiin Dila, Dila makin cinta sama A Bagja," Dila menciumi wajah Bagja.


"Yakin? katanya tadi A Bagja disuruh ngurus surat cerai. Enggak jadi?" goda Bagja.


"Iiih, enggaklah! enggak mau." Dila merajuk manja.


"Hahaha... dasar nakal! aa makin gemes sama kamu," ucap Bagja sambil mengangkat tubuh Dila yang kini duduk diatas perutnya.


"Bergeraklah," ucap Bagja sambil mengedipkan sebelah matanya. Dila tersenyum malu-malu, namun tak lama setelah itu dia mulai memberikan servis yang membuat Bagja semakin menggila.


//


Beberapa saat kemudian dia sudah kembali segar, perutnya terasa lapar. Vino hendak kelur mencari makanan, namun baru saja didepan pintu dia melihat Bagja dan Dila yang saling bergandengan tengah memasuki mobil, spertinya mereka akan pergi. Dan lihatlah, Dila nampak sangat bahagia, tak ada kesedihan sedikitpun diwajahnya. Vino tersenyum kecut, ternyata cintanya untuk Dila sangatlah sia-sia. Setelah mobil Bagja keluar dari halaman kos, barulah Vino mencari motornya diparkiran, tapi tidak ada. Apa masih tertinggal diclub malam itu? batinnya bertanya-tanya. Karena rasa lapar yang semakin mendera Vino jalan kaki mencari pedagang makanan disekeliling kosnya.


//


Keesokan harinya


Tok tok tok


"Al," Vino memanggil Alya dari luar, dia bermaksud ingin mengajak Alya jalan-jalan.


Klek!


Alya kelur dengan pakaian yang sudah rapi dan tas melingkar di pundaknya.

__ADS_1


"Loh kamu mau kemana?" tanya Vino. Alya tak menjawab dan hanya diam saja. Tatapan matanya kosong, jelas sekali Alya memendam kesedihan yang mendalam.


"Mau kemana?" Vino mencekal lengan Alya yang hendak melangkah pergi.


"Lepasin tangan aku!" ucap Alya sambil menatap tajam Vino.


"Mau kemana? ngomong dulu!" ucap Vino.


"Bukan urusan kamu!" ucap Alya.


"Siapa bilang bukan urusan aku! kamu itu istri aku, kamu tanggung jawab aku!" sentak Vino.


"Istri? cih! dasar laki-laki enggak tahu malu!" ucap Alya sambil tersenyum sinis.


"Kamu kenapa sih? salah aku apa, kenapa kamu kayak marah banget sama aku?" tanya Vino.


"Udahlah Vin, aku tu capek banget tahu enggak jadi istri kamu, tiap hari makan hati. Jadi tolong lepasin aku, lebih baik kita cerai." ucap Alya dengan wajah putus asa.


"Kamu kesambet apa ujug-ujug minta cerai?" tanya Vino emosi.


Plak!!


"Kenapa kamu nampar aku?" Vino tak terima.


"Kenapa? sakit? rasa sakit itu enggak sebanding dengan sakit hati yang aku rasakan. Kamu pria badjingan yang enggak tahu diri dan enggak tahu malu, setelah mengatakan didepan semua orang kalau kamu cinta sama kakak ipar kamu sendiri, kemudian kamu mabuuk dan menggauli istri kamu dengan menyebut-nyebut nama wanita lain. Sekarang kamu masih tanya salah aku apa? masih bilang kalau aku istri kamu, aku tanggung jawab kamu, sepertinya kamu perlu berobat ke psikiater!" ucap Alya pedas, dia tak mengeluarkan air mata sedikitpun. Air matanya sudah habis tak bersisa.


Deg


Vino berdiri mematung mendengar jawaban menohok yang diucapkan Alya, dia baru sadar jika dia sudah menyakiti Alya terlalu dalam, dia terlalu sibuk memikirkan perasaan Dila sementara perasaan Alya sama sekali tidak difikirkan olehnya. Wajar! wajar jika Alya sampai semarah itu.


"Al, aku minta maaf," ucap Vino berusaha meraih tangan Alya, dia sangat menyesal saat ini. Perasaan bersalah mengerubungi jiwanya.


"Aku enggak butuh maaf dari kamu Vin, simpan maafmu itu. Enggak ada yang perlu minta maaf atau dimaafin karena hubungan kita selesai sampai disini." ucap Alya.

__ADS_1


"Enggak! aku enggak mau kita pisah, sampai kapanpun aku enggak mau kita bercerai!" tegas Vino.


"Tapi sayangnya saya yang mau kalian berpisah!" seseorang tiba-tiba datang dengan kilatan amarah dimatanya.


__ADS_2