
Kata-kata kang Sofyan membuatku bergidik ngeri, bujang lapuk itu ternyata sangat mahir diranjang. Buktinya aku terus menjerit menerima setiap genjotan demi genjotan yang terus dipompanya. Sampai pada akhirnya saat permainan sudah dipuncak aku langsung menutup telingaku rapat-rapat, tidak mau mendengar nama wanita lain yang disebutnya.
"Kenapa?" tanya kang Sofyan sambil melepas kedua tanganku yang menutupi telingaku. Aku tak menjawabnya, aku hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Kang Sofyan malah menciumi wajahku dengan lembut dan penuh cinta membuatku kembali hanyut dalam permainan. Dengan sekali hentakkan kuat kang Sofyan mengeluarkan benihnya tanpa mengucapkan apapun. Aku merasa lega, karena ternyata ketakutanku tidak terjadi.
"Makasih kang nafkah batinnya" ucapku sembari tersenyum saat kang Sofyan sedang melilitkan handuk dipinggangnya. Kang Sofyan tidak menjawab dan berlalu begitu saja ke kamar mandi.
Malam harinya, saat kami sedang makan malam bersama, emak bercerita bahwa besok emak akan panen.
"Puja besok mau kan ikut sama emak panen jagung sama sampeu (ubi kayu) ke ladang" ucap emak.
"Besok Puja mau ikut ke tambak mak, nemenin Sofyan kerja" sela kang Sofyan sambil menyantap makanannya.
"Oh, ya udah kalau gitu. Malah lebih bagus. Oh iya, cucu emak udah dibuat belum?" celetuk emak.
Uhuk! uhuk!
Aku dan kang Sofyan sama-sama terbatuk saat mendengar celetukan emak. Lalu sedetik kemudian kami saling memandang.
"Hati-hati makannya, kesedak aja barengan. Berarti kalian emang jodoh" ucap emak.
Aku hanya menunduk malu tanpa merespon ucapan emak.
Setelah selesai makan malam bersama dan bercengkrama, akhirnya aku pamit masuk ke kamar. Tidak lama kang Sofyan ikut masuk kedalam kamar. Entah kenapa kami sama-sama canggung saat bersitatap, padahal kami sudah melakukan hubungan suami istri.
"Puja tidur duluan ya kang" ucapku.
__ADS_1
"Iya" ucap kang Sofyan yang duduk dipinggiran kasur sambil memainkan ponselnya. Aku sulit sekali memejamkan mataku, entah kenapa rasanya jadi canggung seperti ini saat satu kasur dengan kang Sofyan. Tapi aku terus memejamkan mataku untuk menghilangkan kegugupanku. Tiba-tiba aku merasa ada tangan yang melingkar diperutku.
'Apa kang Sofyan meluk aku?' batinku.
"Tidur, udah malem" bisiknya, seolah tahu jika aku belum tidur. Aku tersenyum kecil, lalu kembali memejamkan mataku, kang Sofyan sendiri semakin mengeratkan pelukannya membuatku merasa hangat dan akhirnya kami sama-sama tertidur.
"Malam harinya, sekitar jam 12 malam ponselku berdering, mengganggu tidurku dan kang Sofyan. Aku melihat panggilan itu dari Melodi.
"Siapa?" tanya kang Sofyan yang juga terbangun.
"Melodi kang" jawabku.
"Angkat aja, siapa tau penting" ucapnya. Aku mengangguk dan menggeser ke tombol hijau.
"Halo Mel, ada apa?" tanyaku.
"Kak Ratna sakit? ya Allah, iya aku kesana. Kirimin alamatnya ya" pesanku.
"Bukan kak Ratna... ya udah aku kirimin ya alamatnya" ucap Melodi.
"iya aku tunggu"
Tuuutt
Panggilan dimatikan.
__ADS_1
"Kenapa? Ratna kenapa?" tanya kang Sofyan dengan raut wajah khawatir.
"Belum tahu sakit apa, Melodi nyuruh Puja kesana" ucapku.
"Ya udah ayo kang Sofyan anter" ucapnya semangat. Aku sebenarnya merasa cemburu karena kang Sofyan begitu mengkhawatirkan kak Ratna. Tapi ku tepis jauh-jauh perasaan itu.
********
Sesampainya dirumah sakit aku langsung menuju kamar yang diberitahu Melodi. Ketika sampai dikamar itu, aku melihat kak Ratna yang sedang menangis meraung-raung. Ternyata kak Marvel mengalami kecelakaan dan mobilnya meledak. Aku mencoba menghibur kak Ratna dan mencoba menenangkannya sambil sesekali melirik ke arah kang Sofyan yang diam saja. Padahal, tadi saat dirumah kang Sofyan ngebet ke rumah sakit, tapi saat sampai kenapa malah jadi diam?
Setelah kak Ratna mulai tenang, dan tertidur karena lelah menangis. Aku keluar dari ruangan itu. Aku melihat kang Sofyang tengah duduk dengan wajah sedih dan kecewa.
"Kang..." sapaku seraya duduk disampingnya.
"Ratna udah tidur?" tanyanya.
"Iya... kang Sofyan kenapa, kok dari tadi diam aja" tanyaku.
"Enggak apa-apa. Akang cuma merasa sakit, Ratna sampai nangis sebegitunya kehilangan Marvel" ucapnya.
"Wajarlah kang, kak Marvel kan suaminya" ucapku. Terlihat jelas amarah diwajahnya. Aku tahu sekarang, kang Sofyan pasti sedang cemburu. Aku menggigit bibir bawahku saat menyadari perasaan kang Sofyan yang belum bisa melupakan kak Ratna.
"Bakalan susah buat kang Sofyan dapetin Ratna" ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bisa ya kang, disaat sedang berduka gini kang Sofyan malah sibuk mikirin perasaan kang Sofyan ke kak Ratna. Enggak ada rasa empati sedikitpun atas musibah yang menimpa kak Marvel. Puja yakin, kalau kak Marvel dinyatakan meninggal, kang Sofyan pasti bakalan ngejar-ngejar kak Ratna lagi" ucapku dengan bibir bergetar menahan sakit.
__ADS_1
"Kamu benar, kang Sofyan enggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini" jawab kang Sofyan.
Mendengar jawabannya, aku meremas ujung bajuku karena menahan amarah.