Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Mengeluarkan Isi Hati


__ADS_3

"Mak, selamat ya mak, cita-cita dan impian emak terwujud. Kang Sofyan bakalan nikah sama Risma mak. Iya mereka akan nikah, emak pasti seneng kan mak dapat mantu wanita baik-baik seperti Risma. Bukan pelakor dan biduan murahan sepeti Puja!" ucap Puja sembari tertawa getir.


"Puja... tolong jangan bilang begitu." ucap emak lemah, dadanya terasa sesak karena rasa bersalah yang begitu besar.


"Bagja mana mak? anak Puja mana?" tanya Puja seperti orang linglung.


"Lagi sama Yayah" jawab emak sambil terisak melihat menantunya yang seperti terkena tekanan batin.


"Bagja...! sini sayang, sama mama." ucap Puja seraya mengambil Bagja dari pangkuan bi Yayah.


"Anak mama ganteng banget, bobok yuk sayang. Ayo bobok..." ucap Puja dengan mata memerah.


"Puja, kamu belum makan. Kondisi kamu juga belum pulih, Bagja biar diurus bi Yayah dulu sayang, sementara minum susu formula dulu. Puja istirahat ya." ucap Sofyan lembut. Puja hanya diam saja dan memberikan Bagja kembali kepangkuan bi Yayah. Melihat bi Yayah, tiba-tiba Puja duduk dan menatap pengasuh Bagja itu.


"Bi, kemarin ada orang yang minta nomor Puja?" tanya Puja lirih.


"Iya teh, tapi bibi enggak tahu siapa laki-laki itu. Katanya ada urusan penting." jawab bi Yayah jujur. Dia tak tahu kenapa Puja bisa tahu soal itu.


"Bibi tahu enggak, orang itu namanya Ilyas! dia sms Puja bi, neror Puja, ngancem Puja! bilangnya dia mau culik Bagja dan mau bun*h Bagja kalau Puja enggak kasih tahu alamat Risma." ucap Puja tanpa memandang Sofyan. Puja berkata sambil terisak. Suaranya lemah, karena memang tubuhnya kehabisan banyak tenaga.


Deg!


Sofyan merasa ditusuk belati yang sangat tajam begitu mendengar penuturan Puja. Rasa bersalah dihatinya semakin menyeruak begitu mendengar kenyataan itu.

__ADS_1


"Terus bibi tahu enggak, awalnya Puja enggak takut sama ancaman dia bi. Tapi dia bilang, dia yang udah ngeracunin ikan-ikan kang Sofyan ditambak. Puja tahu dia orangnya nekad! dia orangnya jahat bi! Puja takut kang Sofyan diapa-apain sama dia, Puja takut Bagja di ambil sama dia, Puja enggak mau kehilangan Bagja bi..." Puja menahan rasa sesak didadanya. Berhenti sebentar lalu melanjutkan kembali ucapannya.


"Terpaksa Puja kasih tahu dia alamat Risma, Puja terpaksa karena dia terus mendesak Puja. Tapi bi... laki-laki ini!" tunjuk Puja diwajah Sofyan.


"Laki-laki ini enggak mau dengerin penjelasan Puja... hu... hu... dia... dia ... bun*h anak Puja bi..." tangisnya pecah, dia menangis pilu, tersedu-sedu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Tubuhnya lemas. Puja sangat hancur! Sofyan berusaha mendekatinya dan memaksa memeluk Puja, Puja berontak, tapi karena tubuhnya yang lemah usahanya itu sia-sia. Sofyan berhasil membawanya kedalam pelukannya.


"Maafin akang Puja.. maafin akang..." Sofyan terus menangis dan menyalahkan dirinya atas kesalahannya yang terlampau besar. Tiba-tiba Puja berhenti menangis, tubuhnya lunglai, Puja tak sadarkan diri.


"Puja.. Puja bangun sayang.. sayang... hei.." Sofyan terus menepuk-nepuk pipi Puja, namun Puja tak kunjung membuka matanya. Sofyan menggendong Puja dan merebahkannya dikasur mereka. Dan setelah beberapa menit, Puja kembali membuka matanya. Bi Yayah langsung menyodorkan segelas air putih kepadanya. Puja meminumnya dan kembali duduk ditepian kasurnya. Dia kembali diam dan menatap kosong. Bi Yayah dan yang lainnya keluar dari kamar itu membiarkan Sofyan dan Puja berbicara dari hati ke hati.


"Puja... jangan begini sayang... jangan begini.. hu.. hu.. " Sofyan menangis tergugu.


"Akang mohon, Puja... Akang akan lakukan apapun asal Puja mau maafin akang. Dan kembali sepeti semula, jangan siksa diri kamu seperti ini." lirih Sofyan.


"Iya apapun" jawab Sofyan mantap.


"Ceraikan Puja kang, biarin Puja dan Bagja hidup bahagia. Karena Puja enggak bahagia hidup sama kang Sofyan!" ucapan Puja yang langsung menusuk tepat dijantung Sofyan. Sofyan merasa dunianya berhenti saat Puja mengucapkan kata-kata menyakitkan itu. Benarkah, Puja tak bahagia hidup dengannya?


"Enggak! akang enggak mau cerai sama Puja" ucap Sofyan seraya menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu biarin Puja dan Bagja pergi kang." pinta Puja.


"Akang enggak mau! akang enggak bisa hidup tanpa kalian!" ucap Sofyan.

__ADS_1


"Dan kami enggak bahagia hidup dengan kang Sofyan!" jawab Puja.


"Oh iya, satu lagi. Bagja anaknya Puja kang. Hanya anak Puja. Selama hamil sampai melahirkan, Puja yang urus sendiri tanpa pakai uang sepeserpun dari kang Sofyan." ucap Puja.


"Kamu bicara apa sih Puja!" ucap Sofyan dengan mata yang berkaca.


"Anak akang itu ya anaknya Risma. Itu anak akang, yang akang urusin, lindungin dan akang perhatiin sepenuh hati. Maaf ya kang. Keputusan Puja udah bulat! kalau kang Sofyan enggak mau menceraikan Puja, maka Puja yang akan gugat cerai kepengadilan!" ucap Puja tanpa mengeluarkan air mata sedikitpun. Hatinya terlampau sakit dan membeku.


"Enggak! akang enggak mau Puja! Puja enggak boleh tinggalin akang!!" ucap Sofyan memohon.


"Lepasin! jangan sentuh saya lagi!!" ucap Puja.


"Jangan hukum kang Sofyan seperti ini Puja... akang enggak sanggup hu... hu..." Sofyan kembali menangis karena tak mau berpisah dengan Puja. Sofyan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya jika Puja sampai meninggalkannya.


"Keluar! Puja mau sendiri dulu! kali ini Puja minta tolong jangan ganggu Puja dulu!! ucap Puja.


"Tapi..." Sofyan tak jadi melanjutkan ucapannya saat mendapat pelototan tajam dari Puja. Sofyan mengalah dan akhirnya keluar dari kamarnya, membiarkan Puja sendiri untuk menenangkan dirinya.


Puja merasa gamang, apakah dia harus berpisah atau tidak dengan Sofyan. Jika harus bertahan, Puja tidak akan sanggup ini terlalu menyakitkan. Tapi jika harus berpisah masa depan anaknya jadi taruhannya, Bagja akan kehilangan kasih sayang seorang ayah.


🍁🍁🍁🍁🍁


Mampus luh sop ayam...! othor jahat banget ya... buehehehe.

__ADS_1


__ADS_2