Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Mulai Possessive


__ADS_3

Keesokan harinya, aku dan kang Sofyan tengah bersiap untuk berangkat ke tambak, tidak lupa aku menyiapkan nasi, lauk pauk dan beberapa cemilan, agar disana kami tidak kelaparan. Lagi-lagi kang Sofyan menyuruhku untuk memakai topi dan jaketnya yang kebesaran.


"Kang, besok Puja minta dibelikan jaket ajalah, ini kebesaran" ucapku saat memakai jaket kang Sofyan.


"Enggak usah, ini aja. Kalau bosen masih ada jaket akang yang lain" ucapnya.


"Sama aja dong kang, kegedean" ucapku.


"Kamu cantik kok pake jaket ini" ucapnya dengan ekspresi datar.


"Yang lain aja enggak ada yang pake jaket, Melodi juga tuh enggak pake kok" ucapku kesal.


"Kalau enggak mau pake jaket, pake gamis!" ucapnya dingin.


"Emang mau pengajian pake gamis segala" gerutuku.


"Nurut sama suami kenapa sih" ucapnya dengan nada kesal. Dari pada kena omel lagi, mendingan aku diam saja!


"Iya, iya..." ucapku sambil manyun.


"Jaketnya di sletingin" ucapnya sembari menarik resleting jaket yang aku pakai.


"Sumukk...!" protesku.


"Akang enggak suka, yang ini dan ini dilihat sama orang" ucapnya sambil menunjuk kearah gunung kembar dan bokongku. Lalu dengan nakalnya kang Sofyan meremasnya.


"ish! apaan sih kaaang" ucapku malu dan langsung bersemu merah.


"Enggak sengaja" ucapnya sambil mengalihkan pandangan kearah lain. iih! lempar batu sembunyi tangan.


"Udah ayok berangkat, si Melodi pasti udah nunggu diwarung" ucap kang Sofyan.


"Ya udah ayok" ucapku sambil mengekor dibelakangnya.


Saat hendak naik ke motor, kang Sofyan malah membuka lagi resleting jaketku.


"Kenapa dibuka lagi?" tanyaku.

__ADS_1


"Enggak apa-apa" ucapnya santai. Ini aneh dan mencurigakan! kenapa aku mecium bau-bau wedus! eh salah modus.


Saat menaiki motor, kang Sofyan memintaku untuk memeluknya.


"Jalannya jelek, pegangan yang erat" ucapnya.


"Iya tapi enggak gini juga kali kang, ini mah nemplok" protesku saat ditengah perjalanan.


Aku merasa risih jika dilihat oleh orang lain, karena aku benar-benar menempel dengan erat kepada kang Sofyan. Apalagi resleting jaketku dibuka, otomatis duo asetku menempel sempurna dipunggung kang Sofyan. Eh, apa jangan jangan, jangan jangan? jangan jangan nih. Iya benar! ini wedus, eh modus!


Sesampainya didekat penitipan motor, kang Sofyan langsung memarkirkan motornya ditempat biasa. Aku melihat Melodi dan mas Toni yang sedang duduk dibangku warung, sepertinya sedang menunggu kedatangan kang Sofyan. Saat hendak menghampiri mereka, kang Sofyan buru-buru mencekal lenganku dan langsung kembali meresleting jaketku yang tadi dibukanya.


"Kang apaan sih, tadi dibuka, terus sekarang ditutup lagi" protesku.


"Diem aja kenapa sih, jadi istri yang nurut sama suami, enggak boleh bantah" omelnya. lagi-lagi kena omel! iih, kesel!


"Udah lama nunggu Mel?" sapa kang Sofyan.


"Baru aja kok kang" jawab Melodi seraya tersenyum hangat.


"Loh Puja ikut?" tanyanya.


Aku melotot geram kearah kang Sofyan, awas ya, beraninya main-main sama Puja!


"Mas Toni kok hari ini kelihatan cerah banget, ganteng lagi" ucapku memanasi si kanebo kering cap sop ayam.


"Masa sih, perasaan sama aja" jawab mas Toni sambil melemparkan senyuman manisny.


"Ikut aja yuk ke tambak, kita liwetan bareng, pasti enak makan rame-rame" ajakku.


"Enggak boleh!" ucap kang Sofyan sambil menatap galak.


"Enggak apa-apa atuh kang, biar rame banyak temennya, Puja biar enggak bosen kalau ada temennya" pintaku. Kang Sofyan malah semakin melotot tajam, seperti akan menelanku hidup-hidup.


"Boleh ya kang, hari ini Melodi hanya sebentar kok, paling dzuhur udah pulang" timpal Melodi.


"Terserah!" ucap kang Sofyan dengan wajah kesal.

__ADS_1


Akhirnya mas Toni ikut bersama kami ke saung apung milik kang Sofyan. Sesampainya disana, Melodi langsung mengerjakan tugasnya memoto dan merekam kegiatan kang Sofyan selama bekerja ditambak untuk dokumentasi.


Tidak hanya kang Sofyan, teman-teman kang Sofyan yang lain juga ikut diwawancarai.


Aku sendiri menyiapkan dan menata bekal yang kubawa dari rumah. Untung saja aku membawa nasi agak lumayan banyak, aku juga membawa kecap, garam dan cabe rawit, karena kang Sofyan bilang akan membakar ikan di saung apung.


Selama menyiapkan makanan, kang Sofyan terus mengawasiku. Sedetikpun aku tak luput dari pengawasannya. Padahal, dia sedang bekerja, tapi bisa-bisanya matanya terus melotot ke arahku dan mas Toni. Mas Toni sendiri awalnya ingin membantuku, tapi tidak jadi karena mendapat tatapan tajam dari suamiku. Mas Toni akhirnya hanya fokus dengan ponselnya.


Hingga pukul 10 siang, Melodi dan mas Toni berpamitan hendak pulang, padahal aku mengajak mereka untuk makan siang bersama, tapi Melodi menolak karena harus buru-buru pergi ke tempat lain.


Setelah Melodi dan mas Toni pulang diantar Mahmud, kini hanya tinggal aku dan kang Sofyan disaung apung itu.


"Buka aja jaketnya kalau gerah" ucap kang Sofyan dengan baju basah, karena habis menyelam membetulkan jaring-jaring tambaknya.


"Emang boleh?" tanyaku


"Boleh, kan enggak ada orang" jawabnya santai.


"Emang kang Sofyan bukan orang?" ceplosku. Kang Sofyan langsung melotot tajam.


"Iya, iya.. he.. he.." ucapku sambil nyengir kuda dan melepas jaket tebal yang melilit ditubuhku.


''Bajunya enggak dibuka? basah loh, nanti masuk angin" tanyaku saat melihat baju kang Sofyan yang basah, bahkan tangannya sampai keriput karena kang Sofyan terlalu lama menyelam.


"Udah biasa, nanti nyemplung lagi, belum selesai" ucapnya.


"Mau diambilin makan?" tawarku.


"Nanti aja belum lapar" ucapnya. Wajahnya terlihat lelah.


"Puja pijitin ya" tawarku.


"Nanti kamu capek" ucapnya.


"Enggak kok, enggak akan capek" jawabku.


"Ya udah kalau maksa" jawabnya dingin.

__ADS_1


"Iya, anggap aja Puja yang maksa" ucapku sambil melemparkan senyuman kearahnya. Kang Sofyan balas tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah itu aku beranjak mendekat kearahnya dan memijat pundaknya.


__ADS_2