Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Numpang Tinggal


__ADS_3

“Loh Eva? Ngapain kesini?" tanya Vino dengan bingung.


“Aku kesini karena mau ikut tinggal di rumah ini." Jawab wanita yang lebih tua dua tahu dari Vino tersebut.


“Ya tapi buat apa?" tanya Vino bingung.


“Aku mau cari kerja di Bandung dan dari pada nyari tempat buat kost mending ikut tinggal sama kalian. Kamu nggak keberatan kan?" tanya Eva harap-harap cemas. Dia merasa cemas takut jika Vino menolaknya untuk tinggal disini.


“Ya udah masuk dulu aja," ucap Vino mempersilakan kakak iparnya tersebut agar masuk ke dalam rumah. Tapi saat di ruang tamu ternyata Alya sudah berada disana. Alya merasa penasaran siapa yang datang berkunjung di malam hari seperti ini. Alya pun begitu terkejut saat melihat kedatangan Eva.


“Kakak? Kok kakak ada disini?" tanya Alya bingung.


“Kamu nggak nawarin aku minum dulu? Aku haus tau! Gimana sih, masa sama tamu nggak ada ramah-ramahnya," ujar Eva yang langsung nyelonong masuk ke dapur dan mengambil air minum di meja makan. Alya dan Vino pun mengekor di belakangnya.


“Oh iya, Ayah belum telfon kamu ya? Mungkin tadi kamu lagi sibuk jadi nggak angkat telfon dari Ayah." ucap Eva.


“Maksud Kakak?" Alya bertambah bingung.


“Jadi begini Al. Aku rencananya mau nyari kerja di Bandung. Males di rumah terus, jenuh. Aku nggak mau jadi beban buat orang tua. Aku udah biasa hidup mandiri soalnya," ucap Eva.


“Kamu nggak apa-apa kan kalau aku ikut tinggal di rumah ini? Maksud aku, kamu nggak keberatan kan kalau Kakak numpang sementara aja?" ulang Eva.


Alya nampak bingung. Dia melirik ke arah Vino yang saat ini terlihat memasang wajah datar seperti papan. Walaupun wajahnya datar, tapi di mata Alya suaminya itu tetap terlihat tampan.

__ADS_1


“Vin, aku mau bicara empat mata sama kamu," ucap Alya.


“Mau bicara apa? Disini aja," tahan Eva.


“Maaf Kak, tapi aku butuh waktu untuk pembicaraan serius." Ucap Alya yang langsung menarik suaminya ke dalam kamar lalu mengunci pintunya dengan rapat.


Di rumah ini memang ada dua kamar, yang satunya mungkin bisa digunakan untuk Eva. Tapi masalahnya Alya takut jika kedatangan Eva ke rumah ini akan membawa masalah ke dalam rumah tangga mereka, baik berupa kesalahfahaman atau hal-hal lain. Bukan kah ada pepatah yang mengatakan jika Ipar adalah maut? Alya sangat yakin pepatah itu benar. Karena walaupun Eva adalah Kakaknya, tapi Alya belum kenal baik bagaimana karakter wanita itu. Itu kenapa Alya mengajak Vino untuk mendiskualifikasi hal ini kepada suaminya. Alya yakin Vino bisa memberi masukan yang terbaik bagi mereka.


“Jadi gimana Vin?"


“Siapa itu Vin?" bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Alya, Vino justru balik bertanya.


“Ya kamu lah."


“Aku? Aku siapa?" Vino malah ngajak bercanda.


“Panggil ayang dong. Sayang, embeb apa Kek." ucapnya.


Alya tersenyum lebar. Dia mulai mengerti kemana arah pembicaraan lelaki itu yang ternyata kurang nyaman di panggil dengan hanya menggunakan mamanya saja.


“Tapi aku malu lah, belum terbiasa," ucap Alya nampak ragu.


Vino memasang wajah kesal.

__ADS_1


“Oke Sayang. jadi gimana menurut kamu?" Alya menyerah pada akhirnya.


Vino tersenyum puas.


“Menurut aku nggak ada salahnya juga ngajak dia tinggal di rumah ini. Tapi nggak usah lama-lama. Seminggu paling lama. Karena jujur aku kurang nyaman," jawab Vino apa adanya.


“Nggak nyamannya kenapa?" tanya Alya dengan matan memicing.


“Nggak nyamannya karena risih aja ada dua perempuan di dalam satu rumah. Ntar aku disangka poligami lagi." Ujar Vino bercanda.


“Ish!" Alya mencebik kesal. Dia benar-benar tak suka mendengar istilah itu disebutkan.


“Aku nggak ada niatan sama sekali Sayang. Jadi nggak usah baper!" ujar Vino sembari menoyor kening sang istri.


“Udah ah, kita tidur. Capek aku.”


Bugh!


Vino melempar tubuhnya ke atas kasur.


“Tapi kamu belum habiskan makan malamnya Sayang. Nanti laper loh," ucap Alya.


“Ntar kalau laper makan lagi," jawab Vino dengan mata terpejam.

__ADS_1


Alya hanya bisa menggeleng dengan kelakuan suaminya. Setelah itu dia menghampiri kakaknya yang saat ini masih menunggunya di meja makan.


Sementara itu Vino langsung membuka matanya setelah Alya pergi. Dia menghela nafas berat. Terlihat seperti ada beban yang dipikirkan.


__ADS_2