
"Kang Mahmud udah tahu kan caranya?" bisik Iis ditelinga Mahmud. Karena menurut pengakuan Mahmud dia masih perjaka, Iis khawatir Mahmud tak tahu cara menancapkan ular sanca ke dalam sarang semut milik nya.
"Kamu meragukan akang Is?" tanya Mahmud disela mencumbu tubuh Iis.
"Emh... Iis hanya... kalau Iis aja yang diatas gimana? Iis udah enggak tahan..." racau Iis yang saat ini sudah seperti cacing kepanasan karena Mahmud masih saja bermain-main dengan gundukan kembarnya.
"Sabar sayang, akang masih ingin menikmati seluruh tubuh kamu. Akang enggak mau melewatkan semua ini dengan terburu-buru." ucap Mahmud dengan nafas memburu. Lalu kembali dia mengecup dan menyapu seluruh permukaan kulit halus Iis membuat Iis semakin menggelinjang hebat karena Mahmud benar-benar memperlakukannya dengan sangat lembut.
Setelah dirasa panas, kini Mahmud mengeluarkan ular sanca dari balik celananya. Iis melotot melihat itu.
"Kang.. itu.. itu.. ke-kenapa itu akang gede banget?" tanya Iis ketakutan. Hilang sudah nyalinya, Iis jadi ngeri-ngeri sedap membayangkan sarang semutnya di obrak-abrik ular sanca Mahmud.
"Hehe.. kamu takut?" goda Mahmud.
"Eng- enggak kok, masa gitu aja takut." jawab Iis tergagap.
"Yang bener?" tanya Mahmud yang semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Iis hingga ular sanca itu menempel dipahaa Iis.
"Kang...apa muat?" tanya Iis saat wajah Mahmud semakin mendekat ke wajahnya.
"Muat sayang, udah jangan takut, jangan mikir yang enggak-enggak. Fikirkan yang enak-enak aja." bisik Mahmud sembari menggigit kecil cuping Iis.
"Tapi... Eungh!!" Iis melenguh saat ular sanca itu digesek-gesekan ke permukaan sarang semut miliknya.
"Udah basah dan beceek banget. Akang masukin ya" bisik Mahmud.
"Eungh!" Iis hanya bisa melenguh dan mengangguk pelan.
Jrusshh!!
"Akkhh!!!" Iis memekik saat hentakan Pertama dilakukan, ternyata baru masuk kepalanya saja.
__ADS_1
"Tahan Is, akang janji semua akan berganti dengan kenikmatan." bisik Mahmud. Iis mengangguk. Kemudian Mahmud melanjutkan lagi aksinya.
Jrushh!!
"Awwhh!!!" Iis kembali memekik kesakitan saat Mahmud kembali menekan ular sancanya. Baru setengahnya tapi Iis merasa tubuhnya terbelah jadi dua. Oh, kenapa perih dan sakit sekali? Iis bertanya-tanya dalam hati. Dan...
Jrushh!!
"Akaaaaang... Sakit Hu.. Hu..." sedikit teriak dan menangis karena merasakan miliknya begitu perih dan nyeri. Sementara Mahmud mengulum senyum, dia sangat senang dan bahagia karena melepas keperjakaan nya kepada Iis yang juga menyerahkan keperawanannya untuk dirinya. Malam ini menjadi saksi Iis dan Mahmud telah saling memiliki.
"Sakit ya sayang, sabar yah. Cup cup cup." Mahmud mengecupi seluruh wajah Iis dengan sayang dan penuh kelembutan. Lalu dengan perlahan namun pasti Mahmud mulai menggenjoot tubuhnya secara naik turun membuat Iis merasakan sensasi yang berbeda. Sarang semutnya yang semula terasa sakit dan perih kini berganti kenikmatan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Mulutnya terus menganga dan menjerit kecil tak kala Mahmud mulai menghentak-hentakan tubuhnya dengan sedikit cepat. Hingga suara-suara khas orang bercinta menggema diseluruh penjuru kamar itu. Namun karena baru pertama kali, dan masih perjaka ting-ting, baru lima belas menit ular sanca miliknya sudah kesemutan dan akhirnya memuntahkan semua bisanya kedalam sarang semut milik Iis.
"Cup! Kita istirahat sebentar ya sayang, nanti kita sambung lagi." ucap Mahmud yang kini berbaring disamping Iis. Dia mengatur nafas sejenak lalu mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya hingga habis tak bersisa. Lalu mengisinya lagi dan memberikannya kepada Iis.
"Ini minum dulu sayang, kamu pasti haus." ucap Mahmud perhatian.
"Makasih kang." jawab Iis sembari duduk disisi ranjang. Setelah meminum air putih itu dia mengembalikan gelas tersebut kepada Mahmud. Kemudian dia duduk sambil bersandar didada Mahmud.
"Makasih ya kang" ucap Iis.
"Iya kang, kang tahu enggak, tadi Puja kasih obat kuat ke Iis katanya biar kang Mahmud kuat sampai shubuh, masa Puja juga bilang kang Mahmud mah paling juga cuma kuat tiga ronde." ucap Iis memprovokasi.
"Teh Puja ngomong begitu?" tanya Mahmud.
"Iya kang, apa iya kang Mahmud cuma kuat tiga ronde?" tanya Iis dengan wajah memelas. Pancingan nya sepertinya berhasil. Dan sebentar lagi Mahmud pasti akan 'menghajarnya' habis-habisan. Ah, Iis jadi tak sabar ingin menjerit-jerit kenikmatan.
"Enak aja, Kang Mahmud masih muda, tenaga masih kuat. Kang Sofyan tuh yang letoy, akang yakin pinggangnya kang Sofyan udah sering encok!!" ucap Mahmud.
"Bisa jadi sih.. tapi.."
"Tapi apa?" tanya Mahmud.
__ADS_1
"Emang beneran akang bisa ngalahin kang Sofyan? emang akang bisa main sampai shubuh kayak mereka?" tanya Iis pura-pura polos. Dia terus memprovokasi Mahmuda agar semangatnya kembali berkobar.
"Yakinlah, akang bisa buktikan." ucap Mahmud.
"Masa? tapi Iis enggak percaya." ucap Iis semabri memainkan jari-jari lentiknya didada Mahmud. Mahmud menangkap tangan Iis dan meletakkannya dibawah sana, dimana ular sancanya sudah kembali berdiri, siap mematuk dan mengobrak-abrik lubang semut milik Iis.
"Kok cepet banget bangunnya?" tanya Iis malu-malu. Padahal hatinya bersorak senang.
"Kamu yang mancing-mancing." ucap Mahmud dengan mata berkabut. Setelah itu dia langsung merebahkan tubuh Iis dan menindih nya dengan posessive hingga terjadilah sesi selanjutnya. Dimana malam itu Mahmud membuktikan kejantanannya kepada Iis.
//
Sedangkan ditempat lainnya kini ada yang sedang gigit jari. Bagaimana tidak, sudah panas, sudah di ujung dan siap meledak masuk. Malah ada fla strawberry yang keluar dari goa kenikmatan Puja.
"Maaf kang, jangan ngambek gitu dong. Puja juga kan enggak tahu kalau..."
"Kita udah jauh-jauh datang kesini, masa iya enggak itu-itu." ucap Sofyan sambil cemberut. Wajahnya kini benar-benar kusut seperti baju belum disetrika.
"Sayang... Puja kan enggak tahu, jangan ngambek dong.. ya kita tinggal tambah aja masa cutinya jadi 10 hari. Lagian biasanya cepet kok Puja kalau datang bulan, Lima hari udah bersih." bujuk Puja.
"Tapi kan kita jadi kalah saing sama si Mahmud. Akang kan juga mau malam pertamaan." rengek Sofyan.
"Ya ampuun.. udah ah jangan ngambek lagi. Nanti Puja bantu keluarin. Apa akang lupa siapa istri kang Sofyan? Akang tenang aja enggak usah khawatir." ucap Puja mencoba menghibur.
"Beneran ya? janji?" tanya Sofyan.
"Iya Puja janji. Tapi sebelum itu Puja juga mau minta tolong." ucap Puja.
"Minta tolong apa?" tanya Sofyan.
"Cariin pembaluut. Hehe.." ucap Puja sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Hah?!!" Sofyan terkejoot!
🌻🌻🌻🌻🌻🌻