Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Titik Terendah


__ADS_3

Setelah kejadian hari itu Risma lebih banyak diam, kejadian yang diharapkannya dapat membuat dirinya dan Sofyan bersatu justru malah sebaliknya, tak ada harapan lagi dirinya untuk bertahan hidup. Dia merasa hancur dan tak berguna, belum lagi omelan ibunya yang senantiasa memenuhi telinganya hingga terasa panas.


"Ibu gagal mendidik kamu Risma! bisa-bisanya kamu sebodoh itu ngasih perawan kamu ke laki-laki enggak jelas! apalagi laki-laki itu mantannya si biduan!" ucap ibunya Risma. Risma tak menjawab, hanya diam saja sambil terus memeluk lututnya.


"Ibu nyesel ngelahirin anak enggak berguna dan bisanya bikin malu keluarga! capek ibu dengerin omongan orang!!" cerocos ibunya Risma tanpa jeda. Dia tak tahu hati Risma semakin sakit mendengarnya, dan disaat itu setan semakin gencar menggodanya untuk melakukan suatu hal yang dibenci Allah. Bunuh diri! ya, difikiran Risma saat itu terbesit keinginan untuk mengakhiri hidupnya.


Dia berjalan gontai keluar dari rumahnya untuk membeli sebuah cairan racun serangga untuk diminumnya.


"Mau kemana kamu Risma!" tanya ibunya Risma.


"Mau nyusul abah!" jawab Risma sambil tersenyum.


"Maksud kamu apa?!" tanya ibunya Risma.


"Mau ikut abah." jawab Risma pelan.


"Iya sana ikut sama abah kamu! dirumah juga cuma bikin pusing!" ucap ibunya Risma yang mengira jika Risma hanya ingin ke kuburan ayahnya.


Risma berjalan dengan tatapan kosong ke sebuah warung dan memberi cairan pembun*h serangga. Setelah itu dia berjalan keluar kampung ke perkebunan karet yang sepi tak ada siapapun. Tanpa diketahuinya ada seorang lelaki yang tanpa sengaja melihat gelagat aneh Risma yang kini tengah mengikutinya dari jarak yang sedikit jauh.


Risma menengok ke sekelilingnya untuk memastikan jika tak ada orang yang akan melihat aksinya. Setelah dirasa aman, dia mulai membuka botol berisi racun serangga tersebut. Dengan tangan gemetar dan air mata yang berderai Risma mulai mengarahkan botol itu menuju mulutnya.

__ADS_1


Praakk!!


Botol minuman itu jatuh sebelum cairan beracun itu mendarat dimulutnya. Risma terkesiap melihat lelaki yang kini tengah menatapnya dengan wajah sedih dan prihatin.


"Jangan begini Risma, ini salah." ucap pria itu.


"Ngapain kamu ikut campur urusan aku!! pergi sana!" usir Risma sambil mendorong tubuh pria tersebut.


"Aku enggak akan pergi! kamu jangan nekad, jangan Risma. Ingat Allah tidak akan mengampuni dosa bun*h diri. Jangan lakukan itu, abah kamu pasti sedih." ucap pria itu sambil menatap nanar wajah Risma.


"Aku enggak butuh nasehat kamu! hidup aku udah nggak ada gunanya lagi! hidup aku udah hancur! aku kotor! aku...! hu..." Risma menangis dan luruh ke tanah. Pria itu mencoba mendekati Risma dan membawanya kepelukannya. mengelus lembut rambut Risma.


"Kalau kamu mau nikah sama aku, aku bersedia bertanggung jawab jadi ayah dari anak itu. Tapi aku hanya laki-laki miskin Risma, aku enggak punya apa-apa." ucap pria itu mencoba menawarkan diri kepada Risma.


"Jangan begini, abah kamu pasti sedih lihat anak satu-satunya putus asa. Setidaknya jangan tambah beban abah kamu diakhirat Risma, biarkan dia bahagia dengan melihat kamu bahagia disini." ucap lelaki itu.


"Kamu mau kan nikah sama aku? aku janji Risma aku bakalan menyayangi anak ini seperti anak aku sendiri. Kamu kenal aku, kamu tahu keluarga aku, apa aku orang jahat? enggak kan. Walaupun aku miskin, aku aku akan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan kalian. Tapi tolong jangan akhiri hidup kamu dengan cara seperti ini." ucapnya berusaha menenangkan Risma.


"Tapi kenapa kamu mau tanggung jawab sama anak ini, hah?! kamu kasian sama aku? iya?" tanya Risma dengan wajah loyo.


"Kamu sampai hamil begini karena aku Ris, seandainya aja waktu itu aku enggak nurunin kamu di jalan, kamu enggak akan ketemu sama laki-laki brengsek itu! semua ini enggak akan terjadi." ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


"Tapi.. aku yang minta turun, aku yang maksa... kamu enggak usah merasa bersalah. Disini aku yang salah. Aku yang bodoh." ucap Risma lirih.


"Enggak Ris, aku yang salah enggak bisa menjaga amanah dari kang Sofyan, seharusnya aku anterin kamu sampai rumah. Seharusnya aku enggak nurutin mau kamu dan pada akhirnya..." ucapannya terjeda. Dia merasa sangat bersalah karena kelalainnya yang tak menjaga Risma dengan baik.


"Stop! enggak usah dilanjutin, kalau karena itu, kalau karena rasa bersalah. Lebih baik urungkan niat kamu untuk nikahin aku. Kamu enggak salah dan jangan nyalahin diri kamu." ucap Risma.


"Tolong Ris, tolong jangan nolak aku Ris. Aku memang laki-laki miskin, tapi aku tulus Ris mau nolongin kamu. Dan aku yakin, enggak sulit untuk aku jatuh cinta sama kamu. Tapi mungkin sebaliknya..." ucapannya terjeda.


"Kamu laki-laki baik, sama kayak kang Sofyan. Pekerja keras, aku yakin kamu bakalan dapat istri yang jauh lebih baik dari pada aku. Sekarang Risma minta tolong anterin ke makam abah ya, Risma kangen abah." ucap Risma lirih.


"Iya aku anterin, tapi Ris.. tolong terima aku Ris, aku mohon." ucap pria itu dengan mata memohon.


"Tapi..."


"Mau ya, aku janji bakalan bahagiain kamu. Ikut aku, tinggal sama emak aku. Emak pasti seneng kalau punya mantu kayak kamu." ucapnya.


"Risma..."


"Kasihan bayi kamu, dia butuh ayah. Kamu juga enggak nyaman kan tinggal sama ibu kamu, ayo kita nikah Ris, emak pasti bakalan sayang banget sama kamu." ucap pria itu meyakinkan.


"Yah mau ya.." lanjutnya. Risma mengangguk lalu memeluk pria itu, pria yang dulunya teman kecilnya dan teman satu sekolahnya.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hayo... ada yang bisa nebak itu siapa?


__ADS_2