
"Ma-maksud kang Sofyan apa? kang Sofyan mau ngapain?" seketika rasa takut menyelimutiku.
"Enggak usah pura-pura bego. Saya mau bayar kamu!" ucapnya dengan tatapan marah.
"Bukannya kamu jijik sama aku? emang kamu doyan sama perempuan murahan kayak aku?" aku malah semakin berani. Kang Sofyan malah menyeretku dan membawaku mendekati kasur.
Bugh!
Tubuhku terlempar tepat diatas kasur. Aku berusaha bangkit, namun kang Sofyan keburu menindih tubuhku. Aku meronta meminta dilepaskan, tapi kang Sofyan dengan beringas menyerangku. Menggagahiku dengan bergelora, menghentak-hentakkan tubuhnya dengan semangat dan sedikit kasar. Lama-lama aku terbuai dan menikmati setiap sentuhan demi sentuhan dari kang Sofyan. Aku tidak menyangka, lelaki seperti kang Sofyan bisa segagah ini ketika diranjang. Aku larut dan mulai membalas setiap serangan demi serangan dari kang Sofyan yang sangat memabukkan.
"Oh.... Ratna...!"
Duaarrr!!!!!
Seperti petir yang menyambar tepat kearah jantungku, ucapan kang Sofyan saat pelepasan diujung permainan membuatku serasa membeku. Tiba-tiba gelora ku hilang, nafsuku dibawa angin, gairahku bersembunyi berganti rasa sakit yang teramat sangat. Kang Sofyan benar-benar menusukkan sebuah belati di hatiku dengan luka yang sangat dalam.
Dibawah kungkungannya aku mengeluarkan air mata tanpa suara. Aku tidak tahan, ini terlalu sakit! seorang suami secara sadar menyebut nama wanita lain ketika sedang berada dipuncak permainan. Ini sudah keterlaluan, aku tidak bisa menahannya lagi!
"Bajing*n!" aku mendorongnya dengan kuat lalu berlari ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air di bak mandi. Aku jijik! aku jijik dengan diriku sendiri. Aku ingin menghilangkan semua jejak lelaki itu. Tapi sepertinya perkataan lelaki itu benar, sekali pelac*r tetaplah seorang pelac*r! aku pelac*r! aku Puja si biduan murah*n!
__ADS_1
"Hu.... hu...." aku menangis pilu, aku meratapi takdir yang begitu kejam menghukumku. Tidak bisakah aku bahagia?
'Kak, Ratna... maafin Puja...'
*********
Entah sudah berapa lama aku dikamar mandi, yang jelas air mataku sudah kering. Aku keluar dengan keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Aku berjalan dengan santai melewatinya begitu saja. Lalu mengambil beberapa bajuku dilemari pakaian. Aku melihat tatapan bingung dari wajahnya yang terpantul dikaca lemari pakaian.
"Dasar enggak punya malu!" ucapnya sinis.
'Memang aku sudah tidak punya malu, tidak ada yang berharga dari tubuhku ini. Aku murah*n!' batinku.
Aku tidak menjawab ucapannya. Aku merasa capek dan lelah. Aku jadi tidak ingin bicara dengannya lagi.
"Ikut pulang, dari semalam emak nangis, enggak mau makan gara-gara khawatir sama kamu! eh yang di khawatirkan malah asyik-asyikan open BO!" ucapnya kasar.
Aku tetap diam.
Kang Sofyan menarik tanganku untuk ikut bersamanya. Saat pintu dibuka, ternyata sudah ada iis disana.
__ADS_1
"Maaf ya is lama, Puja mau pulang sama kang Sofyan" ucapnya lembut dan ramah.
"Iya kang" jawab iis.
Aku tetap diam, aku merasa duniaku sudah mati. Entahlah, saat ini aku merasa hidupku tidak ada gunanya lagi.
Aku kembali ditarik paksa oleh kang Sofyan.
"Naik!" ucapnya.
Aku menurut dan duduk di jok belakang motornya. Saat perjalanan kami sama-sama diam, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Sampai akhirnya kami sampai dirumah kang Sofyan. Emak sangat senang melihat kedatanganku. Emak memelukku dan menciumi wajahku dengan sayang.
"Neng geulis, jangan pergi lagi ya sayang, emak sayang sama Puja, emak khawatir banget" ucapnya sambil menggenggam tanganku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ya udah, Puja istirahat dulu sana, pasti Puja capek." titahnya. Lagi-lagi aku seperti robot hidup yang menurut. Aku masuk ke kamar itu dan menggelar tikar untuk kemudian berbaring. Kang Sofyan ikut masuk ke dalam kamar.
"Naik ke atas. Dibawah dingin" ucapnya.
Aku tak menghiraukan ucapannya dan malah menutup mataku rapat-rapat. Aku merasakan tubuhku melayang, sepertinya kang Sofyan menggendongku. Dan sesaat kemudian aku merasakan tidur di atas kasur yang empuk. Aku dan kang Sofyan satu kasur. Senang? tentu tidak! aku sudah mati rasa!
__ADS_1
Mataku mungkin terpejam, tapi hatiku tidak, malam itu aku menangis dalam diam.
'Tuhan.... sampai kapan Kau menghukumku?'