
Teman-teman kerja Bagja akhirnya datang kerumah Sofyan. Mereka satu persatu masuk ke ruang tamu yang sudah dipersiapkan agar cukup untuk orang banyak. Mereka duduk lesehan, karena ditempat Puja tidak mengadakan pesta, dan hanya lesehan saja. Masak-masak juga pesan catering dan serba mendadak, beda jauh di rumah Risma yang memang serba siap.
Bagja membawa Dila untuk ikut ke ruang tamu hendak dikenalkan kepada teman-teman nya, Dila dan Bagja yang masih memakai baju pengantin nampak sangat serasi dengan balutan jas dan berkebaya. Mereka semua menatap kagum kepada Dila yang nampak begitu cantik, tidak dandan saja sudah cantik ditambah dandan begini, sungguh luas biasa ciptaan Allah yang satu itu. Diantara mereka ada yang terkejut, yaitu Doni dan Dimas, dua D yang sempat terpana akan kecantikan Dila dulu ketika mengantar ponsel Bagja ke tempat kerjanya. Mereka tak percaya jika ternyata Dila adalah kekasih Bagja dan kini sudah menjadi istrinya Bagja. Namun ada pula yang menatap tak suka, namanya Riri. Dia bawahan Bagja yang punya perasaan lebih pada kulkas 50 pintu itu, dan kini dia tengah patah hati disaat Bagja melepas status lajangnya.
"Oh, ini yang namanya Alya?" celetuk Dimas, karena di undangan nama mempelai wanitanya tertulis nama Alya. Dila merengut karena disangka sebagai Alya.
"Bukan, istriku namanya Dila, saya enggak jadi nikah sama Alya, yang nikah sama Alya adik saya." ucap Bagja menjelaskan.
"Kok enggak jadi kenapa?" tanya Doni penasaran.
"Ya namanya jodoh mau gimana lagi. Jodohnya sama Dila." jawab Bagja sambil menggenggam tangan Dila dengan lembut.
"Hmm... iya lah, kalau jodohnya cantik seperti bidadari gini sih, siapa aja enggak akan nolak." ucap Dimas sambil menatap kecantikan Dila yang terus bersinar. Dila tersipu malu, sedangkan Bagja nampak tak suka.
"Jadi Vino nikah sama Alya? Alya itu yang mana?" tanya Doni penasaran.
"Ya yang itu, kamu kesana aja kalau penasaran." ucap Bagja.
"Yang pasti tidak lebih cantik dari yang ini karena..." Dimas menghentikan ucapannya saat mendapat pelototan tajam dari Bagja. Ish! dasar pelit, Dimas ngedumel dalam hatinya, kalau tahu di kampung ini ada bidadari secantik Dila, sudah pasti dia akan mendekati Dila lebih dulu, tapi dia tahunya ketika Dila sudah menjadi istri Bagja, sialan! terlambat sudah.
//
Malam hari.
__ADS_1
Sejak tadi Bagja menekuk wajahnya karena Dimas dan beberapa teman prianya tadi terus saja memuji kecantikan Dila didepannya. Dia bukan tak suka Dila dipuji cantik, tapi entah kenapa dia merasa dongkol karena tak ikhlas berbagi kecantikan Dila dengan pria lain. Baginya kecantikan Dila hanya boleh untuknya saja, yang lain tidak.
Bagja dan Dila sudah sama-sama mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Namun perasaan panas di hati Bagja belum juga mereda hingga membuat Dila bingung.
"A Bagja kenapa sih, kok sejak tadi murung terus?" tanya Dila.
"Enggak kenapa-kenapa." jawab Bagja sembari memainkan ponselnya sambil berbaring dikasur.
"Apa A Bagja nyesel nikah sama Dila? iya? A Bagja enggak bahagia? iya kan?" Dila menangis, tak tahan dengan sikap dingin Bagja yang terus mendiamkannya. Bagja menarik nafas dalam-dalam, ternyata rasa cemburunya malah membuat Dila salah faham. Bagja duduk dan menarik Dila untuk mendekat ketubuhnya, lalu mengangkat tubuh Dila dan mendudukkan Dila dipangkuannya.
"A Bagja enggak pernah nyesel menikah sama kamu, justru a Bagja merasa sangat beruntung punya istri secantik kamu." ucap Bagja sambil menangkup wajah Dila.
"Tapi dari tadi A Bagja diam aja, Dila dicuekin." ucap Dila merajuk.
"Bukan cuek, tapi A Bagja sedang marah." ucap Bagja.
"Dila enggak salah apa-apa, A Bagja aja yang enggak kuat mental punya istri terlalu cantik, jadi ketika kecantikan istri dipuji-puji sama laki-laki lain A Bagja cemburu." ucap Bagja sambil mengecup lembut bibir ranum Dila. Dila terkesiap, ternyata Bagja tengah cemburu, ya ampun mimpi apa dia sampai dicemburui oleh Bagja. Manusia kulkas itu ternyata bisa cemburu, Dila benar-benar tak percaya dengan apa yang diucapkan Bagja barusan.
"Ja-jadi... tapi kenapa A Bagja marahnya sama Dila? kenapa Dila yang dicuekin?" tanya Dila sambil cemberut.
"A Bagja hanya menangkan hati sayang." ucap Bagja sambil mengelus pipi mulus Dila. Oh, manusia kulkas ini, begitu hangat ketika menginginkan ranjang bergoyang. Sedangkan Dila, dielus begitu wajahnya langsung mangap-mangap, tak tahan dengan sentuhan memabuukkan jari jemari Bagja. Apalagi kini tangan yang lainnya sudah merayap kemana-mana.
"A... mau ngapain?" tanya Dila sok polos. Padahal dia sudah tau akan kemana arahnya.
__ADS_1
"Menurut kamu, pasangan pengantin baru yang baru menikah malam harinya akan melakukan kegiatan apa?" Bagja malah main teka-teki.
"Enggak tahu, olahraga malam mungkin." tebak Dila dengan wajah bersemu merah.
"Aneh ya, malam-malam kok nyari keringat.. tapi sepertinya asyik, mau coba enggak?" bisik Bagja ditelinga Dila. Tubuhnya meremang tak kala Bagja mengigit kecil telinganya.
"A Bagja kok nakal sihh!!" ucap Dila dengan sedikit mendesaah. Tanpa banyak kata setelah melihat Dila yang semakin panas, Bagja langsung melahap Dila dengan penuh semangat, dan menjadikannya malam ini malam terindah bagi keduanya, dimana suara erangan dan racauan memenuhi seluruh penjuru ruangan kamar itu, menghasilkan bunyi nyaring nan membangkitkan semangat, ditambah bunyi derit ranjang yang saling bersahut-sahutan seolah sedang berteriak hore-hore agar Bagja semakin semangat menancapkan singkongnya dengan harapan, tumbuhlah tunas-tunas singkong premium didalam lembah becek nan lembab milik Dila.
//
Ketika Dila dan Bagja tengah merajut cinta dan asmara sebanyak-banyaknya, lain halnya dengan Vino dan Alya yang kini tengah tidur saling memunggungi. Vino selalu sibuk dengan ponselnya sedangkan Alya tak dapat memejamkan matanya sebab tidur satu kasur dengan orang lain yang kini jadi suaminya.
Alya duduk dan mengambil sebuah buku di laci lemarinya, lalu duduk di kursi dan membaca buku tersebut.
"Kenapa enggak tidur?" tanya Vino dengan mata fokus ke ponsel ditangannya.
"Belum ngantuk." jawab Alya.
"Oh" jawab Vino setelah itu dia kembali memainkan ponselnya, namun kemudian dia duduk dan mulai bicara serius dengan Alya.
"Jadi berapa lama kita akan berakting dengan pernikahan konyol ini?" tanya Vino dengan wajah serius, bahkan Alya tak pernah melihat Vino se serius ini.
"Ya sampai ketemu dengan orang yang dicintai, mau aku duluan atau kamu duluan, lalu kita saling meninggalkan. Mudah kan?" ucap Alya santai.
__ADS_1
"Yakin? Al aku tahu kenapa kamu mau dan ngebet nikah sama aku, kamu pasti punya tujuan kan!? sekarang katakan. Apa tujuan kamu?"
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻