
"Dimatiin mah," ucap Bagja lesu.
"Emang kalian lagi ada masalah apa sih?" tanya Puja.
"Enggak ada masalah apa-apa mah, hanya saja tadi siang Bagja sedang banyak kerjaan. Ada kerjaan tambahan, jadi makan siangnya telat, molorr sampai satu jam. Terus Bagja hubungin Dila, nomornya udah enggak aktif, masa hanya gara-gara itu doang Dila nya ngambek?" ucap Bagja mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya udah biar mamah nanti coba tanya ke Dila, sekarang mendingan kamu tidur, istirahat. Besok kan harus kerja." ucap Puja.
"Tapi Bagja enggak tenang mah kalau belum lihat keadaan Dila. Apalagi kata mamah tadi Dila nangis, Bagja takut kalau Dila sampai kenapa-kenapa." ucap Bagja khawatir.
"Udah jangan terlalu dipikirin kasep, mamah tefon lagi sekarang buat mastiin." ucap Puja mencoba menenangkan Bagja. Kemudian dia menghubungi nomor Dila, dan baru satu deringan Dila sudah mengangkatnya, tapi dia belum mau bersuara sebelum Puja bicara. Puja melodspeker telfonnya agar Bagja dapat mendengar suara Dila.
"Hallo, Dila denger mamah kan?" tanya Puja.
"Iya bun," jawab Dila lirih.
"Dila kenapa sayang, kenapa kayak lagi serih gitu?" tanya Puja.
"Enggak apa-apa kok bun, Dila cuma lagi kangen sama bapak," ucap Dila sambil terisak. Sungguh saat ini Bagja benar-benar merasa sakit begitu mendengar tangisan Dila.
"Kalau sama Bagja enggak kangen? kok enggak mau ngomong?" tanya Puja.
"Ngapain dikangenin, dia kan udah ada yang nemenin." ucap Dila sambil terisak.
"Maksudnya?" tanya Puja penasaran.
"Maaf bun, udah malem, besok Dila masuk pagi. Udah dulu ya bun." pamit Dila. Kemudian Dila mematikan sambungan tefonnya secara sepihak membuat Puja dan Bagja semakin bingung.
"Lagi kangen bapak katanya kasep." ucap Puja.
"Tapi mah..."
"Udah istirahat sana. Jangan terlalu difikirkan." ucap Puja. Bagja terpaksa menurut kemudian dia masuk ke dalam kamarnya. Bagja yang masih merasa tak tenang langsung mengirim pesan via WhatsApp kepada Dila.
(Sayang kamu kenapa sih? aa Bagja kangen banget sama Dila, tapi kenapa Dila enggak mau ngangkat telfon dari aa? apa salah aa sayang, kasih tahu coba) Bagja.
Setelah sekian menit Dila tak kunjung membalas pesannya, hanya membacanya saja.
__ADS_1
(Ya udah kalau Dila belum siap ngomong enggak apa-apa, Dila istirahat ya, I love you istriku.) Bagja. Lagi-lagi pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas. Bagja mengambil baju Dila didalam lemari pakaiannya kemudian dia mengirimkan foto selfinya yang sedang mencium baju Dila. Ditempat lainnya Dila tengah menangis sesenggukan, dia pun sama rindunya dengan Bagja, tapi karena rasa cemburu dan kesalahpahaman membuatnya tak ingin berkomunikasi dengan Bagja untuk sementara waktu sampai hatinya tenang.
//
Keesokan harinya
Bagja sampai dikantor dalam keadaan lesu dan tidak semangat. Dia ingin pekerjaannya cepat selesai agar dapat menyusul Dila ke Bandung. Rasanya dia tak tahan jika harus berjauhan lebih lama lagi dengan Dila.
"Kenapa mukanya kusut begitu?" tanya Doni.
"Enggak apa-apa." jawab Bagja lemas.
"Aku duluan, mau penyuluhan dulu di kampung xxxxxxxx," ucap Bagja sambil berlalu dengan membawa berkas ditangannya.
"Iya, semangat," ucap Doni.
Ketika sampai di parkiran, Anya tiba-tiba ikut masuk kedalam mobil Bagja.
"Mau ngapain kesini?" tanya Bagja dengan wajah memerah.
"Emang nya kenapa?" tanya Anya.
"Jangan galak-galak dong kak, aku kan juga ditugaskan untuk penyuluhan dengan kak Bagja, apa salahnya kalau..."
"Turun enggak!" kali ini Bagja berteriak lebih kencang dari sebelumnya. Bukan tanpa alasan, tapi karena suasana hatinya yang sedang kacau dan sikap Anya yang membuatnya kesal maka meledaklah amarah yang sudah sejak tadi malam ditahannya.
"Kak, kak Bagja kenapa sih? kalau kerja yang profesional dong, kalau ada masalah pribadi jangan dibawa-bawa kedalam pekerjaan." ucap Anya kesal. Wajahnya memerah, dia sakit hati karena seumur-umur baru kali ini dia dibentak oleh orang lain. Apalagi orang yang membentaknya adalah lelaki yang disukainya.
"Maaf, tapi saya enggak suka satu mobil dengan orang asing." ucap Bagja.
"Papa bilang, Anya suruh ikut sama kak Bagja aja, karena Anya kan enggak hafal jalan." ucap Anya. Bagja menarik nafas dalam-dalam.
"Duduk dibelakang. Jangan disamping saya!" titah Bagja.
"Tapi..."
"Pindah atau enggak sama sekali?" ucap Bagja. Anya terpaksa pindah duduk dikursi belakang. Bagja benar-benar sulit untuk didekati. Kalau begini terus kapan Bagja akan berhasil dimilikinya.
__ADS_1
//
Penyuluhan hari ini sudah selesai, Bagja melajukan mobilnya dengan kencang karena fikirannya sejak tadi terus mengarah kepada Dila. Namun tiba-tiba dia kebelet buang air, akhirnya dia mencari SPBU terdekat untuk buang hajat. Lagi-lagi Bagja ceroboh karena meninggalkan ponselnya diatas dashboard.
Saat Bagja sudah keluar dari dalam mobil, ponselnya berdering. Anya yang mendengar suara berdering dari ponsel Bagja tersenyum senang. Dia mengangkat panggilan itu.
"Halo?" sapa Anya.
"Kamu lagi! mana suami aku?!" Dila begitu marah saat mendengar suara Anya.
"Suami? kamu gila ya?! udah aku bilang Bagja itu pacar aku, ngapain kamu ngaku-ngaku jadi istrinya?" Anya sengaja memantik emosi Dila.
"Kurang ajar! pelakor sialan! cepat kembalikan hape suami aku!" ucap Dila berapi-api.
"Hahaha... kenapa marah-marah? harusnya aku yang marah dong karena kamu gangguin pacar aku!" ucap Anya sambil tersenyum puas.
"Awas kamu ya, awas kalau ketemu! lihat aja, bakal aku bikin perkedel kamu!" ancam Dila.
"Kamu fikir aku takut? ayo kita ketemu! bakal aku tunjukkin siapa aku!" tantang Anya.
Klek!
"Anya!" Bagja membentak dengan suara keras membuat Anya terlonjak kaget, begitupun Dila yang juga terkejut mendengar suara Bagja yang menggelegar. Dila semakin sedih dan mematikan panggilan itu, ternyata memang benar Bagja sedang berada dengan wanita lain. Dia sangat kecewa dan putus asa.
"Apa-apaan kamu Anya! lancang kamu ngangkat telfon dari istri saya! jadi semua ini ulah kamu, kamu yang udah buat istri saya salah faham?" tanya Bagja yang kini tengah marah besar. Terlihat kilatan amarah yang menyala-nyala dimatanya. Bagja mengerti sekarang kenapa Dila tiba-tiba marah padanya, pasti karena kemarin Anya melakukan hal yang sama saat ponselnya tertinggal didalam tas.
"Kak, aku..."
"Kamu apa?! kamu sudah kelewatan Anya! keterlaluan!" bentak Bagja.
"Kak, aku bisa jelasin, aku hanya..." sumpah demi apapun saat ini Anya merasa sangat takut, Bagja terlihat begitu menakutkan dimatanya, spertinya Bagja hendak memakannya hidup-hidup.
"Hanya apa?! sekarang kamu keluar dari mobil saya!" ucap Bagja sambil menarik tangan Anya hingga Anya jatuh tersungkur keluar.
"Kak, kamu enggak bisa perlakuan aku kayak gini! aku enggak terima!" ucap Anya panik karena Bagja menutup pintu mobilnya.
"Terserah!" ucap Bagja.
__ADS_1
"Aku ngelakuin semua ini karena aku cinta sama kamu kak, tolong jangan begini, aku cinta sama kamu kak. Tolong terima cinta aku." ucap Anya dengan air mata berderai. Dia mengetuk-ngetuk kaca mobil Bagja agar Bagja membukanya, namun Bagja malah meninggalkan nya pergi begitu saja. Bagja tidak perduli Anya akan pulang dengan siapa, yang jelas saat ini tujuannya adalah Dila, ya, Bagja berusaha menghubungi Dila, tapi nomornya tidak aktif. Bagja yakin saat ini Dila tengah salah faham dan sakit hati. Kalau tidak diselesaikan, Bagja takut Dila akan berbuat macam-macam.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁