
Setelah kodisiku yang berangsur membaik, akhirnya aku dibolehkan pulang. Kami pulang kerumah bibi. Kang Sofyan sangat telaten menjagaku, dia tidak membiarkanku kelelahan sedikitpun, padahal, aku melahirkan secara normal yang langsung bisa pulih dalam hitungan hari. Tapi perlakuannya sangat berlebihan apalagi jika si kecil rewel, kang Sofyan panik bukan main. Anak lelaki kami diberi nama Bagja Fauzan Ali oleh kang Sofyan. Bagja sendiri artinya kuat, kang Sofyan berharap anak kami akan menjadi lelaki yang kuat.
Sebulan sudah kang Sofyan berada disini, aku mulai risau dan mengkhawatirkan keadaan emak dikampung. Apalagi bapak sudah meninggal, emak pasti kesepian ditinggal sendirian dirumah.
"Kang, udah sebulan loh, akang enggak pulang?" ucapku sambil menyender didadanya.
"Emang kenapa?" tanya kang Sofyan.
"Emak kasihan sendirian dirumah" jawabku.
"Terus Puja gimana kalau akang pulang? apa Puja mau ikut sekalian pulang ke sana?" tanya kang Sofyan.
"Puja belum siap ketemu emak lagi kang. Maaf ya kang, Puja masih takut aja emak minta kang Sofyan untuk nikahin Risma" ucapku.
"Enggak bakalan lah sayang, apalagi kan sekarang kita udah punya anak" jawab kang Sofyan.
"Tapi..."
"Enggak ada tapi-tapian, kali ini nurut sama akang, kita Pulang dan jangan ngebantah" ucap kang Sofyan dengan wajah serius.
"Anak kita baru umur sebulan, belum kuat dijalan sayang, akang pulang dulu aja jengukin emak, kasihan emak" pintaku.
"Akang enggak bisa jauh dari kalian, nanti kamu kabur lagi" ucap kang Sofyan dengan nada khawatir.
"Akang enggak usah khawatir, Puja enggak akan kabur kok, Puja bakal nungguin kang Sofyan disini. Puja janji" ucap Puja.
"Benar ya, awas lo kalau ingkar janji. Tapi nanti Puja kerepontan ngurus Bagja?" ucap kang Sofyan.
"Enggak, kan ada bibi. Lagian Puja udah pulih kok" ucapku meyakinkannya.
"Ya udah kalau Puja maksa. Kang Sofyan bisa apa..." ucapnya seraya tersenyum hangat.
__ADS_1
"Gitu dong, jangan jadi anak durhaka" ucapku.
🍁🍁🍁🍁
Akhirnya keesokan harinya kang Sofyan pulang ke ** ***** untuk menengok emak. Baru sebentar kang Sofyan pergi, aku sudah merindukannya. Entahlah, seertinya efek lama enggak dibelai.
Seminggu sudah kang Sofyan pulang kerumahnya, kang Sofyan mengabari jika emak tidak dalam keadaan baik-baik saja, emak sedang sakit dan harus dirawat dirumah sakit. Aku sangat khawatir dan banyak berdo'a untuk kesembuhan emak. Akhirnya setelah dua bulan, kondisi emak mulai membaik dan kang Sofyan kembali ke Jakarta untuk menengokku dan anaknya. Anakku sekarang sudah berusia tiga bulan, sudah bisa tengkurap dan mulai aktif.
Malam itu saat Bagja sudah tertidur di box bayi, kang Sofyan mengajakku untuk duduk dikasur. Katanya ada yang ingin dibicarakan.
"Ehemm...!" ucapnya.
"Iya ih, sabar" ucapku, setelah selesai menyelimuti Bagja, aku langsung duduk disisinya ditepi ranjang.
"Kenapa?" tanyaku.
"Soal Risma" ucap kang Sofyan. Aku langsung cemberut saat mendengar nama Risma.
"Kenapa? masih minta dikawinin?!" tanyaku ketus.
"Lah kan dia udah gede ngapain dijagain segala, dan urusan jodoh itu urusan Allah" jawabku sinis.
"Sayang..." kang Sofyan mencoba menyentuh lenganku.
"Setidaknya ini yang bisa kang Sofyan lakukan untuk bapak, agar bapak tenang disana" ucapnya.
"Ya udah tinggal diurusin aja, dijagain dua puluh empat jam. Kalau perlu enggak usah balik kesini!" entah kenapa aku jadi marah-marah dan sensi begini. Aku takut jika seperti itu Risma akan keseringan meminta bantuan atau pertolongan pada kang Sofyan. Dan mereka akan semakin sering bertemu. Aku tidak rela.
"Kok gitu ngomongnya" ucapnya.
"Terus gimana? masih kurang selama tujuh bulan kita berpisah? apa masih kurang penderitaan Puja selama ini?" tanyaku dengan mata berkaca.
__ADS_1
"Kang Sofyan kan hanya bantu cariin jodoh buat Risma, bukan mau nikahin Risma" jelasnya.
"Sama aja, itu artinya kang Sofyan bakalan sering ketemu sama dia dan dia bakalan keseringan minta bantuan sama kang Sofyan. Lama-lama dia ketergantungan dan enggak bisa hidup tanpa kang Sofyan!!" ucapku sedikit keras. Entah kenapa aku menjadi emosi begini. Mungkin karena sudah terlalu lelah dengan ujian yang terus berdatangan.
"Hei... kenapa jadi ngamuk? ish! tambah sexy kalau lagi cemburu gini" ucapnya sambil menoel daguku.
"Apasih! enggak usah pegang-pegang!" aku menepis kasar tangannya. Dengan sekali gerakan kang Sofyan membawaku kepangkuannya.
"Enggak kangen sama akang?" bisiknya.
"Enggak!" ucapku galak.
"Yakin...?" ucapnya sambil mengunci tatapan kami. Tangannya menelusup masuk kedalam pakaianku.
"Akang mau apa?" tanyaku.
"Kira-kira mau apa?" kang Sofyan malah balik bertanya.
"Eungh.. gak.. hh.. ta-u" ucapku sambil melenguh saat tangan nakal kang Sofyan berputar-putar dengan gerakan naik turun digoa keramatku.
"Baru pemanasan udah basah" bisiknya dengan suara serak. Aku menatapnya dengan mata berkabut karena sudah terbakar gairah.
"Kang... eungh..." aku melenguh saat kang Sofyan mulai menggesek-gesekkan pentungan hansipnya diarea sensitifku.
"Akang mau ngapain sih?" pertanyaan bodoh itu lolos begitu saja dari mulutku.
"Mau ngajak Puja ke nirwana sayang, biar Puja melendung lagi" ucapnya dengan nafas memburu.
JLEB!
Aku menggigit bibirku saat benda tumpul itu kembali memasuki intiku, rasa nikmat dan juga gurih bercampur menjadi satu. Melebur menjadi bunga-bunga yang bermekaran dihati dan membuatku melayang-layang diangkasa. Benar! kang Sofyan benar-benar mengajakku ke nirwana saat tusukan demi tusukan yang semakin gencar disuntikkan oleh kang Sofyan. Sampai akhirnya kami sama-sama sampai pada puncak kenikmatan dunia setelah menyusuri lembah, melewati sungai dan mendaki gunung bersama. Kang Sofyan kembali menyemburkan benih-benihnya, dan setelahnya aku merasakan rahimku terasa hangat dan berdenyut.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Maafkeun author yang hari ini enggak bisa up banyak, ya kadang sulit juga konsisten tiap hari up. Biar bagaimanapun author kadang-kadang suka males mikir, yakin deh kalau moodnya lagi bagus, bisa tiga bab sehari ❤