
"Mud, jadi gimana? bener kamu sama anaknya ceu Imas serius?" tanya emaknya Mahmud.
"Enggak mak, Mahmud enggak ada hubungan apa-apa, ketemu juga baru tadi pagi." jawab Mahmud.
"Tapi emak cocok kok Mud, coba aja dulu jalanin." ucap emaknya Mahmud.
"Mahmud udah punya calon sendiri mak." jawab Mahmud.
"Loh kok emak enggak tahu? siapa?" tanya emaknya penasaran.
"Tadi udah Mahmud ajak kesini, tapi emaknya enggak ada. Namanya Iis mak. Rumahnya di kampung *********, dia temennya teh Puja istrinya kang Sofyan." jelas Mahmud.
"Temen Puja? apa dulunya dia..."
"Iya mak, tapi udah berhenti." jawab Mahmud yang tahu kemana arah pembicaraan ibunya.
"Ya ampun Mud, masa sama perempuan enggak bener lagi. Mending sama anak ceu Imas atuh Mud, udah pasti masih perawan, aurat nya juga ditutup enggak diumbar-umbar." ucap emaknya Mahmud sedikit kecewa.
"Mak, kok ngomong nya gitu sih, Iis juga anak baik-baik mak, buktinya sampai sekarang dia masih menjaga kesuciannya. Dia kerja seperti itu karena harus menghidupi adik dan ibunya, bapaknya kan sudah meninggal." jelas Mahmud selembut mungkin.
"Tuh, apalagi kayak gitu. Kamu malah bakalan dapat beban baru, hidup kamu aja masih susah. emak minta kamu fikirkan lagi matang-matang Mud. Sedangkan anaknya ceu Imas kamu tahu sendiri walaupun hanya jualan, tapi suaminya punya tambak juga, masa depan kamu lebih terjamin." ucap emaknya Mahmud.
"Emak kok jadi gini sih mak, mandang orang dari harta, padahal harta itu bisa dicari mak, asal mau usaha. Tapi kenyamanan dan rasa cinta enggak bisa dipaksain mak. Emang emak tega Mahmud hidup dengan orang yang enggak Mahmud cintai? Mahmud memilih hidup miskin mak dari pada kaya tapi batin Mahmud enggak bahagia." ucap Mahmud.
"Tapi..."
"Emak, tolong percaya sama Mahmud, Iis wanita baik-baik mak, soal jilbab dan menutup aurat, pelan-pelan akan Mahmud bimbing. Emak tenang aja, lihat kang Sofyan mak, istrinya juga mantan biduan, tapi rumah tangganya adem ayem malah kelihatan bahagia. Rezekinya kang Sofyan juga lancar, dan lihat juga keluarga ustadz Faiz, Sama-sama dari kalangan orang yang mengerti agama, tapi keluarga nya berantakan. Kita enggak bisa mandang orang dari penampilannya mak. Mahmud juga perlu istri yang bisa mengimbangi mak, bukan hanya sekedar pendamping." ucap Mahmud.
"Hmm.. iya kamu benar Mud, maafin emak ya.. emak dukung kamu, besok kenalin dia ke emak. Emak mau lihat secantik apa calon mantu emak, kenapa anak emak ini sampai kelepek-klepek." ucap emaknya Mahmud yang akhirnya mau mengerti.
"Beneran mak?" tanya Mahmud dengan mata berbinar.
"Iya. Yang penting bagi emak adalah kebahagiaan kamu." ucap emaknya Mahmud.
"Makasih banyak pokoknya mak, makasih." ucap Mahmud sembari menciumi tangan emaknya.
//
Keesokan harinya, setelah Mahmud mengenalkan Iis kepada ibunya kini mereka menuju rumah Sofyan untuk membicarakan soal rencana membuka usaha salon.
"Assalamu'alaikum?" sapa Iis.
Klek
__ADS_1
"Loh kok sama Mahmud is?" tanya Puja saat pintu sudah terbuka.
"Iya tadi Iis habis dari rumah kang Mahmud Puja." jawab Iis. Puja melongo sekaligus penasaran.
"Ngapain kerumah Mahmud?" tanya Puja saat mereka semua sudah sama-sama duduk dikursi tamu.
"Udah lama?" tanya Sofyan yang tiba-tiba datang.
"Barusan kang." jawab Iis.
"Oh, ya jadi gimana?" tanya Sofyan.
"Eh, tunggu dulu. Jawab dulu pertanyaan Puja, kamu ngapain kerumahnya Mahmud?" timpal Puja yang masih penasaran.
"Kenalan sama calon mertua atuh teh, kan Iis calon istri saya." jawab Mahmud.
"Jadi??!!" ucap Puja dan Sofyan berbarengan. Mereka terkejut dengan kabar mendadak ini.
"Iya kang, biasa aja atuh, jangan kaget gitu. Saya juga bisa dapet biduan hehe..." ucap Mahmud menyombongkan diri.
"Iih akang, malu ih!" ucap Iis sembari mencubit pinggang Mahmud.
"Jadi cerita nya kamu enggak mau kalah dari saya gitu?" sindir Sofyan.
"Iya lah, saya juga bisa dapetin biduan yang jago goyang." ucap Mahmud semangat.
"Ini kenapa jadi ngomongin goyangan sih? dasar omes semua! udah aki-aki juga, yang di fikirin cuma goyangan aja." ucap Puja menengahi.
"Bener tu Puja!" timpal Iis.
"Ya habis dia mau nyaingin kang Sofyan sayang" rengek Sofyan.
"Puja enggak akan tersaingi kang, goyangan Puja paling tak terkalahkan." ucap Puja.
"Enak aja, goyangan Iis juga tak tertandingi Puja, apa kamu lupa Iis selalu paling banyak dapet sawerannya." ucap Iis tak terima.
"Tapi aku yang paling jago ngebor" ucap Puja.
"Iya kamu jago ngebor tapi goyangan gergaji Iis enggak ada yang bisa menandingi termasuk kamu Puja." ucap Iis tak mau kalah.
"Sudah sudah! ini kenapa jadi kalian yang ribut sih?" ucap Mahmud melerai.
"Iya bener kenapa jadi kalian yang bertengkar?" tanya Sofyan.
__ADS_1
"Gara-gara kalian!!" ucap Iis dan Puja barengan.
"Sudah sekarang kembali ke pembicaraan awal aja." ucap Sofyan yang akhirnya serius.
"Jadi ini sistemnya bagaimana? harus jelas, bagi hasil atau apa? soalnya saya enggak mau ujung-ujungnya ribut gara-gara duit." tanya Sofyan.
"Kalau Iis terserah Puja aja, kan yang modalin Puja, Iis yang jalanin." ucap Iis.
"Gimana sayang? kamu mau ikut menjalankan apa mau Terima bersih aja?" tanya Sofyan.
"Ya kalau buat awal-awal harus ikut turun tangan juga atuh kang, masa Iis sendirian, kasihan." ucap Puja.
"Iya akang tahu, berarti kedepannya kamu mau Terima bersih aja gitu ya?" tanya Sofyan.
"Iya kang. Biar Iis yang jalanin. Akang tahu sendiri Puja repot ngurus bayi." jawab Puja.
"Bayi? bukannya Bagja udah dijagain sama bi Yayah?" tanya Sofyan.
"Bayi besar, bukan Bagja. Kalau Bagja mah malah enggak ngerepotin sama sekali." ucap Puja sambil terkekeh. Seketika wajah Sofyan merah semerah tomat. Dasar Puja! tapi karena sedang membicarakan hal penting Sofyan tak meladeni candaan istrinya itu dan kembali fokus dengan pembicaraannya.
"Serius atuh sayang" ucap Sofyan lembut.
"Iya.. kembali ke topik." ucap Puja.
"Jadi kalau seperti itu maunya Puja berarti sistem bagi hasil aja. Jatuhnya 70 dan 30, 70 buat Iis, 30 buat Puja." ucap Sofyan.
"Ya kegedean atuh kang. Kan semua modal dari Puja. 50:50 aja kang" ucap Iis.
"Kalau setahu akang mah yang 70:30 is, karena yang ngejalanin kamu. Puja tinggal Terima bersih. Dan semua alat-alat kan tetap milik Puja, jadi enggak rugi kalau segitu." ucap Sofyan serius.
"Iis tetap enggak mau kang, kegedean. 50:50 aja, nanti kalau kira-kira uang modal udah balik, baru 70:30 enggak apa-apa." jawab Iis.
"Ya terserah kalian aja, kang Sofyan kan cuma kasih saran." ucap Sofyan.
"Kalau kamu gimana Puja?" tanya Iis.
"Gimana kamu aja Is, senyaman nya." ucap Puja sembari tesenyum.
"Ya udah jadi sepakat ya, 50:50?" tanya Sofyan.
"Iya kang." jawab Iis dan Puja berbarengan.
"Inget, jangan sampai ribut soal duit. Jangan sampai persahabatan kalian rusak hanya karena selembar kertas. Kalian harus saling mengerti dan memahami. Namanya usaha ada kalanya sukses ada kalanya sepi, harus sabar dan telaten jangan gampang nyerah." pesan Sofyan.
__ADS_1
"Siap juragan!!" ucap Iis dan Puja berbarengan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻