Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Kenang-kenangan


__ADS_3

Puja mengetuk pintu kamar Bagja namun tidak ada sahutan karena Bagja masih fokus berbicara dengan Alya. Namun karena pintunya tidak dikunci Puja masuk begitu saja dan dia tak sengaja mendengar percakapan Alya dan Bagja di telfon.


"Iya, besok sore ya. Ya udah sampai ketemu besok Al." ucap Bagja setelah itu dia mematikan ponselnya. Puja tersenyum lega ternyata dugaan nya salah karena ternyata Bagja baru saja telfonan dengan Alya.


"Habis telfonan sama Alya ya?" tanya Puja sambi duduk di sisi ranjang.


"Loh mamah kapan masuknya?" tanya Bagja.


"Baru aja. Jadi sudah sejauh mana hubungan kalian." tanya Puja.


"Ya gitu aja. Kenapa mamah tanya soal itu?" tanya Bagja.


"Ya karena kalian kan akan segera menikah." ucap Puja.


"Kenapa harus Alya mah?" tanya Bagja.


"Karena dia cocok untuk kamu sayang." jawab Puja.


"Mamah bahagia kalau Bagja menikahi Alya?" tanya Bagja.


"Ya bahagia banget atuh kasep." ucap Puja.


"Kenapa Bagja enggak disuruh nikahin Dila aja mah?" tanya Bagja.


"Kamu akan sulit mengimbangi dia dan begitupun sebaliknya, Dila cocoknya untuk Vino. Kamu tahu sendiri kan kalau Vino suka sama Dila." ucap Puja.


"Bagaimana kalau Bagja juga suka sama Dila mah?" tanya Bagja sambil menatap dalam mata Puja.


"Ka-kamu..."


"Bagja hanya bercanda kok mah, kan hanya misalnya. Ya udah mamah istirahat." ucap Bagja sambil tersenyum tipis. Dia tak tega mengatakan yang sebenarnya karena Puja begitu bahagia saat mendengar dia setuju untuk menikahi Alya dan begitupun Vino yang sangat menyukai Dila. Tidak mungkin dia menikung Vino adik kandung nya sendiri. Bagja memilih menyimpan perasaanya sendiri untuk menghindari pertengkaran antar saudara.


//

__ADS_1


Keesokan harinya Bagja tak jadi menemui Alya karena merasa itu tidak penting. Dia memilih mengubur perasaannya dalam-dalam. Apalagi kedua keluarga sudah saling sepakat dan besok pertunangannya dengan Alya akan dilangsungkan. Dia begitu menyanyangi Puja melebihi siapapun sehingga dia tak kuasa menolak keinginan Puja.


Sore itu Bagja baru saja keluar dari kantor setelah seharian penuh berkutat dengan pekerjaannya. Namun tanpa diduga, Dila sudah menunggunya diparkiran dekat mobil.


"Dila? ada apa kesini?" tanya Bagja. Bagja melihat mata Dila yang sembab seperti habis menangis.


"Kenapa?" tanya Bagja. Dila tak kunjung menjawab dan malah menatapnya dalam. Bagja membawa Dila untuk masuk kedalam mobilnya.


"Ada apa?" tanya Bagja ketika mereka sudah sama-sama didalam mobil.


"Apa aa Bagja cinta sama Alya? kenapa Aa Bagja menerima perjodohan ini?" tanya Dila. Dia ingin memastikan sekali lagi sebelum benar-benar berhenti berjuang dan berharap.


"Belum, tapi mungkin bisa jadi akan." jawab Bagja.


"Kenapa tidak menolak dijodohkan?" tanya Dila.


"Karena mamah mau menantu seperti Alya." ucap Bagja yang tak berani menatap Dila.


Deg


Bagja terkejut dan langsung membulatkan matanya begitu mendengar pengakuan Dila.


"Dila... kamu tahu kalau kita enggak mungkin..."


Cup


Dila merampas bibir Bagja, tak ingin mendengar penolakan dari pria itu dia memperdalam ciumannya dan menyesap bibir Bagja dengan begitu menggebu, Dila tak jago berciuman tapi entah kenapa kali ini dia begitu menginginkannya. Dan ketika sudah puas menikmati bibir Bagja, Dila hendak menarik diri, namun Bagja keburu menahan tubuh Dila. Bagja yang juga tak berpengalaman mengikuti naluri kelelakianya dan mencumbu Dila dengan begitu mesra. Semua itu terjadi begitu lama, mereka seakan lupa dan merasa jika dunia milik mereka berdua. Dan pada akhirnya pertautan itu terlepas saat mereka hampir kehabisan nafas.


"Makasih a, Dila akan jadikan ini sebagai kenang-kenangan yang enggak akan pernah terlupakan." ucap Dila sambil mengelap kasar air mata di pipinya. Bagja hanya diam saja, tak menjawab dan merespon apapun. Karena dia sendiri pun bingung harus bagaimana.


Pertunangan itupun Akhirnya diselenggarakan dengan lancar tanpa halangan. Dila memilih Tak menghadiri pertunangan itu dengan alasan sedang tak enak badan. Dia menangis sepanjang malam karena patah hati, namun dia bertekad untuk melupakan Bagja dan belajar move on.


//

__ADS_1


Lima bulan kemudian Dila dan Bagja benar-benar putus kontak, mereka juga tak pernah bertemu karena Dila sudah mulai kuliah dan fokus untuk belajar sambil belajar melupakan perasaanya. Ketika libur pun dia memilih di kos-kosan dan tidak pulang kerumah demi menghindari Bagja.


Dan akhirnya ujian semester pertama telah usai, masa libur sudah tiba, Alya yang akan melangsungkan pernikahan dengan Bagja sudah lebih dulu pulang ke ** *****. Sedangkan Dila memilih tinggal di kos-kosannya.


Tiga hari lagi Bagja dan Alya akan melangsungkan pernikahannya. Semua sudah dipersiapkan dengan matang. Dila yang merasa frustasi karena perasaanya tak juga hilang justru semakin dalam terpaksa melampiaskan semuanya ke sebuah diskotiik dikota kembang tersebut.


Dan disaat bersamaan Bagja diajak teman-temannya untuk berpesta menghabiskan waktu untuk menikmati masa-masa lajangnya. Bagja tidak tahu Doni dan Dimas ternyata mengajak Bagja ke sebuah diskotiik yang didalamnya ada Dila.


"Kok kesini sih? katanya mau ke cafe tadi." tanya Bagja.


"Sebentar aja bro, kita dugem sebentar lah." ajak Dimas.


"Bener bro, kapan lagi, sebentar lagi kan mau nikah." ucap Doni. Bagja awalnya menolak tapi naluri nya mengatakan dia harus masuk kedalam diskotiik tersebut.


Bagja hanya duduk dikursi tak menggubris teman-temannya yang mengajaknya minum, dia merasa bosan dan tak tahan berada ditempat itu lama-lama. Namun netranya tak sengaja menangkap sosok Dila yang tengah mabuk dan di samping nya ada pria asing yang memasukan sesuatu ke minuman Dila. Dila menegaknya hingga habis.


'Itu kan Dila?' batin Bagja. Bagja mencoba menghampiri Dila namun pria asing itu keburu membawa Dila keluar dari diskotiik tersebut. Perasaan Bagja tidak enak karena Dila berjalan sempoyongan seperti orang mabuuk. Bagja terus mengikutinya hingga ke parkiran dan disana Dila meronta-ronta meminta dilepaskan. Namun pria itu secara kasar menyeret tubuhnya.


Bugh!


"Lepasin brengsek!!" ucap Bagja setelah memberi satu bogem mentah untuk pria asing tersebut. Dila terlepas dari cengkraman pria itu.


"Siapa lo ikut campur urusan gue!" ucap pria itu.


"Gue kakaknya lo jangan macem-macem!" ucap Bagja.


"Sialan!" pria asing itu murka dan tanpa basa-basi langsung menyerang Bagja, pertengkaran tak dapat terelakkan dan akhirnya pria itu tumbang babak belur setelah dihajar Bagja. Bagja menghampiri Dila yang tengah duduk memeluk lututnya.


"Dila? kamu enggak apa-apa?" tanya Bagja karena Dila hanya diam saja. Tubuhnya juga terasa panas. Dila mendongak.


"Kenapa dimana-mana ada kamu sih?! Hus! sana pergi! aku enggak mau lihat wajah kamu!" ucap Dila yang kini didalam pengaruh minuman keras.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2