
Selepas kepulangan Puja dan Sofyan, Risma kini tengah menatap bengong pada tiga pasang baju tipis mirip saringan tahu didepannya.
"Ini apasih? ya ampun Puja.." ucap Risma tak menyangka jika Puja akan menghadiahinya baju-baju haram yang menurutnya sangat tak senonoh jika dipakai.
Klek!
Risma buru-buru memasukan kembali baju-baju 'haram' tersebut kedalam paper bag saat mendengar seseorang membuka pintu kamarnya. Dan munculah sesosok pria berkulit sawo matang dari balik pintu, dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mahmud suaminya. Mahmud tersenyum menatap Risma yang tengah duduk dipinggiran ranjang lalu ikut duduk disisi ranjang tersebut.
"Alhamdulillah ya Ris sekarang kita sudah menikah dan kamu aman tinggal dirumah ini." ucap Mahmud membuka percakapan.
"Emh, iya kang.. maaf kang, tapi apa kang Mahmud bakalan tidur satu kamar dengan Risma?" tanya Risma.
"Enggak kok, tenang aja. Kang Mahmud tidurnya ditambak." jawab Mahmud.
"Loh kok ditambak kang?" tanya Risma dengan wajah kecewa.
"Biasa juga akang tidur ditambak. Selain itu biar kamu nyaman juga tinggal dirumah ini." jawab Mahmud.
__ADS_1
"Kang Mahmud enggak mau tidur sekamar dengan Risma ya? kang Mahmud jijik ya nyentuh Risma karena Risma udah kotor." ucap Risma seraya menunduk.
Mahmud terperangah mendengar ucapan Risma. Bukan, bukan dia tak mau seranjang dan tidur dengan Risma, tapi justru karena Mahmud yang merasa takut jika Risma menolaknya untuk tidur seranjang dengannya.
"Me-memangnya Risma mau tidur sama kang Mahmud?" tanya Mahmud.
"Eh, sebenarnya..." kini Risma malah merasa terjebak dengan ucapannya sediri. Melihat keraguan dimata Risma, Mahmud jadi merasa apa yang difikirkannya itu memang benar.
"Tuh kan, bukan kang Mahmud yang enggak mau tidur sama kamu, tapi kamu yang belum siap tidur sama kang Mahmud. Risma, kang Mahmud kan dari awal niatnya nolongin kamu, dan sudah sewajarnya kang Mahmud memberi kenyamanan sama kamu agar betah tinggal dirumah ini. Akang hanya takut kalau Risma enggak nyaman tidur seranjang dengan akang." jelas Mahmud.
"Santai aja, anggap ini seperti rumah sendiri ya, buat diri kamu nyaman." lanjutnya. Setelah itu dia membereskan beberapa bajunya dan memasukkan kedalam tas gendong berwarna hitam miliknya yang akan dibawa ke tambak karena dia akan menginap disana.
"Risma. Kenapa kamu nangis?" tanya Mahmud sembari mendekati Risma.
"Enggak usah pegang-pegang! harusnya, kalau jijik sama Risma bilang aja kang, dari awal mending biarin Risma mati aja, dari pada nolongin tapi ujung-ujungnya nyakitin! memang semua laki-laki sama!" ucap Risma sambil terisak sesegukan.
"Astagfirullah Risma, kok ngomongnya gitu. Kang Mahmud enggak ada maksud kesitu sama sekali Ris, akang hanya..."
__ADS_1
"Pergi!! pergi sana!! enggak usah sok baik sama Risma!" ucap Risma.
"Ris..." Mahmud mencoba menyentuh tubuh Risma namun segera ditepis kasar oleh Risma yang kadung salah faham dan sakit hati. Mahmud bingung harus bagaimana, yang jelas dia belum berpengalaman soal menakhlukan wanita. Kalau soal ikan sih dia masternya! dan sop ayam profesor nya!
Dengan mengumpulkan keberanian dan menuruti instingnya Mahmud mendekatkan diri kepada Risma dan memaksa memeluk wanita yang tengah merajuk tersebut lalu menghadapkan wajah Risma agar melihat kearahnya.
Cup!
'Bodo amat! bini gue!' batin Mahmud membenarkan perbuatannya. Dia terus menikmati bibir ranum sedikit tebal milik Risma yang menurutnya lebih enak dari pada empal gentong bikinan emak. Yang lebih lembut dari dari daging ikan gurame bakar. Gurih-gurih enyoy pokoknya!
Mahmud mencoba bodo amat jika setelah ini mungkin Risma akan memarahinya, mengomelinya, mengamuk dan mengumpatinya. Mereka terus bertaut dan saling menyesap, memang Mahmud belum pengalaman urusan beginian, tapi saat sudah meneguk kenikmatan dari bibir Risma, lidahnya secara spontan membelit dan dalam waktu sekejap ciuman itu berubah liar.
'Ah, ternyata begini rasanya, kenapa enggak dari dulu.' batin Mahmud. Tangannya tak tinggal diam, entah kenapa walau dalam keadaan gemetar dia berani membuka kancing baju Risma hingga tiga buah kancing terlepas menampilkan sesuatu yang menantang adrenalinenya walaupun masih terbalut kacamata berwarna merah terang menantang. Tangannya merasa gemas ingin sekali meremas squishy empuk itu. Bagaimana rasanya ya? ah ternyata Sop ayam salah besar dengan berkata jika tak ada pria yang benar-benar polos. Pria itu ada, Mahmud buktinya! tangannya bahkan sampai berkeringat dingin saat Risma tiba-tiba saja membusungkan dadanya agar Mahmud menyentuhnya.
"Maaf Ris, kang Mahmud enggak bisa." ucap Mahmud setelah melepas pertautan mereka.
"Ke-kenapa kang?" ucap Risma dengan mata berkaca-kaca. Mahmud merasa grogi dan sangat nervous sekarang, tapi melihat Risma dengan wajah sedih dia jadi tak tega. Mahmud bingung antara melanjutkan atau berhenti saja sekarang.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Sop ajarin tuh anak buah elu..! jangan lupa vote nya ya.. ❤