Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Putus


__ADS_3

Malam hari


Sesuai janjinya Bagja membawa Dila ke bukit Bintang, menikmati pemandangan cahaya kota yang berkelip-kelip seperti bintang dari ketinggian yang memakan waktu berjam-jam untuk mencapai keatas sana.


Mereka tak turun dari mobil, karena udara yang begitu dingin Bagja tak mau Dila sampai sakit dan masuk angin.


"Bagus banget A, ini pertama kalinya Dila main ketempat indah seperti ini." ucap Dila sambil menatap pemandangan yang sangat memanjakan matanya itu.


"Kamu suka?" tanya Bagja.


"Tentu saja suka A, ini indah banget." jawab Dila.


"Sini, duduknya deketan." ucap Bagja sambil menarik Dila dan mendudukkan Dila di pangkuannya setelah mengatur posisi kursi mobilnya.


Bagja melingkarkan tangannya dipinggang Dila.


"Aa bakalan kangen saat kamu udah mulai masuk kuliah." ucap Bagja.


"Dila juga, tapi mau gimana lagi, Dila kan juga ingin jadi sarjana seperti a Bagja." jawab Dila.


"Jaga hati ya sayang, A Bagja yakin pasti banyak laki-laki yang naksir sama kamu." ucap Bagja dengan wajah sendu.


"Memangnya kenapa? kan hati Dila hanya untuk A Bagja." ucap Dila sambil menciumi tangan Bagja.


"A Bagja rasanya enggak ikhlas membagi kecantikan kamu untuk dinikmati oleh mata laki-laki lain. Kamu terlalu cantik Dil, sangat cantik." ucap Bagja sambil mengelus pipi Dila.


"Terus aa maunya bagaimana? Dila harus pakai cadar begitu?" tanya Dila yang kesal karena Bagja cemburu tak beralasan.


"Ya enggak juga sih, maunya kamu dirumah aja." ucap Bagja.


"A Bagja kenapa jadi posesif gini sih, perasaan kemarin-kemarin cuek sama Dila." tanya Dila.


"Entahlah, A Bagja juga enggak tahu. Rasanya berat aja gitu membayangkan ditinggal kuliah sama kamu, tidur sendiri enggak ada yang nemenin." ucap Bagja.


"Ya berkorban dulu lah A, banyak loh diluaran sana yang LDR sampai bertahun-tahun malah. Sedangkan A Bagja bisa ketemu Dila kapan aja, kalau Aa enggak capek tapi. Atau paling enggak pas weekend kan aa bisa nyamperin Dila ke Bandung." ucap Dila.


"Iya, maaf ya. Maaf karena A Bagja terlalu lebay." ucap Bagja sambil tersenyum kecut.


"Ish! kok cemberut lagi sih, kenapa jadi ngambekan gini?" tanya Dila sambil membelaii wajah Bagja dengan lembut. Dia membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadap-hadapan.


"Percayalah A, semenjak kita menikah, jiwa ini, tubuh ini, bahkan semuanya dalam hidup Dila sudah Dila persembahkan untuk A Bagja, semuanya milik aa. Jangan meragukan kesetiaan Dila, Dila bisa menjaga diri dan juga jaga hati Dila." ucap Dila sambil menatap Bagja lekat-lekat.

__ADS_1


"Iya sayang, aa percaya kok." ucap Bagja sambil mengelus pipi Dila dengan lembut. Entah siapa yang memulai bibir mereka sudah saling menyatu. Saling menyesap dan menyalurkan rasa cinta mereka dengan gelora asmara yang menggebu. Hingga pada akhirnya tragedi mobil bergoyaang season dia terjadi. Kali ini bukan dihalaman rumah orang, tidak mereka tak se ekstrim suhunya, mereka melakukannya di atas bukit dengan pemandangan indah.


//


Ditempat lainnya Vino dan teman-temannya sedang menikmati momen barbequean bersama. Di depan Villa dengan semilur angin yang hilir mudik menerpa kulit mereka hingga menghasilkan sensasi dingin yang luar biasa. Alya juga ikut, entah kenapa dia begitu bebal dan keras kepala, sudah tahu punya alergi dingin, tapi tetap memaksa ingin ikut bergabung diluar. Namun sepertinya malam ini Alya tak begitu kedinginan, karena jaket tebal milik Vino sudah bertengger ditubuhnya. tak lupa kaus kaki dan juga masker serta ciput kepala menghiasi Alya. Sarung tangan pun tak luput dipakainya. Alya duduk dikursi sendirian, tak ikut bakar-bakaran karena terkendala pakaian, tak seluwes yang lainnya. Setelah semuanya matang, Vino membawa sepiring daging dan juga aneka bakaran seafood lainnya mendekat kearah Alya.


"Ini makan," ucap Vino sambil menyerahkan piring itu.


"Sudah, kaos tangan aku tebel kayak gini. Jaket juga nih tebel banget, kamu sih makin double-double sampai aku susah gerak." ucap Alya menggerutu.


"Siapa suruh ngeyel. Ntar kalau alergi lagi aku juga susah." ucap Vino ketus.


"Ya gampang kalau alergi kita tinggal..." Alya menunduk malu.


"Tinggal apa?" tanya Vino sambil menautkan alisnya. Namun kemudian dia menggigit bibir bawahnya saat menyadari kemana arah ucapan Alya.


"Ehem! udah sini aku suapin." ucap Vino yang kini duduk disebelah Alya.


"Eh, aku bisa sendiri kok Vin." ucap Alya.


"Udah enggak usah batu deh! nurut gitu apa salahnya sih." ucap Vino yang tak mau dibantah. Dia melepas masker Alya lalu mulai menyuapkan daging bakar itu kedalam mulut Alya. Dengan cepat Alya menerima suapan demi suapan yang dimasukkan tangan Vino ke dalam mulutnya.


"Enak?" tanya Vino.


"Aku mau cuminya dong Vin." ucap Alya@@


"Ini?" tanya Vino.


"Iya yang itu." ucap Alya antusias. Vino mengambil cumi-cumi itu dan menyuapkannya ke mulut Alya.


"Enak Vin, bumbunya beli jadi apa bikin sendiri" tanya Alya sambil mengunyah makanannya.


"Pelan-pelan dong makannya, kayak bocah aja!" ucap Vino sambil mengelap bibir Alya yang celemongan terkena saos dengan menggunakan jarinya. Alya terpana dan tersentuh dengan perhatian kecil yang diberikan Vino. Kenapa Vino manis sekali? duh! rasanya dia akan meleleh sekarang juga.


"Kenapa liat-liat?!" tanya Vino ketus. Sejujurnya dia pun sedang merasakan jantungnya berdegup kencang.


"Emang enggak boleh?" tanya Alya.


"Enggak!" jawab Vino.


"Ya udah aku makannya sambil nunduk kalau gitu." jawab Alya yang langsung menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Begitu lebih baik." jawab Vino. Alya tak menjawab hanya ngedumel saja dalam hati.


"Enggak usah ngebatin! aku tahu pasti dalam hati kamu lagi jelek-jelekin aku kan?" tanya Vino.


"Enggak! jangan sok-sokan jadi peramal dadakan deh yang bisa membaca fikiran orang. Apa yang ada di dalam diri aku ya hanya aku yang tahu." ucap Alya.


"Aku juga tahu. Bahkan aku sudah melihat semuanya." ucap Vino tanpa disaring terlebih dahulu.


"Vino!" ucap Alya sedikit membentak.


"Apa sih, enggak usah baper, biasa aja kali." ucap Vino santai tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dan kemesraan mereka yang seperti tom and Jerry versi romantis itu tak luput dari penglihatan Susan yang sejak tadi mengepalkan tangannya menahan amarah yang hendak meledak saat itu juga.


"Vino!" Susan menatap Vino dengan tatapan marah.


"Apa?" tanya Vino.


"Apa ini? kenapa kamu malah mersa-mesraan sama dia?" tanya Susan.


"Siapa juga yang mersa-mesraan. Aku cuma bantuin Alya makan." ucap Vino santai.


"Sama aja. Kamu tega ya Vin menghianati aku. Kamu selingkuh sama dia!" tunjuk Susan ke wajah Alya.


"Ck! kamu lucu ya, mana ada suami selingkuh sama istrinya sendiri." ucap Vino sambil terkekeh.


"Tapi Vin, kita kan pacaran sebelum kamu nikah sama dia." protes Susan.


"Udahlah, aku capek ya bertengkar terus setiap hari. Mendingan kita putus aja." ucap Vino kesal.


"Enggak! aku enggak mau putus sama kamu!" Susan menangis histeris.


"Terserah, yang pasti bagi aku mulai detik ini kita udah enggak ada hubungan apa-apa lagi!" ucap Vino.


"Aku Terima diginiin! dan kamu! ini semua gara-gara kamu wanita sialan!" ucap Susan murka.


"Kok jadi aku?" tanya Alya bingung.


"Awas kamu ya! sekarang kamu boleh menang, tapi lihat pembalasan aku!" ucap Susan dengan menggebu.


"Kamu ngancem aku?" tanya Alya tak terima.


"Iya, Berhati-hatilah, karena aku enggak akan biarin kalian bahagia diatas penderitaan aku!" ucap Susan dengan seringai liciknya.

__ADS_1


"Ayo masuk! jangan ngeladenin orang gila kayak dia!" Vino menarik tangan Alya untuk pergi dari sana dan masuk ke villanya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2