Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Menantang


__ADS_3

Ehem!


Suara seseorang mengagetkan kami. Kang Sofyan reflex melepas tangannya dari pipiku lalu kami sama-sama canggung, salah tingkah, seperti maling yang kepergok.


"Hmm, mentang-mentang penganten baru, mesra-mesraan terus!" ucapnya menyindir, lalu meletakkan sebuah karung berisi pakan ikan di dekat pintu saung.


"Apaan sih!" ucap kang Sofyan, wajahnya terlihat gugup.


"Ya udah aku duluan ya, cuma mau nganter pakan ikan aja, Lanjutin lagi yang tadi, maaf ya ngeganggu" ucapnya sambil nyengir. Kang Sofyan menoyor jengkel lengan temannya itu. Setelah itu lelaki itu kembali pergi dengan geteknya.


Setelah itu kang Sofyan kembali duduk disebelahku.


"Makan lagi ubinya" ucapnya.


"Udah kenyang kang" jawabku sambil menunduk.


"Panas ya?" tanyanya.


"Enggak kok, malah enak, adem. Semilir anginnya, Puja suka" jawabku sambil memainkan anakan eceng gondok dibawah saung.


"Emang enggak bosen?" tanya kang Sofyan.


"Enggak" jawabku singkat.


"Em... nanti malam mau enggak ikut kang Sofyan ke pasar malam?" tanyanya.


"Emang kang Sofyan mau beli apa?" tanyaku sambil menatap ke arahnya.


"Jalan-jalan aja" ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Emang kang Sofyan enggak capek?" tanyaku.


"Enggak, sekalian aja cari keperluan Puja, mau beli apa nanti akang bayarin" ucapnya.


"Enggak usah kang, Puja enggak mau ngerepotin" jawabku sambil menunduk.


"Enggak, sekalian aja kang Sofyan juga mau beli sesuatu. Dan juga biar emak seneng kalau lihat kita akur" ucapnya.


"Oh, jadi kang Sofyan baik sama Puja karena mau nyenengin emak?" tanyaku sambil menatap matanya.


"Emh, enggak usah dijawab. Ini masih lama enggak kang kerjanya?" tanyaku. Mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Emang kenapa?" tanyanya.


"Enggak apa-apa, Puja kebelet pipis" bohongku. Padahal, aku merasa tidak sanggup berlama-lama dengan kang Sofyan ditempat ini.


"Ya udah, pulang sekarang aja kalau gitu" ajak kang Sofyan. Aku mengangguk lalu mengekor dibelakangnya menaiki perahu kecil milik kang Sofyan untuk kembali ke daratan dan pulang ke rumah.


*******

__ADS_1


Sesampainya dirumah, aku dikejutkan dengan kedatangan mas Toni dan juga Melodi.


"Hai Mel" sapaku sambil memeluk Melodi.


"Udah lama?" tanyaku sambil melepas pelukannya.


"Enggak baru sampai" jawab Melodi.


"Mas Toni kok tahu Puja dirumah?" tanyaku heran.


"Tadi udah ke kos, tapi enggak ada, kata temen kamu udah pulang ke sini" jawab mas Toni sambil tersenyum hangat.


"Ayo masuk" ajakku. Sementara kang Sofyan melengos begitu saja ke arah kamar mandi.


"Mau minum apa?" tawarku.


"Enggak usah ngerepotin" ucap mas Toni.


"Iya bener, Mel cuma sebentar aja kok" timpal Melodi. Aku hanya mengangguk.


"Jadi, Mel rencananya mau buat penelitian tentang usaha tambak ikan dibendungan ** **** buat skripsi. Kira-kira kang Sofyan mau enggak ya bantuin Mel? soalnya kata kak Ratna kang Sofyan punya tambak dibendungan" ucapnya menjelaskan.


"Oh, soal itu aku tanya kang Sofyan dulu ya" aku beranjak dari tempat duduk dan pergi ke kamar menemui kang Sofyan.


"Kang, itu Melodi mau ada perlu katanya" ucapku.


"Mel, maaf ya, kang Sofyannya malah lagi tidur, capek baru pulang kerja" ucapku tak enak.


"Oh, iya enggak apa-apa. Nanti tolong sampein aja ya pesanku" ucap Melodi.


"Iya pasti aku sampein dan secepatnya ngabarin kamu" jawabku.


Setelah itu Melodi berpamitan dan langsung pulang kerumahnya. Aku mengantar sampai depan pintu, dan setelah mobilnya menjauh aku kembali ke kamar menemui kang Sofyan. Baru juga sampai depan pintu wajahnya sudah terlihat masam.


"Kamu ada hubungan apa sama Toni?" todongnya. Aku merasa bingung dengan pertanyaanya. Kenapa jadi bertanya hubunganku dengan Toni?


"Enggak ada hubungan apa-apa" jawabku jujur.


"Terus kenapa dia bisa tahu kos-kosan kamu? dan apa kemaren dia nyamperin kamu ke kos-kosan iis?" tanyanya penuh selidik.


"Bukan urusan kang Sofyan" jawabku sebal.


"Pasti dia salah satu langganan kamu kan? hebat ya, sopir aja sampai jadi mangsa!" ucapnya pedas. Aku hanya menarik nafas dalam-dalam mendengar ucapan pedas dari kang Sofyan. Bodoh sekali aku yang sempat terlena karena sikap manisnya saat di tambak tadi.


"Iya, aku sama mas Toni emang deket" ucapku. Sekalian saja aku membenarkan tuduhannya.


"Kenapa enggak dia aja yang kamu jebak untuk nikahin kamu, dan malah menyusahkan orang lain! ooh.. saya tahu, kamu pasti disuruh Marvel kan, suruh deketin saya biar lupa sama Ratna, dan Ratna semakin jauh sama saya!" ucapnya sinis. Lagi-lagi dihubung-hubungkan dengan kak Ratna.


"Enggak usah bawa-bawa orang lain kang, Puja enggak tahu kang Sofyan punya dendam apa sama Puja, yang jelas sekarang Puja minta kejelasan aja deh, kita cerai aja gimana?" tanyaku.

__ADS_1


"Cerai, cerai, cerai! segitu ngebetnya kamu mau cerai!. kenapa sih? apa uang yang saya kasih kurang?'' ucapnya sinis.


Aku menggigit bibir bawahku menahan rasa sakit yang menjalar.


"Tadi Melodi kesini, katanya mau minta tolong sama kang Sofyan buat bantu ngerjain tugas kuliahnya" ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Saya enggak sudi bantuin adiknya Marvel!" ucapnya dingin.


"Memang apa salahnya sih nolongin orang? rugi banget kayaknya" ucapku.


"Emang kamu ngizinin suami kamu dua-duaan sama perempuan lain?" dia malah bertanya hal lain yang menurutku tidak nyambung dengan topik pembahasan.


"Kan ada mas Toni yang nemenin" jawabku.


"Kalau saya minta Toni enggak ikut gimana? dan cuma saya yang berdua sama Melodi di tambak?" tanyanya lagi.


"Ya enggak masalah" jawabku acuh.


"Kamu enggak takut suami kamu kepincut perempuan lain?" tanyanya lagi.


"Enggak, malah seneng, itu artinya kang Sofyan udah move on dari kak Ratna" jawabku sambil menggigit bibir bawahku. Entah kenapa membayangkan kang Sofyan yang berduaan dengan Melodi ditambak membuatku merasa perih.


"Dasar murahan!" ucapnya sinis. Aku berbalik ke arahnya. Aku heran, kenapa dia senang sekali menyakitiku dengan berkata kasar.


Aku menatap matanya, dia terlihat marah. Aneh! kenapa dia yang marah? memang apa kesalahanku hingga dia kembali sinis kepadaku. Padahal, di tambak tadi, dia bersikap baik dan manis.


"Puja buat salah apa kang?" ucapku lirih.


"Kenapa kang Sofyan marah-marah enggak jelas, coba ngomong, Puja salah apa?" lanjutku sambil terus menatap matanya. Dia malah membuang pandangannya ke arah lain.


Entah keberanian dari mana, aku mendekatinya. Lalu mengalungkan tanganku dilehernya.


"Kamu mau apa Puja!" ucapnya melotot tajam. Tapi tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Hanya mulutnya saja yang berbicara.


Cup


Tanpa permisi aku mencium bibirnya sekilas.


"Maafin Puja kalau Puja berbuat kesalahan. Jangan marah lagi" ucapku lirih dan terus menatap matanya dalam-dalam. Lalu menyenderkan kepalaku didada bidangnya. Aku mendengar degup jantung kang Sofyan yang berdetak kencang. Entah kenapa aku merasa senang dan tersenyum tipis.


"Puja... jangan begini, saya enggak nyaman!" ucapnya dengan suara serak.


"Kenapa?" tanyaku sendu. Aku mengelus dada bidangnya perlahan. Lalu membuka satu persatu kancing bajunya. sambil sesekali membelainya. Aku tidak perduli kang Sofyan akan menganggapku murahan, setidaknya aku murahan pada suamiku sendiri.


"Jangan mancing-mancing, saya laki-laki normal, jangan bersikap seperti wanita murahan!" ucapnya marah.


"Bukannya dimata kang Sofyan Puja wanita murahan? sekalian saja" jawabku dengan nada sensual. Aku menggigit bibirku bermaksud menantangnya.


"Jangan menyesal, kalau nanti kamu menjerit dibawah saya!" ucapnya dengan tatapan lapar.

__ADS_1


__ADS_2