Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Satu Atap


__ADS_3

Dila melanjutkan langkahnya menuju dapur tanpa menyapa Alya dan Vino. Karena mereka pun tak menyapa Dila. Setelah mengambil dua piring nasi beserta lauknya juga dua gelas air putih, Dila kembali ke kamarnya.


"Beuuh!! penganten anyar, makan aja dikamar!'' sindir Vino. Dila memanyunkan bibirnya lalu...


"weekk! bodo amat!" Dila malah menjulurkan lidahnya meledek Vino.


"Huu! dasar kutill!" ejek Vino.


"Vin! Dila sekarang kakak ipar kamu loh, masih aja sering ngeledekin." ucap Puja.


"Enggak kok mah, bercanda doang." ucap Vino slengean. Alya yang melihat itu semakin merasa iri karena Vino memperlakukan Dila dengan begitu ramah, apalagi melihat banyaknya jejak dileher Dila, hatinya semakin kacau.


"Mah, Alya ke kamar dulu ya. Alya capek semalam Vino minta terus enggak mau berhenti." ucap Alya asal ceplos. Vino hanya tersenyum sinis.


"Bener Vin? berarti udah pecah telor dong. Ihh mama enggak sabar punya cucu dari kalian." ucap Puja kegirangan.


"Vino ke kamar dulu ma." ucap Vino.


"Iya, lanjutin deh." ucap Puja sambil menepuk pundak Vino. Lagi-lagi Vino hanya dapat menggelengkan kepalanya. Lalu ikut menyusul Alya ke kamarnya. Sedangkan Puja langsung ke kamarnya untuk bersiap-siap hendak ikut ke tambak.


Sementara dikamar Bagja dan Dila mereka tengah menikmati sarapan yang sudah sangat terlambat itu. Dengan lahap Bagja memakan nasi di piringnya, sedangkan Dila terlihat tidak semangat, karena kedatangan Alya, yang artinya akan satu atap dengannya.


"Kenapa? kok enggak semangat gitu, enggak enak?" tanya Bagja.


"Enak kok. Cuma enggak selera aja." ucap Dila.


"Kenapa? cerita dong." ucap Bagja.


"Alya sama Vino kesini." ucap Dila.


"Ya kan mereka udah suami istri Dil." ucap Bagja.


"Iya Dila tahu, tapi itu artinya mereka akan tinggal disini dan kita akan satu atap dengan Alya. Dila takut kalau Alya masih..."


"Masih apa? udah jangan mikir yang aneh-aneh." ucap Bagja sambil tersenyum hangat, dia mengerti akan ketakutan yang dirasakan istrinya itu.

__ADS_1


"Dila enggak nyaman A, gimana kalau kita pindah aja, atau kita bangun rumah sendiri." ucap Dila.


"Nanti aa bilang ke mamah sama ayah dulu ya. Soalnya dulu mamah bilang, kalau mamah pengennya saat anak-anaknya nikah, tinggalnya tetap disini, supaya ramai dan terasa hangat." ucap Bagja menjelaskan secara pelan-pelan.


"Iya." jawab Dila cepat.


"Dimakan lagi dong nasinya. Kamu perlu banyak tenaga untuk..."


"Untuk apa? jangan aneh-aneh deh, Dila capek. A Bagja mah enggak ada puasnya. Nurun siapa sih, perasaan ayah kalem." ucap Dila protes.


"Kan masih pengantin baru, wajar kalau pengennya nyelip terus." ucap Bagja dengan tatapan mesuumnya. Dila buru-buru menghabiskan makanannya, karena dia tahu setelah ini Bagja tak akan melepaskannya. Dila tak mau sampai pingsan kelaparan.


//


"Besok beli lemari sendiri deh. Lemariku udah penuh." ucap Vino sambil merebahkan diri dikasurnya.


"Hm!" jawab Alya singkat sambil duduk di kursi dekat meja belajar milik Vino.


"Maksud kamu ngomong kayak gitu tadi apa?" tanya Vino.


"Halah enggak usah sok polos! maksudnya apa coba, biar mamah berharap gitu dapet cucu? jangan harap dan jangan pernah berpikir sekalipun kalau aku bakalan mau nyentuh kamu!" ucap Vino pedas.


"Siapa juga yang mau disentuh sama playboy kayak kamu! bekas celup sana sini, jijik!" ucap Alya yang juga tak kalah pedas. Dia mulai terpancing emosinya karena Vino seperti sengaja memancing kemarahannya.


"Haha! memangnya kenapa kalau suka celap celup? enggak usah sok polos. Aku tahu kamu juga pasti udah boloong!" ucap Vino.


"Jangan sembarangan ya kalau ngomong!" ucap Alya tak terima.


"Sembarangan gimana? memang kenyataanya gitu kan? mana ada perempuan licik kayak kamu masih perawaan!" ucap Vino sambil tersenyum mengejek.


"Aku masih perawaan! jangan asal bicara kamu!" ucap Alya yang kini bangkit dan menatap marah kepada Vino.


"Sama aja, mau perawaan atau enggak tetap aja rasa lubaangnya sama. Wanita itu yang dinilai bukan hanya itunya saja, tapi hatinya. Hatinya busuuk atau baik." ucap Vino mencibir. Lalu berbalik dan hendak membuka lemari pakaiannya. Alya tak Terima lalu mendekatinya.


"Yakin rasanya sama? apa kamu pernah tidur dengan perawaan? aku rasa enggak!" ucap Alya tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Iya memang enggak pernah, tapi aku sudah tahu, rasanya sama saja." ucap Vino santai.


"Oh ya? kalau begitu ayo rasakan. Aku mau tahu apakah setelah mencicipi rasa perrawan, kamu masih bisa bilang rasanya sama atau tidak." tantang Alya. Vino berbalik dan menatap Alya dengan tatapan mengejek.


"Segitunya pengen disentuh, udah gattel ya? pengen digarruk?" tanya Vino sambil tersenyum sinis.


"Aku hanya..." Alya menjeda ucapannya, sadar akan kesalahan dari tindakan ceroboh nya.


"Nah, dari sini saja sudah kelihatan. Murahan itu bukan hanya soal segel atau enggak. Dasar murahan! enggak punya harga diri!" ucap Vino pedas. Seperti saat Alya menghina dan menjelekkan Puja mamanya.


"Stop Vin! kamu keterlaluan! aku bukan perempuan seperti itu!" ucap Alya berang. Air matanya tak dapat dibendung lagi, dia tak tahan dengan hinaan dari Vino.


"Lalu wanita seperti apa yang menantang laki-laki untuk menyentuhnya hah?!" sentak Vino.


"Memangnya aku salah? apa aku salah meminta suamiku sendiri untuk menyentuhku?" tanya Alya dengan menatap tajam mata Vino.


"Itu..." kini Vino kehabisan kata-kata. Alya benar, dia kan suaminya, jadi apa salahnya kalau Alya minta haknya? tidak ada yang salah. Yang salah adalah perasaan mereka yang tak saling mencintai dan malah mencintai orang lain.


"Ah sudahlah! berdebat dengan kamu malah bikin aku pusing!" ucap Vino lalu berlalu menuju kasur empuknya dan memejamkan matanya dengan paksa.


Sedangkan Alya terduduk dilantai, dia terus saja menangis meratapi nasib yang seakan tak adil kepadanya. Lama kelamaan Alya kelelahan dan tertidur di lantai. Begitu pula dengan Vino yang tertidur diatas kasur hingga saat adzan sholat dzuhur, Vino baru bangun dan melihat Alya tengah tertidur dengan memeluk tubuhnya di lantai.


"Ish! pasti dia lagi caper!" ucap Vino yang pada awalnya tak mau menggubris. Tapi lama kelamaan dia tak tega dan akhirnya menghampiri Alya.


"Bangun! udah siang!" ucap Vino sambil mengguncang-guncangkan tubuh Alya. Alya yang mungkin terlalu pulas dan kelelahan tak kunjung membuka matanya, membuat Vino dengan terpaksa mengangkat tubuh ramping itu untuk dipindahkan keatas kasur.


Namun baru juga akan dibaringkan, Alya malah terbangun dan...


"Aaaaaaa!!!" Alya teriak karena terkejut. Vino yang tak dapat menjaga keseimbangannya akhirnya ikut terjatuh kertas tubuh Alya.


Cup!


Lagi-lagi hal tak terduga terjadi, Vino membelalakan matanya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2