Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Getaran Asmara


__ADS_3

Operasi adiknya Iis berjalan lancar. Semua biaya sudah ditanggung oleh Sofyan dan Puja. Iis sangat berterimakasih atas kebaikan dan pertolongan dari mereka. Setelah hampir 2 minggu berada dirumah sakit, akhirnya adiknya Iis sudah diperbolehkan pulang dan melanjutkan perawatan mandiri dirumah. Kondisnya semakin lama semakin membaik dan menunjukkan perubahan yang signifikan.


Suatu hari Mahmud diminta Sofyan untuk mengantar motor Iis kerumahnya, karena Puja tahu jika Iis sangat membutuhkan motor itu untuk bekerja. Iis terkejut, padahal tempo hari dia sudah menjual motor itu kepada Sofyan kenapa dikembalikan?


"Loh kang, kan Iis sudah menjual motor itu. Kenapa dibalikin lagi ya?" tanya Iis keheranan.


"Saya enggak tahu Is, saya hanya diminta untuk nganterin motor ini. Tadi sih katanya suruh pake aja, disana juga enggak kepake." jawab Mahmud.


"Tapi, kang.. hm, terus kang Mahmud pulang naik apa?" tanya Iis.


"Saya ngojek aja." jawab Mahmud.


"Enggak usah kang, Iis anter aja ya, sekalian mau kerumah Puja." ucap Iis.


"Oh ya udah, tapi cepetan ya, saya masih ada kerjaan soalnya." ucap Mahmud.


"Enggak minum dulu kang?" tawar Iis.


"Enggak, kerjaan masih banyak." tolak Mahmud.


"Ya udah Iis ganti baju dulu sebentar ya kang." ucap Iis. Mahmud mengangguk.


//


Disepanjang perjalanan, Mahmud dan Iis saling mengobrol untuk mengisi keheningan, namun ada satu yang membuat Mahmud sedikit merasa sesak dan gugup yaitu ketika Iis melingkarkan tangannya diperut Mahmud dan duduk begitu menempel dengan dirinya, jika ada orang yang melihat sudah pasti mereka disangka pacaran. Tapi sebenarnya Iis memang seperti itu, terbiasa duduk dengan tubuh menempel ke si pengemudi walaupun dengan bang ojek sekalipun, soalnya Iis trauma pernah jatuh ketika dibonceng ayah nya saat masih kecil dulu. Dia tak berpegangan dan jatuh terjungkal saat motor tengah melaju. Untungnya saat itu kecepatan motor tidak begitu kencang jadi luka Iis tak begitu parah, hanya memar-memar saja.


Hingga saat ini Iis tak pernah mau duduk dibonceng orang, inginnya dia yang membonceng. Tapi malu dong, masa Mahmud di boncengin perempuan? mau ditaruh dimana wajahnya? Mahmud merasa panas dingin saat dua bulatan kenyal menempel di punggungnya. Apalagi Iis memakai kaos ketat dengan jaket yang dibiarkan terbuka tanpa di resleting. Jiwa jomblonya meronta-ronta, Mahmud mengira jika Iis sedang menggodanya.


"Is, duduknya jangan terlalu rapet atuh, dijarakin aja. Ini kang Mahmud bawa motornya kan udah pelan-pelan." ucap Mahmud.


"Enggak mau kang, Iis takut." ucap Iis sembari menelusupkan wajahnya ke leher Mahmud. Dan semakin oleng lah Mahmud saat secara tak sengaja bibir Iis menempel di lehernya. Tubuhnya tiba-tiba berkeringat padahal, terpaan angin cukup kencang mengenai wajahnya.


"Akang udah punya pacar belum?" bisik Iis. Ditanya begitu Mahmud malah salah tingkah.


"Akang mah enggak pacaran, kalau suka langsung nikah aja." jawab Mahmud.

__ADS_1


"Akang suka sama Iis enggak?" tanya Iis menggoda.


Chiiittt!!


Mahmud langsung menghentikan motornya hingga Iis ikut merosot dan semakin menempel ke tubuhnya.


"Kenapa kang?" tanya Iis pura-pura polos. Ternyata benar apa kata Puja, Mahmud adalah pria polos. Hatinya bersorak karena merasa telah sukses mengerjai Mahmud.


"Ada kodok loncat." jawab Mahmud asal.


"Ooh, jawab dong kang, akang suka enggak sama Iis?" tanya Iis.


"Ya enggak lah, kamu bukan tipe saya." jawab Mahmud berusaha ngeles.


"Ooh, terus tipe kang Mahmud seperti apa?" tanya Iis penasaran.


"Yang sholehah dan menutup auratnya dengan baik." jawab Mahmud. Iis merasa tersindir, dia tersenyum getir, niat hati mau mengerjai Mahmud, kenapa malah jadi dia yang baper?


"Ooh, karena Iis bukan perempuan baik-baik dan suka umbar aurat jadi kang Mahmud enggak suka gitu ya? tapi bener sih kang, mana ada laki-laki yang mau sama biduan seperti Iis." ucap Iis dengan suara lirih. Dia menggeser tubuhnya dan berjarak agak jauh dari Mahmud, dia berfikir jika Mahmud alergi terhadap wanita sepertinya. Mati-matian dia menahan rasa takut dan traumanya.


"Is saya enggak bermaksud untuk... "


"Udah kang, udah biasa kok. Itu resiko jadi biduan, selalu dipandang rendah oleh orang lain." jawab Iis. Mahmud merasa tak enak hati dan juga merasa sangat bersalah. Apa ucapannya sudah keterlaluan ya? melihat wajah Iis yang sedih begitu, kenapa dia juga ikutan sakit? apalagi Iis menggeser duduknya hingga mentok ke belakang, bertambahlah rasa bersalah dihati Mahmud.


"Kenapa duduknya geser Is?" tanya Mahmud.


"Kang akang yang minta supaya Iis geser duduknya." jawab Iis.


"Tapi katanya kamu takut?" tanya Mahmud.


"Iis bisa lawan rasa takut itu kok, kasihan kang Mahmud yang alergi sama perempuan seperti Iis. Nanti ikutan dicap jelek lagi sama orang kalau duduknya nempel-nempel." jawab Iis sembari memaksakan senyumnya.


Jleb!!


Ucapan Iis tepat mengenai jantungnya.

__ADS_1


"Saya enggak alergi kok Is, kamu jangan merendah seperti itu saya kan hanya... "


"Udahlah kang, enggak usah dibahas. udah buruan, katanya masih banyak kerjaan, nanti terlambat dimarahin kang Sofyan lagi." jawab Iis sembari membuang muka.


"Tapi Is saya... " Mahmud tak melanjutkan ucapannya saat mendapat pelototan tajam dari mata Iis. dengan terpaksa dia melajukan kembali motornya. Disepanjang perjalanan mereka tak lagi berbincang. Mahmud tak tahan didiamkan Iis entah kenapa perasaannya berkecamuk dan justru ingin Iis memeluknya seperti tadi.


"Is anterin saya ke tambak dulu aja ya." pinta Mahmud.


"Hm," hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Iis.


Mahmud semakin kesal lalu dengan sengaja menabrakkan motor Iis kesebuah bebatuan yang cukup besar hingga...


"Akhh!!!" pekik Iis yang tersentak kaget, dengan reflex dia menempel ketubuh Mahmud dengan tubuh yang gemetar karena ketakutan. Mahmud tersenyum menang lalu melancarkan aksi selanjutnya. Dia mengelus-elus tangan Iis yang melingkar di pinggangnya


"Udah enggak usah takut, enggak apa-apa kok." ucap Mahmud.


"Tapi... "


"Mangkanya pegangan jangan dilepas." ucap Mahmud.


"Emang enggak apa-apa?" tanya Iis.


"Enggak apa-apa." jawab Mahmud. Dalam hatinya dia bersorak kesenangan.


Mahmud menjalankan motor itu begitu pelan, bahkan mungkin keong pun lebih cepat dari motor yang dikendarai nya. Entah kenapa otaknya jadi gesrek begini. Jangan-jangan dia ketularan Sofyan? ah entahlah yang jelas Mahmud ingin berlama-lama dipeluk Iis. Perjalanan yang harusnya satu jam kini molor jadi satu setengah jam karena saking lambatnya.


Beberapa saat kemudian...


Mereka sudah sampai diparkiran dekat warung ceu Imas. Mahmud mengucapkan terimakasih kepada Iis. Dan disaat bersamaan ceu Imas datang tergopoh-gopoh dengan seorang gadis berkerudung disampingnya.


"Mud, akhirnya datang juga.. ini loh anak eceu calon istri kamu." ucap ceu Imas percaya diri.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Ceu Imas gercep banget ya.. enggak mau ditikung, tuh Mud, hilang satu tumbuh dua. Buahahaha!!

__ADS_1


__ADS_2