Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Saling Merindu


__ADS_3

Sofyan tidur di sofa depan tv, dia memandangi langit-langit rumahnya. Sejak tadi hatinya kacau balau karena rasa bersalah, penyesalan tiada ujung. Seandainya, seandainya saja dia tidak egois! Seandainya saja dia lebih mementingkan Puja dibandimg wanita lain yang jelas-jelas sejak dulu hanya merusak rumah tangganya, Puja tak akan semarah ini. Kesalahannya kali ini benar-benar tidak dapat dimaafkan. Puja sampai semarah itu. Tapi, benarkah Puja tak bahagia hidup dengannya? apa Puja merasa tersiksa bersamanya? lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? apa harus melepas Puja dan membiarkannya hidup bahagia walau tak bersamanya? ah! tapi itu terlalu menyakitkan. Sofyan tak sanggup! membayangkannya saja sudah sesakit itu, apalagi jika dia benar-benar sampai kehilangan Puja.


Tengah malam, entah jam berapa Sofyan diam-diam mengendap kedalam kamarnya. Baru semalam tidur terpisah dengan Puja membuatnya risau dan tidur tak nyenyak.


Klek!


Sofyan membuka pintu kamarnya pelan sekali, hingga suaranya hampir tak terdengar. Untungnya Puja tengah tertidur. Lelap sekali, barangkali kelelahan karena terus menangis. Puja tertidur dengan meringkuk dan memeluk guling membuat Sofyan merasa cemburu pada benda mati itu. Ya, biasanya kan tubuhnya yang dipeluk. Saat ini, jangankan dipeluk, menyentuhnya pun Puja tak sudi. Sungguh miris kalah bersaing dengan bantal guling!


Cup


"Maafin akang sayang" ucap Sofyan sembari mengecup pelan kening Puja. Sofyan membaringkan tubuhnya perlahan disamping Puja, lalu melingkarkan tangannya dipinggang ramping itu, memberi kehangatan seperti biasa. Rasanya sangat nyaman. Aroma tubuh Puja, wangi rambutnya selalu membuatnya tenang dan rilex.


"Jangan tinggalin kang Sofyan sayang. Jangan..." ucap Sofyan lirih. Sejak tadi dirinya terus bermonolog tanpa perduli Puja mendengarnya atau tidak. Yang jelas dia terus mengucapkan kata maaf yang keluar dari mulut dan hatinya. Sungguh Sofyan sangat menyesal. Kejadian ini benar-benar menghantam jiwanya begitu kuat hingga rasanya dia tenggelam dilautan penyesalan.


Tanpa Sofyan sadari Puja ternyata tidak benar-benar tidur. Matanya saja yang terpejam, tapi ternyata dia masih sadar sepenuhnya. Puja sama merindunya dengan lelaki itu, dia sama tak bisa tidur jika tak dipeluk Sofyan. Dia sama sedihnya dan hancur karena sikap Sofyan yang sudah kelewatan. Tapi dia membiarkannya, membiarkan Sofyan memeluknya. Rasanya selalu sama, hangat dan menenangkan. Kini dia sadar, dia tak bisa hidup tanpa lelaki itu, lelaki yang mencuri hatinya sejak lama. Ya, malam itu akhirnya Puja memaafkan Sofyan. Tapi dia tak mau langsung mengatakannya. Sofyan harus diberi pelajaran agar dia jera dan tak mengulangi kesalahan yang sama. Disamping itu Puja juga ingin melihat seberapa besar perjuangan Sofyan untuk mendapat maaf darinya. Puja pura-pura menggeliat dan berbalik kearah Sofyan, lalu menenggelamkan kepalanya didada bidang pria itu membuat Sofyan terkejut sekaligus senang karena pada akhirnya Puja mau memeluknya walaupun dalam keadaan tidak sadar.


Sofyan membelai rambut Puja dengan lembut. Menciumi pucuk kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang.


"I love you Puja... belahan jiwa kang Sofyan." bisik Sofyan pelan. Sofyan tak tak tahu jika Puja dapat mendengar ucapannya.

__ADS_1


'I love you too akang nyebelin!' jawab Puja dalam hati.


Hingga pagi menjelang, Puja terbangun lebih dulu karena merasa kebelet buang air kecil. Namun dia kesusahkam memindahkan tangan Sofyan yang begitu posessive memeluknya. Dan karena merasakan adanya pergerakan, akhirnya Sofyan ikut terbangun.


"Puja..."


"Minggir!" ucap Puja ketus.


"Maaf... akang tadi malam enggak sengaja ketiduran disini." ucap Sofyan merasa bersalah. Sofyan takut Puja bertambah marah karena ketahuan memeluknya. Puja tak menjawab dan masih memasang wajah dinginnya. Tak mau bicara dan melengos begitu saja ke kamar mandi. Sofyan menghela nafas kasar.


"Puja masih marah. Gimana coba?" ucap Sofyan bingung. Setelah melihat Puja sudah kembali dari kamar mandi, Sofyan langsung menghadangnya didepan pintu kamar.


"Puja mau sarapan apa sayang, akang beliin ya. Mau bubur ayam apa lontong sayur? atau nasi uduk?" tanya Sofyan yang berusaha menyenangkan hati Puja. Puja tak menggubris dan memilih pergi dari sana untuk kembali ke kamar.


Brakk!!


Puja menutup pintu dengan keras dan menguncinya dari dalam membuat Sofyan kelimpungan. Sofyan tidak tahu saja, tadi Puja sempat mengambil Roti dan beberapa cemilan dari dapur saat ke kamar mandi dan disembunyikan dibalik bajunya. Jujur dia sangat lapar, tubuhnya lemas. Dia butuh tenaga dan asupan nutrisi. Setelah memakan beberapa Roti itu Puja meminum obat yang diberikan dokter untuk memulihkan rahimnya. Lalu menyembunyikan sampah bekas roti tersebut didalam laci lemarinya agar tak ketahuan Sofyan. Biar saja Sofyan kelimpungan khawatir karena menganggap Puja belum makan. Puja ingin lihat seberapa frustasinya lelaki itu jika melihatnya sakit.


"Puja... tolong buka pintunya sayang, Bagja kangen nih sama mamanya." ucap Sofyan yang kini menggunakan Bagja untuk meluluhkan hatinya.

__ADS_1


Huh!


Puja terpaksa membuka pintunya dan mengambil Bagja dari gendongan Sofyan. Namun baru akan mengambilnya, Sofyan kembali menarik Bagja.


"Makan dulu baru akang kasih Bagjanya." ucap Sofyan. Puja diam saja dan menatap jengah kearah Sofyan. Tapi dibalik itu semua dia merasa kasihan melihat penampilan Sofyan yang acak-acakan. Rasanya dia juga tak tahan saat melihat jakun dan bibir Sofyan yang ingin sekali dilahapnya. Tapi dia tak akan menyerah begitu saja sebelum Sofyan benar-benar kapok!


"Ya udah, bawa aja Bagjanya." ucap Puja sambil memegangi Pintu dan hendak menutupnya kembali. Tapi langsung ditahan oleh tangan Sofyan.


"Sayang, jangan gini dong... jangan siksa diri kamu. Akang gak sanggup lihat Puja sakit. Akang mohon Puja makan yah, setidaknya demi Bagja sayang." mohon Sofyan yang kini kembali menangis. Ish! lelaki ini memang cengeng jika menyangkut Puja!


Puja tak menggubris dan melewati Sofyan begitu saja lalu menuju meja makan mengambil nasi dan beberapa lauk serta air putih untuk mengisi perutnya.


Setelah menghabiskan makanan itu Puja bergegas mengambil Bagja dari gendongan Sofyan. Sebenarnya dia khawatir karena Sofyan juga belum makan dari kemarin, tapi rasa gengsi membuatnya harus bersikap tega dan bodo amat.


'Ah, paling juga nanti emak nyuruh dia makan!' batin Puja.


Brak!!


Puja kembali menutup pintu kamarnya. Sofyan mengehela nafasnya. Setidaknya kini dia lega Puja sudah mau makan walaupun sikap Puja kepadanya masih sama seperi semalam.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Kapok Lu dicuekin!


__ADS_2