TAKLUK

TAKLUK
PROLOG


__ADS_3

"Di, elo masih pacaran sama Calista?"


"Gue nggak pacaran sama dia."


"Demi apa?!"


"Sumpah."


"Gila lo. Tuh cewek sudah lo ajak kesana kemari, lo kenalin ke teman-teman, lo ajak kondangan, tapi lo bilang bukan pacar. Elo sehat?"


"Gue serius, Rin."


"Nggak percaya. Kemarin dia nunjukin cincin yang lo beliin minggu lalu. Itu tandanya lo serius sama dia."


"Gue nggak pernah bilang cincin itu buat meresmikan hubungan kami."


"Speechless gue ngomong sama elo. Nggak pengen tobat?"


"Kam***t lo! Emangnya gue apaan disuruh tobat."


Erina tak lagi berkomentar. Ia hanya memandang Ardian dengan pandangan serius.


"Rin, elo nggak kesambet kan? Mikir apaan sih? Serius banget." Ardian mengacak rambut pendek Erin.


"Sialan lo! Mana ada tengah hari bolong gini orang kesambet," balas Erina.


"Oh iya gue lupa. Elo ratu dedemit. Mana ada jin yang berani nempel sama elo," ledek Ardian santai sambil mengambil ro*** yang terselip di jari Erina. "Bagi."


"Woy, jangan kayak orang susah deh. Nyebat aja nebeng. Bikin malu keluarga Prabuyudhono aja. Bisa-bisa eyang Prabu bangkit dari kuburnya ngeliat cucu kesayangannya nebeng nyebat."


"Halah, cuma seisep doang Rin"


"Ketularan Covid lo!"


"Ah, elo kan sudah lama sembuh Covid. Jangan pelit gitu!"


Erina Aurelia Smith, cewek blasteran Jawa - Amerika, kembali memandang Ardian dengan pandangan yang sulit ditebak.


Ardian Putro Prabuyudhono, pemuda tampan yang konon katanya masih keturunan keraton, mengerutkan dahinya. Nggak biasa-biasanya Erina bersikap seperti hari ini. Biasanya Erina nggak pernah peduli dengan siapa Ardian pacaran.


"Rin, tadi pagi elo minum obat kan?"


"Kam***t lo!" Erina melempar bungkus rokok yang sudah kosong ke arah Ardian.


"Lo kenapa sih? Aneh banget. Uncle Andrew motong uang saku lo? Black card lo ditahan?" Erina menggeleng. Diambilnya lagi sebatang rokok. Ardian langsung merampas rokok tersebut. Tak lupa diambilnya kotak rokok yang tergeletak di atas meja.


"Apaan sih Di?" sengit Erina galak sambil berusaha merebut kotak rokoknya.


"Sudah cukup, Rin. Sudah rokok ketiga tuh sejak kita ketemu. Elo baik-baik saja kan?" tanya Ardian. "Nggak biasanya lo kayak gini."


Erina menghela nafas kasar. Diraihnya gelas yang masih terisi setengahnya. Bukannya diminum, ia malah hanya memandangi gelas tersebut.

__ADS_1


Ardian semakin bingung melihat tingkah sahabatnya ini. Ia mengenal Erina sejak mereka sekelas saat SMA dulu. Persahabatan yang diawali dengan pertengkaran hebat antara keduanya.


FLASHBACK ON


"Rin... Eriiiin!" Suara cempreng Alexia mampir ke rungu Erina yang pagi itu baru akan masuk kelas.


"Gawat Rin!" sambung Raina dengan nafas terengah-engah. Alexia dan Raina adalah sahabat Erina sejak orok.


"Kalian kenapa sih?" tanya Erina heran sambil melangkah menuju kursinya.


"Barusan kita lihat Gustav di......"


"Apanya yang aneh? Dia kan memang sekolah disini," sahut Erina cuek. Gustav adalah pacar Erina sejak mereka duduk di kelas 8.


"Rin, dengerin dulu!" sentak Alexia kesal.


"Iya.. iya... dari tadi gue juga dengerin kalian ngomong. Ada apa sih? Pagi-pagi heboh kayak nenek-nenek kehilangan sirih."


"Gustav... Gustav, Rin."


"Iya, Gustav kenapa?" tanya Erina mulai tak sabar.


"Kita lihat Gustav lagi sama Starla. Mereka...."


"Ya wajar aja dong lihat mereka berdua. Mereka kan sepupuan dan sekelas."


"ERINA AURELIA SMITH!" Kali ini kedua sahabatnya memanggil dengan nama lengkapnya. Erina langsung menyadari ada hal penting yang akan mereka sampaikan.


"GUSTAV DAN STARLA CIUMAN!"


DUAAARRR!! Serasa petir menyambar di pagi yang cerah saat Erina mendengar ucapan kedua sahabatnya. Erina mematung dan seperti orang linglung saat mendengar berita tersebut. Tapi itu tak lama, ia segera mengambil kunci mobilnya dan berjalan cepat menuju tempat parkir. Matanya memancarkan kemarahan.


Alexia dan Raina mengikuti dengan setengah berlari. Erina menuju mobilnya dan membuka bagasi mobil lalu mengambil kunci roda yang selalu tersimpan rapi disitu. Lalu ia melangkah menuju Range Rover hitam yang terparkir di samping mobilnya. Dengan membabi buta ia hantamkan kunci roda itu ke kaca spion mobil tersebut. Tak puas, kini ia melampiaskan kemarahannya dengan memecahkan kaca depan mobil tersebut.


Alexia dan Raina tak bisa berbuat apa-apa. Mereka tak mampu mencegah Erina. Mereka tahu kekuatan mereka takkan sanggup menahan kebrutalan Erina. Mereka hanya sanggup memandang ngeri.


"WOY!! BA****T!! STOOOPPP!!" Tiba-tiba terdengar seruan dari seorang cowok yang berlari menghampiri mereka.


Cowok itu memandang ngeri hasil karya Erina. Ia seakan tak percaya melihat hal tersebut. Erina yang sedang mengamuk tidak mengindahkan kehadiran cowok tersebut. Ia kembali mengangkat kunci rodanya dan siap menghancurkan kap mesin mobil tersebut. Dengan sigap cowok itu mencoba merebut kunci roda. Namun bukan hal mudah menahan amarah seorang Erina yang terkenal sebagai atlit karateka.


Akhirnya cowok tersebut memeluk tubuh Erina dan menariknya menjauh dari mobil yang kacanya sudah hancur. Erina berusaha memberontak, namun tenaga cowok tersebut rupanya juga tak kalah kuat. Erina terus memberontak seraya mulut mungilnya mengeluarkan sumpah serapah. Tiba-tiba...


PLAK!! Erina terdiam tak percaya saat telapak tangan cowok tersebut mendarat di pipi mulusnya.


"BA****T!! BA*****N*!! SIAPA LO BERANI-BERANINYA NAMPAR GUE?!"


Dengan sigap cowok tersebut merebut kunci roda yang masih ada di tangan Erina. Wajahnya tampak gusar.


"Erin!" Alexia dan Raina bergegas menghampiri.


"SIAPA LO? BERANI BANGET LO MENGHALANGI GUE? CARI MATI LO?" seru Erina murka sambil memegang pipinya yang masih terasa pedas akibat tamparan tersebut.

__ADS_1


"ELO YANG CARI MATI! ELO SUDAH GILA!?" balas cowok tersebut tak kalah keras. "NGAPAIN ELO NGANCURIN MOBIL ORANG?!"


"TERSERAH GUE!" balas Erina. "ITU BALASAN YANG PAS BUAT COWOK TUKANG SELINGKUH!"


"TUKANG SELINGKUH? SIAPA YANG TUKANG SELINGKUH?! SADAR WOY SADAR!!"


"HALAH!! NGGAK USAH IKUT CAMPUR LO! KALIAN COWOK SEMUANYA EMANG BAJI***N! SOK SETIA, SOK POLOS!!" Erina masih membabi buta mengeluarkan sumpah serapah.


"Rin, sadar rin." Kedua sahabatnya berusaha membujuk.


"GIMANA GUE NGGAK IKUT CAMPUR KALAU ELO NGANCURIN MOBIL GUE! DASAR CEWEK BARBAR!!"


"HEH, KALAU NGOMONG MIKIR YA! SIAPA LO? NGGAK USAH NGADI-NGADI DEH! GUE NGGAK KENAL SAMA ELO. NGAPAIN JUGA GUE NGANCURIN MOBIL LO!?"


"WOY CEWEK BARBAR! ELO MABOK? LIAT DONG INI MOBIL SIAPA."


"MOBIL GUSTAV, SI TUKANG SELINGKUH. NGGAK USAH IKUT CAMPUR DEH! INI URUSAN GUE DAN SI TUKANG SELINGKUH ITU!" Erina masih terus meradang.


PLAK!! Kembali pipi mulus Erina menerima tamparan. Pedas, walau tidak sepedas tamparan pertama.


"AN**** LO! BERANI BANGET LO NAMPAR GUE LAGI!"


"HEH CEWEK BARBAR, BUKA MATA LO LEBAR-LEBAR! INI BUKAN MOBIL PACAR LO YANG TUKANG SELINGKUH. INI MOBIL GUE!"


Saat itu sudah semakin ramai para siswa lain menonton adegan keributan tersebut tanpa ada yang berusaha melerai. Bahkan sadisnya ada beberapa siswa yang memvideokan adegan penamparan yang kedua. Ada pula yang memvideokan mobil yang sudah tak karuan bentuknya itu.


Erina yang masih ingin membalas ucapan cowok tersebut, langsung membatalkannya saat mendengar bisikan dari Alexia. Ia pun langsung memperhatikan dengan seksama mobil Range Rover hitam tersebut. Ia berjalan memutari mobil tersebut


OH MY GOD! Erina menepuk keras dahinya


"HEH, CEWEK BARBAR! SUDAH NYADAR LO?!"


"ELO YANG SALAH!" Erina yang sudah kadung malu, dengan egonya yang tinggi masih tak bisa terima kesalahannya.


"LHO, KENAPA JADI GUE YANG SALAH? JELAS-JELAS ELO YANG NGANCURIN MOBIL GUE!"


"SIAPA SURUH ELO PARKIR DISITU?"


"HAH?!" Cowok itu terlihat marah sekaligus bingung mendengar ucapan Erina.


"Rin, sudah Rin. Minta maaf saja," bujuk Raina yang kali ini pipinya sudah basah dengan air mata.


"IYA, INI KESALAHAN ELO! MEMANGNYA ELO NGGAK TAU KALAU ITU PARKIRAN KHUSUS KELUARGA YAYASAN?"


"WAH, ELO BUKAN CUMA BARBAR YA! ELO JUGA GILA DAN HALU!!" Balas cowok itu tak kalah keras.


Sementara itu tampak security datang menghampiri diikuti oleh pak Arga, sang kepala sekolah.


⭐⭐⭐⭐


Penasaran gimana kelanjutannya? Ikutin terus deh di chapter berikut

__ADS_1


Jangan lupa follow penulis, like dan komentarnya ya. Jadikan cerita ini favorit.


__ADS_2