TAKLUK

TAKLUK
PERJODOHAN


__ADS_3

"Aku semakin kagum padamu, Rin." Kagum, bukan cinta. Sadar Rin, jangan berharap terlalu tinggi bila tak ingin jatuh dan sakit, bisik hati Erina.


⭐⭐⭐⭐


Daffa sedang asyik mengerjakan laporan di laptop saat Mira masuk ke dalam ruangannya.


"Mas, bisa temani bunda makan siang?" tanya Mira setelah duduk di sofa yang ada di ruang kerja Daffa.


"Tumben bun. Sama ayah sekalian?"


"Ayahmu ada janji makan siang dengan salah satu tenant. Mungkin mau membicarakan masalah perpanjangan kontrak," jawab Mira.


"Bunda kok rapi banget sih?" tanya Daffa sambil memperhatikan penampilan Mira.


"Memangnya kamu nggak suka melihat bunda rapi seperti hari ini?"


"Bunda mau ketemuan sama seseorang ya?" tebak Daffa.


"Iya, bunda janjian bertemu dengan tante Bintang. Kamu masih ingat dia kan? Itu lho, yang dulu rumahnya di samping rumah lama kita. Dulu kamu suka main dengan Sultan, anak tante Bintang yang paling besar."


"Memangnya tante Bintang sudah kembali ke Indonesia? Bukannya dulu mereka pindah ke Jerman?"


"Baru sebulan yang lalu mereka kembali. Buruan yuk. Bunda janjian jam 12 siang."


"Bun, Daffa lagi banyak kerjaan. Lagipula ini baru jam 11 siang. Belum jamnya istirahat."


"Kamu kan anak pak Irwan. Nggak apalah sekali-sekali melanggar jam istirahat."


"Itu artinya Daffa mengajarkan hal yang nggak baik kepada anak buah."


"Ya sudah, kalau begitu kamu susul bunda di resto Flora. Bunda duluan kesana. Jangan sampai kamu nggak datang."


"Insyaa Allah. Bunda diantar sama pak Tejo aja ya."


"Nggak usah. Bunda biar diantar sama pak Mamat."


"Bukannya pak Mamat mengantar ayah?"


"Tadi ayahmu bawa mobil sendiri. Pulang dari meeting katanya mau ke rumah kakekmu."


"Oke bun, nanti Daffa susul bunda kesana."


⭐⭐⭐⭐


Mira bolak balik menoleh ke arah pintu ruangan VIP. Wajahnya terlihat cemas.

__ADS_1


"Mir, kamu kenapa sih? Kok gelisah banget?"


"Aku lagi nunggu anakku, si Daffa. Katanya mau datang tapi sampai jam segini kok belum sampai juga."


"Sudah coba dihubungi ponselnya?"


"Sudah, tapi dari tadi nggak diangkat.


"Mungkin sedang menyetir."


"Mungkin juga ya. Sorry ya Bintang. Nggak biasanya Daffa telat. Tapi memang tadi dia lagi banyak kerjaan saat aku ke kantornya."


"Santai saja Mir. Aku juga nggak ada janji lain kok."


"Tapi kasian nak Queena, sudah bela-belain datang eh Daffa malah belum datang. Padahal nak Queena juga sedang banyak pekerjaan."


"Nggak papa tante. Pekerjaan sudah Queena serahkan ke asisten," ucap seorang wanita muda cantik yang duduk berhadapan dengan Mira.


Tak lama tampaklah seorang pemuda tampan memasuki ruangan VIP tempat mereka makan siang. Wajah Mira langsung cerah melihat kehadiran Daffa. Namun raut wajahnya berubah kecewa saat dilihatnya seorang wanita berjalan di belakang Daffa. Dan.... tangan mereka bergandengan.


"Selamat siang tante," sapa Daffa pada Bintang. Lalu ia mengangguk pada Queena. "Maaf Daffa terlambat. Tadi sekalian jemput Erina."


"Siang tante." Erina melangkah menuju Mira dan langsung mencium punggung tangannya. Mira yang masih kaget tak sanggup menghindar. Ia biarkan Erina mencium tangannya. Sementara kepada Bintang dan Queena, Erina tersenyum ramah sambil menganggukan kepalanya.


"Bunda kan tadi nggak bilang kalau nggak boleh ajak Erin. Ya jadi Daffa pikir sekalian saja ajak dia. Kebetulan bunda dan Erin kan sudah lama nggak bertemu."


"Maaf ya tante, Erin belum sempat berkunjung ke rumah setelah acara di vila," ucap Erina sambil tersenyum manis. Berusaha menutupi kekecewaannya saat melihat seorang gadis cantik ada disana. Ia sudah dapat menduga inti acara makan siang ini. Perjodohan.


"Daf, kamu masih ingat tante Bintang kan? Nah ini Quuena, putri bungsunya." Mira memperkenalkan Daffa kepada tamunya.


"Selamat siang tante. Ini Queena yang dulu gendut dan cengeng itu? Wah kak Daffa nggak sangka sekarang kamu sudah besar dan cantik," puji Daffa. "Oh iya, Sultan apa kabarnya?"


Queena sangat senang mendengar pujian Daffa. Ia pun tak menyangka cowok tengil yang dulu suka mengganggunya kini berubah menjadi pemuda tampan.


"Sultan nggak ikut balik ke Indonesia. Hatinya sudah tertambat pada gadis Jerman. Makanya tante pulang ke Indonesia supaya Queena berjodoh dengan pemuda Indonesia," jawab Bintang sambil tersenyum penuh arti.


Cih, keliatan banget sih pengen menjodohkan putrinya dengan Daffa, omel Erina dalam hati. Entah telepati apa yang dimiliki oleh Daffa. Ia meremas tangan Erina seolah ingin menghapuskan perasaan kesal Erina yang langsung menoleh ke arah Daffa.


"Wah, ternyata selera Sultan nggak berubah ya. Dari dulu selalu suka bule 100%. Beda dengan saya, yang lebih menyukai blasteran. Iya kan sayang?" Daffa tersenyum mesra pada Erina yang terlihat sedikit terkejut karena dipanggil sayang.


Bintang dan Queena menatap heran pada Mira. Bukankah menurut Mira, Daffa belum memiliki pasangan?


"Queen, kamu mau nggak kakak kenalkan dengan teman-teman kakak yang masih jomblo? Teman kakak banyak lho yang sukses tapi masih jomblo," tawar Daffa.


"Memangnya kamu sudah nggak jomblo, Daf?" tanya Bintang hati-hati.

__ADS_1


"Wah. Daffa mah sudah sold out tante," jawab Daffa sambil terkekeh. "Sudah kepincut sama bule rasa lokal. Oh iya, Daffa lupa mengenalkan. Ini Erina, calon istri Daffa."


Wajah Bintang dan Queena terlihat kecewa. Apalagi saat Daffa mencium mesra tangan Erina.


"Kok bundamu nggak cerita kalau kamu sudah punya calon istri?"


"Mungkin bunda lupa. Soalnya bunda sendiri masih nggak percaya Daffa bisa memilih calon istri seperti Erina. Mungkin bunda pikir Daffa belum bisa move on dari mantan. Padahal begitu ketemu Erina, tujuan hidup Daffa cuma satu. Menikah dengannya."


"Oh begitu. Tante ikut bahagia mendengarnya. Semoga kalian juga bahagia ya." Bintang mengucapkan selamat kepada Daffa. Walaupun hatinya sedikit kecewa pada Mira. Namun ia bisa melihat betapa tulus rasa cinta Daffa pada gadis blasteran yang duduk di sampingnya.


"Tang, ayo kita lanjutkan makan siangnya," ajak Mira pada Bintang.


"Iya tante, ayo kita makan. Maaf ya makan siangnya jadi terlambat karena menunggu kami."


Tak lama Erina terlihat sibuk mengambilkan makanan untuk Daffa. Bahkan ia juga menawarkan pada Mira untuk diambilkan makanan, namun ditolak dengan halus oleh Mira.


Hmm.. ternyata gadis ini bukan gadis biasa. Bahkan Queena yang hendak ia jodohkan dengan Daffa tidak menunjukkan keinginan melayani dirinya. Jangankan mengambilkan makanan untuk Daffa atau Mira, ia malah asyik memilih makanannya sendiri. Ibunya pun tidak ia layani, pikir Mira.


"Tante, weekend nanti Erin main ke rumah ya. Kata Daffa tante jago masak. Boleh ya Erin belajar masak sama tante?" tembak Erina langsung di depan para tamu. Bintang, Queena dan Daffa langsung memperhatikan Mira.


"Ooh... eeeh... tante dengar mama kamu juga jago masak. Kenapa nggak belajar sama dia?"


"Repot tan kalau belajar sama mommy. Kebanyakan teori. Membuat masak jadi ribet. Belum lagi nanti Erin diomelin kalau salah." Mau tak mau Mira tersenyum mendengar jawaban Erina.


"Memangnya kamu nggak bisa masak? Padahal cowok indonesia senangnya cewek yang jago masak lho," sindir Mira.


"Bisa tan, masak air putih." Erina tertawa kecil. "Makanya Erin mau belajar masak sama tante karena tante pasti lebih tau makanan kesukaan Daffa."


Diam-diam hati Mira tersentuh melihat kesungguhan di mata Erina saat mengatakan ingin belajar masak darinya.


"Wah Mir, kamu bakal dapat saingan nih." goda Bintang.


"Bukan saingan tante, tapi partner memasak. Karena selezat apapun masakan Erina, nggak ada yang bisa mengalahkan masakan seorang ibu untuk anaknya. Karena bumbunya adalah cinta dan kasih sayang."


Hati Mira semakin tersentuh mendengarnya. Namun itu tak membuatnya langsung luluh pada gadis blasteran yang duduk di samping Daffa. Mana mungkin aku memiliki menantu macam dia, pikir Mira.


"Mira ini sejak dulu terkenal jago memasak. Walaupun sibuk menjalani pendidikan perawat tapi ia selalu menyempatkan diri memasak. Setelah menjadi perawat juga masih senang memasak. Itu juga yang membuat mas Irwan semakin jatuh cinta pada Mira."


Mira hanya tersenyum mendengar perkataan Bintang yang sangat menyanjungnya.


"Tante Mira dulu perawat? Wah, pantas saja Daffa juga tumbuh menjadi orang yang selalu perhatian pada kesehatan orang lain," puji Erina.


Lagi-lagi Bintang dapat melihat ketulusan di mata Erina. Tadi Daffa, sekarang Erina. Hmm.. sepertinya aku batal menjodohkan Queena dengan Daffa, batinnya. Mana aku tega memisahkan mereka yang sepertinya saling mencintai ini. Sebaiknya Mira kuajak bicara lagi mengenai perjodohan ini.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2