TAKLUK

TAKLUK
DOUBTFUL


__ADS_3

"Apakah ini karena Daffa?" tanya Yuna bingung


⭐⭐⭐⭐


"Kamu selama ini menjalin hubungan dengan Zafran. Hampir dua tahun. Selama itu kamu juga berharap menikah dengannya. Entah kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah dengan Daffa. Apakah kali ini kamu yang selingkuh dengan Daffa?" Yuna menuntut penjelasan.


"Bukan itu masalah utamanya mom, dad."


"Coba kamu ceritakan apa penyebab kamu menolak lamaran Zafran," ucap Andrew.


"Itu karena Zafran ingin menjadikan Erin istri kedua."


"APA?!" Bukan hanya Andrew dan Yuna yang terkejut. Daffa pun demikian.


Kini semuanya menatap Zafran menuntut penjelasan. Terlebih Yuna yang selama ini tidak mengerti duduk perkara sebenarnya. Andrew sedikit-sedikit bisa mengerti mengapa Erina tidak jadi menikah dengan Zafran. Tapi ia pun tak menyangka Zafran ingin menjadikan Erina istri kedua. Itu artinya Zafran sudah memiliki calon istri.


"Kamu mau menjadikan anak saya istri kedu?" tanya Andrew marah. Ia tak bisa menerima putri kesayangannya hanya dijadikan istri kedua.


"Saya hanya mencintai Erin. Saya tidak mencintai wanita yang akan menjadi istri saya. Wanita itu pilihan keluarga, lebih tepatnya pilihan ummi."


"Kenapa ummi kamu lebih memilih wanita itu?" Yuna menuntut penjelasan. "Saya yakin bukan masalah kecantikan."


"Mereka telah dijodohkan sejak kecil, mom."


"Dari mana kamu tahu?" tanya Zafran heran.


"Zulfa yang memberitahuku secara langsung saat dia mengajakku bertemu secara pribadi."


"Tapi aku tidak mencintai dia, Rin. Harus berapa kali aku mengatakan ini padamu. AKU HANYA CINTA KAMU," tegas Zafran. Hati Erina bergetar mendengar hal tersebut. Ia tak mengingkari masih memiliki sedikit rasa kepada Zafran.


"Kamu memang tidak mencintai dia. Tapi kamu sangat mencintai ummi. Dan aku tak ingin mengalahkan hal tersebut. Terlebih lagi ummi kamu sudah dengan jelas mengatakan di depan orang banyak bahwa dia tak sudi memiliki menantu seperti diriku." Erina mengatakan hal tersebut dengan suara tegas. "Aku ini hanya seorang wanita liar di mata ummi."


Sebenarnya Erina merasa ragu mengatakan hal tersebut. Ia tak ingin kedua orang tuanya terluka karena anak semata wayangnya disebut perempuan liar. Namun ia tetap mengatakan hal tersebut, karena hanya itu yang bisa membuatnya perlahan menghapus perasaannya terhadap Zafran.


"APA?! ANAKKU DISEBUT WANITA LIAR?!" Suara Andrew terdengar menggelegar penuh kemarahan. Hal yang tak pernah Erina lihat sepanjang hidupnya.


"KAMU, SEKARANG JUGA KELUAR DARI RUMAH INI. DAN PERLU KAMU INGAT SAMPAI KAPANPUN SAYA TIDAK AKAN MENGIJINKAN KAMU MENIKAHI ANAK SAYA. WALAUPUN NANTI KAMU BERCERAI DENGAN ISTRIMU." Andrew mengusir Zafran dengan wajah marah.


"Tapi om, saya hanya ingin menikah dengan Erin. Tolong ijinkan saya menikahi dia. Saya akan batalkan pernikahan itu."


"Anda tidak dengar apa kata om Andrew. Silahkan keluar dari rumah ini."


Daffa menarik Zafran keluar rumah. Namun Zafran menolak dan melayangkan bogem mentah ke wajah Daffa. Akibatnya Daffa yang tidak siap terhuyung dan jatuh terjengkang. Yuna dan Erina menjerit kaget melihat kejadian tersebut.

__ADS_1


Zafran sudah hampir memukuli Daffa yang masih berusaha berdiri, tapi tiba-tiba.... BUGH!! Sebuah tendangan mendarat di bokongnya hingga membuat Zafran tersungkur. Hampir saja Erina memukuli Zafran bila tidak dilerai oleh security rumahnya.


"PERGI LO DARI SINI PENGECUT!! GUE NGGAK SUDI LIHAT MUKA LO LAGI! JANGAN BERANI-BERANI ELO MUNCUL DI SEKITAR GUE ATAU MENCOBA MENGHUBUNGI GUE! NGERTI LO?!" Ancam Erina.


Sebelum menjadi bulan-bulanan Erina, Zafran ditarik keluar oleh dua orang security dan diantarkan hingga mobilnya meninggalkan halaman rumah Andrew.


"Daf, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Erina khawatir. Dilihatnya sudut bibir Daffa berdarah. "Bibir kamu berdarah."


"I'm okay," Daffa berjalan menuju sofa. "Aku lupa kalau kamu karateka."


"Seharusnya kamu tidak usah ikut campur," tegur Erina. "Aku bisa menghadapi dia."


"Om pun kadang lupa kalau Erin pemegang sabuk hitam." Andrew tertawa kecil. "Thanks Daffa, kamu sudah mencoba membantu Erina."


"Ah, saya tidak melakukan apapun om." Daffa terlihat malu. "Malah saya yang ditolongin Erin."


"Ya sudah om dan tante masuk kamar dulu. Kalian lanjutkan ngobrolnya sekalian Erin mengobati lukamu."


"Ah, cuma luka kecil kok om."


"Biar kecil tetap harus diobati, Daf. Kamu tunggu disini. Aku ambil kotak obatnya"


Tak lama Erina membawa kotak obat. Daffa terlihat duduk sambil menyandarkan kepalanya di sofa. Salah satu lengannya diletakkan di atas dahinya. Kedua orang tua Erina sudah masuk kamar.


"Ah aku nggak apa-apa. Cuma luka kecil. Kamu nggak usah khawatir."


"Apakah kepalamu tadi terbentur?" Erina memeriksa kepala dan tangan Daffa.


"Rin, aku nggak apa-apa. Percaya sama aku."


"Tapi wajah kamu agak pucat."


"Mungkin aku sedikit shock."


"Mau kupanggilkan dokter?"


"Nggak usah. Biarkan aku istirahat sebentar biar lebih tenang."


"Kamu sanggup menyetir pulang? Kalau tidak sanggup, kamu menginap saja. Itu banyak kamar kosong."


"Menginap disini? Jangan-jangan besok orang tuaku langsung mengajak kita ke KUA." Daffa berusaha membuat lelucon.


"Huuu.. Emangnya kita mau ngapain? Lagipula aku kan nggak menyuruh kamu tidur di kamarku."

__ADS_1


"Setan ada dimana-mana Rin. Kalau sampai aku khilaf gimana? Jangan-jangan nanti aku bernasib sama dengan mantanmu itu. Ouch.. pelan-pelan Rin."


"Kamu sih kalau ngomong sembarangan." omel Erina sambil mengobati luka di sudut bibir Daffa.


Wajah keduanya sangat dekat. Bahkan Daffa bisa mencium wangi parfum yang dipakai Erina. Manis dan segar disaat bersamaan. Keduanya terdiam. Daffa sibuk memperhatikan wajah mulus Erina yang begitu dekat dengannya. Bibir Erina yang setengah terbuka saat fokus mengobati luka, membuat Daffa merasakan desiran halus di dadanya.


"Sudah." Saat itulah Erina menyadari betapa posisi wajah mereka sangat dekat. Bahkan Erina dapat merasakan hembusan hangat nafas Daffa di pipinya.


"May I?" bisik Daffa. Tangannya mengelus pipi Erina. Entah setan mana yang menyenggol Erina, ia mengangguk bahkan memejamkan matanya. OMG dia mau cium gue, batin Erina.


Tak lama kecupan hangat mendarat di pipi Erina. Hanya kecupan di pipi tak lebih.


"Ngapain kamu memejamkan mata? Berharap aku mencium bibirmu?" bisik Daffa dengan nada menggoda.


"Ih, apaan sih." Erina mendorong dada Daffa agar menjauh. Daffa malah tertawa dan menarik tubuh Erina sehingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Daf."


"Sebentar saja Rin bersandarlah di dadaku. Aku tahu dari tadi kamu menahan emosimu." bisik Daffa sambil mengecup puncak kepala Erina. "Ada aku disini untukmu."


"Kenapa kamu begitu baik padaku? Padahal kamu sudah lihat sendiri bagaimana kasarnya diriku tadi. Kamu juga sudah tahu kenapa Zafran tidak bisa menikahiku. Apakah kamu akan tetap mengenalkanku pada keluargamu?" tanya Erina sambil bersandar nyaman di dada Daffa.


Kali ini Erina tak ingin menghindar. Ia benar-benar membutuhkan tempat bersandar dan melepaskan semua permasalahan dalam hidupnya. Entah mengapa Erina merasa memang disitulah tempat yang pas untuknya.


"Aku tak bisa membayangkan bagaimana beratnya kamu menghadapi ini semua dan mencoba menunjukkan ketegaranmu pada dunia."


"Aku tidak selalu tegar, Daf. Bahkan ada saatnya aku ingin mati saja."


"Rin..."


"Tidak selamanya aku kuat menghadapi perselingkuhan demi perselingkuhan yang dilakukan oleh para mantanku. Bahkan aku pernah memaki tuhan yang kuanggap tak adil padaku. Kenapa harus selalu aku yang mengalami hal ini? Kenapa aku tak bisa bahagia seperti pasangan kekasih lainnya."


"Biasanya apa yang kamu lakukan?"


"Selama ini aku melarikan diri ke minuman dan bekerja lebih keras dari biasanya. Selama ini Ardian serta kedua sahabatku Alexia dan Raina yang menemaniku." Entah mengapa kali ini dengan mudahnya Erina menceritakan semuanya pada Daffa.


Mendengar cerita Erina membuat hati Daffa terasa sakit. Baru sebentar mereka dekat, namun Daffa bisa merasakan kepedihan yang dialami oleh Erina.


"Bagaimana dengan kasus Zafran? Apakah kamu melakukan hal yang sama?" Erina mengangguk lalu menundukkan kepalanya. Ia merasa tak sanggup menatap mata Daffa yang diyakininya pasti menghakiminya.


"Daf, aku semakin ragu untuk bertemu dengan keluargamu. Dari pengalamanku hari ini, aku semakin yakin aku memang bukan calon menantu yang diidamkan para orang tua. Sepertinya kita hentikan rencana kita untuk berkencan. Kamu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku."


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2