TAKLUK

TAKLUK
RENCANA PERNIKAHAN


__ADS_3

"Sayang, kita harus bicara pada Erin," ujar Andrew pada Yuna yang setia menemaninya.


"Nanti dulu, tunggu kondisimu membaik."


"I have to tell her about my condition. Aku takut umurku tak lama lagi."


"Please, jangan bicara seperti itu. Kamu pria tersehat yang pernah aku temui. Bahkan Ardian yang masih muda saja sulit melawanmu bila kalian sparing."


"Ardian sengaja mengalah bila sparing denganku. Sama seperti saat dia sparing dengan Erina." Andrew terkekeh.


"Dear, apakah ada yang kamu khawatirkan mengenai perusahaan?" tanya Yuna hati-hati.


"Why do you ask that?"


"Tadi Henry datang menjenguk saat kamu tidur siang. Tolong jangan marahi dia, aku yang bertanya padanya, karena aku penasaran kenapa kamu tiba-tiba pingsan."


"Nothing serious. I don't want to make you and Erin worried. You have your own problem."


"Sayang, aku menikah denganmu bukan semata karena ketampanan atau hartamu. Tapi aku menikahimu karena aku mencintaimu dan siap menjalani kehidupan ini bersamamu. Termasuk bila ada masalah dalam hidup kita, seperti saat ini."


"I know that. Tapi aku nggak mau menambah masalah dalam hidupmu. Permasalahan Erin saja sudah cukup membuatmu tersiksa," ucap Andrew sambil mencium punggung tangan Yuna.


"Jangan khawatir, aku juga kuat sama seperti Erin."


"I knew that. You're one of the strong woman I've ever met. That's why I loved you, always and forever."


"Please, share your problem with me. Okay?" Mereka berdua berpelukan.


"Maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu," bisik Andrew sambil mencium kening Yuna. "Maaf bila hidup bersamaku lebih banyak masalah daripada kebahagiaan."


"Don't say that. Memiliki kalian dalam hidupku dan bisa berada di sisimu dan Erin hingga saat ini adalah kebahagiaan terbesarku. Masih ingat janji yang dulu pernah kita buat saat menikah?" Andrew mengangguk. "Kita akan selalu bersama dalam suka dan duka, susah dan senang."


"Thank you for always being here with me."


Tak lama datang kedua orang tua Ardian.


"Mister Andrew apa kabar? Bagaimana kondisi anda saat ini?" tanya Arga setelah menyalami Andrew.


"Ya, anda lihat sendiri pak Arga. Tadinya saya pikir dengan rajin berolahraga saja bisa membuat saya sehat. Ternyata saya salah." Andrew terkekeh. "Tuhan sedang menyuruh saya beristirahat. Selama ini saya egois terhadap diri sendiri. Yang ada di pikiran saya hanya bekerja."


"Sebagai seorang kepala rumah tangga wajar kalau pikiran kita lebih banyak ke pekerjaan. Karena memang itu yang harus kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang kita sayangi," ujar Arga. "Terkadang kita lupa bahwa orang-orang yang kita sayangi bukan hanya butuh materi, tapi juga perhatian dan waktu kita."

__ADS_1


"Ada benar sekali pak Arga. Itu juga yang sering saya ingatkan pada suami saya. Tapi dasar bule, ingatnya cuma kerja kerja dan kerja. Padahal dulu saya pikir orang bule lebih romantis daripada orang lokal. Eh, taunya zonk."


Yang lain tertawa mendengar ucapan Yuna. Sementara itu Andrew hanya bisa nyengir.


"Mister Andrew, ada yang mau saya bicarakan mengenai anak-anak kita."


"Ah, rupanya kita memiliki pemikiran yang sama. Saya juga ingin membicarakan hal tersebut. Dengan sakitnya saya seperti saat ini, saya berpikir untuk segera menikahkan anak-anak kita. Terus terang, saya khawatir usia saya tidak panjang."


"Hush, kamu jangan memiliki pikiran seperti itu," protes Yuna. "Berpikirlah yang positif. Memang umur itu rahasia Allah, tapi jangan lantas hilang semangat."


"Betul apa kata jeng Yuna, umur itu rahasia Allah. Jadi jangan putus asa walau kita sedang sakit," timpal Amel. "Yang sakit belum tentu dapat giliran lebih dulu dari yang sehat."


"Kalau begitu, setelah mister Andrew sehat dan keluar dari rumah sakit kita adakan pertemuan untuk membahas pernikahan anak-anak kita. Bagaimana sayang?" tanya Arga pada Amel.


"Aku setuju, mas. Kita harus segera menikahkan mereka. Aku nggak mau perut Erina keburu membesar."


"Saya juga setuju pak Arga. Nanti setelah suami saya sembuh kita adakan pertemuan," ujar Yuna semangat. "Saya khawatir kalau perut Erin semakin membulat maka akan jadi pembicaraan yang kurang enak di kalangan keluarga kita."


"I don't agree!" seru Andrew tiba-tiba.


"Honey, what do you mean? Kamu nggak setuju mereka menikah? Bukankah tadi kamu sendiri yang ingin segera bicara dengan Erin? Pasti kamu mau membicarakan pernikahan Erin dengan Ardian kan? Atau... kamu tetap ingin menikahkan anak kita dengan putra keluarga Hermawanto?" tanya Yuna kaget. "Bukankan kamu sudah setuju menikahkan Erin dengan Ardian?"


"Mister Andrew, kenapa anda berubah pikiran?" tanya Arga heran.


"Keputusan menikahkan Erina dengan Daffa? Apakah karena kondisi perusahaan saat ini makanya kamu tetap ingin menikahkan mereka?" tanya Yuna bingung.


"Ada apa dengan perusahaan kalian?" tanya Arga.


"Nothing serious pak Arga," jawab Andrew cepat.


"Bagaimana bisa kamu bilang kondisi perusahaan kita baik-baik saja? Keluarga Hermawanto batal memakai perusahaan kami dalam proyek-proyek mereka. Hal ini menyebabkan para subcont marah dan menuntut ganti rugi yang tak sedikit," papar Yuna dengan wajah kesal.


"Please, listen to me! I don't change my mind about our children," ujar Andrew kesal. "Yang kumaksud adalah I don't agree if we hold the discussion about their marriage just because my healthy."


"Maksud mister Andrew?" Amel dan Arga bertanya bersamaan dengan wajah bingung. "Tolong anda jelaskan."


"Kenapa harus menunggu saya keluar dari rumah sakit kalau kita bisa bicarakan sekarang?" tanya Andrew sambil tersenyum.


"Sekarang?" Amel balik bertanya. Andrew mengangguk.


"Iya sekarang."

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kondisimu, sayang? Apakah kamu merasa baik-baik saja?" tanya Yuna khawatir.


"Just like you said before, I'm the healthiest man you've ever know. Right?"


"Baiklah kalau itu yang anda inginkan. Kami tidak keberatan sama sekali mister Andrew. Bukan begitu sayang?"


Akhirnya mereka berempat mengadakan rapat mendadak mengenai pernikahan Erina dan Ardian.


"Tapi bagaimana kalau Erin bersikeras menolak?" tanya Yuna. Ia terlihat cemas. Demikian pula halnya dengan Amel.


"Tenang saja, serahkan pada kami," ujar Arga yakin. Andrew tersenyum menyetujui ucapan Arga. "Biarkan kami para ayah yang mengatur."


⭐⭐⭐⭐


"Di, lo dimana?" tanya Raina melalui ponsel.


"Gue di kantor. Lagi siap-siap mau pulang."


"Tumben pulang cepat."


"Hehehe... ada yang nungguin."


"Oh ya, siapa?"


"Erin."


"Apa lo bilang? Erin nungguin elo? Gue nggak salah dengar kan?" tanya Raina tak percaya. "Kalian sudah baikan? Sejak kapan? Kok kalian nggak cerita sama gue"


"Kita belum baikan. Cuma gue dapat amanah jagain bumil dan mengantar dia ke dokter kandungan. Uncle Andrew masuk rumah sakit."


"Oh iya, kemarin mas Henry cerita kalau uncle Andrew pingsan di kantor. Gue pikir cuma pingsan biasa."


"Gue juga belum tau gimana kondisinya karena gue belum jenguk ke rumah sakit. Aunty Yuna berpesan kalau Erin nggak boleh kemana-mana kecuali ke dokter kandungan."


"Jadi malam ini elo mau antar Erin ke dokter? Jadi periksa di dokter Hilman kan?"


"Nggak ke dokter Hilman. Starla merekomendasikan dokter Ziva."


"Pulang dari klinik, kita ketemuan yuk. Kebetulan gue dan mas Henry mau makan malam."


"Oke. See you later, Rai."

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2