TAKLUK

TAKLUK
NGIDAM


__ADS_3

"Rin, kita pulang ke rumah gue aja ya?" ajak Ardian.


"Nggak mau!"


"Biar gue nggak bolak balik dan elo ada yang jagain kalau gue pergi kerja. Ada mama Amel yang bisa jagain elo," bujuk Ardian lagi.


"Elo drop gue depan rumah. Habis itu elo pulang aja ke rumah lo sendiri. Gue nggak ditemenin juga nggak apa-apa. Gue bukan cewek lemah yang harus selalu diurusin," sahut Erina ketus.


"Gue tahu elo cewek tangguh. Tapi sekarang ini elo kan lagi hamil. Kondisi lo pasti akan berbeda dengan saat elo nggak hamil."


"Ya pasti bedalah."


Ardian menghela nafas kesal karena sifat keras kepala Erina. Ya tuhan, gimana sih caranya biar nih cewek bisa nurut sedikit aja, batin Ardian. Apakah gue sanggup menaklukan sikap keras kepala Erin? Apakah gue sanggup menghadapi itu semua seumur hidup gue?


"Justru karena itu, gue nggak mau elo sendirian di rumah."


"Gue nggak sendirian. Ada bi Imas, ada mbok Siti juga."


"Ya ampun Rin, susah banget sih dibilangin," keluh Ardian kesal. "Gimana kalau malam-malam elo pengen sesuatu? Masa elo mau nyuruh bi Imas atau mbok Siti. Kasihan mereka."


"Iissh... lebay amat sih. Nggak segitunya juga kali. Lagipula gue sudah nggak mual dan muntah. Pusing juga cuma sesekali doang. Tadi dokter Ziva kan juga sudah kasih vitamin dan obat."


Ardian menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Mencoba menenangkan hatinya yang gelisah. Ia tak mau meninggalkan Erina sendirian di rumahnya. Namun ia juga agak repot karena besok pagi ada meeting.


"Okay, gue antar elo pulang. Please, jangan lupa minum susu dan vitaminnya. Kalau ada apa-apa telpon gue. Besok jam istirahat gue mampir ke rumah."


"Iya, iya. Cerewet!"


⭐⭐⭐⭐


"Lho, Erinanya mana? Katanya mau diajak kesini?" tanya Amel saat Ardian sampai di rumah.


"Dia nggak mau ikut."


"Kenapa kamu nggak nginap disana?"


"Dia nggak mau ditemenin. Mama tau kan gimana sifat Erin." jawab Ardian sambil duduk di sofa di samping Amel.


"Lalu kamu tinggalin dia begitu saja di rumahnya?"


"Ada bi Imas dan mbok Siti yang menemani Erin, Ma. Dia sendiri yang bilang kalau dia bukan gadis lemah yang harus selalu ditemani."


"Kamu yakin mau menikahi gadis itu? Kamu tahu sendiri kan gimana sifatnya. Dan sekali kamu menikah dengannya maka itu adalah ikatan seumur hidup. Tidak ada cerita pernikahan itu bubar di tengah jalan," ucap Arga yang baru keluar dari kamar.


"Justru itu yang membuat Ardi nggak bisa ke lain hati. Ardi berkali-kali pacaran dengan gadis lain, tapi pada akhirnya selalu membandingkan dengan Erin. Justru sifat Erin yang menyebalkan itu yang membuat Ardi jatuh cinta sama dia. Erin itu melengkapi hidup Ardi."


"Ya ampuuun.. mama nggak nyangka kamu bisa sebucin ini sama Erin." Amel mengacak rambut Ardian. "Kalau kamu nanti menjadi suami Erin, kamu harus sabar tapi juga harus bisa tegas. Biar bagaimanapun nantinya kamulah kepala rumah tangga. Kamu harus bisa mengajarkan Erin dan anak-anak kalian kelak."


"Iya ma. Ardi mohon bimbingan mama dan papa ya. Ardi ingin pernikahan seperti kalian, yang saling menyayangi dan pengertian."

__ADS_1


"Oh iya, Di. Setelah mister Andrew keluar dari rumah sakit, kalian akan segera menikah. Kami sudah mengambil keputusan mengenai hal ini."


"Yang benar pa?"


"Cieee... segitu bahagianya yang mau menikah dengan sahabat tercinta," goda Amel.


"Iya dong ma. Sekarang tujuan hidup Ardian semakin jelas. Membahagiakan kalian dan istri serta anak-anak kami." ucap Ardian dengan perasaan bahagia.


"Papa dan mama akan bahagia kalau kalian bahagia. Hidup kami akan penuh warna dengan kehadiran anak, menantu dan cucu-cucu. Papa harap kamu bisa menjadi kepala keluarga yang baik."


"Eh, tapi kamu nggak ada unfinished business dengan para mantan kan?" tanya Amel tiba-tiba. "Mama nggak mau tiba-tiba ada cewek yang datang ke rumah menuntut pertanggungjawabanmu."


"Nggaklah ma. Satu-satunya gadis yang pernah Ardi tiduri ya cuma Erina. Itupun karena Ardi khilaf," jawab Ardian sambil menunduk.


"Syukurlah kalau memang semua urusanmu dengan para mantan sudah selesai. Mulai besok kamu persiapkan segala dokumen yang dibutuhkan ya." ucap Arga.


"Oh iya Di, bukannya tadi kalian pergi ke klinik? Bagaimana kondisi menantu dan cucu mama?" tanya Amel excited.


"Ciee mama, nggak sabar banget ya punya menantu dan cucu. Belum sah, belum jadi menantu. Bisa aja Erin menolak."


"Kali ini mama papa yakin Erin nggak akan menolak menikah sama kamu," ucap Arga yakin sambil tersenyum tipis.


"Kok bisa?" Arga dan Amel tak menjawab pertanyaan Ardian.


"Jadi gimana kabar cucu mama?" Amel langsung mengalihkan pembicaraan.


"Cucu-cucu mama lebih tepatnya," sahut Ardian sambil tersenyum lebar.


"Serius Di?" tanya Arga tak percaya. Kembali Ardian mengangguk.


"Alhamdulillah. Walaupun diawali dengan sebuah kesalahan, papa bersyukur akan mendapat dua cucu dari kalian. Papa sangat bahagia mendengarnya. Bukan begitu ma?"


Bukannya menjawab Amel malah menangis. Tentu saja hal itu membuat Arga dan Ardian bingung.


"Mama kenapa menangis? Mama nggak suka punya cucu kembar?"


"Bukan itu, Di. Mama sangat bahagia mendengarnya. Air mata ini adalah air mata kebahagiaan. Sejak Gustav dan Starla menikah, mama sangat mengharapkan kehadiran cucu, namun ternyata mereka belum diberi oleh Allah. Giliran kamu yang nyolong start, malah langsung dapat dua." Amel menepuk-nepuk bahu Ardian. "Anak mama sudah menjadi calon bapak."


"Iya dong ma. Doain supaya Ardi bisa menjadi suami dan bapak yang baik untuk anak-anak kami."


Baru saja Ardian selesai bicara, tiba-tiba ponselnya berdering. Ringtone khusus Erina. Langsung saja Ardian memencet icon hijau di layar ponselnya.


"Assalaamu'alaykum."


"................"


"Dari kapan bi?"


"..............."

__ADS_1


"Coba, mana non Erin. Biar saya bicara sama dia."


".............."


"Elo kenapa Rin? Muntah-muntah lagi? Obatnya sudah diminum? Sudah makan?"


" ............. "


"Jangan marahin mbok Siti dan bi Imas. Mereka nggak salah."


"............."


"Gue yang berpesan pada mereka untuk menghubungiku kalau elo kenapa-napa."


"............."


"Ya sudah elo mau makan apa? Biar gue beliin?"


"............."


"Ya nggak mungkin dong mereka yang nyariin. Mereka kan nggak ada yang bisa nyetir. Supir kalian juga malam ini lagi pulang. Sudah, biar gue aja yang cariin."


".............."


"Sudah elo nggak usah ngomel lagi. Tunggu aja gue datang."


"Kenapa Di?"


"Tadi bi Imas kasih tau kalau Erin nggak mau makan karena mual dan muntah-muntah lagi. Padahal sudah minum obat yang dari dokter. Tadi pas ketemuan dengan Raina dan Alexia dia juga cuma makan sedikit. Minta beliin sushi cuma makan dua potong."


"Lalu sekarang kondisinya gimana?"


"Lagi dibujuk supaya mau makan. Tadi dia bilang mau nyuruh mbok Siti beli seblak yang dekat kantor Erin. Tuh anak ada-ada aja deh. Masa malam-malam begini pengen makan seblak," gerutu Ardian.


"Itu namanya ngidam, Di." ucap Amel sambil terkekeh.


"Jadi kamu yang mau beliin?" tanya Arga sambil menahan tawa. "Wah hebat, anak papa jadi suami siaga."


"Papa kok malah ngeledek Ardi sih?" Lepaslah tawa yang sedari tadi Arga tahan.


"Selamat menikmati menjadi calon ayah ya nak. Semoga kamu bisa sabar. Semangat," ucap Arga setelah tawanya reda.


"Ya sudah, sana kamu beliin dulu apa yang Erin minta. Keburu malam keburu tutup." ucap Amel sambil tersenyum lebar.


"Ardi mau siapin baju buat meeting besok di Bandung. Besok pagi jam 6 Ardi harus ke Bandung." Ardian terlihat bingung.


"Besok ba'da subuh mama suruh supir antar perlengkapan kamu."


"Oke. Ardian pergi dulu ya ma, pa."

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2