TAKLUK

TAKLUK
HORMON BUMIL


__ADS_3

Ardian sedang asyik membaca laporan saat Erina masuk ke ruang kerjanya. Erina langsung duduk di atas pangkuan Ardian.


"Yang,"


"Hmm..." Ardian mencium sekilas bibir Erina, lalu kembali asyik dengan pekerjaannya.


"Sayang."


"Apa sayang?"


"Hmm.. lagi sibuk nggak?"


"Lumayan. Kenapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Ardian, Erina malah mengambil kertas yang sedang dibaca Ardian dan membuangnya sembarangan.


"Rin, kenapa dibuang? Itu kan lap...."


Ardian tak sempat meneruskan ucapannya karena bibirnya keburu disambar oleh sang istri. Tak hanya sampai situ, tangan Erina bergerak melepas kancing kemeja Ardian. Dalam waktu sekejap Erina berhasil melepas kemeja tersebut.


"Whooaa... stop, stop sayang!" Ardian melepaskan tautan bibir mereka. Tangannya menahan tangan Erina yang hendak melepas blusnya.


"Kenapa Di?" tanya Erina dengan nafas memburu. Matanya dipenuhi kabut gairah.


"I-ini di kantor sayang. Bagaimana kalau ada yang masuk saat kita... "


"Aku sudah bilang pada asistenmu untuk mencegah siapapun yang mau masuk ke ruangan ini," jawab Erina sambil melepaskan tangannya yang ditahan oleh Ardian.


"Bagaimana kalau papa atau mama yang mau masuk? Atau daddy?"


"Sama saja. Tak seorangpun boleh masuk sampai kuperbolehkan." Kini blus Erina telah terbuka. Ardian hanya mampu meneguk ludah kasar. Gairahnya mulai bangkit.


"Sayang...."


"Ayolah pipi. Ini kemauan bayi kita," bisik Erina menggoda. Lagi-lagi mata Ardian terpaku pada dada Erina.


"Jadi kamu ngidam ingin melakukan ini di kantorku?" Erina mengangguk sambil tersenyum. Mulutnya dimonyong-monyongkan supaya tampak seksi.


"Aku pernah baca di sebuah buku tentang bos yang 'bermain' dengan stafnya di kantor. Sepertinya menantang dan sangat menggairahkan." Suara Erina benar-benar semakin menggugah gairah Ardian.


"Baiklah."


Tanpa banyak bicara lagi, Ardian meladeni keinginan Erina. Dan rupanya hormon ibu hamil benar-benar luar biasa. Kalau selama ini Ardian banyak memimpin saat mereka bercinta, kali ini Ardian yang mengikuti keinginan sang istri. Setelah beberapa lama akhirnya keduanya terkapar di atas sofa.

__ADS_1


"Sayang."


"Hmm.. kenapa my queen?" jawab Ardian dengan suara mengantuk.


"Ruangan ini ada CCTVnya?"


"Iya, kenapa? Ya Tuhaaaaan! Gawat!" Ardian langsung terduduk sambil meneput keningnya. "Kenapa aku bisa lupa."


"Hmm.. bagaimana kalau kita beri mereka pertunjukan lagi?" ajak Erina sambil mengerling ke arah kamera CCTV yang ada di ruangan tersebut.


"Kamu gila?" tanya Ardian tak percaya.


"Why not. YOLO. You Only Life Once. Lagipula kita pasangan halal, bukan pasangan selingkuh." balas Erina.


Tanpa menunggu jawaban persetujuan dari Ardian, Erina kembali memimpin pertempuran siang hari itu. Ardian tak bisa menolak keinginan ibu hamil. Bahkan ia kegirangan di tengah kesibukan pekerjaannya diajak melepas penat dengan cara yang sangat nikmat. Bahkan pertempuran kali ini lebih panas daripada yang pertama. Erina benar-benar totalitas dalam pertempuran yang kedua. Hingga akhirnya keduanya terbaring dengan nafas memburu. Keringat membasahi tubuh keduanya.


"Sayang."


"Hmm.. biarkan aku istirahat. Beri aku waktu satu jam kalau kamu ingin bertempur lagi." Ardian memeluk erat Erina.


"No hubby, it's enough for me. Thanks. By the way, mommy dan daddy pernah nggak ya bercinta disini?" tanya Erina absurd.


"Pikiranmu aneh-aneh saja."


"Ya tuhan, sekarang sudah jam 2. Gara-gara kamu, aku pasti dimarahin klien." Ardian langsung bangkit dan memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai. Lalu ia buru-buru masuk ke kamar mandi.


"Yaaang, mau aku temani mandi nggak?" goda Erina.


"Jangaaan!" balas Ardian. "Kalau kamu ikut mandi, jangan-jangan aku batal bertemu klien."


Erina tertawa mendengar jawaban Ardian. Lalu ia mengambil pakaian yang tadi sudah dikumpulkan Ardian. Ia memakai kemeja Ardian. Setelah itu Erina menuju sebuah lemari dan menyiapkan pakaian untuk Ardian. Pakaian yang sengaja ia siapkan karena biasanya menjelang dateline Ardian suka menginap di kantor.


Sementara itu di luar ruangan, Kevin sang asisten terlihat gelisah. Bagaimana tidak gelisah kalau dari tempatnya duduk ia masih bisa mendengar suara-suara ******* dari dalam ruangan si bos. Yaelah bos, kenapa sih nggak pasang peredam suara. Kalau kayak gini kan aku yang pusing.


Ia benar-benar tak menyangka istri bosnya akan melakukan hal itu di ruangan. Ia pikir mereka hanya sekedar bercumbu. Tak taunya ....


FLASHBACK ON


Telpon di meja kerja Kevin berbunyi. Tanpa menunggu lama, Kevin langsung mengangkatnya karena ia tahu telpon itu berasal dari ruangan istri bos.


"Selamat siang bu Erin."

__ADS_1


"Vin, pak Ardian siang ini ada janji bertemu klien?"


"Iya bu. Nanti jam 3 pak Ardian akan bertemu klien dari PT Global Angkasa."


"Saya mau ke ruangan pak Ardian dan tolong larang semua orang masuk ke sana sampai saya keluar dari sana."


"Oh, baik bu. Tapi kalau seandainya pak Henry atau pak Erwin yang ingin bertemu bagaimana bu?"


"Dengar kata-kata saya. TAK SEORANG PUN BOLEH MASUK sebelum saya keluar dari ruangan. Paham?!" nada suara Erina menunjukkan ia tak ingin dibantah.


"Ba-baik bu."


Tak sampai sepuluh menit setelah telpon tersebut Erina sudah muncul di depan meja Kevin.


"Pak Ardian di dalam sendirian kan?"


"I-iya bu."


"Perintahkan ruang kontrol untuk mematikan CCTV di ruang pak Ardian."


"Dimatikan bu?"


"Iya. Kenapa?"


"Oh, nggak apa-apa bu. Nanti kalau mereka tanya saya harus bilang apa?" tanya Kevin bingung.


"Bilang saja saya dan bos kamu butuh privacy. Just simple as that."


"Privacy?"


"Iya. Apa perlu saya jelaskan secara detil apa yang akan kami lakukan di dalam?" tanya Erina sambil tersenyum. Melihat senyuman Erina, wajah Kevin memerah. Ia bisa menebak apa yang akan Erina dan bosnya lakukan.


"Nggak perlu dijelaskan bu. Kalau begitu silahkan ibu masuk ke dalam. Saya ijin ke ruangan HRD."


"Jangan. Kamu jaga di depan sini. Saya nggak mau ada orang yang mengetuk pintu ini. Mengganggu."


"Apa?! Saya harus di sini?"


"Iya. Kenapa? Keberatan?"


"Eeeeng... nggak bu."

__ADS_1


FLASHBACK OFF


__ADS_2