
Erina sedang bersiap-siap, menunggu Daffa menjemputnya. Tadi siang Haris, asisten Daffa memberitahu kalau malam ini Daffa akan menjemput dan mengajaknya makan malam. Memang sejak Daffa sembuh, Erina belum pernah bertemu langsung dengannya. Mereka hanya berkomunikasi melalui telpon.
Berbagai perasaan berkecamuk di dada Erina. Kangen, bingung, marah, kecewa, sedih. Erina mencoba mencerna hasil pertemuannya tadi siang.
Setelah pertemuan itu Erina diantar pulang oleh Ardian. Ia tak memiliki keinginan kembali ke kantor. Tadi ia sudah mendelegasikan pekerjaannya kepada Luna.
"Ingat Rin, jangan gegabah mengambil keputusan." Ardian kembali mengingatkan.
"Bukannya elo senang kalau hubungan gue dan Daffa kandas?" Pertanyaan Erina terdengar sarkas.
"Gue akuin, mungkin gue orang pertama yang akan mendaftar sebagai pengganti Daffa. Tapi sebagai sahabat, gue juga nggak mau kalau elo nggak bahagia. Gue benci banget liat elo sedih dan terpuruk. Gue masih trauma dengan kejadian dulu waktu elo putus dengan Pras. Gue takut elo melakukan kebodohan itu lagi."
Erina terdiam mendengar ucapan Ardian. Apa yang harus kulakukan kalau nanti Daffa mengakui hal tersebut? Bisakah aku menerimanya? Atau haruskah percintaanku kembali kandas? Apakah tuhan sedang menghukumku?
"Jujur, gue nggak rela kalau elo menjadi milik orang lain. Tapi buat gue itu masih lebih baik daripada gue kehilangan elo."
"Apa bedanya? Elo tetap kehilangan gue seandainya gue memilih tetap bersama Daffa."
"Gue sadari hal itu. Tapi itu lebih baik daripada elo nggak ada lagi di dunia ini. Please jangan melakukan hal bodoh seandainya elo nggak bisa menerima masa lalu Daffa."
"Thanks Di, elo memang teman gue yang paling baik."
"Semoga gue bisa menjadi lebih dari sekedar teman buat elo, Rin."
Kali ini Erina tak menyahuti ucapan Ardian.
⭐⭐⭐⭐
Erina perlahan menuruni tangga. Ia mencoba mengatur emosinya sebelum bertemu dengan Daffa. Sebelum memasuki ruang tamu, Erina berhenti sesaat untuk menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Hai sayang," sapa Daffa sambil berdiri dan merentangkan lengannya.
Biasanya Erina langsung berlari ke dalam pelukan Daffa, tapi tidak malam ini. Erina terlihat ragu, namun ia tetap mendekati Daffa dan masuk ke dalam pelukannya. Entah apa yang mendorong Erina, ia memeluk erat tubuh kekasihnya. Seolah ia merasa itulah kali terakhir ia bisa memeluk Daffa.
"Hey, what's wrong dear?" tanya Daffa sambil membalas pelukan Erina. Ia sangat rindu pada gadis ini.
__ADS_1
"Nothing. I just miss you a lot. Biarkan aku menikmati pelukanmu," jawab Erina.
"I miss you too honey." Mendengar kata Honey, tubuh Erina menegang. Daffa merasakan hal itu. Hatinya bertanya-tanya. Demikian pula Erina. Ia bertanya dalam hati apakah Daffa selalu teringat pada 'Honey' saat menyebut kata itu.
Satu jam kemudian mereka sudah duduk berhadapan di rooftop resto favorit mereka. Haris berinisiatif menyewa seluruh rooftop untuk malam ini. Ia ingin Daffa dan Erina memiliki waktu berdua tanpa diganggu pengunjung lain.
"Kenapa malam ini restonya sepi? Padahal biasanya rooftop ini selalu penuh. Bahkan agak mustahil makan disini tanpa reservasi."
"Ini inisiatif Haris. Ia menyewa seluruh rooftop ini."
"Tak kusangka Haris ternyata romantis juga. Aku serasa ada di dalam sebuah drama. Kamu harus memberi bonus pada Haris atas usahanya ini. Eh, tapi bagaimana mungkin dia membuat reservasi dadakan begini?"
"Aku lupa memberitahumu kalau sebenarnya resto ini milik keluarga Hermawanto. Lebih tepatnya milik om Irman. Untuk malam ini orang-orang yang sudah memesan tempat disini terpaksa dipindah ke ruang VIP dan mereka mendapat free special dish sebagai ganti rugi." Daffa menjelaskan.
"Wow, keluargamu hebat Daf. Aku semakin merasa nggak pantas mendampingimu. Kekayaan keluargamu membuatku minder."
"Jangan bicara seperti itu sayang. Kamu tau kan kalau aku dan keluargaku tak pernah memperdulikan hal-hal seperti itu. Yang penting adalah orangnya bukan hartanya."
"Daf, apakah kamu selama ini sudah jujur kepadaku?"
"Bisakah kamu jujur mengenai perasaanmu padaku? Bagaimana perasaanmu padaku?"
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal tersebut? Apakah kamu tidak bisa melihatnya dari sikapku selama ini? Apakah kamu ingin aku mengungkapkan pada dunia mengenai perasaanku padamu?"
Erina terdiam mendengar kata-kata Daffa. Sikapnya memang menunjukkan perasaannya kepadaku. Tapi apakah seluruh perasaan cintanya hanya untukku?
"Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit? Jangan-jangan kamu kelelahan waktu itu mengurusiku di rumah sakit." Daffa duduk di samping Erina dan memeluknya.
"Aku nggak apa-apa. Mungkin karena mau menstruasi makanya moodku kurang bagus," jawab Erina asal.
"Honey, please don't lie to me," Daffa memegang dagu Erina lalu mencium bibirnya dengan lembut.
Pikiran Erina campur aduk. Siapakah yang ia bayangkan saat menciumku? Setelah beberapa saat, Erina mendorong dada Daffa dan menjauh dari kekasihnya.
"Rin, maaf kalau aku selama ini tidak bisa jujur kepadamu." Deg... jantung Erina terasa mau melompat mendengar ucapan tersebut. Apakah ini saatnya dia menceritakan masa lalunya?
__ADS_1
"Jujur mengenai apa?" Erina berusaha tenang. Ia meraih gelas berisi air mineral yang ada dihadapannya.
"Aku takut untuk jujur padamu."
"Kenapa?"
"Karena aku nggak tau bagaimana sikapmu bila mengetahui hal ini. Aku takut hubungan kita menjadi awkward."
"Itu masih lebih baik daripada kamu tidak mau jujur kepadaku," sahut Erina.
"Janji ya kamu nggak akan menganggapku aneh bila aku mengatakannya dengan jujur." Erina mengangguk.
"Rin... I love you." Erina menunggu kelanjutan ucapan Daffa namun pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi.
Erina terdiam tak tahu harus bagaimana. Ia memang menunggu ungkapan cinta dari Daffa. Karena itu artinya ia tak bertepuk sebelah tangan. Namun, bagaimana kalau ungkapan cinta itu juga pernah ia nyatakan pada perempuan bernama Honey? Bagaimana aku bisa mengalahkan cinta Daffa pada Honey dan anak mereka?
"Hey, kenapa diam saja?" tanya Daffa saat menyadari Erina tak memberikan reaksi yang diharapkan.
"Kenapa butuh waktu lama untuk menyatakan perasaanmu? Padahal kita sudah bertunangan."
"Maaf selama ini aku sudah nggak jujur sama kamu mengenai perasaanku. Jujur saja awal kita menjalin hubungan, kupikir cinta bukan hal penting. Aku tak peduli bagaimana perasaanmu padaku. Aku pun tak berusaha mencari tau perasaanku yang sebenarnya padamu. Yang kutau, aku menemukan kenyamanan saat berada di dekatmu. Aku takut kamu jatuh ke dalam pelukan pria lain."
Daffa meraih tangan Erina dan mengecupnya dengan lembut.
"Rin, aku ini pria terbodoh yang ada di dunia. Aku terlambat menyadari rasa cintaku padamu. Selain itu aku takut kamu tak memiliki perasaan yang sama denganku. Aku khawatir kamu akan meninggalkanku karena ternyata kamu tidak mencintaiku. Semua itu yang menahanku mengungkapkan rasa cintaku padamu."
"Daf, ada yang ingin kutanyakan padamu. Kuharap kamu mau jujur kepadaku."
"Rin, aku sudah jujur padamu. Kejujuran apalagi yang kamu inginkan?" tanya Daffa khawatir. Terus terang saja, Daffa mulai merasa cemas. Apakah Erina mengetahui sesuatu? tanya Daffa dalam hati. Bagaimana seandainya....
"Daf, tolong jujur padaku. Apa maksud dari semua ini?" Erina mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya.
Daffa mengambil foto tersebut dan ia sungguh terkejut melihatnya.
"Tolong katakan dengan jujur, siapa mereka? Apakah aku menjadi orang ketiga dalam hidup kalian?" tanya Erina datar. Setengah mati ia menahan amaran yang mulai bergejolak.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐