
Ardian terlihat gelisah berjalan mondar mandir di ruang tunggu. Saat ini Erina sedang menjalani operasi cesar. Dokter mengambil keputusan cepat karena kondisi jantung salah satu bayi mereka terus melemah. Ardian mengeluarkan rokok namun tak dinyalakan. Akhirnya rokok tersebut di buang ke tempat sampah
"Sudahlah Di, jangan mondar-mandir terus. Lebih baik kamu duduk disini," ucap Arga sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Kamu sudah mengabari mertuamu kan?"
"Sudah pa. Mereka setuju Erin di operasi. Besok pagi mereka berangkat dari Texas."
"Kamu nggak usah gelisah begitu. Doakan saja operasinya berjalan lancar," ucap Amelia. "Mama yakin anak-anak kalian kuat seperti Erin. Daripada kamu mondar mandir begitu, mendingan kamu sholat."
"Iya Di. Gue pusing lihat elo mondar mandir. Shalat gih!" tegur Raina.
"Ayo Di, saya temani kamu ke mushola." ajak Henry
"Gue nggak mau jauh-jauh dari ruang operasi bang," tolak Ardian.
"Musholanya dekat kok. Kan di lantai ini juga ada mushola. Lebih baik sampaikan kegelisahanmu pada Allah. Rasanya akan lebih melegakan daripada curhat kepada manusia."
"Kamu belum shalat isya kan?" Ardian menggeleng. "Kebetulan, ayo kita shalat."
"Pa, apakah cucu-cucu kita akan selamat?" tanya Amelia cemas. Sebenarnya sejak mendengar penjelasan dokter Ziva, Amelia merasa khawatir.
"Lho, tadi kan kamu sendiri yang bilang kalau mereka kuat seperti Erin. Sekarang kok malah ragu?"
"Tadi aku pura-pura kuat supaya Ardian nggak panik," bisik Amelia sambil tertawa kecil.
"Kamu memang mama yang hebat. Lain kali kalau kamu nggak kuat bilang sama aku ya." Arga merangkul bahu Amelia.
"Beb, coba deh kamu lihat pak Arga dan tante Amel." ucap Alexia. "Hebat ya, di usia mereka yang sudah nggak muda mereka masih mesra."
"Nanti kita juga bisa seperti mereka. Selama kamu belum bosan sama aku, kita pasti bisa selalu mesra."
"Nggak kebalik? Biasanya cowok yang gampang bosan."
"Bagaimana aku bisa bosan sama kamu. Setiap saat kamu selalu menggemaskan." Raymon mencubit pelan pipi Alexia.
"Kalau mau mesra-mesraan jangan disini deh. Sudah tau aku lagi sendirian," omel Raina.
"Jangan dengki deh. Nanti kalau bang Henry balik, elo juga bisa mesra-mesraan." balas Alexia.
⭐⭐⭐⭐
Tak lama setelah Ardian kembali dari mushola, ruang operasi terbuka dan dokter Ziva keluar dengan wajah cerah.
"Pak Ardian. anak-anak anda telah lahir dengan selamat."
"Laki-laki atau perempuan dok?" tanya Arga. Sementara itu Ardian bersandar lemas pada dinding. Air mata mengalir turun begitu saja di pipinya. Seorang Ardian menangis. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dadanya. Bahagia, tak percaya, lega.
__ADS_1
"Alhamdulillah laki-laki. Saat ini tim dokter tengah menyelesaikan pekerjaannya." Lalu dokter Ziva kembali ke dalam ruang operasi.
"Selamat Ardi, sekarang kamu benar-benar sudah menjadi bapak," ucap Arga sambil menepuk bahu Ardian. "Walaupun kamu memulainya dengan salah, tapi kamu berani bertanggung jawab dan menjalani semua kesulitan ini. Papa bangga sama kamu."
"Terima kasih, pa. Ardi harap papa bisa terus membimbing Ardi agar menjadi orang tua yang hebat seperti papa dan mama."
"Selamat ya sayang. Jadilah bapak yang baik bagi anak-anakmu." Amelia memeluk Ardian.
"Selamat bro." Bergantian Raymond dan Henry memeluk mengucapkan selamat.
"Akhirnya kesampaian juga mimpi lo punya anak dari Erin. Gue titip sahabat gue. Jangan lo sakitin hatinya. Dia mungkin terlihat kuat, namun di dalamnya dia tetap wanita biasa. Elo nyakitin dia, maka elo berhadapan dengan gue dan Raina." Alexia merangkul bahu Ardian.
"Selamat ya Di. Welcome to the twins world dengan segala kerempongannya. Jaga mereka baik-baik. Mungkin dia bukan wanita sempurna buat elo, tapi kalian telah saling menyempurnakan hidup kalian dengan kehadiran si kembar." ucap Raina dengan air mata yang juga sudah membasahi pipinya. Sejak tadi ia juga tegang menunggu jalannya operasi.
"Nggak usah pada nangis. Apalagi elo Di, jelek tau! Ini kan momen paling membahagiakan dalam hidup kalian," ucap Alexia dengan air mata yang juga sudah membasahi pipi. Ia dan Raina langsung berpelukan.
"Nah elo kenapa nangis? Elo lebih jelek dari gue kalau nangis" tanya Ardian tanpa menghiraukan air mata yang masih tak bisa diajak kompromi.
Saat mereka tenggelam dalam keharuan sekaligus kegembiraan, seorang perawat memanggil Ardian.
"Bapak Ardian? Anda bisa ikut kami ke ruang operasi sebelum kami membawa anak-anak anda ke ruang bayi. Tim dokter telah menyelesaikan tugasnya. Dokter Ziva meminta anda masuk."
Setelah mempersiapkan diri dengan prosedur rumah sakit, Ardian mengikuti perawat. Di dalam ruang operasi Ardian melihat kedua bayinya berada kanan kiri lengan Erina.
"Pak Ardian, silakan anda mendekat," ucap dokter Ziva. Ardian menghampiri Erina. "Kini kami akan meletakkan bayi-bayi ini secara bergantian di atas dada nyonya Erina. Tindakan ini disebut Inisiasi Menyusui Dini agar bayi ini secara naluriah bisa mencari ****** sang ibu."
"Tuan Ardian?" tegur dokter Ziva.
"Oh.. eh... i-iya dok." Para perawat cekikikan melihat Ardian tergagap.
"Sabar ya pak. Anda harus bisa menahan diri sampai masa nifas selesai, kurang lebih 40 hari," ucap dokter Ziva sambil tertawa kecil.
Bayi-bayi itu secara bergantian melakukan IMD. Lagi-lagi Ardian hanya mampu meneguk ludah. Kenapa dadanya semakin besar? Apakah sudah ada s***nya? Bagaimana rasanya menghis....
"Ardian!" bisik Erina dengan nada galak. "Nggak usah mikir yang aneh-aneh."
"Eengh.... kok dada kamu makin besar? Perasaan dulu nggak sebesar ini," celetuk Ardian tanpa sadar. Kontan para dokter dan perawat tertawa mendengar ucapan Ardian. Sementara itu muka Erina merah padam menahan malu."
"Ya ampun pak Ardian. Itu suatu hal yang wajar. Memangnya bapak selama ini nggak memperhatikan?" tanya dokter Ziva. Ardian menggeleng.
"Nggak dikasih lihat sama dia, dok," adu Ardian polos.
"ARDIAAAAAAN!!" Lagi-lagi yang lain tertawa melihat pasangan suami istri yang aneh ini. Apalagi mereka melihat bagaimana Ardian bolak balik meneguk ludah saat melihat kedua bayinya bergantian mencari pu***g sang ibu.
"Sekarang, bayi-bayi ini akan kami bawa ke ruang bayi. Alhamdulillah keduanya dalam keadaan cukup stabil. Namun salah satunya akan kami pantau terus mengingat detak jantungnya sempat melemah."
__ADS_1
"Baik dok. Terima kasih."
⭐⭐⭐⭐
Tak lama kemudian Erina sudah pindah ke ruang perawatan super VIP. Sengaja Ardian memilihkan ruang tersebut agar istrinya bisa beristirahat. Ditambah lagi akan banyak keluarga yang akan mengunjungi mereka.
"Kamu capek?" tanya Ardian sambil mengelus lembut rambut Erina.
"Nggak. Bukan gue dokternya , makanya aku nggak capek," jawab Erina lemah. "Tapi gue haus. Mau minum."
Ardian segera mengambilkan minuman untuk Erina. "Pelan-pelan minumnya sayang."
"Mana yang lain?"
"Mereka sudah pulang. Ini sudah hampir pagi. Kamu tidur saja dulu."
"Di ....... " Erina terlihat ragu. Saat itulah ponsel Ardian berbunyi. Erina sempat melihat nama yang muncul. Nathalie.
"Sebentar aku terima telpon ya."
"Siapa? Nathalie?" Erina menahan tangan Ardian.
"Iya. Sebentar ya. Aku khawatir ada yang penting dia menelpon jam segini." Erina melepaskan tangannya.
Ardian sedikit menjauh dari ranjang dan menerima telpon tersebut. Wajahnya tampak serius saat menerima telpon.
"Sayang, kamu tidur dulu ya." Ardian mengambil jaket dan kunci mobil Arga yang sengaja ditinggalkan.
"Mau kemana?"
"Jemput Nathalie."
"Dini hari begini? Dimana?"
"Barusan bartender menghubungi aku karena nomorku yang paling atas di daftar telpon Nathalie." Ada perasaan nyeri saat mendengar hal itu.
"Kenapa nggak harus elo yang jemput? Kenapa elo nggak kasih tau Lexi? Dia itu kan saudaranya Lexi."
"Kasihan Raymond kalau harus jemput. Mereka kan juga belum lama balik dari sini. Lagipula waktuku juga senggang. Bayi-bayi kita tidur. Disini ada perawat yang jagain kamu."
"Tapi Di ...."
"Aku nggak lama kok. Hanya jemput dan antar dia ke apartemen." Ardian mencium kening Erina. "Jangan lupa istirahat."
Erina hanya bisa termanggu menatap kepergian Ardian. Ada rasa aneh kembali menyerang. Ada rasa tak enak memikirkan Ardian lebih memilih menjemput Nathalie daripada menemaninya di rumah sakit.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐