TAKLUK

TAKLUK
HARUS PULANG


__ADS_3

"Nona Aurel, nona Aurel sudah bangunkah?" tanya Lorina sambil mengetuk pintu kamar Erina.


"Masuk saja mama," Terdengar sahutan dari dalam kamar.


"Erin," Yuna langsung masuk ke dalam kamar dan langsung memeluk Erina yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.


"Mommy? Dad?" Mata Erina terbelalak melihat kedua orang tuanya berdiri di hadapannya.


"Erin, are you okay my baby girl?" tanya Andrew sambil mengelus kepala Erina.


"I'm fine dad. How do you know I'm here?" tanya Erina heran.


"Raymond dan Lexi yang mengantar kami," jawab Yuna sambil terus memeluk Erina.


"Wait, jangan marahi mereka. Kami yang memaksa mereka untuk membawa kesini. We miss you a lot honey," ucap Andrew. Sekarang ia memeluk anak dan istrinya.


"How do you feel today? Is it hard for you?" tanya Yuna dengan tatapan prihatin.


"I'm okay mom. Why do you ask?"


Bukannya menjawab, Yuna malah semakin erat memeluk tubuh Erina bahkan kali ini disertai isak tangis.


"Mom, why are you crying?"


"Mommy sedih tidak bisa mendampingimu di saat-saat kamu mengalami kesulitan. Kenapa kamu tidak menceritakannya sejak awal? Kalau saja kamu menceritakannya mommy nggak akan membiarkan kamu pergi sendirian ke tempat yang jauh ini."


"Mom, I'm okay." Erina mencoba menenangkan sang mommy. "This is my choice. I need sometime alone to think. Jauh dari semua hal yang terjadi belakangan ini dalam hidup Erin."


"Rin, Ardi....."

__ADS_1


"Stop! Erin nggak mau mendengar nama dia," tolak Erina.


"Erin, dengar dulu. Kami sangat mencemaskan dirimu. Dia sudah mengakui segalanya pada kami. Kami pun marah dan tak terima dengan apa yang telah ia perbuat terhadap dirimu. Bahkan kami sudah berniat melaporkan dia ke polisi."


Erina sedikit terkejut mendengar kata 'polisi'. Awalnya ia pun berniat melaporkan Ardian ke polisi. Apa yang telah Ardian perbuat, sengaja ataupun tidak sengaja adalah perbuatan yang salah. Namun selama berada di tempat ini, Erina berusaha mengingat apa yang telah terjadi pada malam itu. Dan ia memutuskan tak akan melaporkan Ardian ke polisi. Sepertinya apa yang Ardian lakukan juga akibat dirinya sendiri. Perlahan Erina mulai mengingat sedikit demi sedikit apa yang terjadi di club pada malam itu.


"Tidak sekali dua kali kami mengusir dia. Bahkan daddy-mu pernah menyiramkan air agar dia mau pergi dari rumah kita. Namun Ardian tetap bertahan, meminta kami untuk memaafkan." jelas Yuna.


"Rin, apa yang terjadi antara kamu dan Daffa? Kenapa kamu memutuskan pertunangan kalian? Bukannya kalian saling mencintai? Keluarga Daffa sempat datang ke rumah untuk meminta maaf dan memohon agar kamu tidak memutuskan pertunangan kalian."


"Please dad, hubunganku dengan Daffa sudah selesai. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan yang tidak didasari oleh kejujuran."


"Apa maksudmu? Apakah Daffa menyembunyikan sesuatu darimu?" tanya Andrew.


"I will tell you later. Sekarang aku hanya ingin sendiri."


"WHAT?! Menikah dengan dia? No dad!" tolak Erina. "I hate him! I hate men!"


"Rin, dengarkan dulu penjelasan kami. Dengan kondisimu saat ini, kami nggak mau kamu melaluinya sendirian. Menurut kami yang terbaik adalah menikahkanmu dengan ayah dari bayi yang berada di dalam perutmu. Kami nggak mau cucu kami tak memiliki ataupun tak mengenal ayahnya."


"No Dad, Erin akan menggugurkan kandungan ini. Erin tidak menginginkan anak ini. Erin nggak mau menikah dengan Ardian!" tolak Erina keras.


"What?! Jangan Rin! Kalau elo nggak mau memelihara bayi itu, berikan bayi itu ke gue!" Tiba-tiba Alexia menerobos masuk ke dalam kamar.


"Lex!"


"Gue dengar semua percakapan kalian. Elo dan Ardi sahabat gue. Apa yang Ardi lakukan salah, tapi elo juga salah besar kalau sampai membunuh bayi yang ada dalam kandungan lo. Walaupun bayi itu hadir karena sebuah kesalahan, tapi bayi itu tak bersalah."


"Benar apa yang Lexi katakan. Bayi itu tak berdosa. Kalau kamu nggak mau menerima kehadirannya, biar mommy dan daddy yang akan mengurusnya," ucap Yuna sambil mengelus lembut kepala Erina.

__ADS_1


"Kamu harus pulang ke rumah. Daddy nggak mau kamu menjalani kehamilan ini sendirian. Kami akan merawat dan mendampingimu."


"Mommy dan daddy akan menunda keberangkatan kami ke Texas hingga bayi ini lahir. Bila kamu tak ingin merawatnya, biar kami bawa dia ke Texas," ultimatum Daddy.


"Tapi dad, Erina merasa lebih tenang disini. Jauh dari manusia-manusia munafik di luar sana."


"Rin, apa yang kamu lakukan saat ini adalah melarikan diri dari masalah. Erina yang kukenal adalah wanita kuat yang akan menghadapi semua permasalahan dengan tegar," ucap Raymond yang juga ikut masuk ke dalam kamar Erina. "Bahkan dari apa yang kudengar melalui Lexi dan Raina, kamu adalah wanita yang kuat dan tegar."


"Bang, aku ini cuma wanita biasa yang juga bisa rapuh saat terhantam sebuah gelombang besar kehidupan. Aku tidak selalu tegar seperti batu karang. Bahkan batu karangpun bisa terkikis oleh ombak yang selalu menerjangnya."


"Keputusan daddy sudah final. Besok kita semua pulang. Lagipula kamu sudah terlalu lama berada di tempat ini." Keputusan Andrew kali ini tak bisa dibantah oleh Erina.


⭐⭐⭐⭐


"Mama, bapa, terima kasih kalian sudah begitu baik padaku."


"Tidak nona Aurel. Apa yang kami lakukan hanya menemani nona dan menjalankan perintah mister Gregory," jawab Lorina. "Maaf kami terpaksa memberitahu mister Gregory mengenai kehamilan nona."


"Tak apa mama. Mungkin memang sudah saatnya aku keluar dari persembunyianku dan menjalankan kehidupanku seperti biasa. Walau aku yakin, hidupku tak lagi sama dengan kehadiran bayi ini."


"Nona Aurel, kumohon tolong jangan gugurkan bayi itu," bisik Lorina sambil memegang erat tangan Erina. "Nona seharusnya bersyukur tuhan menunjukkan kasih sayangnya melalui bayi itu. Tak semua orang dipercaya dan diberikan rezeki seperti yang nona terima saat ini. Walaupun nona sedang bertengkar dengan suami nona, dia pasti sangat bahagia menerima kehadiran bayi ini."


"Benar nona Aurel, apa yang dikatakan oleh istri saya. Tak semua orang mendapatkan keturunan. Kami telah menikah bertahun-tahun, tapi sampai saat ini kami belum diberikan keturunan. Hati kami sangat sedih setiap kali mendengar berita kehamilan sanak saudara kami. Tapi hati kami jauh lebih sedih saat mendengar ada orang tua yang tak menginginkan kehadiran malaikat kecil dalam hidup mereka." Chico ikut berbicara. "Kalau memang nona Aurel dan suami nona tak menghendaki bayi itu, nona bisa berikan pada kami."


"Benar apa yang dikatakan oleh suami saya. Kami akan mengurus bayi itu seperti mengurus anak kandung sendiri." Air mata Lorina mulai menetes teringat dirinya dan Chico yang tak mungkin memiliki anak.


"Sudah mama, jangan menangis. Terima kasih atas perhatian tulus mama dan bapa." Erina memeluk erat tubuh Lorina. Dua bulan terakhir ini merekalah keluarga terdekatnya.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2