
"Sus, saat saya bangun pagi ini bayi-bayi saya hilang." ucap Erina dengan suara bergetar menahan tangis.
⭐⭐⭐⭐
"Apa maksud bu Erina?" tanya perawat tersebut bingung. "Bagaimana mungkin bayi-bayi ibu bisa hilang? Penjagaan di rumah sakit ini cukup ketat bu."
"Maaf sus. Sepertinya istri saya masih bingung," potong Ardian sebelum situasi tambah kacau.
"Maksudnya gimana pak?"
"Bangun tidur tadi sepertinya istri saya lupa kalau semalam dia sudah melahirkan melalui operasi cesar," ucap Ardian sambil tersenyum.
"Ya ampun bu Erina. Saya pikir bayi-bayi ibu hilang dari rumah sakit ini. Astaga bu Erina bikin saya ikutan panik."
"Melahirkan? Berarti anak-anak kita sudah lahir?" tanya Erina tak percaya. "Kan belum wak.... ya ampun gue kok bisa lupa ya."
Semuanya tertawa melihat Erina yang baru teringat tentang dirinya yang telah melahirkan tadi malam.
"Alhamdulillah kalau bu Erina sudah ingat kembali. Sebentar lagi akan ada perawat yang akan membersihkan tubuh ibu."
"Saya bisa mandi sendiri di kamar mandi sus. Nggak perlu dibantuin." tolak Erina. "Saya kan cuma melahirkan bukan kecelakaan."
"Maaf, bu Erina belum boleh turun dari tempat tidur selama 24 jam. Kami sudah pasang kateter. Anda boleh latihan miring kalau memang tidak pusing. Kalau seandainya merasa pusing panggil kami."jelas perawat. "Setelah 24 jam dan kateter dilepas anda baru boleh bangun."
Benar kata perawat yang pertama, tak lama datang perawat lain yang membersihkan tubuh Erina. Sementara Erina dibersihkan, Ardian menelpon sebuah nomor namun tak berhasil.
Tak lama masuk sebuah notifikasi pesan.
Alexia : 'Ngapain telpon Nathalie?'
Ardian : 'Gimana kondisi dia? Sudah sadar?'
Alexia : 'Nggak usah perhatiin Nathalie. Dia bukan urusan lo.'
Ardian : 'Gue yang salah Lex. Seandainya gue antar dia pulang dulu sebelum ke rumah sakit, dia pasti nggak akan pergi clubbing.'
Alexia : 'Kenapa elo jadi merasa bersalah? Dia mau clubbing atau nggak, itu keputusan dia. Nggak ada hubungannya sama elo. Dia itu sudah dewasa, sudah bisa ambil keputusan sendiri."
Ardian : Tetap saja gue merasa nggak enak. Apalagi saat tadi malam gue liat tubuhnya digerayangi oleh para pemabuk di sana."
__ADS_1
Alexia : 'Elo sadar nggak sih kalau dia itu bukan siapa-siapa elo. Kalian sama sekali nggak ada hubungan darah atau hubungan apapun itu. Menurut gue, elo tuh terlalu berlebihan memperhatikan dia. Atau jangan-jangan elo suka sama?'
Ardian menatap lama pesan yang dikirim oleh Alexia. Pesan yang membuatnya berpikir bagaimana perasaannya terhadap Nathalie. Apakah ia menyukai gadis itu atau hanya sekedar menganggapnya adik yang perlu dilindungi. Ia membuka galeri foto di ponsel. Foto-foto yang diambil saat ia menemani gadis itu melihat pertunjukkan musik atau sekedar menemaninya makan siang dan menghabiskan waktu ke mall. Suatu hal yang sangat jarang ia lakukan dengan Erina, semenjak mereka menikah. Dan ia tak pungkiri, ia menikmati kebersamaannya dengan Nathalie.
Wajah Nathalie selalu tersenyum cerah saat mereka berfoto bersama. Bagaimana perasaannya terhadap gadis itu, ia tak pernah memikirkannya. Saking asyiknya menghabiskan waktu dengan menatap ponselnya, Ardian tak menyadari kalau Erina sudah selesai membersihkan diri.
"Pak, bu Erina sudah selesai. Oh iya, jangan lupa bu Erinanya disuruh sarapan pak, biar nanti bisa menyusui anak-anaknya," ucap perawat.
"Oh, baik sus. Terima kasih."
Ardian mendekati ranjang, dilihatnya mata Erina terpejam. Apakah ia tidur lagi? Ardian mengelus kepala Erina.
"Sayang, makan dulu ya," bujuk Ardian lembut. Erina membuka matanya dan menatap tajam Ardian.
"Gue belum lapar. Gue ngantuk," jawab Erina pelan. Lalu ia membalikkan badan memunggungi Ardian.
"Sayang, tadi suster bilang kamu harus makan. Sebentar lagi si kembar akan dibawa kemari. Kamu harus belajar menyusui mereka."
"Gue ngantuk. Lagipula bagaimana gue bisa menyusui mereka kalau gue aja belum boleh duduk."
"Oh, mungkin perawatnya nggak tahu kalau kamu habis operasi. Nanti aku ngomong ke perawatnya. Sekarang kamu makan dulu. Aku suapin ya?" bujuk Ardian sambil menarik bahu Erina agar tak memunggunginya.
Ardian menghela nafas keras menghadapi sikap keras kepala Erina. Ia menyadari ada sesuatu yang mengganggu perasaan Erina. Kenapa tiba-tiba mood Erina berubah? Apakah karena ciumanku tadi? tanya Ardian dalam hati.
"Rin, apakah kamu menyesal? Kamu marah karena aku menciummu?"
"Di, gue beneran ngantuk. Mau tidur." Kembali Erina memunggungi Ardian.
Dengan nekat Ardian naik ke ranjang tempat tidur dan memeluk Erina dari belakang.
"Di, apa-apaan sih? Nanti kalau ada perawat masuk gimana? Nanti kalau ranjangnya rubuh gimana? Jangan aneh-aneh deh!" Erina berusaha melepaskan pelukan Ardian namun tak berhasil.
"Please Rin, biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja," bisik Ardian pelan sambil mencium leher Erina dengan lembut.
Ciuman yang mampu membuat tubuh Erina meremang. S*** kenapa tubuh gue bereaksi seperti ini? Pasti ini karena gue masih trauma disentuh dia. Tapi kenapa tadi gue membalas ciuman dia? Berbagai pikiran muncul di pikiran Erina.
"Rin, maafin aku."
"Hmm..."
__ADS_1
"Maaf aku nggak bisa menjadi sahabat yang baik buat kamu. Maafin juga karena aku nggak bisa menepati janji menjadi suami dan ayah siaga untuk kalian. Dan maafkan aku karena tadi menciummu."
Erina tak menjawab. Tanpa sadar air mata meluncur turun di pipinya. Sekuat tenaga Erina menahan isakannya. Ia tak ingin terlihat lemah di mata Ardian.
"Maafkan aku karena akhir-akhir ini kurang memperhatikan kalian," sambung Ardian lagi.
"Elo nggak usah minta maaf. Gue ngerti kalau pada akhirnya elo memutuskan mencari yang lain. Nathalie gadis yang tepat buat elo. Kalian terlihat serasi saat berdua. Gue bisa lihat dia menyukai elo. Bahkan mungkin elo nggak sadar kalau sejak dulu dia menyukai elo. Dia bukan lagi gadis kecil, dia bisa menjadi pendamping hidup lo."
"Nathalie? Kenapa kamu tiba-tiba menyebut dia?"
"Di, dari dulu elo tuh nggak peka ya. Nathalie dari dulu suka sama elo. Bahkan bisa dibilang dia amat memuja elo. Dia rela bolos bimbel hanya untuk ikut kita ke bioskop. Bahkan dia pernah dihukum oma karena ketahuan bolos sekolah karena ikutan kita liburan ke pulau. Elo ingat itu?"
"Ya ampun, Rin. Nathalie itu nggak lebih dari seorang adik kecil buat gue."
"Gue yakin tanpa elo sadari perasaan lo ke dia saat ini berbeda, Di. Akhir-akhir ini elo selalu menuruti segala keinginan dia. Bahkan semalam elo nggak keberatan menjemput dia, padahal gue tau elo juga capek setelah kemarin seharian jalan sama dia. Gue bisa lihat betapa elo sangat mengkhawatirkan dia. Bahkan gue bisa tahu kalau tadi elo pasti menanyakan kabar dia ke Lexi."
Ardian terdiam mendengar ucapan Erina. Bagaimana dia bisa tahu aku berkirim pesan dengan Alexia?
"Gue bukan cenayang yang bisa membaca isi hati orang. Gue cuma menebak dan sepertinya tebakan gue benar." Erina tertawa kecil. Tertawa yang dipaksakan. "Mungkin itu yang dinamakan insting ya."
"Kamu marah?" tanya Ardian lembut. Kini sebelah lengannya ia taruh di bawah kepala Erina dan sebelah lagi tetap memeluk Erina. Ajaibnya Erina sama sekali tak menolak bahkan terlihat nyaman dalam posisi seperti itu.
"Kenapa gue harus marah? Wajar saja kalau akhirnya elo jatuh cinta pada Nathalie. Dia cantik, lembut, memiliki hobi yang sama, dan pastinya nggak tomboy dan brutal kayak gue. Jadi gue nggak kaget kalau seandainya nanti elo menceraikan gue dan memilih Nathalie."
"Kamu yakin nggak akan kecewa atau marah kalau nanti aku memilih Nathalie?" tanya Ardian sambil mengelus perut Erina yang sudah mengempes. "Kamu nggak akan sedih kalau nanti anak-anak harus berpisah dari pipinya?"
"Apa yang akan gue rasakan nanti seandainya elo memilih dia bukanlah hal penting lagi buat elo. Karena kalau nanti elo memilih dia itu artinya elo memang melepas gue. Jadi gue sudah bukan urusan lo lagi. Bukan tanggung jawab lo lagi. Mengenai anak-anak, kita masih bisa melaksanakan co-parenting."
"Seperti Daffa?" Erina mengangguk. "Apakah nanti kamu akan kembali pada Daffa?"
"Gue nggak tau, Di. Gue hanya akan fokus pada diri gue dan mencoba menjadi ibu yang baik untuk anak-anak."
Anak-anak, tak ada lagi sebutan anak-anak kita. Apakah Erina memang begitu inginnya lepas dari diriku? batin Ardian.
"Jangan paksa aku untuk memilih. Saat ini aku hanya ingin menikmati kebahagiaanku bersama kalian," bisik Ardian lembut sambil mempererat pelukannya.
Sementara itu Erina menangis dalam diam. Entah mengapa ada rasa sakit di hatinya saat memikirkan Ardian tak lagi ada di sampingnya. Sekian tahun Ardian selalu ada mendampinginya. Membayangkan ketidakhadiran pria itu dalam hidupnya membuat hatinya terasa kosong.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1