TAKLUK

TAKLUK
ACCEPTANCE


__ADS_3

Erina sedang asyik membantu Mira memasak di dapur ketika tiba-tiba sepasang lengan memeluknya dari belakang. Tanpa menolehpun Erina tahu siapa pelakunya. Wangi maskulin yang khas menguar dari tubuh pria yang memeluknya.


"Mas, kamu apa-apaan sih?" omel Mira melihat Daffa memeluk Erina. Bahkan bibir nakal putranya sudah mendarat di leher jenjang Erina.


"Hehehe.. kangen bun," jawab Daffa sambil tetap memeluk Erina.


"Ooh jadi sekarang kamu kangennya cuma sama Erina?" tanya Mira kesal. "Kamu nggak kangen sama bunda?"


"Daf, lepasin ah. Kamu tuh ganggu aku masak. Nanti kalau gosong gimana?" Erina berusaha melepaskan pelukan Daffa. Bukannya langsung melepaskan pelukannya, Daffa malah dengan sengaja mencium pipi Erina.


"Daffa!" Mira terlihat semakin kesal dengan tingkah putranya. Ia pun mengangkat sutil kayu yang sedari tadi dipegangnya. "Sana kamu balik aja ke London kalau cuma ganggu Erin yang lagi belajar masak."


"Ya ampun bunda, kayak nggak pernah muda aja," sahut Daffa menggoda sang bunda. Tak ayal, sutil itupun mendarat di bo***g Daffa.


"Sudah sana kamu keluar dari dapur." Kali ini Erina berbalik dan mendorong tubuh Daffa untuk keluar dari dapur. Sebelum keluar dari dapur, Daffa menyempatkan mendaratkan kecupan di bibir Erina.


"Daffa!!" Kali ini tanpa menunggu lagi Daffa langsung kabur keluar dapur. Tak berapa lama Daffa kembali memasuki dapur. Kali ini dia memeluk erat tubuh sang bunda dari belakang dan mencium pipi Mira dan mengucapkan "Love you bun." Lalu ia kembali kabur keluar dapur.


"Anak itu nggak berubah. Senang banget menggoda tante," ucap Mira. Kali ini wajah Mira terlihat cerah setelah mendapat pelukan hangat dari putra kesayangannya. "Kalau tante belum ngomel, belum puas dia."


"Maaf ya tan."


"Maaf kenapa? Karena sekarang Daffa mulai menomorduakan tante? Karena dia lebih kangen kamu daripada tante?" Erina mengangguk ragu. Mira tertawa lepas melihat sikap Erina.


"Daffa memang begitu sikapnya kepada kekasihnya. Tante sudah biasa menjadi prioritas kedua. Satu hal lagi walau dari luar terlihat cool, sebagai anak laki satu-satunya dia itu jahil banget sama tante dan saudara perempuannya." Erina tersenyum mendengar ucapan Mira.


"Tapi tan, Erin nggak bermaksud merebut Daffa dari tante. Kata eyang, sampai kapanpun anak lelaki adalah milik orang tuanya."


"Daffa memang nggak salah memilih kamu menjadi calon pendamping hidupnya. Di balik penampilanmu yang urakan, kamu adalah gadis yang baik dan penuh kasih sayang. Tante senang dia memilihmu. Seandainya saja kalian sudah bersama sejak dulu, peristiwa itu tak perlu terjadi." Mira menghela nafas kesal. Pandangannya menerawang.


"Peristiwa apa tan?" tanya Erina hati-hati.


"Eh.. oh... nggak ada apa-apa." Mira terlihat gugup. "Kapan kami bisa bertemu keluargamu?"


"Maksudnya?" Erina terlihat bingung.


"Kapan kami harus ke rumahmu?"


"Tante mau main ke rumah Erin? Tante mau main sama mommy? Atau mau lihat koleksi anggrek daddy?"

__ADS_1


"Ya ampun anak ini." Mira terkekeh. "Kamu wanita karir yang cerdas, kenapa tiba-tiba hari ini kamu jadi bodoh."


"Tante bilang Erin bodoh?" tanya Erina kaget. "Kok tante tega banget sih. Tante kalau nggak suka sama Erin, nggak usah bilang Erin bodoh. Tante kalau nggak mau punya mantu seperti Erin bilang saja langsung."


"Ya ampun Erin. Kamu kok jadi salah mengerti sih. Maksud tante, kapan kami bisa ke rumah untuk melamarmu."


"Melamar?" Erina masih terlihat bingung. Tiba-tiba ia tersadar apa maksud ucapan Mira. "Tante menerima Erin jadi calon menantu?"


Lagi-lagi Mira terkekeh melihat sikap Erina yang terlihat bingung.


"Iya sayang. Tante nggak ada alasan lagi untuk menolakmu sebagai calon menantu. Kamu berhasil membuktikan kepada tante bahwa kamu memang pilihan yang tepat bagi Daffa."


Erina langsung memeluk erat tubuh Mira. Ia sangat bahagia mendengar ucapan Mira yang telah menerima dirinya sebagai calon menantu. Tak sia-sia selama dua bulan ini Erina berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu menyelesaikan tantangan yang Mira berikan.


"Terima kasih tante, karena mau menerima Erin sebagai calon istri Daffa." Erina terlihat bahagia.


Mira balas memeluk Erina dengan hangat. Ia sangat terkesan dengan kesungguhan gadis tomboy ini berusaha memenuhi tantangan darinya. Tak pernah sekalipun gadis tomboy ini mengeluh saat belajar memasak. Bahkan ia sekuat tenaga menahan rasa sakit ketika tangannya terkena pisau ataupun terpercik minyak.


"Waah, ada apa nih pake acara peluk-pelukan segala? Bunda curang, tadi mas mau peluk Erin nggak boleh. Eh, sekarang malah bunda yang peluk Erin," omel Daffa saat kembali ke dapur. Kini penampilannya terlihat lebih segar.


"Kamu pengen tau aja!" sahut Mira sambil tersenyum lebar. Daffa dapat membaca maksud dibalik senyum Mira. Lalu ia pun memeluk erat dua wanita yang memiliki arti spesial bagi dirinya.


⭐⭐⭐⭐


Acara lamaran sudah terlewati. Keinginan Daffa mengikat Erina dengan pertunanganpun sudah terpenuhi. Keduanya terlihat sangat bahagia. Pun dengan keluarga mereka. Andrew sangat bahagia kini putri semata wayangnya sudah menemukan jodohnya. Selain itu keluarga sang pria pun mau menerima Erina dengan tangan terbuka, walaupun harus melewati banyak tantangan.


"Daf, kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian? Apa lagi yang kalian tunggu?" tanya Mira pada Daffa saat mereka menikmati makan malam bersama.


"Hmm.. nanti dulu bun. Daffa dan Erin masih mau pacaran dulu. Hitung-hitung belajar mengenal lebih dalam diri kami masing-masing," jawab Daffa.


"Jangan lama-lama mas," celetuk Rinda sedang sibuk mengambilkan makanan untuk Boy, suaminya. "Hati-hati dosa."


"Sok tau kamu!"


"Dih, mas Daffa mah susah kalau dikasih tau." Rinda terlihat merajuk.


"Sudahlah sayang, mas Daffa kan bukan anak kecil. Dia pasti tau apa yang terbaik buat hubungan mereka." Boy mengelus punggung istrinya yang hari itu terlihat sensi.


"Justru itu, harusnya mas Daffa lebih mengerti bahwa pacaran itu dosa."

__ADS_1


"Duuuh adikku yang menggemaskan, tenang aja mas ngerti kok tentang itu. Tapi mas dan mbak Erin punya planning sendiri tentang hubungan kami. Jangan khawatir, kami pasti akan menikah."


"Awas ya kalau tau-tau mbak Erin hamil duluan. Jangan sampai ke...."


"Rin!" Tiba-tiba Mira memotong ucapan Rinda. Wajahnya terlihat gusar. Rinda langsung menutup mulutnya.


"Yang, tolong dong ambilin ayam goreng itu." Boy berusaha mengalihkan pembicaraan. "Dari tadi aku sudah kepengen banget nyobain ayam goreng buatan mbak Erin."


"Sini Boy, aku ambilin." Erina menawarkan mengambilkan makanan yang dimaksud. Sebenarnya Erina merasa heran dengan reaksi Mira, namun ia merasa tak enak hati untuk bertanya.


"Yang, besok kita cari venue yok," ajak Daffa.


"Venue buat pernikahan kalian?" tanya Mira antusias.


"Iya bun. Nggak papa kan kalau kita cari venue dari sekarang walau menikahnya beberapa bulan yang akan datang."


"Memangnya kalian maunya konsep acara seperti apa? Kalau kalian butuh WO nanti biar bunda kenalkan kalian pada Anggita, anak tante Merry."


"Mbak Anggita yang sampai sekarang belum menikah itu bun?" tanya Rinda. "Lucu ya, dia ngurusin pernikahan orang lain tapi dia sendiri belum menikah."


"Hush.. kamu nggak usah julid deh!" Daffa menegur sang adik.


"Bukan julid mas, cuma kasihan aja sama dia. Bagaimana ya perasaan dia setiap bertemu calon pengantin yang menjadi kliennya?"


"Dia belum bertemu jodohnya aja kali," sahut Daffa santai.


"Nanti kami diskusikan dulu, bun." Erina buru-buru bicara saat dilihatnya Rinda sudah siap membalas ucapan Daffa.


"Kalau kamu mau, weekend besok kita bikin janji temu dengan Anggita ya."


"Insyaa Allah tan," sahut Erina. Biarlah kita ikuti saja keinginan bunda supaya beliau merasa dihargai, batin Erina.


"Yang, kamu beneran mau ketemu WO bareng bunda?" tanya Daffa saat dalam perjalanan mengantar Erina pulang.


"Iya. Memangnya kenapa? Kamu keberatan? Kupikir nggak apa-apa menyenangkan tante Mira. Kalau tadi kamu sedikit perhatian, wajah beliau sangat bahagia saat kubilang mau bertemu WO yang beliau usulkan."


Daffa mengambil tangan Erina lalu mengecupnya dengan mesra. "Memang aku nggak salah memilih calon istri. You're the best. Rugi banget mereka yang tidak memperjuangkanmu."


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2