TAKLUK

TAKLUK
MEET UP


__ADS_3

Erina sedang menutup pintu ruangan saat dilihatnya Andrew berjalan ke arahnya.


"Ada apa dad?"


"Daddy malam ini ada undangan diner dengan pak Bimo, your mom can't accompany me. Kamu temani daddy ya?"


"Maaf nggak bisa, dad. I have an appointment." Wajah Andrew terlihat kecewa. "I'm really sorry."


"Where are you going?"


"The String."


"Kamu mau ketemu Zafran?" tebak Andrew. "Hubungan kalian membaik? Syukurlah. Daddy sudah capek diteror oleh eyangmu."


Erina hanya tersenyum mendengar ucapan Andrew. Bukan hanya Andrew yang diteror oleh eyang Fatma. Yuna dan dirinya pun tak luput dari hal itu. Memang eyang Fatma tidak bilang langsung mengenai dengan siapa Erina akan dijodohkan. Namun ia terus bertanya dan bertanya mengenai kapan sang cucu akan menikah.


Di depan lobby mereka berpisah. Andrew langsung naik ke dalam mobil yang telah menunggunya.


"Tell him, daddy menunggu kedatangan dia untuk melamarmu."


"Bye dad!"


Erina memasuki cafe yang syukurnya malam itu tidak begitu ramai. Diedarkannya pandangan menyapu seluruh ruangan. Tak terlihat orang yang dicari.


Setelah memesan minuman, Erina duduk di tempat favoritnya. Sudut di dekat jendela. Tempat favorit saat ia dan Zafran sering melepas penat sepulang kantor. Maklumlah Zafran bukan tipe pria yang senang pergi clubbing atau nonton di bioskop. Zafran senang menghabiskan waktunya berbincang berdua di cafe atau restaurant. Sesekali Zafran mau diajak nonton di bioskop atau menemani Erina menghabiskan waktunya di sirkuit mobil. Ya, Erina sangat gemar memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan Erina juga sering meraih kemenangan saat mengikuti perlombaan balap mobil. Di sirkuit itulah Erina bertemu pertama kali dengan Zafran.


"Hai, kamu Erina?" sebuah suara lembut menyapa Erina yang sedari tadi asyik memandang jauh ke luar jendela. Erina menoleh dan dilihatnya seorang wanita cantik berhijab berdiri di hadapannya.


"Iya. Kamu Zulfa?" Wanita tersebut mengangguk. "Silahkan duduk. Kamu mau pesan apa?"


"Terima kasih. Aku sudah membawa sendiri minumanku."


Sesaat suasana hening tercipta di antara mereka. Tak satupun di antara mereka yang memulai percakapan hingga...


"Boleh aku tau apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Erina.


"Tolong menjauh dari hidup bang Zafran," ucap Zulfa cepat. "Kalau perlu, menghilanglah dan jangan pernah muncul lagi dalam kehidupan bang Zafran."


"Kenapa kamu merasa terancam olehku?"


"Kehadiranmu hanya akan mengganggu kehidupan kami nanti."

__ADS_1


"Bukannya terbalik ya? Kamulah yang hadir dalam hubungan kami. Kamulah orang ketiga yang merusak hubungan kami," jawab Erina. Moodnya mulai berantakan mendengar ucapan Zulfa.


"Mungkin bang Zafran belum pernah cerita. Kami sudah dijodohkan sejak kami kecil. Orang tua kami bersahabat bahkan sebenarnya kami masih memiliki hubungan saudara," jelas Zulfa.


"Sejak aku memasuki usia remaja, ummi sudah memperlihatkan foto bang Zafran. Dan sejak itu aku jatuh cinta kepada dia dan selalu memimpikan dia yang akan menjadi pendamping hidupku. Bahkan aku menolak lamaran beberapa pria karena hanya menginginkan bang Zafran sebagai imamku."


"Kalau memang seperti itu seharusnya kamu tidak perlu khawatir dengan pernikahan kalian. Orang tua kalian bahkan sudah saling mengenal dan setuju 100% dengan pernikahan itu."


"Aku tau. Tapi aku juga tau kalau bang Zafran masih sangat mencintaimu. Itulah sebabnya aku memintamu untuk menghilang dari hidup bang Zafran."


"Apa kamu tau kalau kak Zafran memintaku menikah dengannya?" Wajah Zulfa mendadak pias setelah mendengar ucapan Erina.


"Maksudmu, bang Zafran akan menceraikanku setelah menikah nanti? Nggak mungkin! Aku akan menolaknya."


"Dia tidak akan menceraikanmu." Erina menyesap minumannya.


"Maksudnya?"


"Wajar kan dalam agama kita memiliki istri lebih dari satu," jawab Erina ringan. Padahal di dalam hatinya ia sangat membenci hal seperti itu.


"Bang Zafran mau berpoligami? Nggak mungkin! Aku nggak bersedia dimadu. Aku nggak mau diduakan," tolak Zulfa. "Pasti kamu yang membujuk bang Zafran untuk melakukan hal itu."


Erina tersenyum sinis mendengar tuduhan Zulfa. "Sebaiknya kamu tanyakan langsung pada calon suamimu itu."


Perasaannya tidak baik-baik saja sejak ia tau Zafran dijodohkan dengan wanita itu. Hatinya terluka saat mengetahui Zafran tidak mampu menolak hal tersebut. Bahkan hatinya hancur saat melihat betapa cocoknya mereka bersanding dan terlihat aura bahagia ketika mereka mencari cincin. Pun ketika melihat wajah bahagia ummi Habibah. Kebahagiaan yang tak pernah ia lihat ketika mengunjungi orang tua Zafran.


Aku masih mencintainya. Aku tak ingin berpisah darinya. Apa aku terima saja tawaran Zafran. Tapi itu artinya aku melukai hati wanita lain. Pikiran Erina sibuk berdebat hingga tanpa sadar ia tak memperhatikan jalan. Saat hendak menuju mobilnya yang terparkir, sebuah mobil nyaris menabraknya. Erina hanya mampu terpaku menatap nanar mobil tersebut.


"Kamu nggak papa?" tanya sang pengemudi dengan suara khawatir ketika dilihatnya Erina hanya berdiri mematung dengan wajah shock.


"A-aku nggak papa..."


"Erin?" Pria itu menepuk lembut bahu Erina.


"Daf-daffa?"


"Ya ampun Rin, kamu nggak papa kan? Maaf aku hampir menabrakmu."


"Ah.. aku nggak apa-apa." Itu bohong. Saat ini ia tidak sedang baik-baik saja. Kejutan bertemu dengan Zulfa, kejutan hampir tertabrak.


"Ayo masuk ke mobilku dulu. Aku antar kamu ke rumah sakit," bujuk Daffa khawatir. "Tubuh kamu menggigil. Lagipula aku harus memindahkan mobilku yang sudah membuat macet."

__ADS_1


Tak lama, Erina sudah berada di dalam mobil Daffa, tapi mereka tidak ke rumah sakit karena Erina menolak.


"Rin, are you okay?" tanya Daffa hati-hati. "Beneran kamu nggak perlu ke rumah sakit? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa."


"Gue baik-baik saja Daf. Sorry, elo tadi pasti kaget banget ya?"


"Justru aku yakin kamu yang kaget banget. Kamu tadi kenapa meleng? Keliatan banget lagi banyak pikiran. Aku juga kurang fokus karena tadi sambil telponan dengan orang tuaku."


Daffa memperhatikan Erina yang tampaknya sudah lebih tenang. Diperhatikannya dengan seksama tubuh Erina, untuk memastikan tidak ada bagian yang lecet.


"Rin, kita ke coffee shop itu yuk," ajak Daffa. "Please jangan menolak. Aku juga butuh cafein untuk menenangkan syarafku yang sempat terguncang akibat kejadian tadi."


Erina tertawa mendengar ucapan Daffa yang sebenarnya biasa saja namun entah mengapa terasa lucu di telinganya. Daffa ikut tertawa melihat Erina tertawa.


"Nah, gitu dong. Aku jadi lega karena kamu bisa tertawa. Nggak seperti tadi mukamu pucat."


"Thanks Daf. Gue lupa kalau elo itu orangnya lucu."


"Memangnya aku pelawak?" Tapi mau tak mau Daffa tersenyum juga disebut lucu oleh Erina. "Gimana tawaranku ke coffee shop itu?"


"Jangan ke situ. Tempatnya nggak enak?"


"Oh ya? Aku dengar disitu nyaman banget dan makanan minumannya enak."


"Nggak cocok dengan selera gue. Lagipula malam ini gue lagi pengen clubbing? Gue butuh tempat buat melepaskan segala beban berat dalam hidup gue."


"Clubbing?" Erina mengangguk.


"Kenapa? Nggak suka clubbing?" Erina balik bertanya.


"Eeh.... su-suka. Tapi aku menghindari pergi kesitu kalau lagi banyak pikiran. Bahaya, bisa kebablasan minum," jelas Daffa. "Lagipula besok pagi aku ada meeting."


"Ya sudah kalau gitu elo pulang saja. Gue butuh melepas stress. Lagipula gue bawa mobil sendiri." Erina bersiap turun dari mobil, namun ditahan oleh Daffa.


"Oke, aku temenin kamu tapi jangan ke club ya."


"Daf, gue butuh melepaskan stress. Gue butuh minum. Nggak mungkin dong pergi ke masjid kalau gue pengen minum."


"Jangan minum. Nggak baik buat kesehatan kamu. Kasihani tubuhmu. Mereka butuh dimengerti dan disayang."


Erina menatap Daffa. Baru kali ini ada yang melarangnya minum tapi dengan alasan yang sangat berbeda. Selama ini orang-orang disekitarnya melarang minum selalu dengan dalil agama.

__ADS_1


"Daf, elo mau nggak kawin sama gue?"


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2