TAKLUK

TAKLUK
PAGI YANG RIBUT


__ADS_3

"IYA, INI KESALAHAN ELO! MEMANGNYA ELO NGGAK TAU KALAU ITU PARKIRAN KHUSUS KELUARGA YAYASAN?"


"WAH, ELO BUKAN CUMA BARBAR YA! ELO JUGA GILA DAN HALU!!" Balas cowok itu tak kalah keras.


Sementara itu tampak security datang menghampiri diikuti oleh pak Arga, sang kepala sekolah.


⭐⭐⭐⭐


Happy Reading❤


"Astagaaa... ada apa ini? Ya ampun, Ardian mobil kamu kenapa?" tanya pak Arga bingung sekaligus tak percaya. "Siapa yang melakukan pengrusakan ini?"


Ardian, cowok pemilik mobil hanya diam. Tangan kirinya mengangkat kunci roda yang tadi berhasil ia rebut dari Erina. Ia menunjuk Erina yang masih tampak gusar.


"Erina? Kamu yang melakukan ini?" tanya Pak Arga tak percaya. Erina diam tak menjawab.


"Mana mungkin dia mau mengaku, pak," potong Ardian kesal. "Aku akan melaporkan hal ini ke polisi."


"HEH! JANGAN SEENAKNYA AJA YA! ELO JUGA SALAH. GUE BAKAL LAPORIN KE YAYASAN KARENA SUDAH SEMBARANGAN PARKIR!" Erina tak mau kalah menggertak. "ELO TUH SUDAH NYEROBOT TEMPAT PARKIR GUSTAV."


"Sudah... sudah.. ayo kalian berdua, dan juga kalian ikut bapak ke kantor. Pak Rudi dan pak Memet tolong kumpulkan hp para siswa yang memvideokan kejadian ini sebagai bukti," perintah pak Arga kepada security. "Dan yang lainnya kembali ke kelas. Apa kalian nggak mendengar bel sudah berbunyi dari tadi?"


Dengan ogah-ogahan para siswa membubarkan diri sambil terus kasak kusuk membahas kejadian pagi itu. Sementara itu keempat siswa yang terlibat dibawa ke ruang meeting.


"Pak, pagi ini kami ada ulangan matematika. Boleh ya kami ijin kembali ke kelas?" tanya Alexia pelan. Sementara itu Raina masih terus terisak.


"Siapa gurunya?" tanya pak Arga.


"Bu Evelin."


"Bu Rosi, tolong sampaikan kepada bu Evelin supaya memberikan ulangan susulan kepada mereka."


"Sekarang siapa yang mau cerita duluan? Erina? Ardian? Atau kalian?"


Awalnya tak ada yang mau buka suara, hingga akhirnya pak Arga memanggil Gustav. Kehadiran Gustav membuat Erina kembali meradang. Ia berdiri dan menghampiri kekasihnya itu dan menampar keras pipi Gustav.

__ADS_1


Langsung Bu Yasmin, guru BP, menarik Erina untuk kembali duduk di kursinya. Di sisi lain, Ardian menahan tawanya. Ia kesal mobilnya dirusak, namun ia juga merasa lucu melihat wajah Gustav yang menahan sakit.


Galak banget nih cewek, pikir Ardian. Emang gila tuh Gustav, mainin perasaan cewek galak model dia.


"Erina, coba kamu jelaskan kenapa kamu menampar Gustav?" tanya pak Arga.


"Dia selingkuh pak," jawab Erina lugas.


"Kamu tahu dari mana Gustav selingkuh?"


"Kami saksinya pak. Ini videonya," sahut Alexia sambil menyerahkan ponselnya kepada pak Arga.


"Ya ampun Gustav. Apa kata om Felix melihat kelakuan kamu dan Starla. Bapak nggak tanggung jawab kalau sampai om Felix mendengar berita ini. Bisa langsung dinikahin kamu tanpa menunggu lulus SMA." Arga menghela nafas kesal setelah melihat rekaman tersebut.


Ya, Gustav adalah anak tiri Arga. Anak dari pernikahannya dengan Amelia, seorang wanita berdarah Perancis. Sementara Felix adalah kakak dari Amelia. Itu artinya Starla dan Gustav saudara sepupu.


"Erina, bapak tahu kamu dan Gustav sudah lama menjalin hubungan. Dan wajar kalau kamu marah dan kecewa. Tapi tidak pada tempatnya kamu ngamuk dan melakukan hal seperti tadi. Itu termasuk vandalisme. Kamu mengerti?"


"Mengerti om.. eh Pak. Tapi ini bukan pertama kalinya Gustav selingkuh. Terakhir kali dia ketahuan selingkuh, dia berjanji nggak akan mengulangi lagi. Dia juga kok yang membolehkan saya melampiaskan amarah ke dia. Daripada dia babak belur gara-gara saya gebukin, ya mendingan mobilnya aja yang saya hancurin. Kalau mobil kan saya bisa minta daddy menggantinya. Tapi kalau Gustav bonyok, jangan-jangan saya dimasukin ke penjara."


"Tapi kenapa kamu menghancurkan mobil Ardian?"


"Mana saya tahu kalau itu mobil dia. Lagipula dia juga salah kan pak. Dia sudah parkir sembarangan. Kan sudah jelas kalau itu parkiran khusus," cerocos Erina.


"Nah, elo juga sembarangan parkir. Siapa elo kok berani-beraninya parkir disitu? Memangnya elo yang punya yayasan?" tanya Ardian sengit. Hatinya kembali kesal bila mengingat kondisi mobilnya setelah dihancurkan oleh Erina.


"Oh, elo orang baru ya? FYI, gue ini cucu dari eyang Herjuno. Yang mendirikan yayasan ini bersama eyang Prabu. So, gue punya hak parkir disitu."


"Cuma cucu aja belagu," julid Ardian pelan namun supanya terdengar oleh Erina.


Dengan berang Erina menghampiri Ardian yang duduk di seberangnya dan tanpa ampun langsung menampar pipi Ardian.


"Erina!" Semua orang kontan berseru melihat kejadian tersebut. Sementara itu Ardian terlihat kaget, tak percaya.


"HEH CEWEK BARBAR! KENAPA ELO NAMPAR GUE?"

__ADS_1


"SEKARANG KITA IMPAS!" jawab Erina tersenyum puas.


"IMPAS? GIMANA LO BISA BILANG KITA IMPAS? MOBIL GUE HANCUR."


"TADI ELO DUA KALI NAMPAR GUE. TAMPARAN PERTAMA KARENA GUE NGERUSAK MOBIL LO. JADI WAJAR KALAU GUE NGEBALAS TAMPARAN ELO. NGERTI SEKARANG?!" balas Erina. "KALAU ELO NGGAK TERIMA MOBIL LO GUE RUSAK, SEHARUSNYA ELO BALAS DENGAN NGERUSAK MOBIL GUE, BUKAN MALAH NAMPAR GUE DUA KALI. DASAR BANCI!!"


Ardian sudah bangkit dengan wajah marah ingin menjambak rambut Erina. Untunglah saat itu pak Arga berhasil menahannya. Kalau tidak pasti akan terjadi pertempuran berdarah di ruangan ini.


"Ya ampuuun.. cucu eyang kenapa?" Tiba-tiba masuk seorang wanita tua yang terlihat elegan. Wanita itu langsung mendatangi Erina. "Ini pipi kamu kenapa? Kamu ke sekolah pakai blush on? Kamu tahu kan kalau ada larangan menggunakan make up ke sekolah."


Ardian yang tadinya marah langsung terbahak mendengar ucapan wanita itu. Erina menoleh sengit pada Ardian.


"Eyaaaang... pipi Erin ditampar dua kali sama cowok bre****k itu," rengek Erina sambil menunjuk Ardian.


"Siapa kamu berani-berani menam.... lho, kamu Ardian cucunya mas Prabu tho?" Alih-alih memarahi, eyang Fatma malah menghampiri Ardian yang langsung berdiri dan mencium punggung tangan eyang Fatma.


"Iya eyang. Saya Ardian."


Erina melongo melihat hal tersebut. Kalau cowok brengsek itu cucu eyang Prabu, berarti dia adalah anak pak Arga? Oh my god! Kenapa gue nggak tau soal dia?


"Rin, kamu lupa sama Ardian? Dia ini anaknya Arga dengan Winda. Setelah Winda meninggal, dia tinggal bersama eyang Murti di Solo."


Alexia, Raina dan Erina hanya melongo mendengar penjelasan eyang Fatma.


"Kalian, Alexia dan Raina boleh kembali ke kelas. Tadi bu Evelin bilang, ulangan matematika diundur lusa." Bu Rosi mengusir keduanya secara halus.


Bu Rosi yang kebetulan adik pak Arga menyadari ini sudah menjadi urusan keluarga. Dimana orang luar tak perlu ikut campur.


"Kamu Erin, yang dulu gendut dan cengeng itu?" tanya Ardian tak percaya. Masih tersimpan di ingatannya cucu eyang Herjuno yang bertubuh montok, agak bule tapi cengeng. "Wah, kamu benar-benar berubah ya."


"Jadi lebih cantik ya Di?" tanya pak Arga.


"Bukan pa, jadi sangat barbar."


FLASHBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2