
"Apakah dia yang telah menghamilimu?" tanya Daffa tiba-tiba sambil menunjuk Ardian. Suasana kamar mendadak hening.
⭐⭐⭐⭐⭐
Tak seorang pun yang bersuara, hanya suara jarum jam yang berputar yang mengisi keheningan tersebut.
"Apakah penting bagimu mengetahui siapa yang menghamiliku?" tanya Erina memecah keheningan. "Apa yang akan kamu lakukan bila mengetahui siapa ayah dari anak-anakku."
"Aku akan meminta dia bertanggung jawab."
"Pertanggungjawaban macam apa? Kamu akan meminta pria itu menikahiku?"
"Mungkin. Kalau dia tak mau menikahimu maka aku akan meminta dia melepaskan haknya sebagai ayah anak-anakmu."
"Bagaimana kalau dia mencintaiku namun aku tak mencintainya?" Daffa tertegun mendengar ucapan Erina.
"Apakah itu artinya kamu masih mencintaiku?" tanya Daffa.
"Apakah ada bedanya bila memang aku masih mencintaimu?" Erina balik bertanya. Ardian terjengit mendengar ucapan Erina. Apakah Erina masih mencintai Daffa?
"Jawab aku. Apakah kamu pernah mencintaiku dan masih mencintaiku?" desak Daffa.
"Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa perasaanku terhadapmu tak berarti apapun. Meski aku masih memiliki rasa cinta ini, aku tetap memilih untuk tidak menikahimu. Aku memilih untuk menghapus rasa cintaku dan membiarkan orang lain memiliki cintamu."
"Apakah kamu nggak mau memperjuangkan cinta kita?" CINTA KITA. Ah, alangkah indahnya bila aku dan Erina bisa menggadang-gadang hal itu, batin Ardian.
"Aku terlalu lelah untuk mencintai lagi. Semua yang kucintai hanya memberikan kekecewaan kepadaku. Apakah aku masih patut memperjuangkan cinta demi kekecewaan?" tanya Erina dengan suara pelan.
"Bagaimana seandainya pria yang menghamilimu bersedia memperjuangkan cintamu?" tanya Ardian tiba-tiba. Erina menatap Ardian, lalu melengos.
"Daf, sebaiknya kamu pulang. Kamu harus ke kantor. Aku lelah, ingin istirahat." Alih-alih menjawab pertanyaan Ardian, Erina malah mengusir Daffa.
"Ada Harris yang mengurus pekerjaanku. Aku ingin menemanimu hari ini."
"Jangan. Kamu harus menunjukkan contoh yang baik pada seluruh karyawanmu. Masa bos malah bolos. Lagipula ada Ardian yang menemaniku." Hidung Ardian kembang kempis karena bahagia mendengar Erina memilih ditemani dirinya.
"Dia kan juga harus bekerja."
"Please Daf, aku lelah. Jangan ajak aku berdebat. Badanku masih pegal-pegal. Aku ingin istirahat sebelum nanti siang check out dari sini."
"Bro, silakan pulang. Elo dengar apa kata Erin." Ardian berdiri dari duduknya. "Erin tanggung jawab gue."
"Kenapa elo bertanggung jawab atas Erin?"
"Karena Erin adalah ....."
__ADS_1
"Daf, sebaiknya kamu balik ke kantor sekarang. Biar Ardi yang jagain aku," pinta Erina dengan nada sedikit memaksa. Tentu saja Daffa heran, kenapa Erina selalu memotong ucapan Ardian? Kenapa Ardian yang harus menemani Erina? Kenapa Erin menjadi tanggung jawab Ardian? Berbagai pertanyaan muncul di benak Daffa, namun itu semua disimpannya.
"Oke sayang, aku balik dulu ke kantor ya." Daffa mendekat hendak mencium kening Erina namun dicegah oleh Ardian.
"Sorry bro, elo nggak punya hak melakukan itu." Daffa memandang Ardian dengan kesal sekaligus bingung.
"Di, gue tau elo cinta sama Erin. Tapi sifat protektif lo terlalu berlebihan. apa salahnya gue mencium kening wanita yang masih gue cintai hingga saat ini? Biar bagaimanapun Erin pernah menjadi tunangan gue."
"Daf. elo itu hanya mantan tunangan Erin. Ingat, MANTAN. Silakan keluar dari kamar ini. Kalau ada hal-hal yang lo mau bahas dengan dia, elo bisa menghubungi gue."
"Sikap protektif lo NGGAK WAJAR."
Sepeninggal Daffa, baik Erina maupun Ardian tak ada yang membuka percakapan hingga akhirnya datang dokter Arini.
"Dok, apakah saya boleh pulang hari ini?" tanya Erina.
"Kamu Erina, calon istri mas Daffa kan? Kamu nggak ingat sama saya?" tanya dokter Arini sambil membaca papan status Erina. "Saya dokter yang mengambil darah mas Daffa waktu itu. Ingat nggak?"
"Oh, dokter Arini yang itu. Iya, iya saya ingat. Tadi waktu Daffa menyebut nama dek Arini saya sempat bingung. Maaf ya dok."
"Hmm.. kamu lagi hamil?" tanya Arini sambil membaca medical recird yang disodorkan oleh perawat. "Kamu dan mas Daffa sudah menikah?"
"Oh, be-belum dok. Kami belum menikah."
"Oh, eh.. bukan begitu dok. Saya dan Daffa sudah putus," jawab Erina kikuk. "Ini bukan anak Daffa."
Arini terlihat bingung. Lalu ia menoleh ke Ardian yang sejak tadi duduk di sofa. Entah mengapa sejak Daffa meninggalkan mereka berdua, sifat Ardian menjadi dingin. Apakah dia marah? tanya Erina dalam hati.
"Kalau ini bukan anak Daffa, apakah itu anak ....." Sekali lagi Arini memandang ke arah Ardian yang kali ini mengangkat wajahnya dari ponsel yang sejak tadi ditekuninya.
"Iya dok, ada apa? Bagaimana keadaan Erin? Apakah dia sudah boleh pulang? Kalau memang dia masih harus rawat inap, saya berencana memindahkan istri saya ke rumah sakit lain."
"Istri? Apakah itu artinya anak yang dikandung Erina adalah anak .... anda?" tanya Arini hati-hati. Ia masih terkejut dengan kenyataan Erina dan Daffa putus, lalu kenyataan lain dimana Erina sudah menikah dan sedang hamil anak dari suaminya. Mengapa tadi kulihat Daffa terburu-buru ke ruangan ini?
"Iya dok. Saya suami dari Erina." Ardian mengulurkan tangan mengajak salaman. Arini segera menyambut tangan Ardian walaupun bingung. "Jadi bagaimana dok?"
"Eenghh.. berdasarkan pemeriksaan tadi malam, kandungan bu Erin baik-baik saja. Tak terlihat ada yang aneh pada janinnya. Dan sejak semalam juga tidak ada keluhan pusing ataupun muntah. Kalaupun ada sakit kepala karena benjol yang ada di kepala tidur bu Erin, nanti akan saya resepkan salep untuk menghilangkan benjolan tersebut."
"Itu artinya saya boleh pulang siang ini dok?" tanya Erina senang. Arini mengangguk..
"Iya bu Erin. Oh iya, selamat atas pernikahannya. Semoga bayinya sehat hingga lahir nanti."
"Lebig tepatnya, bayi-bayi kami dok," ucap Ardian bahagia. Arini melihat lagi catatan medis Erina. Ia tampak takjub.
"Wah, bayi kalian kembar? Sekali lagi selamat ya bu Erin. Jaga asupan gizinya. Karena hamil kembar tidak semudah kehamilan biasa."
__ADS_1
"Terima kasih dok."
⭐⭐⭐⭐
Perjalanan pulang menuju rumah Erin terasa sangat panjang. Bagaimana tidak kalau tak ada satupun yang berbicara. Tentu saja hal itu membuat bang Ali bingung.
"Den, kita pulang ke rumah tuan Andrew atau ke rumah tuan Arga?"
"Hmm.. kamu mau pulang kemana, Rin?"
Tak ada panggilan sayang. Apakah dia marah? tanya Erina dalam hati.
"Ke rumah mommy aja, bang. Oh iya, nanti mampir ke supermarket. Ada yang saya mau beli."
"Langsung pulang saja, bang. Nggak usah mampir-mampir. Non Erin butuh istirahat," perintah Ardian dengan nada tegas.
"Apa-apaan sih elo pake ngelarang-larang gue?" tanya Erina tak suka.
"Kamu itu baru keluar rumah sakit. Walau dokter bilang kamu baik-baik saja, tapi kondisimu belum pulih 100%. Tadi dokter juga bilang kamu harus istirahat, kalau tidak kamu harus dirawat." ucap Ardian lembut.
"Tapi tadi dokter Arini juga bilang masalah gue cuma kepala yang benjol. Kandungan gue baik-baik aja. Lagian elo tuh egois!"
Bang Ali hanya bisa terdiam mendengar pertengkaran keduanya.
"Justru kamu yang egois! Kamu dalam kondisi hamil malah pergi clubbing, joget-joget nggak karuan. Apa pantas seorang ibu melakukan hal itu?" Ardian balik bertanya dengan nada agak tinggi. "Kamu juga egois, karena nggak memikirkan perasaan suamimu. Seenaknya saja kamu membiarkan tangan kamu dipegang oleh lelaki yang bukan siapa-siapa kamu, padahal disitu ada aku. SUAMIMU!"
"Kalau elo memang suami yang pengertian, seharusnya elo tahu bahwa seorang istri, apalagi yang sedang hamil, juga membutuhkan refreshing. Bukan hanya seharian di kamar, nggak boleh melakukan apapun. Gue ini hamil, bukan cacat!"
Bang Ali mulai gelisah karena pertengkaran ini semakin memanas.
"Sudah den, sudah non. Jangan bertengkar...."
"BANG ALI DIAM AJA DEH!"
"BANG ALI NGGAK USAH IKUT CAMPUR!"
Bang Ali langsung terdiam. Ia tak berani mengatakan apapun lagi.
"Kalau elo menganggap diri lo suami gue, kenapa tadi diam aja waktu Daffa melamar gue lagi? Cih, kemarin-kemarin bilang cinta. Giliran istrinya dilamar cowok lain malah diam aja. Suami macam apa!"
"Kamu yang egois! Kamu selalu mencegahku memberitahu Daffa kalau aku ini suamimu!" balas Ardian tak kalah pedas.
Kini keduanya duduk berlawanan arah. Masing-masing membuang pandang ke jendela dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara itu bang Ali sebisa mungkin tak membuat suara. Diarahkannya mobil menuju rumah Andrew.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1