
Erina menatap lembaran kertas yang ada di mejanya. Keningnya terlihat berkerut menandakan ia sedang berpikir keras. Lembaran-lembaran yang bukan berisi desain ataupun perhitungan proyek, namun lembaran yang ditempeli potongan kertas yang membentuk kalimat.
"DIA BUKAN PRIA SUCI."
"A KILLER!"
"HE'S A LIAR!"
Erina tak menyangka akan menerima surat kaleng seperti ini. Apa maksudnya? Siapa yang dimaksud, apakah Daffa? Apakah ini yang Ardian katakan tentang masa lalu Daffa? Berbagai pertanyaan muncul di kepala Erina. Ia sengaja belum memberitahu Daffa mengenai hal ini. Pertama karena ia masih bingung, kedua karena akhir-akhir ini Daffa sering pergi ke London. Intensitas pertemuan mereka berkurang. Bahkan akhir-akhir ini komunikasi melalui pesan atau telepon pun agak jarang karena keduanya sama-sama sibuk. Jam yang berbeda mendukung hal tersebut.
"Di, gue bisa ketemu elo malam ini?" tanya Erina melalui ponselnya.
"Tumben ngajak ketemuan," sahut Ardian.
"Ada yang mau gue tanyain."
Lama tak terdengar jawaban dari Ardian.
"Di, elo masih hidup kan? Nggak mungkin kan elo pingsan karena saking bahagianya gue ajak ketemuan?"
"Eh ka****t nih anak. Kepedean banget lo!"
"Ya barangkali aja elo bahagia banget bisa ketemu gue, wanita yang lo cintai dalam diam."
"Dih najong banget nih cewek!" balas Ardian walau dalam hati ia membenarkan ucapan Erina. Ia memang sangat bahagia Erina mengajaknya bertemu.
Sejak pertunangan Erina dan Daffa, ia memang membatasi diri berhubungan dengan gadis ini. Kalaupun bertemu, pasti karena ada acara di circle pertemanan mereka. Ardian berusaha menerima kenyataan bahwa Erina telah menerima Daffa sepenuhnya. Menerima gadis pujaannya menjadi milik lelaki lain.
"Halaaah.. ngaku aja kalau elo happy banget bisa ketemu gue," ledek Erina.
"Iya, iya gue senang banget bisa ketemu elo. Puas?"
"Naah gitu dong. Apa susahnya sih jujur sama gue. Siapa tau gue berubah pikiran dan bisa menerima elo..."
"Nggak usah bercanda! Elo sudah diikat sama tuh cowok," potong Ardian kesal.
"Dih, main potong omongan orang aja lo. Dengerin dulu sampai habis. Gue mau bilang bisa menerima elo sebagai kacung." Erina tergelak sendiri walau di dalam kepalanya berkecamuk berbagai pertanyaan.
"Dasar cewek sengklek!"
"Nanti gue ke apartemen lo ya?"
"Jangan!" tolak Ardian cepat.
"Kenapa? Elo sembunyiin cewek bugil disitu? Atau cowok bugil? Di, elo nggak berubah haluan kan?"
"Eh, suek banget nih anak! Gue masih normal ya!"
"So, nggak ada masalah dong kalau gue mampir ke apartmen lo." Bermasalah banget Rin, batin Ardian.
"Ah, nggak seru lo!"
__ADS_1
"Kita diner di rumah ayah aja. Habis itu kita ngobrol di kamar gue. Mama Amel dan ayah juga sudah nanyain elo terus."
"Hmm.. okelah. Ngobrol di kamar lo lebih nyaman karena banyak yang mau gue tanyain ke elo."
⭐⭐⭐⭐
Makan malam di rumah Arga dan Amel terlihat meriah. Amel memasak berbagai makanan kesukaan Erina. Sejak dulu ia sangat menginginkan memiliki anak perempuan, namun tak pernah terwujud. Itulah sebabnya ia sangat menyayangi Erina ketimbang Starla, menantu sekaligus keponakannya.
"Rin, mama dengar kamu akam segera menikah dengan Daffa?" tanya Amel.
"Insyaa Allah, ma." Ya, memang sejak dulu Erina selalu memanggil Amel dengan sebutan mama. Itu permintaan Amel yang sudah menganggap Erina sebagai anaknya sendiri.
"Bahasa lo sok alim banget, Rin," ledek Ardian sambil mencomot sepotong udang berukuran jumbo dari piring Erina.
"Ardian! Itu kan udang gue. Mama Amel tadi ngupasin udang itu buat gue!" Erina berusaha merebut udang yang diambil Ardian.
"Yeeee... ini kan di rumah gue. Berarti ini udang gue!" Ardian tak mau kalah dan buru-buru memasukkan udang itu ke mulutnya. "Sini ambil di mulut gue!"
"Ih ogah banget! Jorok!" omel Erina. "Tuh, mama liat kan Ardian jorok banget."
"Di, jangan gangguin Erin!" tegur Amel. "Tenang sayang, nih mama kupasin lagi udang buat kamu. Mama masih punya banyak, buat kamu semua."
"Aaah.. mama nggak adil nih. Ardian kan anak mama, kenapa mama malah spesialin si Erin. Emangnya dia martabak?" gerutu Ardian. "Nyesal gue ajak lo kesini."
"Yeeee... makanya jadi anak shalihah biar disayang orang banyak," ledek Erina.
"Emangnya gue cewek, disuruh jadi anak shalihah."
"Mama beneran nggak adil nih," gerutu Ardian setelah Amel memberikan udang kepadanya. "Erin dapat udang yang besar dan sudah mama kupasin. Ardian cuma dikasih udang kecil, belum dikupas pula!"
"Ya ampun, ngalah sama cewek boleh dong," sahut Amel sambil tersenyum meledek.
"Iya nih ma, Ardi emang suka jealous nggak jelas."
"Termasuk jealous sama calon kamu?" tanya Amel sambil senyum meledek. Erina mengangguk sambil nyengir.
"Mama tau nggak kalau ternyata Ardian naksir Erin?"
"Rin, ngapain sih bahas masalah itu sama mama?" tanya Ardian kesal. "Elo kesini mau bahas sesuatu atau mau ngeledekin gue?"
"Dua-duanya," jawab Erina santai.
"Tau dong. Kan dia sudah lama naksir kamu. Mama pikir kamu nolak dia makanya dia pacaran sama yang lain," sahut Amel. Yaelah si mama ngapain juga melegitimasi pernyataan si tomboy, omel Ardian dalam hati.
"Oh ya? Ardian tuh nggak pernah nembak Erin. Setelah Erin bilang mau serius sama Daffa baru deh dia menyatakan perasaannya."
"Benar apa yang Erin bilang, Di?" Kali ini Arga ikutan bicara. Dih, si ayah ngapain juga ikutan ngomong, batin Ardian. Ia berusaha memasang wajah lempeng dirinya dighibahi oleh Erin dan kedua orang tuanya.
"Beneran om. Masa sih Erin bohong sama kalian. Om tau nggak, tadinya Erin pikir dia nge-prank doang. Eh, taunya dia ngajakin nikah."
Arga dan Amel terkekeh mendengar cerita Erina. Mereka sudah lama tau mengenai perasaan yang dimiliki Ardian terhadap Erina. Bahkan dulu mereka sempat membahas masalah ini dengan kedua orang tua Erina.
__ADS_1
"Dulu om pikir kalian akan menikah seperti di novel-novel yang mamamu suka baca. Eh, nggak taunya kamu malah mau nikah sama yang lain. Kamu lelet sih, jadinya diambil orang lain deh," ledek Arga.
"Ayah nggak usah ikutan ngeledek deh," Ardian mulai merasa gerah. Kelamaan disini jangan-jangan nanti mama Amel ngebongkar semua rahasia gue. "Elo sudah selesai makan? Ayo ke kamar gue!"
"Hati-hati lho. Ingat, Erin tunangan orang lain." Arga mengingatkan.
"Ardi juga tau, yah. Lah wong kita cuma mau ngobrol."
"Tunangan orang jangan ditikung ya, Di," ledek Amel. "Masih banyak lho kembang di luaran sana."
"Rin ayo buruan! Kelamaan disini bisa berdarah kuping gue gara-gara pasangan lawas ini." Ardian meninggalkan meja makan, meninggalkan tawa bahagia mereka yang berhasil meledeknya. Ah, seandainya mereka tahu beratnya menghapus perasaan itu.
⭐⭐⭐⭐
"Di, please ceritain ke gue apa yang lo tahu tentang Daffa."
"Elo tanya sendiri ke Daffa. Gue nggak mau terlibat dalam urusan kalian. Apalagi kalian berdua sudah tau gimana perasaan gue ke elo."
"Gue nggak enak sama Daffa. Gue nggak mau dianggap nggak bisa menerima masa lalu dia."
"Rin, kalau dia benar-benar cinta dan berniat menikah sama elo seharusnya dia jujur mengenai masa lalunya."
Cinta? Apakah dia mencintaiku dengan tulus? Erina terdiam.
"Jangan bilang dia belum menyatakan cinta sama elo?"
"Apa itu penting?"
"Rin, gue kenal elo sudah lama. Elo itu tipe cewek yang demen banget dikasih kata-kata cinta. Elo itu butuh afirmasi lewat kata-kata. Makanya gue bingung saat elo memutuskan menjalani hubungan dengan dia."
"Mantan-mantan gue sring mengungkapkan kata-kata cinta, eh taunya pada ninggalin. Gue pikir dengan Daffa, gue nggak butuh hal itu. Buat gue yang penting dia juga mau sama gue."
"Ya tuhan, murahan amat jadi cewek." Bantal besar melayang ke kepala Ardian.
"Elo jadi sahabat gitu amat sih. Bukannya mendukung gue, tapi malah ngeledek mulu. Nyesal gue cerita sama elo." Gue lebih menyesal karena mengusulkan elo jadian sama dia, batin Ardian.
"Di, yang gue bingung kenapa dia dibilang pembunuh? Siapa yang dia bunuh? Melihat surat-surat kaleng itu, pikiran gue jadi traveling kemana-mana."
"Daripada bingung, setelah dia balik dari London tanya aja langsung. Tunjukkan surat-surat ini. Atau tanya sama keluarganya. Mereka pasti tahu ada kejadian apa. Bukan hak gue menceritakan masa lalu orang lain. Apalagi tuh orang saingan gue."
"Kalau mereka tersinggung dan menganggap gue nggak serius Daffa, gimana? Lo tau kan gimana perjuangan gue untuk mendapatkan simpati ibunya. Kalau kita disuruh putus gimana?"
"Kan ada gue."
"Maksudnya?"
"Elo nikah sama guelah."
"Sinting!"
"Biarin."
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐