TAKLUK

TAKLUK
DILEMA


__ADS_3

Daffa sudah pulang dari rumah sakit dan sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Ia kembali disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Sebagai anak lelaki satu-satunya keluarga Irwan Hermawanto dan cucu lelaki tertua, meneruskan perusahaan yang dibangun oleh kakek dan ayahnya menjadi tanggung jawabnya.


"Ris, mana surat perjanjian dengan tenant yang baru? Oh iya, jangan lupa tanyakan ke perusahaan cleaning service yang biasa kita pakai, apakah mereka bisa memenuhi permintaan kita." Pagi itu Daffa sudah mulai sibuk memberi perintah pada Haris, sekretaris sekaligus asisten pribadinya.


Dengan sigap Haris mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya. Haris sudah cukup lama mengabdi pada keluarga Hermawanto. Ayahnya adalah sekretaris pribadi dan orang kepercayaan pak Hermawanto. Bahkan beliau dipercaya mengelola salah satu bisnis keluarga tersebut. Sebagai balas budi kepada keluarga Hermawanto, setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya Haris memilih bekerja di perusahaan milik Irwan Hermawanto .


Usia Haris lebih tua daripada Daffa, namun ia tidak keberatan menjadi sekretaris dan asisten pribadi Daffa. Bahkan saat Daffa menempuh studi S2 di London, Haris ikut mendampingi. Karena sambil kuliah, Daffa sudah mulai belajar mengurus perusahaan keluarga. Bagi Haris, Daffa sudah seperti adik sendiri.


"Bos, jangan lupa besok ada zoom meeting dengan kantor Australia." Haris mengingatkan. "Bulan depan, ada jadwal ke London."


"Ris, kayaknya untuk beberapa waktu aku nggak bisa ke London. Ibu suri dan calon istri sudah mulai ngomel." Daffa nyengir mengingat bagaimana kompaknya Erina dan sang bunda melarangnya ke London. Bahkan sang bunda mengultimatum agar dirinya tidak ke London jika belum menikah dengan Erina.


"Makanya bos, buruan nona Erinnya diajak menikah. Jadi kalau ke London bisa dibawa." Haris langsung menutup mulutnya saat melihat perubahan di wajah Daffa. "Bos belum cerita ke nona Erin?"


"Aku ragu. Aku takut dia akan meninggalkanku jika mengetahui kenyataannya. Aku nggak akan sanggup bila itu terjadi. Tapi aku juga tidak bisa melepas tanggung jawabku."


"Bos, sebaiknya anda katakan yang sebenarnya kepada nona Erin. Jangan sampai dia mendengar dari orang lain mengenai hal itu," usul Haris. "Maaf bos, saya nggak bermaksud menggurui. Tapi pernikahan yang dilandasi dengan ketidakjujuran tidak akan baik ke depannya."


"Tapi justru kejujuranku bisa membahayakan hubungan ini. Aku nggak yakin dia bisa menerimanya. Lihat saja bagaimana Brit menerima hal tersebut. Dia yang sudah lebih lama bersamaku memilih mengakhiri hubungan kami. Bisa kamu bayangkan bagaimana reaksi Erina. Hubungan kami juga belum terlalu lama."


"Kalau dia mencintai bos, pasti dia akan mengerti dan mencoba menerima anda."


"Cinta? Aku nggak tau apakah dia mencintaiku."


"Bagaimana dengan perasaan bos? Apakah bos mencintai dia? Apakah bos pernah menyatakan cinta pada nona Erin?" Daffa terdiam mendengar pertanyaan tersebut.


"Kami telah membahas mengenai itu. Buat kami berdua cinta bukan hal penting dalam hubungan ini. Tujuan kami menikah karena kami berdua nyaman dan agar kami memiliki pasangan menjalani hidup. Cinta bisa muncul setelah kami hidup bersama."


Haris tertawa mendengar ucapan Daffa. "Ya ampun bos, kenapa anda senaif itu."


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Bos, bagi seorang wanita pernyataan cinta itu salah satu hal penting dalam sebuah hubungan. Walaupun wanita itu bilang cinta bukan dasar utama dalam menjalin hubungan pernikahan, namun mereka akan sangat bahagia bila pasangannya mengungkapkan cintanya."


Daffa terdiam mendengar perkataan Haris. Apakah itu yang menyebabkan Erina terlihat tak semangat saat ia mengajak menikah. Apakah Erina mengharapkan ungkapan cinta darinya? Sepertinya Erina bukan gadis seperti itu.


"Erin tidak seperti itu. Dia sudah muak dengan ungkapan cinta tanpa ada tindakan lanjut dari pasangannya."


"Bos yakin? Hati-hati bos, jangan sampai hubungan kalian kandas karena tak ada rasa cinta diantara kalian. Apalagi bos pernah bilang kalau saingan anda sudah menyatakan perasaan cintanya kepada nona Erin."


"Entahlah Ris, aku belum bisa mengambil keputusan apapun mengenai semua itu."


"Bos, bagaimana kalau ternyata nona Erin menerima cinta saingan anda karena biasanya wanita lebih memilih dicintai daripada mencintai. Apalagi nona Erin menikah dengan anda bukan karena masalah ekonomi. Menurut saya tak ada salahnya anda menanyakan dulu pada diri anda sendiri bisakah menjalani pernikahan tanpa cinta. Lalu bagaimanakah sesungguhnya perasaan anda terhadap gadis itu."


Daffa kembali terdiam mendengar ucapan Haris. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. HONEY.


"Yes honey. What's wrong?"


"................."


"................."


"I know that. I promise everything won't change."


"................"


"Miss you too."


Haris tak berkata apapun selama Daffa menerima telpon. Ia mengerti dilema yang harus dihadapi Daffa.


"Bos, sebaiknya anda pikirkan masak-masak mengenai situasi ini kalau tak ingin kehilangan nona⁰ Erina seperti kehilangan nona Brittany." Haris keluar ruangan setelah mengatakan hal tersebut.


Aku harus bagaimana? Haruskah kukatakan sejujurnya pada Erina. Bagaimana kalau dia meninggalkanku?

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


"Rin, tante harap kamu dan Daffa bisa menikah dalam waktu dekat," pinta Mira kepada Erina saat mereka makan siang bersama. Mira memegang tangan Erina. "Tante tak ingin Daffa kembali terpuruk seperti dulu."


"Apa maksud tante? Kenapa Daffa terpuruk? Apakah dulu dia pernah berencana menikah dengan Brittany?"


"Iya Rin. Dulu mereka sudah memiliki rencana menikah, tapi batal."


"Apakah karena berbeda keyakinan?" Mira terdiam. Ia terlihat ragu, namun akhirnya mengangguk.


"Daffa terpuruk saat Brit memilih membatalkan pernikahan mereka. Padahal saat itu orang tua kedua belah pihak sudah merestui. Akibat batalnya pernikahan itu, Daffa memilih menutup hati dan menyibukkan diri dengan pekerjaan."


"Tante, apakah yang akan terjadi seandainya pernikahan di antara kami batal?" Mira terperanjat mendengar pertanyaan Erina.


"Apa maksudmu? Kamu berniat membatalkan pertunangan kalian?" tanya Mira panik. Matanya mulai berkaca-kaca. "Tante harap itu tak terjadi. Walaupun dari luar Daffa terlihat ramah pada orang lain, namun di dalamnya ia sangat dingin. Hal itu berubah sejak ia bertemu denganmu. Tante senang melihat perubahan pada diri Daffa. Ia terlihat memiliki semangat hidup kembali."


"Mohon maaf tante, Erin bukan bermaksud membatalkan rencana itu. Tapi saat ini Erin sedang berpikir ulang, mengenai hubungan kami. Erin merasa ada sesuatu yang Daffa sembunyikan. Daffa belum jujur mengenai dirinya. Buat Erin, kejujuran salah satu pondasi penting dalam sebuah pernikahan. Tanpa ada kejujuran, mustahil sebuah hubungan akan langgeng."


Mira tergugu mendengar penjelasan Erina. Manik matanya bergerak cepat, menandakan dirinya gugup. Erina melihat itu semua, namun ia tak ingin mendesak Mira. Menurutnya Daffa-lah yang harus menjelaskan semuanya, bukan kedua orang tuanya.


"Kamu sudah membahas masalah ini dengan Daffa?"


"Belum terlalu jauh tante. Erin ingin Daffa benar-benar sehat dulu. Erin nggak mau membebani pikiran Daffa di saat ia baru saja pulih dari sakit. Erin nggak tega melihat Daffa terbaring sakit seperti kemarin. Terlebih lagi, Erin nggk mau melihat tante sedih seperti kemarin."


Mira terenyuh mendengar ucapan Erina. Gadis ini benar-benar memiliki hati yang tulus. Di balik penampilannya yang tomboy dan terkesan urakan ternyata ada hati yang penuh kasih sayang, batin Mira.


"Terima kasih sayang karena kamu sudah menunjukkan ketulusan hatimu. Bukan hanya kepada Daffa seorang tapi juga kepada tante. Maaf kalau dulu tante meragukan pilihan Daffa." Mira menggenggam erat tangan Erina.


"Sama-sama tante. Erin juga sangat bersyukur tante pada akhirnya bisa menerima Erin dengan segala kekuranganku."


Ya tuhan, semoga engkau pertemukan jodoh mereka, doa Mira dalam hati.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2