TAKLUK

TAKLUK
MENCARI ARDIAN


__ADS_3

"Lex, tolong hubungi Nathalie. Gue dari tadi nggak bisa menghubungi Ardian."


"Tumben cari Ardian. Khawatir dibawa kabur Nathalie, ya?" ledek Alexia.


"Bukan karena itu. Gue di klinik Kasih Bunda."


"Ooh minta temenin periksa tho. Memangnya Ardian nggak nyusul kesana?"


"Kalau dia ada disini gue nggak akan minta tolong elo, dodol!" omel Erina.


"Lalu kenapa? Kayaknya urgent banget."


"Please Lex jangan banyak tanya. Just call Nathalie! Minta dia sampaikan ke Ardian untuk segera ke klinik." desak Erina.


"Elo kenapa sih? Mau lahiran sekarang?"


"IYA!" Tuuut... tuuut... tuuut. Hubungan langsung diputuskan oleg Erina.


"WHAT THE ...."


"Beb, ada apa sih kok marah-marah begitu?" tanya Raymond yang baru selesai mandi.


"Erin mau melahirkan!"


"Bukannya belum waktunya melahirkan?" tanya Raymond heran.


"Aku juga nggak tahu sayang. Erin menyuruhku menghubungi Nat."


"Apa hubungannya lahiran dengan Nat? Dia kan bukan dokter kandungan ataupun bidan."


"Ardian lagi jalan sama Nat. Nanti aku jelasin. Sekarang aku akan menelpon Nat."


"Apa?! Ardian jalan sama Nathalie?!" Alexia mengangguk. "Oh Lord, kenapa Erin mengijinkan suaminya jalan dengan perempuan lain?"


"Beb, bahasnya nanti aja. Aku mau telpon Nat dulu ya."


Alexia mencoba menghubungi Nathalie. Percobaan pertama gagal. Ia mencoba lagi, gagal lagi. Kemana sih nih anak? batin Alexia kesal. Percobaan ketiga baru berhasil itupun setelah deringan entah ke berapa kalinya.


"Nat, susah amat sih ditelpon!" omel Alexia.


"Lex. ada apa? Ini gue, Ardian." Terdengar suara seorang pria mengangkat telpon.


"Ah, syukurlah elo yang angkat. Ponsel lo kenapa?"


"Kenapa? Ponsel gue baik-baik aja," jawab Ardian. "Ups sorry, ternyata ponsel gue mati. Habis baterai."


"Pantesan. Besok-besok kalau mau pergi, ponsel jangan lupa dicharge sampai full! Sudah tau bini lagi hamil, jalan sama cewek lain, ponsel mati. EGOIS LO DI!"


"Eh, apaan sih kok elo ngomel sama gue? Ini gara-gara sepupu lo mendadak jemput gue, makanya gue belum sempat charge."


"Terserah apa kata lo deh. Ngapain masih bareng Nat? Elo lupa kalau hari ini jadwal bini lo periksa?"


"Gue ingat, rencananya habis makan Nathalie mau antar gue ke klinik."


"Dasar cowok g****k, ngapain nunggu diantar Nat. Dia bakal sengaja ngelama-lamain. Buruan susul bini lo!" omel Alexia.


"Iya bentar lagi. Gue tunggu Nathalie balik dari restroom."


"ARDIAN T***L, SEKARANG JUGA LO SUSUL ERIN! DIA MAU MELAHIRKAN!" seru Alexia kesal.

__ADS_1


"APA?! KENAPA LO NGGAK BILANG DARI TADI? Oke, oke ... Gue bakal ke klinik." Telpon pun diputus.


"Kenapa beb? Kok emosi banget?"


"Gimana nggak emosi, si Ardian malah lagi makan sama si Nat." jelas Alexia dengan penuh emosi. "Sayang, gue susul Erin dulu ya. Kasihan dia sendirian. Aunty Yuna lagi pergi keluar negeri."


"Aku antar kamu. Aku nggak mau kamu nyetir dalam keadaan kalut. Aku yakin Erin baik-baik saja." Raymond memeluk istrinya yang terlihat kalut. Ia cium pucuk kepala Alexia.


⭐⭐⭐⭐


"Lho, mana Ardian?" tanya Nathalie saat dilihatnya meja mereka kosong. "Mas, lihat cowok yang tadi disini nggak?"


"Oh itu mbak, cowoknya tadi langsung pergi. Ponsel mbaknya dititip di kasir. Makanannya tadi sudah dibayar sama cowoknya," jelas pelayan resto yang melintas di dekat Nathalie.


"Oh, okay. Terima kasih ya mas."


Kemana kak Ardian? Kok dia ninggalin aku sendirian sih? Memangnya dia nggak kasihan kalau aku nyetir sendirian malam-malam begini? Ini pasti gara-gara kak Erin. Manja banget sih jadi istri. Nathalie sibuk dengan pikirannya hingga menabrak seorang pria. Untunglah pria tersebut berhasil menangkap tubuh Nathalie.


"Oh, maaf nona. Saya nggak sengaja." ucap pria itu tanpa melepaskan pelukannya.


Nathalie mengangkat pandangannya. Matanya bertabrakan dengan mata pria itu. Hmm.. ganteng, batin Nathalie.


"Eeh.. maaf. Bisa lepas?"


"Oh... eh.. ma-maaf." Pria itu melepaskan pelukannya. Lalu pria itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, nama saya Arsya. Sebagai permintaan maaf saya, bagaimana kalau saya traktir nona makan malam?"


"Maaf, apa anda tidak bisa lihat kalau saya mau keluar resto ini? Itu artinya saya sudah selesai makan malam. Anda mau membuat saya gendut?"


Pria bernama Arsya itu menatap Nathalie dari atas hingga ke bawah.


"Tubuh anda tidak mungkin gemuk hanya gara-gara makan malam. Tubuh anda bahkan perlu sedikit lebih gemuk agar terlihat lebih seksi. Walaupun saat ini penampilan anda sudah bisa membuat para pria meneteskan liurnya."


"Jangan salahkan saya bila mengagumi keindahan ciptaan tuhan yang ada di depan saya saat ini." balas Arsya berbisik di telinga Nathalie dengan suara rendah. Nathalie merasakan nafas hangat pria itu di lehernya.


"Anda terlalu tinggi memuji saya." Nathalie tersenyum tipis.


"Bagaimana kalau saya mentraktir anda minum kopi? Segelas kopi takkan membuat anda gemuk, bila itu yang ada khawatirkan."


"Hmm.. apakah anda mencoba menggoda saya?" tanya Nathalie sambil mengerlingkan mata.


"Apakah terlihat sekali?" balas Arsya sambil memamerkan smirknya.


"Kata oma saya tak baik menolak rejeki. Perlu anda tahu saya menerima tawaran ini agar perasaan bersalah anda berkurang."


"Sejak awal saya sudah tahu kalau anda wanita yang bijaksana. May I?" Arsya mengulurkan tangannya dan Nathalie mengaitkan lengannya di lengan Arsya.


⭐⭐⭐⭐


"Sus, bagaimana dengan istri saya?"


"Siapa nama istri anda?"


"Erina Aurelia Smith."


"Saat ini bu Erin sedang dalam persiapan operasi," jawab perawat di bagian registrasi.


"Apa? Operasi? Kenapa istri saya harus dioperasi? Apa yang terjadi pada istri saya?" tanya Ardian panik.


"Silakan temui istri anda di ruang Tulip 204. Anda bisa naik dengan lift itu."

__ADS_1


Tak sampai 5 menit, Ardian sudah menemukan kamar tempat Erina dirawat. Dengan tergesa dibukanya pintu. Saat membuka pintu, tampak kedua orang tuanya, Alexia dan Raina dengan pasangan masing-masing.


"Ardian! Kamu bagaimana sih? Sudah tahu istrinya hamil, kenapa malah kamu tinggal menemui klien? Seberapa pentingnya klien itu sampai kamu bela- belain temui hari Sabtu begini?" Omelan Amelia disertai pukulan di lengan Ardian saat masuk ke dalam kamar.


"Klien?"


"Iya, elo kan habis ketemu klien untuk proyek perumahan di pinggir kota itu," sahut Erina cepat. "Bagaimana proyeknya? Kliennya puas kan dengan rencana kita?"


"Eh.. i-iya. Mereka suka dengan rencana kita."


"Mama tahu kan kalau klien perorangan itu lebih cerewet daripada corporate. Benar-benar kayak raja," ucap Erina sambil tertawa kecil.


Ardian mendekati Erina. Saat bertatapan dengan Raina dan Alexia, ia dapat merasakan kemarahan dari sorot mata mereka.


"Kamu kenapa sayang? Kenapa harus operasi? Sudah mulai kontraksi? Sebelah mana yang sakit?" Ardian memberondong Erina dengan pertanyaan. Ia mengecup lembut kening dan punggung tangan Erina.


"Gue baik-baik aja, Di."


"Pak Ardian, dokter Ziva mau bertemu dengan anda," ucap perawat yang baru masuk.


"Papa dan mama ikut kamu menemui dokter," ucap Arga.


Sepeninggal ketiganya, Raina mendekati Erina. Wajahnya cemberut.


"Elo kenapa sih, Rai?"


"Ngapain sih elo ngebelain Ardian?"


"Ya gue nggak enaklah sama mertua gue kalau gue bilang anaknya pergi dengan Nathalie. Lagipula memang gue yang mengijinkan mereka jalan bareng."


"Eriiiin.. sumpah ya, elo tuh terlalu baik! Ngapain suami lo dibiarin jalan berdua dengan cewek lain?" seru Raina kesal.


"Nathalie bukan sembarang cewek. Kita sudah lama kenal dia."


"Rin, itu nggak jaminan dia nggak bakal ngerebut suami lo. Walaupun dia sepupu, gue nggak setuju dengan apa yang dia lakukan. It's totally wrong."


"Nggak papa kok Lex. Lagipula gue sudah biasa kok periksa kehamilan sendiri. Kebetulan aja kali ini ada masalah dengan bayi gue."


Raina memeluk Erina sambil terisak.


"Rin, kasian banget sih elo. Kenapa sih cowok-cowok tuh jahat banget sama elo. Dibalik penampilan lo yang tomboy, elo itu orang yang paling baik yang pernah gue temuin walaupun kadang elo beringas."


Erina tertawa mendengar ucapan absurd Raina.


"Iya Rin, mereka tuh nggak ngerti kebaikan elo. Mereka tuh jahat sama elo. Kita berdua sayang elo." Alexia ikut memeluk Erina sambil menangis.


"Hei kenapa malah kalian yang nangis?" tegur Henry. "Seharusnya kalian menyemangati Erin, bukan membuatnya sedih."


"Ini cara kami menunjukkan sayang ke dia, mas."


"Sayang, maafin aku." Tiba-tiba Ardian menerobos masuk ke kamar. Alexia dan Raina melepaskan pelukan mereka.


"Kenapa sih kalian ini? Kenapa semua jadi mellow?" tanya Erina bingung.


"Maaf sayang, aku nggak tahu keadaan bayi kita." Ardian langsung memeluk Erina. "Aku jahat sudah meninggalkan kamu. Seharusnya aku menolak ajakan makan malam."


"Itu bukan salah elo, Di. We'll be okay." sahut Erina. "Ngapain sih pake peluk-peluk segala. Malu sama yang lain."


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2