TAKLUK

TAKLUK
PELAKOR


__ADS_3

Erina sedang menyuapi Ardian makan siang ketika tiba-tiba Nathalie menerobos masuk ke ruang perawatan. Nafas gadis itu tersengal-sengal. Matanya basah oleh air mata.


"Kak Ardian. Kakak kenapa?" tanya Nathalie sambil mendekati Ardian untuk memeluknya. Namun Ardian mengangkat tangannya menolak untuk dipeluk.


"Aku baik-baik saja, Nat. Kamu nggak usah khawatir," jawab Ardian dengan nada datar. Rupanya Nathalie menyadari hal itu.


"Kakak marah sama Nat?" tanyanya disela isakannya. Sementara itu Erina yang duduk di samping ranjang berdiri hendak menjauh. Namun tangannya ditahan oleh Ardian.


"Kamu mau kemana?" tanya Ardian lembut.


"Eh, gue mau ke kantin," jawab Erina cepat. "Gue lapar."


"Kamu jangan kemana-mana. Aku kan belum selesai makan. Kamu makan bareng aku ya," pinta Ardian. Tangannya tak melepaskan tangan Erina. "Aku kan nggak bisa makan dengan kondisi seperti ini, sayang."


"Kak Erin kalau mau ke kantin pergi aja sana! Biar aku yang menyuapi kak Ardian," ucap Nathalie cepat dengan ada ketus. "Kakak aku yang suapin ya."


Cih, bermuka dua! Ngomong sama gue ketus banget. Giliran ngomong sama Ardian sok manis. Dasar ular! maki Erina dalam hati. Malas banget gue harus saingan sama ular betina yang masih bocil ini. Erina memperhatika penampilan Nathalie yang memakai gaun selutut berwarna pink dan aksesoris dengan warna senada. Dandanannya terlihat natural, persis aktris Korea. Memperlihatkan sisi girly-nya. Lalu Erina memperhatikan dirinya sendiri. Celana jeans, kemeja kedodoran, rambut dicepol asal, muka hanya memakai skincare dan sunscreen. Berbeda ibarat langit dan bumi.


Apa mungkin Ardian nggak tergoda sama dia? Apalagi nih cewek lumayan agresif. Ah, terserah Ardian aja deh dia mau pilih siapa. Kalau memang dia lebih memilih Nathalie, gue harus bisa terima. Toh dari kemarin-kemarin gue juga suruh dia cari wanita lain. Eh tapi, tadi pagi gue kan sudah mengakui semuanya di hadapan dia. Erina menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan berbagai pikiran aneh di kepalanya.


"Gue tinggal sebentar ya. Gue mau ke kantin sekalian mau shalat di mushola. Mumpung ada Nathalie yang jagain. Lagipula gue sumpek di kamar terus sejak kemarin." Erina melepaskan cekalan tangan Ardian. "Nat, titip Ardian sebentar ya."


"Titip yang lama atau selamanya juga nggak apa-apa. Kak Erin nggak balik lagi juga nggak jadi masalah. Iya kan kak?" tanya Nathalie sambil meraih piring yang ada di tangan Erin. "Mendingan kak Erin pulang urusin anak-anaknya yang cengeng itu. Kak Ardian biar aku yang urusin."


Hati Erina tertohok mendengar ucapan Nathalie yang tak ada basa basi. Gadis ini benar-benar mengibarkan bendera perang rupanya. Sebeluk meninggalkan Ardian, Erina berbalik dan mendekati Ardian. Lalu, cup. Bukan hanya sekedar kecupan, namun ciuman yang lembut dan manis. Tentu saja Ardian terkejut dengan sikap Erina. Tapi ia menikmatinya. Sementara itu Nathalie menatap Erina penuh kebencian.


"Jangan nakal ya sayang," ucap Erina lembut lalu ia melenggang meninggalkan ruangan. Ardian masih tak percaya dan meraba bibirnya yang tadi dicium Erina.


"Rin...."


"Kak Ardian jahat!" sentak Nathalie kesal. Ia benar-benar marah melihat sikap pasangan suami istri itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Nat?" tanya Ardian pura-pura tak mengerti.


"Kenapa kakak malah mesra-mesraan di depanku? Hati kakak tuh terbuat dari apa sih? Kok mau-mau an bertahan di samping orang seperti kak Erin? Dia itu penampilannya serampangan, kelakuannya cuek parah, dan yang lebih parah lagi dia itu nggak cinta kak Ardian. Dia itu nggak beda dengan wanita penggoda. Kalau memang dia nggak cinta sama kakak, ngapain tadi dia cium kakak?"


"Dia itu istri kak Ardian."


"Istri macam apa yang nggak cinta sama suami?! Mana enak sih pernikahan tanpa cinta?" Nathalie masih terus ngedumel. "Ceraikan saja istri model gitu kak!"


"Nat, aku sudah pernah menegaskan bahwa sampai kapanpun nggak akan menceraikan atau melepaskan Erin. Dia itu wanita yang kakak cintai dan dia adalah ibu dari anak-anak kak Ardian."


"Tapi dia nggak cinta kak Ardian!"


"Kata siapa dia nggak cinta kak Ardian. Semalaman dia menemaniku. Dan dari sikapnya beberapa hari ini kakak yakin, di hatinya sudah mulai tumbuh rasa cinta, walau dia belum mengutarakan perasaan yang sesungguhnya." Nathalie terdiam mendengar ucapan Ardian.


"Satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu dan ini terakhir kalinya aku menyampaikan hal ini. Aku minta maaf karena telah memberikan kesan yang salah kepadamu. Semua kebersamaan kita selama ini tak lebih dari sebuah hubungan persaudaraan, karena sejak dulu hingga kini aku menganggapmu tak lebih dari seorang adik kecil yang harus kujaga. Kuharap pertemuan kita kali ini memberi kejelasan padamu mengenai hubungan kita."


"Kak Ardian .... " Nathalie menatap tak percaya. Ada yang mencelos di hatinya saat ia mendengar ucapan Ardian. Sebenarnya apa yang Ardian sampaikam tak jauh berbeda dengan apa yang Alexia sampaikan. Ia mencoba memungkiri hal .tersebut. Hatinya sudah sejak lama tertambat pada pria tampan yang ada dihadapannya ini.


"Kakak harap kamu bertemu dengan pria baik di luaran sana yang pantas untukmu. Tentunya yang masih single dan belum punya anak. Jangan yang seperti aku."


"Nat, jangan begini. Orang lain bisa salah sangka bila melihat kita seperti ini."


"Ijinkan Nat memeluk kak Ardian untuk terakhir kalinya. Biarkan seperti ini untuk sejenak." Ardian membiarkan Nathalie memeluknya.


"Kak Ardian harap kamu bisa menyelesaikan studimu, kejar cita-citamu menjadi pemain musik klasik dan mendunia. Kakak akan sangat bahagia sekaligus bangga kalau kamu berhasil meraih impianmu itu." Tangan Ardian mengelus lembut kepala Nathalie dengan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.


"Kak Ardian benar-benar nggak bisa membagi hati kakak untuk Nat?" tanya Nathalie sambil terus terisak. Ia masih menaruh harapan Ardian akan merubah keputusannya.


"Maaf, hati kak Ardian sudah penuh dengan kehadiran kak Erin dan si kembar. Kakak harap kamu bisa bertemu lelaki baik yang mencintaimu dan tentunya masih single. Meskipun kita bertemu sebelum kak Ardian jatuh cinta pada kak Erin, tak kan ada yang berubah. Kamu tetap adik kecil untukku."


Sementara itu Erina berdiri di luar kamar mendengarkan percakapan antara Ardian dan Nathalie. Walaupun ia tahu Ardian mencintainya, namun tak dipungkiri hatinya kesal dan sakit melihat sikap lembut yang Ardian tunjukkan pada Nathalie.

__ADS_1


"Rin, elo ngapain di luar?" Sebuah tangan menepuk bahu Erina. Ternyata Starla bersama Gustav. "Kok elo nggak masuk? Ardian lagi ngapain? Dia sudah sadar kan?"


Starla hendak masuk ruangan namun ditahan oleh Erina.


"Kita ngobrol di cafe situ yuk!" ajak Erina. Ia berusaha bersikap tenang dan tersenyum tipis. Namun sikapnya itu justru membuat Gustav curiga.


"Rin, ada siapa di dalam?" tanya Gustav curiga.


"Nggak ada siapa-siapa," jawab Erina sambil tertawa kecil. "Kenapa? Elo curiga ada cewek lain di dalam?"


"Elo nggak usah bohong. Gue sangat mengenal siapa elo. Gue bisa tahu apa yang saat ini elo rasakan." Tanpa mengindahkan Erina, Gustav membuka pintu kamar dan dilihatnya Nathalie yang masih bersandar di dada Ardian.


Starla yang ikut merangsek masuk hanya mampu menjerit kaget.


"Ardian! Elo sudah gila ya! Nggak gini caranya kalau elo mau selingkuh!" omel Starla.


"Siapa yang selingkuh?" tanya Ardian panik sambil mendorong tubuh Nathalie. "Nat, mendingan kamu pulang. Ingat pesan kan Ardian."


"Oh, jadi ini adik ketemu gedenya si Ardian. Ini tho pelakor yang bikin ipar gue sedih. Dasar nggak tau diri lo ya!" maki Starla sambil mendekati Nathalie seolah ingin mencakarnya. Untung saja Gustav mampu menahan istrinya.


"Nat, mendingan kamu pulang. sekarang. Aku nggak yakin Gustav mampu menahan istrinya."


"Tapi kak, aku masih mau disini sama kakak."


"Eeeh... nih cewek benar-benar minta dicakar ya?!" ucap Starla galak. Lagi-lagi Gustav harus menahan istrinya.


Sepeninggal Nathalie, mereka bertiga tertawa.


"Thanks Starla."


"Gue melakukan ini bukan buat elo, tapi buat Erina."

__ADS_1


Ardian tersenyum mendengar ucapan Starla. Ia sungguh bersyukur mereka datang dan menolongnya mengusir Nathalie.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2