
"Daf, nanti malam kamu ada waktu luang kan?" tanya Erina kepada Daffa melalui ponsel.
"Ada. Kenapa? Kamu mau ajak aku kemana?"
"Aku cuma ingin kencan sama kamu seperti waktu itu. Nonton dan makan malam."
"Oh iya, ayah dan bunda nanyain kamu terus lho. Kata mereka, kok kamu sudah lama nggak ke rumah. Apa kita diner bareng mereka?"
"Aku mau kita kencan berdua saja."
"Hmm.. kok tumben? Biasanya kamu fine-fine saja diner bareng mereka."
"Aku memang nggak ada masalah menghabiskan waktu bersama keluarga kamu Tapi untuk besok itu aku maunya kencan berdua kamu saja."
"Ya sudah, aku turutin keinginan kamu. Nanti aku jemput kamu jam 7 malam ya."
"Okay. See you."
⭐⭐⭐⭐
"Mom, nanti malam aku mau pergi sama Daffa ya." Erina berpamitan pada Yuna.
"Okay dear. Mommy juga mau pergi sama daddy kamu," jawab Yuna.
"Mommy dan daddy mau kencan juga?" tanya Erina kepo.
"Hush.. sembarangan aja kamu. Masa sudah tua begini kencan kayak bocah."
"Diih mommy mah norak. Jaman sekarang, pasangan lawas juga biasanya pergi kencan. Katanya biar selalu mesra gitu lho."
"Daddy dan mommy mau pergi ke wedding anak pak Tomo. Itu lho, si Anita. Kalau nggak salah dulu kalian satu kampus kan?" Andrew yang baru selesai mandi terlihat segar dengan celana panjang dan kaos polo.
"Anita yang dulu pacarnya Brian?" tanya Erina sambil mengoles coklat ke lembaran roti. Andrew mengangguk.
"Memangnya kamu nggak diundang, Rin?" tanya Yuna.
"Kami nggak begitu dekat, mom."
"Rin, kapan kamu dan Daffa akan menikah?" tanya Yuna.
"Hmm.. belum tau mom."
"Kalian nunggu apa lagi? Kan jeng Mira sudah setuju dengan hubungan kalian."
"Iya sih, tante Mira juga sudah bolak balik nanyain. Bahkan kami sudah beberapa kali bertemu dengan WO."
"Berarti nggak ada masalah lagi dong," ucap Andrew. "Grandpa kamu juga sudah nanyain kapan cucu kesayangannya akan menikah. Kamu tahu kan grandpa berharap bisa menghadiri pernikahanmu."
__ADS_1
"Iya dad. Kami akan segera menikah setelah segala urusan diantara kami beres," jawab Erina.
"Lho, memangnya masih ada masalah diantara kalian? Apa perasaan kamu terbagi antara Daffa dan Ardian?" tanya Andrew.
"Ini nggak ada hubungannya dengan Ardian. Ada sedikit masalah yang aku Daffa harus selesaikan."
Andrew dan Yuna hanya bisa saling berpandangan. Mereka sadar kalau tidak bisa memaksa putri mereka untuk menikah dalam waktu dekat.
"Okelah, daddy dan mommy nggak akan mendesak kamu. Kami hanya bisa berharap dapat mendengar kabar baik dari kalian dalam waktu dekat."
"Thanks mom, dad."
"Rin, kemaring jeng Mira sempat ngomong sama mommy kalau dia berharap kamu tidak akan meninggalkan Daffa."
"Maksudnya apa mom?" tanya Erina bingung.
"Mommy juga nggak ngerti apa maksud ucapan jeng Mira." Erina terdiam.
⭐⭐⭐⭐
"You're so beautiful." Daffa membuka lengannya. Erina bergegas masuk ke dalam dekapan sang kekasih.
"Kangen," bisik Erina.
"Tumben."
"Ih, kamu suka gitu." Erina berusaha melepaskan diri dari dekapan Daffa. Namun Daffa tak melonggarkan pelukannya, malah ia semakin mempererat pelukannya.
"Hey, are you okay?" Erina mengangkat wajahnya dari dada Daffa dan menatap wajah kekasihnya.
"I'm fine dear. Please don't leave me."
"Kamu kok aneh? Tante Mira juga mengatakan hal yang sama kepada mommy. Ada apa sih?"
"Nggak ada apa-apa sayang. Aku hanya nggak sanggup kalau harus berpisah sama kamu."
"Sudah, nggak usah mikir yang aneh-aneh. Yuk, kita nikmati kencan malam ini."
"Okay. Malam ini aku akan menuruti keinginanmu."
"Beneran?" Daffa mengangguk. "Ayo kita nonton. Ada film baru yang aku ingin tonton. Setelah itu aku mau makan malam di tempat pertama kali kita kencan."
Setelah menonton, mereka makan malam di restaurant tempat pertama kali mereka berkencan. Sambil menikmati makan malam, mereka membicarakan banyak hal.
"Honey, kok malam ini kamu kelihatan serius banget sih?" tanya Daffa usai makan malam.
"Daf, ada yang mau aku tanyakan ke kamu."
__ADS_1
"Apa?" Sekilas wajah Daffa terlihat cemas.
"Bisakah kamu ceritakan mengenai masa lalumu?" tanya Erina hati-hati.
"Masa laluku? Tak ada yang istimewa. Kamu tahu kan siapa wanita yang pernah menjadi kekasihku?" Daffa balik bertanya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian? Sesuatu yang tak biasa."
"Hmm.. nggak ada. Hubungan kami harus berakhir karena memang tak mungkin dilanjutkan. Kami pun putus baik-baik."
"Bagaimana dengan keluarga Brit? Apakah mereka tak keberatan dengan keputusan kalian?"
"Justru mereka yang menginginkan kami berpisah karena tahu jalan kami takkan bertemu. Ada apa sih sayang? Kok mendadak ingin tahu mengenai hal itu. Tak ada yang aneh dalam hubungan kami."
"Apakah kalian pernah melakukan 'itu'? Apakah Brit pernah hamil lalu kalian gugurkan? Apakah itu salah satu penyebab kalian berpisah" Daffa terdiam sejenak lalu tergelak.
"Ya ampun Erin, kok pikiran kamu sampai sejauh itu. Ini pasti gara-gara kamu kebanyakan baca novel ya? Sayang, aku dan Brit nggak pernah melakukan 'itu'. Nggak ada kisah Brit hamil dan menggugurkan kandungan."
"Daf, aku nggak akan marah kalau memang ada kejadian seperti itu di antara kalian. Toh itu sudah masa lalu."
"Oh my god Erin. Listen to me! Aku dan Brit putus baik-baik. Bahkan kini Brit sudah menemukan kebahagiaannya bersama pria pilihan keluarganya. Tak ada kisah aneh di antara kami. Kamu boleh tanya ke Brit mengenai hal ini."
Erina menatap mata Daffa. Ia berusaha menemukan kebohongan di mata itu, namun ia tak melihat kejanggalan di mata ataupun sikap Daffa. Ah, mungkin surat kaleng itu hanya kelakuan iseng orang yang naksir Daffa. Siapa sih yang nggak naksir dia. Wajah oke, body oke, sikapnya kepada semua orang sangat menyenangkan. Bahkan para pegawai di perusahaan Irwan sangat menghormati sang penerus perusahaan.
"Kamu nggak bohong kan?" Daffa menghela nafas sambil membuang pandang.
"Rin, apa tujuan hubungan kita sejak awal?"
"Mencari kebahagiaan bersama. Menikah."
"Apakah mungkin kebahagiaan itu dapat terwujud bila tak ada rasa saling percaya?" Erina tak menjawab. Ia merasa bersalah karena sudah mencurigai kekasihnya.
"Sorry Daf. Hanya saja aku merasa saat ini hubungan kita seolah semakin menjauh. Kamu terlalu sering keluar negeri. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Aku merasa diabaikan."
Daffa meraih tangan Erina dan mencium punggung tangannya dengan mesra. "Maafkan aku sayang. Aku hanya nggak bisa menolak permintaan ayah untuk mengurus perusahaan. Kamu tahu kan kalau aku putra satu-satunya dalam keluarga. Ayah berharap aku bisa meneruskan perusahaan ini."
"Iya aku tahu. Tapi kamu terlalu sering meninggalkanku. Kamu kan bisa menyuruh anak buah untuk sesekali menggantikan tugas yang om Irwan berikan."
"Kamu ikut saja kalau aku sedang dinas keluar negeri," usul Daffa sambil tersenyum menggoda.
"Usulan gila! Tante Mira bisa pingsan kalau aku ikut kamu keluar negeri. Keluargamu kan tidak liberal seperti keluargaku."
"Ya sudah, ayo menikah!" ajak Daffa dengan wajah serius. Kali ini Erina yang membuang pandang. "Hmm.. sepertinya kamu yang masih ragu."
"Kamu tau kalau aku ingin menikah denganmu. Bahkan aku yang pertama mengajakmu menikah. Tapi aku masih butuh waktu untuk memastikan kembali keputusanku."
"Kamu meragukan aku? Apakah ini karena Ardian? Apakah karena dia menyatakan perasaannya padamu? Keraguanmu menunjukkan kamu memiliki perasaan yang sama dengan Ardian." Daffa terlihat gusar.
__ADS_1
Erina tak menjawab. Bukan itu, tapi aku tak tahu apakah bisa menikah dengan seseorang yang tak mencintaiku, batin Erina. Dulu kupikir aku bisa tanpa kata-kata cinta yang terucap dari bibirmu, tapi ternyata aku membutuhkan ungkapan itu. Selain itu aku meragukan kejujuranmu.
⭐⭐⭐⭐