TAKLUK

TAKLUK
ULTIMATUM


__ADS_3

"Erin?" Tiba-tiba sebuah tangan menepuknya. Erina yang sedang asyik membaca mengangkat kepalanya.


"Eh... tante... Aira?"


"Iya, aku Aira, tantenya Daffa. Kamu apa kabar? Wah, sudah tambah besar ya perutnya. Sudah berapa bulan Rin?"


"Kabar baik tante. Iya sudah mau 8 bulan. Tante sakit? Atau periksa kandungan?"


"Tante nggak sakit. Kebetulan kontrol aja. Soalnya sejak pasang KB kok haidnya malah berantakan. Tante khawatir hamil lagi," ucap Aira sambil tertawa kecil.


"Lalu gimana hasilnya tan?"


"Alhamdulillah nggak hamil. Baby Keanu masih kecil, tante belum siap kalau harus punya anak lagi." Kembali Aira tertawa kecil.


"Selamat ya tan, atas kelahiran baby Keanu. Maaf Erin terlambat mengucapkan selamatnya."


"Ah nggak apa-apa. Justru tante yang minta maaf karena waktu itu nggak tau kalau kalian sudah putus."


"It's okay tan. Oh ya tante sama siapa kesini? Diantar om Pandu?"


"Nggak. Nanti Daffa yang mau jemput. Sekalian dia mau mampir ke rumah eyang." Baru saja Aira selesai bicara, tiba-tiba terdengar suara menyapa rungu Erin.


"Erin? Tante Aira?"


"Eh, sudah datang Daf? Iya nih tante ketemu dengan Erin. Lihat tuh perutnya sudah membesar. Oh iya Rin, kayaknya perutmu lebih besar dari kehamilan biasa ya?"


"Eh iya tan, alhamdulillah dikasih kembar."


Daffa hanya diam, tak mencoba membuka percakapan dengan Erina.


"Kalian kenapa sih? Kayak orang musuhan aja. Mungkin kalian memang nggak berjodoh. Kalau yang namanya nggak berjodoh sampai kapanpun ya nggak akan bisa disatukan. Begitu juga dengan yang namanya jodoh, mau ditolak sekeras apapun ya tetap bersatu."


"Ayo tan, pulang. Keburu macet," ajak Daffa tanpa menoleh ke arah Erina.


"Salam buat eyang ya, tan." ucap Erina sebelum berpelukan dengan Aira.


"Semoga kehamilannya dan persalinannya lancar. Kalau ada yang kamu nggak ngerti tentang mengurus bayi, telpon tante ya."

__ADS_1


"Makasih ya tan."


⭐⭐⭐⭐


"Tante ngapain sih ramah-ramahan sama dia?" tanya Daffa kesal.


"Memangnya kenapa? Yang musuhan kan kalian."


"Memangnya tante nggak kesal keponakannya diputusin?"


"Elo tuh susah ya dibilangin. Mau sampai kapanpun elo kejar dia, kalau nggak jodoh ya tetap nggak jodoh. Batu banget sih dikasih tau. Buat tante dia tetap keponakan, karena kami masih saudara. Demikian juga dengan kamu dan dia. Kalian itu bersaudara. Lupa ya kalau kakek kalian itu sepupuan?"


"Ya tapi... "


"Daf, elo tuh harus bisa menerima kenyataan kalau dia bukan jodoh lo. Gue bingung sama elo, Daf. Elo ganteng, tajir, dan pintar. Sekali jentikan jari cewek-cewek bakal bertekuk lutut. Tapi elo benar-benar bucin. Seumur-umur gue kenal elo, pacar lo cuma dua. Dan dua-duanya gagal lo nikahin dengan alasan yang kurang lebih sama."


Daffa terdiam mendengar ucapan Aira. Apa yang Aira ucapkan benar. Apa salah kalau gue nggak gampang pindah ke lain hati? batin Daffa.


"Saran gue, lebih baik elo cari wanita lain, yang lo cintai dan mencintai lo."


"Gue nggak yakin bisa jatuh cinta lagi."


"Entahlah."


"Kenapa elo nggak membuka hati untuk Honey? Dia ibu dari anak lo, Chloe. Mungkin tuhan menghukum lo karena elo nggak mau bertanggung jawab terhadap Honey dan Chloe."


"Tan, apa menurut lo apa yang selama ini gue lakukan bukan bentuk pertanggungjawaban gue ke mereka?"


"Bentuk pertanggungjawaban nggak melulu materi, Daf. Atau mungkin tuhan memang menakdirkan elo untuk menikahi dan membentuk keluarga dengan Honey. Keluarga sejati, bukan keluarga semu. Gue yakin Honey pasti mencintai lo. Ayah dari anaknya. Ada baiknya elo pikirkan hal itu. Minta petunjuk sama tuhan."


⭐⭐⭐⭐


"Bu Erin, coba lihat ini. Bayi-bayi anda tumbuh pesat. Sekarang mereka sudah kesempitan di dalam sana," ucap dokter Ziva sambil menunjuk monitor USG. "Oh iya, mana pak Ardian? Kok tumben dia nggak ikut."


"Hmm.. dia sedang ada meeting dok."


"Padahal saya mau membahas masalah persalinan dengan kalian. Selain itu saya mau mengungkap jenis kelamin bayi kalian."

__ADS_1


"Anda bisa membahasnya dengan saya dok."


"Baiklah nanti kita bahas. Sekarang bu Erin lihat lagi ke monitor. Lihat titik yang bergerak ini? Itu adalah detak jantung anak kalian. Seperti yang anda lihat, ada perbedaan detak jantung si kembar. Detak jantung salah satu dari kalian mulai melemah. Agar selamat, bayi-bayi kalian harus segera dilahirkan."


"Apa dok? Mana mungkin bayi-bayi ini dikeluarkan. Usia kehamilan saya baru 8 bulan lebih, belum masuk 9 bulan. Apakah itu tidak berbahaya dok?" tanya Erina. Ia terkejut mendengar penjelasan dokter Ziva.


"Usia kehamilan anda sudah mencukupi untuk melahirkan. Bayi-bayi anda sudah cukup matang. Seperti yang saya jelaskan bulan lalu, semuanya sudah sempurna dan anda sudah melihatnya melalui USG 4D. Namun apa penyebab lemahnya detak jantung salah satu bayi anda belum dapat kami ketahui karena selama ini detak jantung keduanya normal-normal saja. Selain itu jumlah air ketuban anda juga berkurang."


"Dok, tadi saat di rumah perut saya sempat terasa sakit. Saya pikir itu karena tendangan mereka. Mungkin mereka bosan ya berhimpitan di dalam sana. Lalu sepanjang perjalanan juga saya beberapa kali mulas, tapi lalu hilang. Saat registrasi juga merasakan hal yang sama lalu hilang."


"Apakah anda menghitung jarak mulasnya?" Erina menggeleng.


"Memangnya harus dihitung ya dok? Saya kan belum waktunya melahirkan."


"Di beberapa kehamilan ada yang namanya kontraksi palsu, yaitu kontraksi yang belum teratur dan berlangsung tidak lama."


"Kalau belum ada kontraksi berarti belum ada pembukaan kan dok? Lalu bagaimana mengeluarkan bayi-bayi ini?"


"Bila kontraksi palsu biasanya memang belum ada pembukaan. Oleh karenanya dalam kasus anda ada dua opsi untuk melahirkan. Opsi pertama bila ingin melahirkan normal maka anda harus kami induksi yaitu dengan sengaja merangsang kontraksi rahim guna mempercepat proses persalinan. Prosesnya cukup berbeda untuk tiap kasus. Bisa cepat, bisa juga lambat. Opsi kedua adalah melakukan tindakan cesar. Cara ini pastinya lebih cepat," jelas dokter Ziva.


"Induksi? Cesar?" Erina terlihat bimbang.


"Mengingat kondisi kehamilan anda saat ini, saya merekomendasikan operasi cesar. Bila anda memilih induksi, saya khawatir salah satu bayi anda tidak akan bertahan."


"Saya pernah mendengar bahwa seorang wanita belum sempurna bila belum merasakan sakitnya melahirkan secara normal."


"Bu Erin, itu semua hanya mitos. Dengan anda berhasil hamil itu artinya anda adalah wanita sempurna. Bila kondisi bayi-bayi anda stabil, saya juga tidak menolak anda melahirkan secara normal. Namun keadaan salah satu bayi anda bisa dikatakan tidak normal."


"Kapan saya harus melakukan persalinan?" tanya Erina dengan suara bergetar.


"Secepatnya. Kalau bisa malam ini."


"Beri saya waktu menghubungi keluarga saya," ucap Erina berusaha tegar. "Saya harus menelpon ibu mertua saya karena mommy saat ini sedang keluar negeri dengan daddy."


"Baiklah. Sambil menunggu, ada baiknya anda segera mengurus kamar."


"Terima kasih dok."

__ADS_1


Di luar ruang periksa Erina terduduk lemas. Ia masih tak percaya kalau malam ini juga harus melahirkan si kembar. Erina mencoba menghubungi Amelia, tidak diangkat. Ia langsung mengirim pesan kepada Amelia. Sudah terkirim namun belum dibaca. Lalu ia menghubungi Ardian, tidak diangkat. Ponsel Ardian mati. Akhirnya Erina menghubungi mbok Siti dan memberitahukan keadaannya.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2