TAKLUK

TAKLUK
MENCOBA MEMBUJUK ERINA


__ADS_3

"Erin, dad want to talk to you," ujar Andrew sambil berdiri di depan pintu kamar Erin lalu ia membuka pintu kamar. "Are you okay?"


"Not really. Ada apa dad?"


"Ardian want to see you."


"I don't want to see him."


"Erin, beri dia kesempatan."


"No dad. I hate him so much."


"You can hate him after talking with him. Okay?"


"No dad!" Erina bersikeras tak mau mau menemui Ardian.


Andrew menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia melakukan itu beberapa kali untuk melepaskan stress yang akhir-akhir ini melandanya. Bagaimana tidak stress jika keluarga Hermawanto mendadak membatalkan beberapa proyek yang sudah disepakati. Belum lagi beberapa subcont yang protes karena batal mengerjakan proyek keluarga Hermawanto. Ditambah lagi Yuna, sang istri, sering menangis diam-diam karena memikirkan anak mereka.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Daffa? Daddy dengar kamu memutuskan pertunanganmu bahkan sebelum kamu mengetahui dirimu hamil." Erina hanya diam tak menyahuti perkataan Andrew.


"Dad, please don't mention his name."


"Apakah Daffa selingkuh?" tanya Andrew. Erina menggeleng.


"Lalu kenapa kamu putuskan pertunangan kalian? Apakah kalian tidak bisa berbaikan dan melanjutkan hubungan kalian?"


"Dad, are you crazy? I'm pregnant with someone else. Apakah daddy pikir Daffa pria berhati malaikat yang mau menerima wanita yang mengandung anak pria lain? Anak hasil pemerkosaan."


Lagi-lagi Andrew hanya mampu menghela nafas dan memegang kepalanya yang mendadak pusing.


"Okay, I'm not going to push you to make up with Daffa. But please meet Ardian, listen to him and marry him."

__ADS_1


"Seriously? Are you gonna make me marry him? The fu**ing guy that ruin myself?"


"Why not? We know him. We know his family. And he's the father. The most important is he's ready to take responsibility for what he did." Setelah mengucapkan hal tersebut Andrew keluar dari kamar Erina.


Tak lama terdengar ketukan di pintu. Erina menoleh malas ke arah pintu kamar. Siapa lagi sih? Nggak tau apa kalau gue lagi pusing banget? omelnya dalam hati.


"Siapa?"


"Bi Imas, non. Nyonya mommy menyuruh mengantar susu dan cemilan buat non Erin."


"Masuk aja bi. Taruh aja di meja." Erina kembali menenggelamkan dirinya ke dalam selimut. Ia benar-benar merasa pusing dan lemas karena hari ini ia beberapa kali muntah. Setiap masuk makanan pasti dimuntahkan kembali.


"Non, jangan lupa makan dan minum susunya ya biar adek bayinya sehat. Bi Imas siap mengurus adek bayinya kalau lahir nanti." Masih terdengar suara bi Imas sebelum akhirnya keluar dari kamar.


Seandainya saja bayi ini hadir karena keinginanku, aku pasti akan menjaganya dengan baik. Akan kulawan morning sickness ini. Aku kumakan semua makanan sehat yang disiapkan mommy. Tapi bayi ini hadir bukan karena kehendakku, batin Erina. Bagaimana mungkin aku menjaganya sementara aku tak menginginkannya. Maafkan aku, tangan Erina tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata. Perlahan air mata luruh di pipinya. Entah mengapa, hari itu ia merasa lebih sensitif. Akhirnya Erina menangis di balik selimut.


Tiba-tiba.... Erina mencium wangi parfum. Wangi parfum yang bertahun-tahun akrab dengan penciumannya. Wangi parfum yang ia pilihkan untuk Ardian. WHAT? ARDIAN? IS HE HERE? Sontak Erina membuka selimut yang menyelubungi kepalanya dan dilihatnya Ardian duduk di kursi yang sengaja ia tarik ke dekat ranjang.


"Ngapain elo ada disini? Bukan urusan lo, gue mau nangis atau gue mau mati!" ujar Erina sambil menepis tangan Ardian. "Keluar lo dari kamar ini. Atau gue akan.... "


"Lo mau panggil uncle dan aunty? Mereka yang mengijinkan gue masuk kesini," ujar Ardian kalem. Hatinya merasa sakit saat melihat betapa kuyu wajah Erina. Jelas sekali terlihat berat badannya turun.


"Mana bi Imas?"


"Dia keluar. Jangan marahin dia. Ini ide gue." Ardian seolah tahu isi pikiran Erina. "Jangan pernah bilang bukan urusan gue kalau elo nangis atau mati. Itu bakal menjadi urusan gue. Elo harus tahu gue mencintai elo dan gue nggak mau kehilangan elo. Kalau elo mau mati, ayo kita mati bareng. Elo, gue dan anak kita."


Erina terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ardian. Kalimat yang diucapkan dengan sungguh-sungguh.


"Sekarang elo mau ngapain disini?"


"Gue kangen sama elo. Gue mau ketemu ibu dari anak gue. Gue mau lihat wajah calon istri gue."

__ADS_1


"Cih, lebay! Siapa juga yang mau jadi istri lo."


"Rin, please marry me," pinta Ardian lembut sambil berlutut di samping ranjang. "I promise to make you happy. You know I love you so much."


"Hah! You love me but you ruin my life. Elo itu nggak lebih dari seorang ba****an ke****t!" semprot Erina sambil menampar wajah Ardian bolak balik. (Di, maaf ya Author bikin kamu dipukulin terus🤭. Semangaat!)


Ardian sama sekali tak melawan. Ia biarkan Erina melampiaskan kemarahannya. Bahkan ia nekat duduk di atas ranjang, di samping Erina yang masih membabi buta memukuli dirinya. Bukan hanya wajahnya yang menjadi sasaran, namun juga tubuh dan lengannya.


"Rin, maafin gue. Ijinkan gue bertanggung jawab atas perbuatan bejat gue."


"Elo jahat, Di. Gue benci elo!" Erina masih memukuli Ardian. "Gue benci bayi ini. Gue nggak menginginkan dia."


"Rin, elo boleh benci gue tapi jangan bayi ini. Kalau elo nggak mau mengurus dia, biarkan gue yang mengurus dan mencintai dia."


Erina mulai kelelahan. Kini tangannya terkulai di samping tubuhnya. Ia mulai menangis sesenggukan di hadapan Ardian. Erina yang saat ini ada di hadapan Ardian bukan lagi gadis tomboy yang tegar. Kini ia layaknya gadis lain yang rapuh. Hati Ardian terasa sakit melihat Erina seperti itu. Dengan nekat ia memeluk Erina yang masih menangis. Tentu saja Erina menolak. Ia mendorong tubuh Ardian hingga jatuh dari ranjang.


"Jangan coba-coba menyentuh gue! YOU'RE FU***NG BASTARD!" Serentetan makian masih meluncur dari bibir Erina. Ardian hanya mampu duduk tertunduk di lantai. Ia lebih menyukai Erina marah dan memakinya seperti saat ini daripada diam dan menghilang dari hadapannya.


"Gue nggak akan menyerah, Rin. Like it or not, I will marry you. I will make you love me and our baby."


"Nggak usah mimpi! Gue nggak sudi menikah sama pemerkosa br*****k kayak elo!" Erina kembali meradang.


"Silakan elo memaki gue sesuka lo. Itu lebih baik buat gue asalkan gue bisa memiliki elo. Gue rela elo benci seumur hidup, yang penting elo selalu ada di samping gue."


"KELUAR! KELUAR DARI KAMAR INI!" bentak Erina.


"Gue akan keluar dari kamar ini setelah elo menghabiskan susu dan makanan ini." Ardian tak bergeming. "Please jangan egois Rin. Ada nyawa lain di tubuh lo."


"Elo meminta gue nggak egois? Apakah merenggut kesucian gue bukan perbuatan egois?"


"Sorry karena dengan egoisnya gue sudah membuat hidup lo susah. Ijinkan gue menebusnya dengan mengurus dan mendampingi lo seumur hidup gue." ucap Ardian lemah. "Sekarang elo minum susu dan makan ya. Gue nggak mau elo dan anak kita sakit."

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2